Di malam harinya Naya meminta izin untuk pergi berbelanja bahan memasak karena kulkas Reynand tidak berisi apapun sedangkan anaknya ingin makan. "Ingin kutemani kak?"tanya Reina dengan khawatir apalagi melihat wajah kakaknya yang kacau dengan mata sembabnya. "Tidak,kau jaga saja triplet dan pamitkan juga pada Reynand."ucap Naya pelan dengan senyumannya karena dia ingin menenangkan dirinya sendiri dan dia tidak bisa pamit pada Reynand karena Reynand yang masih berada di dalam ruang kerjanya. Setelah keluar dari apartemen dan pergi ke supermarket yang berada dekat dengan apartemen Reynand,Naya dengan cepat berbelanja bahan yang dia butuhkan selesai berbelanja Naya langsung menuju kasir dan membayar semua belanjaannya. "Naya."panggil Leana secara tidak sengaja melihat Naya saat dia juga akan membayar belanjaannya. "Miss.Leana."ucap Naya terkejut. "Panggil aku Leana saja kita sedang tidak bekerja bukankah kita teman."ucap Leana dengan tersenyum tipis dan Naya menganggukan kepalanya pelan. "Naya,kenapa dengan matamu yang sebab kau habis menangis?"tanya Leana penasaran. Naya sedikit gelagapan."Tidak hanya saja tadi mata saya terkena iritasi."bohong Naya. "Naya ayo kita bicara selesai membayar ini ada yang ingin kutanyakan padamu."ucap Leana dengan tersenyum saat Naya akan pergi dan Naya hanya dapat mengangguk karena tidak mungkin dia dapat lari dari seorang Leana yang keras kepala. Selesai melakukan pembayaran dua orang wanita itu berjalan kearah sebuah cafe,duduk di sana dan berbicara. "Anakmu sangat tampan,aku baru tahu."ucap Leana dengan tersenyum. "Terima kasih."jawab Naya dengan tersenyum tipis. "Dan juga sangat mirip dengan Aldrich,kalau aku boleh tahu apa kau pernah berhubungan dengan Aldrich?"tanya Leana hati-hati. "Mr.Aldrich...iya dia dulu mantan kekasihku."jawab Naya jujur dan Leana yang langsung membelalakan matanya tidak percaya. "Naya jangan bilang jika anakmu itu juga anak Aldrich?"tanya Leana lagi dan Naya mengangguk pelan. "Mereka sungguh tidak terbantahkan jika mereka memiliki hubungan darah hingga kau memiliki pemikiran seperti itu."ucap Naya dengan tersenyum miris."Tapi dia menolak anakku,dia tidak menginginkan anakku karena itu aku mengatakan bahwa dia brengsek tidak berani mengambil keputusan padahal itu adalah dosa bersama."ucap Naya dengan menunduk. "Jadi karena itu tadi kau menyuruhku untuk menahan Aldrich?"tanya Leana dan Naya kembali menganggukkan kepalanya pelan."Maaf Naya aku tidak bermaksud...." "Tidak apa Leana tapi aku mohon tolong rahasiakan ini."potong Naya pelan. "Apa Aldrich belum mengetahui bahwa dia memiliki tiga anak kembar yang begitu tampan?"tanya Leana lagi. "Tidak,Aldrich tidak pernah tahu karena dulu dia menyuruhku untuk menggugurkan anaknya tapi aku tidak bisa,anakku tidak salah apalagi saat aku tahu bahwa aku membawa tiga nyawa dan jika aku menggugurkan mereka sama saja dengan aku membunuh tiga nyawa kecil.Selama ini aku merahasiannya dari semua orang membawa beban sendirian dan membesarkan mereka dengan kedua tanganku dan cinta yang tulus."jawab Naya dengan menahan airmatanya saat mengingat penolakan Aldrich dulu. Leana kembali terkejut dan dia tidak pernah bisa membayangkan jika dia diposisi Naya yang mengandung dengan perut besar,beraktivitas sulit,melahirkan dan membesarkan ketiganya sendiri tanpa bantuan dari seorang suami,dia mungkin tidak dapat bertahan untuk melakukan semua itu lalu dia mengusap punggung tangan Naya untuk menenangkan Naya. "Aku akan menjaga rahasia ini tapi apa kau sungguh tidak ingin mempertemukan Aldrich dengan ketiga anakmu?"ucap Leana dengan janji dan pertanyaannya. "Aku tidak tahu,aku masih memikirkan semuanya."ucap Naya pelan. "Semua ada di tanganmu Nay,tapi sebuah rahasia tidak dapat kau simpan untuk selamanya karena Aldrich sepertinya tahu dan dia juga akan mencari informasi dengan lebih jelas,kau pasti tahu sendiri bagaimana sifat Aldrich."ucap Leana panjang. "Iya aku tahu dan sepertinya aku harus segera kembali anakku menunggu di rumah dan pasti mereka sedang kelaparan,aku pamit dulu Leana dan terima kasih mau mendengarkan ceritaku."ucap Naya berpamitan dan Leana mengangguk. "Hm,ingin kuantar?"tanya Leana menawari. "Terima kasih Leana tapi aku akan pulang sendiri tidak ingin merepotimu,maaf."ucap Naya dengan tersenyum. "Baiklah hati-hati di jalan."ucap Leana lalu menatap punggung Naya dengan senduh dia tidak pernah menyangkah kehidupan wanita itu begitu sulit dan sepertinya dia harus banyak bersyukur akan kenikmatan hidupnya. Di pagi harinya Aldrich terdiam dengan raut frustasinya saat sebuah informasi yang sangat dia inginkan telah masuk dan dapatkan hingga membuatnya sangat terkejut dan merasa bersalah."Maafkan aku Naya,maafkan aku.Aku menyesal." Dia menggenggam beberapa kertas dengan gemetar dan penuh derai air mata dia menyesali kebodohannya dan merasa sangat bersalah. Setelah itu Aldrich keluar dari apartemennya dan langsung pergi ke rumah Naya. Aldrich begitu gila mengendari mobilnya dan sampai di rumah Naya,Aldrich kembali menemukan kekosongan. "Naya buka pintunya."Aldrich terus menggedor pintu rumah Naya meski dia tahu rumah Naya kosong tidak ada satupun orang disana. Aldrich menangis menyesali semuanya lalu dia segera menelphon orangnya untuk mencari keberadaan dimana Nayanya dengan ketiga anaknya,kenapa dia begitu yakin bahwa ketiga anak itu adalah anaknya karena dia mendapatkan informasi akurat bahwa ketiga anak kembar itu memang anaknya,anak yang dulu dia buang,tidak iai inginkan dan selalu dia anggap sebuah kesalahannya. Kebodohannya juga yang tidak berani untuk bertanggung jawab lebih,ketakutannya dalam mengambil keputusan tapi saat bertemu dengan ketiga buah hatinya,dia merasakan sesuatu yang berbeda jiwa seorang ayah keluar dari tubuhnya iia ingin melindungi,menghapus rasa sedih anaknya,menjadi panutan,menjadi seorang pahlawan untuk ketiga anaknya. Saat melihat anaknya yang bertumbuh besar dan sehat serta wajah yang begitu mirip seperti dirinya dan kenyataan yang menghantamnya membuatnya benar-benar ingin mendekap ketiga anaknya dengan begitu erat,dia ingin memiliki anaknya,dia ingin mendapatkan maaf dari Naya,dia juga ingin Naya menjadi wanitanya seperti dulu membentuk keluarga kecil yang bahagia dan seperti keinginan ketiga buah hatinya. Dia tahu rasa ini meskipun rasa ini tidak pernah dia rasakan dalam sepuluh tahun terakhir di kehidupannya dan jiwa serta raga yang tak pernah bertemu dan saling menyapa namun saat bertemu hatinya bergejolak dan menginginkan lebih,karena itu adalah ikatan batin seorang ayah dan anak. "Maafkan papa nak,maafkan papa."gumannya pelan dan mengemudi tak tahu arah asalkan dirinya dapat menenangkan hatinya dan menghilangkan rasa bersalah serta penyesalannya. Di malam harinya Aldrich datang disebuah tempat yang penuh dengan gemerlap lampu,alkohol,rokok dan adegan panas yang penuh dengan kegilaan. "Hentikan Al."tegur Delwyn menatap Aldrich yang terus meneguk alkohol langsung dari botolnya bagaikan orang gila dan frustasi. Tadi Aldrich menghubungi semua temannya untuk menemaninya minum hingga mabuk sedikit mengurangi rasa sakitnya memang tapi itulah yang diinginkan hatinya yang telah merasa bersalah dan penuh penyesalan. "Aku bodoh,aku brengsek,aku menyesal hati ini begitu sakit."jawab Aldrich dengan menangis pelan. "Apa maksudmu?"tanya Revan penasaran dan tidak biasanya melihat sang sahabat minum dengan gila dan penuh rasa frustasi. "Mereka anakku,mereka kembar tiga namanya Kenzo,Kenzi dan Kenand,mereka adalah darah dagingku,anak yang dulu aku tolak tapi sekarang sangat aku inginkan."jawab Aldrich dengan raut frustasinya,Delwyn dan Revan terlihat terkejut sedangkan Reynand tetap dengan wajah datar dan dinginnya seperti biasa karena dia juga sudah tahu semuanya dari awal. "Jika kau menyesal kau seharusnya tidak di sini,seharusnya kau berbicara dengan Naya."ucap Delwyn kesal karena sahabatnya itu harusnya pergi menemui Naya bukan terdampar di kelab dengan beberapa alkohol karena Alkohol tidak dapat menyelesaikan sebuah masalah. "Aku tadi pagi menunggunya di kantor aku ingin mengajaknya berbicara tapi dia tidak masuk kerja bahkan sama sekali tidak mengabari,telphonnya juga tidak aktif dari kemarin dan aku sudah ke rumahnya tapi dia tidak ada di sana,Naya menghilang bagai ditelan bumi dan entah kemana.Aku sudah mencarinya tapi tidak ketemu."ucap Aldrich dengan kosong. "Bagaimana kau yakin mereka anakmu?"tanya Reynand dengan dingin. "Wajah mereka,tingkah mereka dan data yang baru kuterima hari ini."jawab Aldrich lesuh. "Kau sungguh sangat ingin bertemu dengan Naya dan ketiga anakmu?"tanya Reynand lagi. "Sangat ingin,aku ingin minta maaf dan memeluk anakku."jawab Aldrich dengan kesungguhan hatinya dan serius. "Baiklah,aku akan mengatur pertemuanmu dengan Naya tapi sekarang kau harus pulang dan beristirahat."ucap Reynand seketika itu juga membuat Aldrich menghentikan minumnya dan menatap Reynand. "Kau tidak bohong bukan?"tanya Aldrich tidak percaya dan Reynand menggelengkan kepalanya."Kau tahu di mana Naya berada?" "Aku tahu bahkan aku lebih dulu tahu jika mereka adalah anakmu."ucap Reynand dingin dan datar seperti biasanya hingga membuat ketiga temannya menatapnya tidak percaya. "Dari mana kau tahu dan kenapa kau tidak memberitahuku?"tanya Aldrich dengan kesal. "Karena aku curiga bahwa Kenand yang kita temui selalu berbeda setiap saat Reina mengajaknya waktu itu dan aku tahu dari Reina saat bertemu dengannya secara tidak sengaja bersama tiga anak kembarmu di mall,aku juga terkejut bahkan Reina sempat menyangkalnya hingga aku mendesaknya dan membuatnya jujur mengatakan semuanya."jawab Reynand panjang dengan ceritanya. "Dan aku tidak mengatakannya karena aku ingin melihat reaksimu dan ingin tahu bagaimana dirimu jika bertemu dengan mereka,aku juga ingin membuatmu dekat secara tidak langsung dan menyadarkan ikatan yang sebenarnya terjalin."lanjut Reynand. "Sekarang Reynand akan menolongmu jadi ayo pulang."ucap Delwyn dan merebut botol alkohol Aldrich yang masih setengah. "Apakah aku bisa?"tanya Aldrich pelan. "Bisa karena kau adalah Aldrich dan sahabat kami,kau harus membuat penampilanmu lebih baik seperti Aldrich yang kami kenal.Jika kau bertemu Naya dan Naya melihat penampilanmu yang kacau tidak mungkin Naya akan menerimamu,jadi ayo pulang."ucap Revan memberi semangat dengan tersenyum tulus lalu mengajak Aldrich pulang diikuti Reynand dan Aldrich yang akhirnya mengangguk patuh. TbC
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (78)
onnmokhzani
saya menyukai cerita spt ini.. thank you
10/10
0
AqsaDiana
sangatt banguss novelnya
14/09/2025
0
LestariTantin
suka sama critanya,bagus menginspirasi,wanita memang tidak boleh lemah,apalgi seorang ibu,hrus bisa jadi 2 peran sekaligus,,ak mau lanjut baca dulu,sukses sellu
saya menyukai cerita spt ini.. thank you
10/10
0sangatt banguss novelnya
14/09/2025
0suka sama critanya,bagus menginspirasi,wanita memang tidak boleh lemah,apalgi seorang ibu,hrus bisa jadi 2 peran sekaligus,,ak mau lanjut baca dulu,sukses sellu
24/08/2025
0Lihat Semua