Irwan jadi teringat seperti sebuah jeratan yang ada di leher Safira. Seusai pulang kuliah Irwan hendak menceritakan itu pada Jamet, tapi dia lupa, karena terlalu sibuk bermain games alias MABAR dengan Jamet. Akhirnya, Irwan memutuskan untuk menceritakannya pada Jamet. Kebetulan cowok berambut keriting itu masih belum tidur. Ya, kadang di malam hari mereka susah tidur, padahal rasa capek sudah menyerang. "Met, gue tadi mau cerita ke lo, tapi malah lupa, " ucap Irwan sembari memasukkan beberapa kertas yang akan digunakan untuk persiapan kuliah besok. Jamet mengalihkan pandangan dari ponsel, memandang Irwan. "Apa, Wan?" "Gue kemarin lihat ada bekas jeratan di leher Safira, Met, " jawab Irwan yang langsung mengagetkan Jamet. "Lo serius?" Mata Jamet mendadak melotot. "Arwahnya Beno kali, ya, yang nyekik dia?" Irwan mengangguk. "Gue rasa gitu. Em? Dia agak mencurigakan. Bisa jadi dia yang bunuh Beno." "Kenapa?" "Kayaknya kalian bener, deh. Vina tadi WA gue mau bilang sesuatu, tapi sampai sekarang nggak dibalas-balas." Irwan kembali memikirkan pesan WhatsApp Vina, yang sampai saat ini tak kunjung dibalas. "Kali aja ngomongin perasaan ke lo, " cibir Jamet, membuat Irwan menabok lengan temannya itu. "Lo jangan asbic, ya?" Irwan menyedekapkan kedua tangan di atas dada. Dia sudah mengira jika Irwan membahas Vina, pasti Jamet akan mulai menjodoh-jodohkan dengan Vina. "Gue nggak asbic, emang kenyatannya gitu," Jamet menjulurkan lidah. "Serah lo, deh, " jawab Irwan. Waktu menunjukkan pukul setengah satu malam. Setelah percakapan itu Irwan dan Jamet sibuk lagi dengan gamesnya. "Lo belum ngantuk, Wan? Besok kita UAS jam sepuluh, gue takut kita kebablasan tidur malah nggak kuliah, " ucap Jamet. Entah kenapa malam ini rasanya tidak ada rasa mengantuk di dalam dirinya. "Nggak juga, apa karena kita main games mulu, ya?" Irwan mengernyitkan dahi. "Udah... ah, tidur. Kayaknya efek main gamesnya jadi kita nggak tidur-tidur karena keasyikan." Jamet menaruh ponsel di sebelah dia tiduran. Irwan juga ikut menaruh ponsel di meja kecilnya. Melihat Jamet yang menaruh ponsel di dekatnya tidur dia pun menegur temannya itu. "Met, ponsel lo taruh meja aja, nggak baik taruh deket telinga bisa bikin radiasi, lho." Jamet manggut-manggut. Lalu, dia meletakkan ponsel di atas meja sesuai permintaan Irwan. Ya, bagi Jamet, Irwan merupakan teman yang paling baik. Dia royal dan tidak perhitungan. "Baca doa dulu, " ucap Irwan. "Oke." Mereka pun akhirnya tertidur pulas. Belum lama mereka tidur, kedua remaja itu dikagetkan oleh suara dentuman keras seperti suara ledakan. Irwan terbangun terlebih dahulu, lalu disusul Jamet. "Met, itu suara apaan, ya?" Irwan langsung berdiri dan menegok dari jendela. Terlihat sebuah asap yang arahnya dari dekat kampus. "Apaan, Wan?" Jamet ikut berdiri, melihat pemandangan asap yang semakin lama semakin tebal. "Kok arahnya dari dekat kampus, ya, Met?" "Iya, tuh, ada apa, ya?" Irwan bingung sendiri, sebenarnya apa yang terjadi. "Kita keluar, yuk?" Jamet membuka snop pintu dan keluar kamar bersama Irwan. Ternyata teman-teman satu kos Irwan sudah berada di depan kamar kos mereka. Jiwa kepo Irwan muncul, dia segera menghampiri teman satu kosnya. "Bro, itu ada apa, ya?" tanya Irwan pada teman satu kos berbadan gemuk dan berkulit hitam. "Kalau kata teman-teman yang lain, sih, kebakaran, tapi nggak tahu sebabnya apa, " jawabnya. "Di mana itu?" tanya Irwan lagi. "Kayaknya dekat kampus lo, deh. Kalau kata teman gue yang udah ke sana tadi, warung warindo depan kampus." Ucapan pemuda berbadan gemuk itu membuat Irwan kaget. Warmindo depan kampus? Berarti itu warung mas-mas yang memberitahu tentang Safira. "Makasih, ya, Bro, infonya." Irwan langsung menghampiri Jamet dan menarik tangannya menuju warung warmimdo depan kampus. "Wan, lo apaan, sih?" tanya Jamet yang pasrah saat Irwan menarik tangannya. "Udah..., nanti lo tahu sendiri." Mau tak mau akhirnya Jamet menurut seperti kerbau dungu yang bisanya hanya menurut. Sesampainya di lokasi warung warmindo yang kebakaran sudah ramai oleh orang-orang. "Wan, ini?" Jamet menutup mulut tidak percaya. Irwan mengangguk. "Ya, Met. Ayo kita mendekat ke sana." Irwan dan Jamet lebih mendekat lagi di tempat kejadian. Kerumunan orang-orang tampak bertambah banyak. "Kalian di sini juga?" Sebuah suara datang daru belakang, yang ternyata Sari bersama. Nuno dan Hamdan. "Kalian?" Irwan tak percaya tiga orang temannya sudah berada di sini. "Iya, " jawab Hamdan. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Irwan mulai miris melihat kobaran api yang mulai membesar, sedang warga hanya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Hamdan menghela napas. "Kata penduduk sini warung ini kebakaran, Wan. Kompor meledak, katanya." "Terus orang di dalam?" Jamet menyahut. "Katanya yang kerja di warmindo ini masih ada di dalam," jawab Nuno. Irwan benar-benar tidak percaya. Jika orang itu berada di dalam, tandanya mas-mas yang pernah memberi info tentang Safira nyawanya terancam. "Kalian serius?" Kini Jamet kini yang kaget. "Wan, bukannya ini warung yang biasanya kita makan, dan--" Jamet tidak melanjutkan kata-katanya. Kakinya serasa gemetar, tidak tega melanjutkan kalimat selanjutnya. "Dan apa?" tanya Nuno. "Dia yang ngasih tahu kita tentang Safira, " gumam Irwan. Nuno, Hamdan, dan Sari tampak kaget. "Safira itu yang ngefans sama Beno itu, kan?" tanya Sari. Irwan mengangguk. "Ada yang gue takutin, " celetuk Hamdan tiba-tiba. Alis Irwan mengernyit. "Apa?" Hamdan menceritakan ketakutannya. Dugaan sementaranya pelaku bisa saja mengetahui jika pekerja warmindo tahu sesuatu, lalu pelaku sengaja menghilangkan nyawa korban supaya dia tidak ketahuan. "Gue setuju," ucap Nuno. "Gue juga, " timpal Jamet. "Gue juga setuju, " jawab Sari. Irwan tampak berpikir keras. Dia tidak menyangka jika masalah ini semakin bertambah. Ingin rasanya Irwan menyalahkan dirinya sendiri, akibat keingintahuannya orang lain kehilangan nyawa. "Semua ini salah gue, " ucap Irwan tiba-tiba. "Kok lo ngomong gitu?" Jamet tidak habis pikir kenapa Irwan berkata seperti itu secara tiba-tiba. "Coba kalau gue nggak sok-sokan jadi detektif, pasti semua nggak akan seperti ini. Orang lain nggak akan kehilangan nyawa, " ucap Irwan berlutut. "Andai gue biarin kasus ini. Andai gue jangan orang sok tahu, semua nggak kayak gini. Pasti pelaku tahu semua rencana kita, jadi dia sengaja membunuh orang yang tahu info tentang pelaku." Jamet menepuk bahu Irwan. "Wan, lo nggak boleh bilang kayak gitu. Gue yakin dia sengaja ngelakuin ini semua biar kita lengah, dan nggak nerusin kasus ini." "Tapi gue bisa apa?" Irwan mengacak rambutnya frustasi. Dia benar-benar terpukul atas kejadian ini. "Kita lihat aja hasil dari polisi sebabnya apa, " sahut Hamdan. "Lo nggak salah, Wan, tapi pelakunya yang salah. Dan kalian pasti sudah tahu siapa dia. Toh, kalau kita bilang ke polisi, mereka nggak akan percaya, karena kita nggak ada bukti banyak." Nuno, Irwan, Sari dan Jamet membenarkan perkataan Hamdan. Seketika mereka melihat beberapa orang mengotong sebuah mayat yang tubuhnya gosong menyeluruh. Pemandangan itu menjadi sebuah tragedi yang memilukan hati. Wajah mayat sudah hancur, mungkin karena terlalu lama dalam penyelamatan. "Wan, itu kayak mas-mas yang biasanya, kan?" tanya Jamet. Irwan mengangguk. Dia masih tidak percaya orang itu akan meninggal dengan cara yang tragis. "Kita harus cari bukti buat jerat pelakunya, " ucap Irwan mulai geram. Nuno, Hamdan, Sari dan Jamet mengangguk.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (437)
MoeSITI NUR SARAH BATRISYIA BINTI RIDHWAN TONG
thankyou author , alur cerita menarik , plot twist dia memang power lah 😭💗
thankyou author , alur cerita menarik , plot twist dia memang power lah 😭💗
11/08/2022
0yes
12/10
0bagus ceritanya
12/09/2025
0Lihat Semua