Irwan dan Nuno sedang meringkas catatan untuk UAS nanti. Entah apa yang merasuki kedua remaja itu. Tadi malam mereka sangat malas sekali melanjutkan meringkas. Dengan menulis materi yang tergesa-gesa tampak tulisan mereka acak-acakan, tapi masih bisa dibaca. Beberapa mahasiswa yang lewat lobi pun memandang keduanya dengan tatapan aneh, tapi tak menyurutkan keduanya untuk melanjutkan meringkas. "Nyesel gue semalam santai-santai nggak ringkas materi!" seru Irwan sambil mengacak rambutnya frustrasi. Bagaimana tidak? Setengah jam lagi ujian akan dimulai, tapi Irwan belum selesai meringkas. "Sama gue juga nyesel, Wan." Raut wajah Jamet tak kalah menyesal. Andai saja semalam dia tak bermalas-malasan pasti sekarang pikirannya tenang, tidak seperti sekarang ini. "Udah selesain aja ini ringkasnya, " ucap Irwan, mempercepat menulis. Tak berselang lama, Vina datang bersama Nuno dan Hamdan. Mereka bertiga mengetahui jika kedua remaja yang berada di meja lobi adalah Jamet dengan Irwan. "Kalian masih ringkas?" tanya Vina. Irwan menoleh. "Iya, semalam penyakit akut gue kumat." Mendengar kata penyakit akut Vina langsung memegang lengan Irwan erat. "Lo sakit apa?" Vina memegang jidat Irwan. Irwan menghela napas. "Maksud gue penyakot akut itu penyakit malas." Irwan terbahak, kata penyakit akutnya i mampu membuat cewek menyebalkan itu panik. Vina spontan langsung memukul lengan Irwan lumayan keras, membuat Irwan merintih. "Sakit tahu, Vin, " rengek Irwan sedikit kesal. "Habis lo usil, sih, " jawab Vina. "Buruan diringkas waktu udah nggak banyak lagi." Jamet mendeham. Bermaksud mengejek Vina dan Irwan. "Nggak usah ham hem ham hem, lo, Met, ringkasan lo aja belum selesai, " cibir Irwan. "Gue bercanda, Wan. Jangan ngambek, lah, " jawab Jamet selesai. Hamdan melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul satu siang kurang sepuluh menit. "Eh... bentar lagi jam satu." Ucapan Hamdan membuat Irwan semakin panik. Irwan belum mencatat semua, tapi waktu sudah tidak banyak lagi. Melihat raut wajah Irwan yang panik Hamdan mencoba memberi nasihat Irwan supaya tetap santai. "Gue pusing, " ucap Irwan mengacak rambutnya frustrasi. "Udah ah gue ringkesnya." "Sama gue juga, " sahut Jamet. Irwan dan Jamet memberesi kertas yang ada di meja dan memasukkan ke dalam tas. "Ayo ke kelas, " ajak Irwan berjalan terlebih dahulu. Hamdan, Vina, Nuno dan Jamet pun mengekor di belakang Irwan. Mereka menaiki lantai dua dan menuju ke ruang ujian. Sesampainya di sana ruangan U. 2.2 sudah banyak teman-teman yang berada di kelas. Irwan dan yang lain duduk sesuai nomor ujian. Tak berselang lama, pengawas masuk dan membagikan soal dan lembar jawaban. Begitu mendapat soal dan lembar jawaban, mahasiswa mulai mengerjakan soal. Para petugas lalu sibuk menghampiri bangku mahasiswa satu persatu untuk tanda tangan di absen ujian. Irwan mulai bingung saat akan menjawab soal nomor lima. Soal itu tak ada materinya yang ditulisnya di kertas ringkasan. Cowok itu tak mau menyerah, akhirnya dia menjawab sebisanya. Satu setengah jam berlalu, ujian selesai. Mahasiswa satu persatu mengumpulkan soal dan jawaban ke pengawas lalu berhamburan keluar kelas. Vina sudah di depan kelas bersama Hamdan, Nuno, Irwan dan Jamet. Rasanya enggan bagi mereka untuk langsung pulang. Mata Vina langsung terbelalak kaget saat melihat Sarwan keluar dari kelas menggunakan jaket hitam, sama seperti jaket yang dipakai orang yang berbicara serius dengan Safira. "Wan, sini lo, " ucap Vina tanpa basa-basi. "Kenapa?" Sarwan menghampiri Vina. "Wan, lo, kan, yang kemarin malem ngobrol sama Safira?" Vina langsung menatap Sarwan tajam. Sarwan hanya mengeryitkan dahi. "Maksud lo apa, Vin?" Sarwan berdecak. "Lo itu kebanyakan ngehalu? Jangan asal fitnah kalau nggak ada bukti. Sakit lo!" Sarwan menggelengkan kepala. Bukannya emosi Vina meredam, tapi emosinya malah semakin memuncak. "Halah, udah lo ngaku aja?" "Lo apa-apaan? Gue nggak ngerti apa maksud lo, " jawab Sarwan tak kalah ngotot. "Gue udah tahu semuanya, Wan. Ngaku, nggak?" Vina masih ngotot supaya Sarwan mau mengakui kalau dialah pelaku di balik semua deretan kematian dari Beno sampai pegawai warmindo. "Kalian tolong kasih tahu si Vina. Jadi orang jangan sok tahu gitu," ucap Sarwan tak kalah kesal. "Udah lah, kalian itu sukanya buang-buang waktu gue aja." Sarwan berlalu meninggalkan kelas. Vina yang masih tidak terima akhirnya mengikuti Sarwan dari belakang. Saat jarak mereka berdua dekat, Vina menarik jaket Sarwan dari belakang, membuat Sarwan terhuyung ke belakang. "Lo masih nggak mau ngaku?" Vina melepaskan cengkraman dan dia memposisikan diri di depan cowok itu. "Gue harus ngaku apa?" Sarwan menaikkan sebelah alis. "Kalau lo sama Safira dalang di balik deretan kematian Beno sampai pegawai warmindo, " jawab Vina ketus. "Safira itu siapa? Kenal aja enggak. Lo itu sekarang hobinya mengada-ngada, ya? Sama kayak Irwan CS, " cibir Sarwan. Mendengar Irwan CS dicibir Vina tidak terima. Bagaimana pun mereka sudah berusaha menguak misteri kematian Beno dan yang lain. "Gue nggak mengada-ngada." Vina menunjuk-nunjuk jari telunjuknya tepat di wajah Sarwan. "Emang lo punya bukti apa?" Ucapan Sarwan seperti sebuah tantangan di telinga Vina. "Gue emang belum punya bukti, tapi lihat aja gue bakalan cari tahu dan membuktikan ke semua orang kalau emang lo dan Safira pelakunya." Vina mengangkat sebelah alis. "Silakan, " jawab Sarwan berlalu begitu saja. Vina menatap punggung Sarwan dari kejauhan. "Awas aja lo, " ucap Vina. Irwan, Nuno, Jamet dan Hamdan pun menghampiri Vina sesudah memastikan Sarwan benar-benar pergi. "Lo kenapa lagi sih, Vin?" Irwan memegang kepala Vina. "Gue cuma ngebuat dia ngaku aja, kok, " jawab Vina. Hamdan tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Vina baru saja. Dia menggelengkan kepala. Entah kenapa Vina melakukan hal senekat itu tanpa bukti yang kuat. "Vin, lo jangan ngelakuin hal konyol. Toh, kita juga belum ada bukti, " sahut Nuno. Vina menyedekapkan kedua tangannya. "Gue ada buktinya, kok." "Mana, Vin?" tanya Jamet tak kalah penasaran. "Kalian nggak perlu tahu. Pokoknya dia pelakunya, " jawab Vina ngotot. Irwan, Nuno, Hamdan dan Jamet saling berpandangan. Mereka merasa alasan Vina kuat sekali. "Udah lah, jangan ribut, " sahut Hamdan. "Mending kita cari cara buat jebak Safira lagi," gumam Irwan lirih. Jamet menjentikkan jari ke arah Irwan. "Bener, tuh." "Rencana yang mana?" Hamdan lupa. "Mengambinghitamkan Vina dan membuat dia percaya, " sahut Nuno. "Kalau dia udah tahu, gimana?" Vina menghela napas. "Bisa aja, kan, Sarwan udah kasih tahu semuanya ke Safira?" "Udah, Vin, dilakuin aja belum Risiko belakangan, " jawab Irwan. Mau tak mau Vina menurut.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (437)
MoeSITI NUR SARAH BATRISYIA BINTI RIDHWAN TONG
thankyou author , alur cerita menarik , plot twist dia memang power lah 😭💗
thankyou author , alur cerita menarik , plot twist dia memang power lah 😭💗
11/08/2022
0yes
12/10
0bagus ceritanya
12/09/2025
0Lihat Semua