logo text

PULANG BERSAMA

Zeyn mengantar Arn, di belakang mobil Zeyn terdapat beberapa mobil yang mengikuti mereka. Sebelum keluar dari kantor Zeyn sudah memerintah anak buahnya untuk mengikuti dari belakang. Zeyn tidak ingin musuh tahu akan hubungannya dengan Arn. Dia tidak ingin Arn terluka.
Di kantor Zeyn sudah meminta bantuan Tuan David agar memerintahkan anak buahnya untuk memperketat penjagaan. Bawahan yang mengkhianti Zeyn sudah di bereskan dan mereka mendapat informasi yang sama. Tinggal beberapa orang yang belum di bereskan. Zeyn sengaja melakukan agar musuh tidak mengendus rencana mereka. Sudah hampir satu jam mereka sampai di rumah Violen, namun Zeyn belum mau mengijinkan Arn untuk keluar dari mobil
.
“Kak Ze, lepaskan aku! Aku mau masuk! ” ucapan Arn taidak di dengar oleh Zeyn. Zeyn tetap mengenggam tangan Arn. Arn benar-benar tidak mengerti dengan tingkah Zey, yang selalu melarangnya agar jangan turun dari mobiln.
“Sebentar saja!” Ponsel Zey berbunyi. Mengangkat sebentar lalu mematikan sambungan.
“Keluarlah. Saya akan mengantar sampai ke dalam!” ucap Zeyn
Jika kalian mengira Zeyn akan membukakan pintu untuk Arn, kalian salah. Zeyn tidak melakukan hal itu. Mereka berdua keluar dan melangkahkan kaki menuju pintu utama. Sampai di depan pintu Arn memencet bel dan terdengar suara dari dalam. Terlihat Violen yang baru selesai mandi dan Zeyn tanpa permisi langsung menerobos masuk.
“Besok saya akan menjemput!” ucap Zeyn. Zeyn mengecup dahi Arn lalu meninggalkan Arn dan Violen yang tidak percaya akan kejadian ini. Violen menampar diri sendiri untuk menyakinkan bahwa yang barusan terjadi bukanlah mimpi.
“Arn, tunggu. Jangan main kabur saja!” Violen mengejar Arn yang meninggalkannya.
“Arn, tunggu!”
“Aku tidak melakukan apapun dengan Kak Ze. Kami berbaikan, aku memutuskan untuk menerima Kak Ze!” jelas Arn. Memang dasar Violen yang tidak percaya, dia terus mendesak Arn untuk menceritakan kejadian siang tadi. Arn pun menceritakan semuanya tanpa melewatkan sesuatu sedikitpun. Sangat detail, dari kejadian saling diam sampai saling berpelukan.
Jika di dalam rumah kedua gadis sedang membagi cerita, berbeda dengan di luar rumah. Zeyn sedang menatap tajam seseorang yang di tangkap oleh bawahannya. Bukan tanpa alasan Zeyn menahan Arn agar tidak turun dari mobil. Semenjak keluar dari halaman kantor sebuah sepeda motor terus mengikuti mobil yang di kendari oleh Zeyn. Zeyn yang sangat peka akan situasi yang tidak aman, segerah menghubungi bawahannya untuk mengikuti mereka dan menangkap orang yang mengikuti mereka. Zeyn tidak ingin wajah Arn di ketahui oleh pihak musuh.
“Bawa dia ke markas. Kalian jagalah rumah ini, jangan sampai ada orang yang mencurigakan masuk ke sini dan menyakiti mereka terutama gadisku” ucap Zeyn.
Zeyn meninggalkan kediaman Violen.
Di tempat lain seseorang tersenyum mendengar laporan dari bawahannya. Di tangannya terdapat segelas anggur yang sangat menggiurkan.
“Bagus. Bagaimana dengan yang lain!” tanya
“Bos, salah satu dari kami belum kembali dari misi yang dijalankan!” ucap salah satu bawahannya.
“Saya tidak peduli dia belum kembali atau tidak. Sudah mati atau belum saya sama sekali tidak peduli, yang saya inginkan yaitu laporan tentang keluarga Zong, Zong bersaudara” Gelas yang berada di tangannya dilemparkan pada orang yang mengkawatirkan sang teman. Gelas itu tepat mengenai dahi yang menimbulkan luka yang cukup dalam.
“Cepat katakan apa yang dilakukan Zong bersaudara hari ini, tidak ada yang bisa melapor!” ucap orang itu memandang bawahannya tajam. Salah seorang memberanikan diri untuk berbicara.
“Untuk saat ini kami belum tahu pasti kelemahan dari Zong bersaudara. Yang saya dengar si bungsu Zong mempunyai dua teman wanita” ucap bawahannya. Sang bos tertawa. Mendekati sang pemberi berita.
Bukkk......
“Saya tidak peduli dia mempunyai teman atau tidak saya membutuhkan kelemahan dari Zong bersaudara. Kau mengerti!”

“T-Tapi , mereka teman yang sangat dekat. Kelihatannya si bungsu Zong sangat menyayangi mereka berdua!” orang itu mengatakan dengan terbata-bata.
“Kau yakin. Kalau begitu segera culik mereka. Saya ingin segera menghabisi seluruh kelurga Zong agar semua kekayaan mereka jatuh ke dalam tangan saya!” smirk.
“Menculik kedua gadis itu tidaklah mudah. Mereka selalu di awasi dan di jaga oleh bawahan Zong bersaudara. Kita harus menyusun strategi agar kita mudah untuk menculik mereka. Anda tahu sendiri bawahan keluarga Zong sangat kuat dan tak mudah dikalahkan!” ucap bawahannya.
Bruk.... Bruk..... Bruk.....
“Maksudmu kita mudah dikalahkan. Silan kau. Berlatihlah lebih giat agar jangan mudah di kalahkan!” ucap sang atasan.
“Saya tidak mau tahu tetap awasi kedua gadis itu dan bila ada celah, culik mereka. Mengerti!” Para bawahannya menganggukkan kepala, mereka menundukkan kepala ketika sang bos melewati mereka. Tidak ada yang tahu akan apa yang terjadi besoknya. Begitupun dengan kedua gadis yang menjadi target penculikan, apakah mereka akan di culik atau akan selamat dari cengkraman tangan musuh. Jika itu terjadi, kasihan kedua gadis itu mereka yang tak tahu apapun harus menjadi korban hausnya kekuasaan oleh pihak tertentu.
Sedangkan di masion keluarga Zong, tepatnya pada kamar tidur si sulung. Tampak si bungsu yang tak henti-hentinya menggoda sang kakak.
“Aku pikir kakak tak bisa meminta maaf. Crys memang hebat bisa membuatmu berkata seperti itu. Aduh cara duduk kalian kenapa begini!” ucap Leon.
“Kau mendapatkan itu dari mana?” tanya Zeyn.
“Kak Sam memberi tahu, jika Arn menemuimu!” jawab Leon. Zeyn menatap tajam adiknya.
“Aku penasaran apa yang akan terjadi, jadi aku pergi ke ruang keamanan untuk mengambil rekaman CCTV di ruanganmu!” lanjut Leon.
“Tidak Sopan!” ucap Zeyn.
“Biarkan saja yang penting dapat jakpot, aku pikir kalian akan melepas rindu dengan cara yang lain!”
“Cara lain?” bingung Zeyn. Leon memajukkan bibirnya dan membuat suara erotis.
“Sialan kau. Kakak masih waras. Kakak tidak akan merusaknya sebelum saat itu!” ucap Zeyn melempar bantal ke arah Leon.
“Tapi sudah pegang-pegang, sampai bibir bengkak dan tidak menyadari kehadiran orang lain!”
“Sayang di lepas. Manis!” ucap Zeyn sambil tersenyum, Leon memegang dahi Zeyn.
“Kau kenapa!”
“Kak Lein tidak panas, suhu tubuh sama sepertiku!”
“Kau ini kenapa, tidak jelas sama sekali!”
“Aku pikir Kak Lein sakit. Soalnya kakak baru saja tersenyum!” ucap Leon.
Zeyn langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar kembali. Hal itu membuat Leon kecewa.
“Kak Lein tidak adil. Kak Lein tersenyum kepada Crys, kepadaku tidak!” Leon merajuk seperti anak kecil.
“Kau seperti anak kecil yang tidak mendapatkan permen saja!” ucap Zeyn.
“Biarkan saja. Punya kakak pelit senyum susah juga. Awas aku mau tidur, sana pergi!” Leon mengusir Zeyn. Dia tidak sadar jika dia tamu.
“Sana tidur di kamarmu!” usir Zeyn.
“Ngantuk, awas! Kalau tidak mau tidur di sini, silakan cari kamar yang masih kosong ada banyak. Kalau bosan sana sewa hotel, jangan mengganggu!”
“Kau ini benar-benar. Berikan selimut untuk saya juga. Kau ini tamu jangan berlaku seperti tuan rumah!” ucap Zeyn. Leon malah mengeratkan selimut.
“Adek, berikan kakak selimut juga!”
“Pintar. Ayo sini peluk adek. Milikmu!” Leon menirukan suara Zeyn.
“Tidur atau saya cabut semua fasilitas, mau!” ancam Zeyn.
“Main ancam terus, tidak capek apa. Sedikit-sedikit ancam, sedikit-sedikit ancam. Biarkan aku bebas sedikit tidak bisa!” gerutu Leon.
“Kau mengatakan sesuatu!”
“Tidak. Kak Lein tidur saja, nanti terlambat jemput Crys besok!” Akhirnya Zong bersaudara terlelap dalam alam mimpi, dengan Leon yang berlaku layaknya pemilik kamar. Semoga mimpi indah.
TBC

Komentar Buku (394)

  • avatar
    SaikLoro

    saya suka

    25/03

      0
  • avatar
    Animasi100

    mantapppp banget

    01/02

      0
  • avatar
    Ise Jolma

    bagus

    17/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru