logo text

34. Kenyataan

"Hai Ra."
Aku mengerjap, mencoba membuka mata dan hal pertama yang kulihat adalah taman yang indah sekali. Suara air terjun begitu merdu kudengar. Aku menelisik tempat yang sedang kutempati. Aku sedang terduduk di bangku taman dan...
"Arga?"
Ya, Arga... dia Arga dengan parasnya yang dulu. Dia duduk disampingku dengan baju serba putih dan kulitnya yang begitu pucat.
"Arga, kita dimana?"tanyaku menatap sekeliling. Kemudian kembali menatapnya dan segera memeluknya. Aku begitu merindukan sosok Arga yang asli. Aku benar-benar merindukannya.
"Kita ada di tempat aku, surga."
Aku terdiam, mencoba mencerna ucapan Arga dan tak kudapati jawaban dengan otakku yang kini seakan lamban. Aku membuka lebar mulutku dan Arga menoleh dengan wajah tenangnya.
"Kamu tenang aja, ini hanya tempat aku bukan tempat kamu, kamu masih harus melanjutkan hidup, kamu akan pulang."
Aku terdiam, menggeleng kecil sebagai jawaban bahwa aku menolak jika harus pulang sendirian.
"Kamu juga harus pulang, ayo kembali ke tubuh Argana--"
"Semua itu nggak nyata Rachel."
Badanku seketika kaku, airmataku jatuh begitu Arga menatapku dalam. Apa yang ia ucapkan? apa maksud semua ucapannya? aku sama sekali tidak mengerti.
"Kamu dengan semua halusinasi kamu, kamu harus sembuh Rachel, kamu nggak boleh kaya gini!"
Arga mencengkram erat bahuku, aku semakin tidak mengerti dan kini aku balik mencengkram lengannya. Aku butuh penjelasan, aku benar-benar tidak mengerti.
"Kamu... semuanya hanyalah dunia hayalan yang kamu buat sendiri."
Aku menggeleng keras, tidak. Semua itu nyata, tidak mungkin khayalan. Argana adalah Arga dan ya, aku tidak pernah berhayal apapun. Arga salah, dia salah.
"Ayo sembuh Rachel, kamu nggak bisa stuck di rumah sakit jiwa itu, kamu harus sembuh dan bertemu Kakak kamu!"
Aku sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Rumah sakit jiwa? apa maksudnya itu?
"Apa maksudnya? kamu bilang aku... di rumah sakit jiwa?"tanyaku tak terima. Aku kini mencengkram kerah bajunya erat. Bagaimana mungkin? semua perjalanan panjang antara aku dan Arga? apa maksud semuanya? kenapa aku ada di rumah sakit jiwa?
"Sosok Argana itu nggak nyata, Rachel kamu harus tahu bahwa aku mendonorkan jantung aku karena aku mempunyai penyakit yang nggak bisa disembuhkan, bukan karena aku ingin meninggalkan kamu, jangan pernah merasa bersalah untuk semuanya, nggak ada yang salah dan kamu harus hidup normal kembali."
Mataku membulat, tak pernah sedikitpun Arga menjelaskan tentang penyakit yang dideritanya? kenapa...
"Aku takut, aku takut kamu menjauhi aku Rachel, aku sayang kamu, sangat amat menyayangi kamu,"ucap Arga tulus. Benar-benar tulus dengan bola mata yang melebar saat Arga mengatakannya. Aku tak bisa membendung apapun lagi. Aku meraung, jadi selama ini... semua yang telah aku lalui bersama Argana hanya dunia fana? aku gila?
Aku meluruhkan tubuhku diatas rumput, suara air terjun itu berubah menyakitkan ditelingaku. Aku... bagaimana mungkin semua ini terjadi?
Aku hanya berhayal akan kehadiran Arga di hidupku lagi dan apa semua yang telah aku lalui juga hanya sebuah kebohongan?
Aku berjalan menyusuri taman dengan tatapan kosong. Tak kuhiraukan Arga yang memanggil namaku, dan kini aku berjalan menuju kearah air terjun. Aku terkejut karena ternyata aku mengambang di atas air, ya semua adalah keajaiban. Aku hanya seorang yang kini mempunyai kelainan kejiwaan. Aku...
Aku berbalik dan menatap Arga yang tersenyum. Lelaki baik itu, seseorang yang datang dan masuk kedalam kehidupanku dengan begitu indahnya. Ia meninggalkanku dengan begitu menyakitkan. Ia pergi, membawa semua kenangan yang ada pada diri ini. Dia pergi dengan semua hal yang pernah kita janjikan dulu.
Aku terkekeh, rasanya begitu menyakitkan begitu tahu jika semua hanya khayalanku saja. Semua itu tak benar dan tak ada yang bisa dibenarkan dari semua hal yang telah aku dan Argana alami. Aku dan Arga hanyalah sebuah harapan yang pupus. Aku hanya dapat melihatnya seperti bintang, dia tetap akan menjadi bintang dalam kehidupanku. Entah dulu, kini, dan dimasa yang akan datang. Dia tetap menjadi Arga milikku.
"Terima kasih Arga, terima kasih untuk semuanya. Kamu... kamu adalah segalanya untuk aku, aku bahagia telah melewati dunia fana yang kubuat sendiri, rasanya menyenangkan kembali bertemu dengan kamu, aku... aku berjanji akan sembuh dan bahagia."
Aku menitikkan airmata untuk yang terakhir kali karena kini air terjun itu seperti menyerap tubuhku dan aku merasa berada di atas benda empuk.
"Rachel, Kakak mohon bangun."
Aku melengguh, dan saat membuka mata, aku mendapati Kak Rafa yang menggenggam erat tanganku. Aku mencoba untuk mengelus rambutnya namun terlalu lelah rasanya.
"Kakak..."
Kak Rafa mendongak, ia segera bangun dan mencium keningku, lama. Kak Rafa menangis dalam diam. Aku tahu karena kurasakan setitik cairan yang membasahi batang hidungku kemudian jatuh ke pipi.
"Jangan tinggalkan Kakak, jangan tinggalkan Kakak."
Lirihan itu terdengar sumbang di telingaku, sebegitu putus asanya kah? aku mencoba untuk meraih tangannya yang berada di samping tubuhku. Kali ini berhasil, aku mengenggamnya dan Kak Rafa menatapku.
"Sudah berapa lama aku di rumah sakit jiwa ini?"tanyaku dengan suara lirih. Kak Rafa tampak terkejut dan ia mencoba menetralkan napasnya. 
"Bagaimana kamu tahu?"tanya Kak Rafa. Aku tersenyum, "jawab pertanyaan aku."
"Satu tahun, sebelumnya Kakak berusaha untuk merawat kamu tapi Kakak gagal dan berakhir kamu disini, kamu... sadar sekarang?"

Komentar Buku (100)

  • avatar
    NabiilaRahmatun

    seru🥰

    30/10

      0
  • avatar
    LoveGirl

    bagus ceritanya

    12/09/2025

      0
  • avatar
    Queen

    bagus ceritanya

    08/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru