logo text

19. Arga kembali?

Kurasakan sentuhan di keningku, saat kubuka mata tak ada siapapun. Aku tersenyum, dia... Arga. 
Kulihat jendela yang sudah memantulkan sinar matahari, hari ini adalah hari pertamaku masuk kuliah. 
Aku mengambil jurusan akuntansi. Dan, hari ini aku akan memulai kembali hidupku. Aku mulai terbangun dan berjalan lunglai menuju kamar mandi, kemudian setelah mandi aku bersiap dan berjalan menuju ruang makan.
Kak Rafa seperti biasa tak ada di rumah, ia lebih sibuk dari biasanya dan aku sangat paham itu.
Aku memakan roti lapis rasa coklat beserta susu plan.
Monoton sekali hari-hariku, tak pernah seindah saat bersama Arga. 
Aku menunduk, pagi-pagi sudah melow begini, apa aku tidak usah berangkat saja ya?
Duh, dengan berat hati aku melangkah keluar, memesan ojek online kemudian menunggunya di depan rumah. 
Setelah ojol sampai dan mengantarku ke kampus, aku berjalan lunglai memasuki area fakultas. Menatap sekeliling, aku hanya mengulas senyum kecil kemudian kembali berjalan. Sampai, entah kenapa aku merasa diperhatikan. Saat aku menoleh, terlihat seorang lelaki dengan pakaian rapi dan juga tas gendong yang berada di pundaknya, ia tersenyum dan aku terpaku pada senyumnya.
Senyum itu seperti tak asing...
***
Kutatap Eric yang kini menjemputku untuk berangkat bersama. Kami kuliah di satu kampus yang sama, hanya beda fakultas saja. Eric mengambil teknik dan aku akuntansi. Tak ada yang aneh selama aku menjadi maba. Setiap hari pun rasanya monoton, jika tidak dijemput Eric ya naik ojol. 
"Ra,"panggilnya membuatku yang akan menaiki motornya menghentikan aktifitas. Aku berdeham pelan.
"Bisa nggak lo jangan lesu kaya gitu? gue tau lo masih sedih tapi Arga pasti nggak suka liat lo kaya gini,"ucap Eric yang tak ingin kudengar sebenarnya. Aku hanya mencoba menjalani sisa hidupku dan sedang kulakukan. 
Aku hanya mengangguk kecil, malas berdebat dengan Eric. Biasanya, dulu aku paling heboh jika Eric mengajakku bercanda. Tapi, sekarang rasanya terlalu malas mengucapkan banyak kata.
Sejauh itu, kehilangan Arga mengubahku.
Tak terasa kami sudah sampai di kampus dan aku segera memisahkan diri dari Eric. Dan, aku bertemu dengan Nina--teman kelasku. Nina orangnya baik dan dia juga yang membantuku di hari pertamaku menjadi Maba.
"Hari ini katanya Pak Rudi nggak bisa masuk, gue titip absen ya?"pinta Nina yang jelas aku angguki karena hal itu sangat mudah. 
"Thanks yaa, lo udah makan belum? gue traktir deh yuk!"ajak Nina yang lagi-lagi kuangguki karena memang aku belum makan dan siapa sih yang akan menolak di traktir?
"Ayo."
Akhirnya kami sampai di kantin, aku hanya memesan soto dan juga jus alpukat. Sementara Nina memesan ketoprak dan lemontea. 
"Ra, gue boleh tanya sesuatu?"tanya Nina yang membuat gerakku berhenti,"nanya apa?"
Nina tampak memutar sedotannya yang berada di gelas, kemudian menatapku.
"Lo sama Eric pacaran?"tanya Nina yang jelas langsung aku berikan gelengan keras.
"Kita cuma temen SMA, dia udah punya cewek,"jawabku. Ya, Eric dan Arin kembali berpacaran dan Arin yang beda kampus dengan kami berdua.
"Oh gitu, gue pikir lo punya cowok, kemarin ada kating yang nanyain lo, gue jawab aja lo udah punya cowok,"jelas Nina membuatku penasaran siapa yang bertanya.
"Kating?siapa?"
"Kak Arga."
Seketika aku terbatuk, mataku memerah dan dadaku tiba-tiba sesak. Segera aku minum jus alpukat milikku. Menatap Nina yang juga sama terkejut karena respon yang aku berikan.
"Kenapa lo sampe kaya gini?"tanya Nina yang heran, ia menatapku khawatir karena mungkin wajahku semakin memerah. Aku menyimpan gelasku dan tersenyum padanya.
"Kaget aja, ternyata ada yang notice gue ya? padahal gue nggak aktif pas Maba,"jawabku mencari alasan. Tak mungkin aku mengatakan jika nama kating itu mirip dengan almarhum kekasihku?
Aku rasa akan semakin ribet saja menjelaskan jika Nina tahu pacarku sudah meninggal. Aku kembali memakan sotoku dengan cepat, lalu beranjak dari kantin sementara Nina masih terdiam di sana karena menunggu temannya yang beda fakultas.
Aku berjalan dalam diam, memperhatikan orang-orang yang berada di hadapan atau di sampingku, sesekali membalas pesan Kak Rafa yang menanyakan kabar.
"Arga!"
Tubuhku seketika membeku, saat seseorang berteriak memanggil nama yang begitu berarti dalam hidupku. Aku berbalik, dan mendapati seorang lelaki yang pernah aku temui sebelumnya, ia sedang berjalan dan temannya memanggilnya. Mereka mengobrol, lalu temannya pergi dan tersisa dia seorang. 
Lelaki itu mengalihkan pandang dan tatap kami bertemu, dia kembali tersenyum dan mendekat kepadaku. 
Jantungku berdetak tak keruan, jantung yang Arga titipkan berdetak begitu kencang. Saat sudah sampai di hadapanku, lelaki itu mengulurkan tangannya.
"Hai, boleh kenalan? aku Argana Putra Rajendra, kamu?"
Mataku memanas seketika, aku berdeham kemudian mencoba tersenyum.
"A-aku Rachel,"akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Aku menjabat tangannya dan dia kembali tersenyum. Tangannya begitu hangat dan aku... seperti merasa genggaman tangan seseorang. Tangannya sedikit kasar namun hangat, dia terus tersenyum dengan lesung pipinya yang dalam.
"Kamu nggak melupakan aku 'kan?"tanyanya membuatku mengernyit tak mengerti. Apa... dia adalah titisan Arga? kekasihku?
Tuhan, benarkah dia Arga? dia kembali padaku dalam wujud yang berbeda? apa aku boleh bahagia sekarang? 
Bolehkah aku kembali bahagia? merasakan kembali kehidupanku ini bersamanya?
."Arga, jangan tinggalkan aku lagi, jangan pergi lagi, aku mohon."

Komentar Buku (100)

  • avatar
    NabiilaRahmatun

    seru🥰

    30/10

      0
  • avatar
    LoveGirl

    bagus ceritanya

    12/09/2025

      0
  • avatar
    Queen

    bagus ceritanya

    08/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru