Beranda/Catatan Luka Istri Rahasia/
41. Menantu tanpa Restu
Ini hanya tentang menggerakkan kaki, tetapi aku bahkan sampai kesulitan bernapas untuk hal sederhana ini. Hingga pada akhirnya, aku kembali merosot, beberapa detik setelah Mas Satya menjauh. Ia segera menghampiri lagi diriku yang kini hanya lesehan di lantai, dengan tangan masih berpegangan kuat pada dua besi penopang tubuh.
"Nggak bisa ...." Aku meringis, lalu memukul-mukul kaki yang sama sekali tidak menimbulkan sakit sedikit pun. "Ini ... bukan lumpuh permanen, 'kan?"
"Nggak kok." Mas Satya berlutut di depanku. "Tangan kamu aja sekarang udah bisa gerak. Tinggal kaki aja, ini. Paling beberapa bulan lagi."
Mas Satya membantuku berdiri. Meski belum waktunya untuk istirahat, ia tetap menggendongku duduk di sofa.
"Nggak papa. Nanti sore lanjut lagi latihannya." Mas Satya mengusap kepalaku, lalu menarik pelan sampai ia bersandar di sofa, sementara aku di dadanya.
"Nggak ada kabar dari Papa lagi? Ini sudah ... empat bulan," tanyaku, sembari mendongak khawatir ke arah Mas Satya.
"Eh, sebentar. Kalau nggak salah denger, ponsel aku bunyi deh tadi." Mas Satya melepaskan diri secara hati-hati. Ia keluar dari ruang keluarga ini, lalu kembali tidak lama kemudian, dengan ponsel sudah melekat di telinganya.
Aku menunggu penasaran, karena Mas Satya hanya mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan entah siapa di seberang sambungan. Padahal, lawan bicara tidak melihatnya sama sekali. Ia baru berbicara, menjelang penutupan telepon. Itu pun hanya mengucap terima kasih.
"Feeling kamu kayaknya kuat banget." Mas Satya berhenti di depanku, tersenyum tipis yang menular padaku. "Papa sudah sadar."
Aku langsung melebarkan senyum. Begitu semangat mengulurkan tangan, dan segera ditarik oleh Mas Satya sampai berdiri di depannya. Ia mendekapku erat agar tidak jatuh. Hanya perlu mengangkat pinggangku, Mas Satya sudah bisa membawaku ke kursi roda yang tidak jauh dari posisi sofa.
Mas Satya mendorong kursi roda, hingga ke teras rumah. Ia menutup pintu terlebih dahulu, sebelum memindahkanku ke mobilnya. Kursi roda turut dibawa ke belakang. Ia menyusul masuk, duduk di kursi kemudi.
"Deg-degan?" tanya Mas Satya setelah keluar dari pekarangan rumahnya.
Aku mengangguk antusias, sampai bingung harus mengutarakan kalimat jenis apa agar menggambarkan perasaanku saat ini. "Seneng banget."
Mas Satya mengambil tanganku, digenggam lembut. "Aku juga."
Aku menoleh pada Mas Satya. Jika aku antusias ingin bertemu Papa setelah beberapa bulan, pria ini malah ... sebaliknya. Aku tidak lagi menemukan senyum bahagia di wajahnya, kecuali saat pandangan kami bertemu.
"Kenapa?" Aku bertanya hati-hati, karena kekhawatirannya gagal untuk Mas Satya sembunyikan.
"Nggak papa."
"Mas ...." Aku merengek, tidak suka jika pria ini kembali ke mode Satya lama.
Ia mengalah. Dimulai dengan embusan napas berat, Mas Satya menoleh padaku sebentar. Mulai menjawab.
"Aku ragu, Papa bakalan terima aku lagi, Sayang." Ia menjeda sejenak, hanya untuk mengatur napasnya lagi. "Kalau ingat interaksi terakhir kami ... apalagi kalau sampai Papa tahu kamu lumpuh—aku kayaknya harus siap-siap."
"Papa cuman tambahin 'sedikit' pukulan lagi, Mas." Aku menanggapi, berniat untuk mencairkan suasana. Meski aku sudah terkekeh pelan, Mas Satya masih belum terpengaruh.
"Iya, kalau cuman pukul—nggak papa. Gimana kalau ... Papa paksa kita pisah?" Mas Satya menutup opini menakutkannya dengan meneguk ludah. Ia semakin kuat menggenggam tanganku.
Sementara aku, tidak tahu harus memberikan semangat dalam bentuk apa. Karena aku sendiri ragu bisa menghadapi Papa, setelah apa yang Mas Satya sampaikan.
*
Tiba di depan ruangan Papa, Mas Satya tidak langsung membuka pintu. Ia diam sejenak. Entah karena sibuk membuka masker, atau karena pikirannya terlalu rumit. Setelah aku melirik padanya, barulah Mas Satya mendorong pintu, dan mendorong kursi roda secara perlahan memasuki ruangan.
Papa sontak langsung melirik ke arahku. Bahkan, tampak bersiap untuk bangkit, tetapi aku cegah cepat.
"Papa baru sadar!" Aku menegur, memasang wajah marah yang dibuat-buat, agar Papa mengerti keseriusanku. Beliau segera mengembalikan posisi tangannya yang semula siap menopang tubuh untuk bangkit.
Papa melirikku dan Mas Satya secara bergantian. Lalu, fokus hanya padaku, ketika aku mengambil tangan Papa untuk aku genggam.
"Aku seneng banget ... Papa akhirnya sadar." Aku mengecup punggung tangan Papa, dan tidak lagi memaksakan diri untuk tampil kuat. Aku meluruhkan air mata di punggung tangan Papa, meski tidak sampai terisak. "Papa kelamaan tidurnya!"
"Kamu sendiri ... yang duluan lama tidurnya!" balas Papa, dengan nada sinis di awal. Ia kemudian tersenyum lembut.
Gerakan tangan Papa yang sebelahnya begitu lemah ketika menghampiri wajahku. Mengusap bawah mataku meski kupikir tidak banyak membantu. Papa masih lemah, sehingga usahanya hanyalah berusaha sentuhan lembut.
"Kamu gimana ... selama Papa tidur?"
"Aku baik, Pa." Aku menipiskan bibir, membentuk senyum ketika mendongak pada Mas Satya sebentar. "Mas Satya bantu urusin usahanya Papa, jadi ... nggak perlu khawatir."
"Kamu ...." Papa melirik sebentar ke kursi rodaku. "Kenapa pakai itu?"
Aku langsung nyengir, agar tidak terlalu serius mengenai masalah ini. "Ada ... sedikit masalah di tubuh aku, Pa. Hehe ...."
Raut wajah Papa langsung berubah masam.
"I—ini sementara, kok. Malah kemarin, dari leher ke bawah, nggak bisa digerakkin, Pa. Setelah latihan sama Mas Satya empat bulan, tangan-tangan aku udah gerak. Walau bagian perut ke bawah masih ... aku belum bisa kendaliin."
"Medina ...." Papa memanggil putus asa. "Kamu bilang itu 'sedikit' masalah? Kamu ... kamu nggak bisa jalan, Nak. Kamu bahkan ...." Papa memegangi dadanya, menggunakan tangan yang aku genggam. "Kamu kehilangan anak kamu. Kamu bilang itu sedikit masalah?"
Aku langsung menenangkan Papa karena beliau tampaknya tidak terlalu kesakitan. Namun, tetap, Mas Satya memanggil perawat dengan menekan tombol dalam ruangan ini.
"N—nanti bisa punya anak lagi, kalau udah sehat." Aku menjawab tenang, meski tetap saja masih terguncang dengan kenyataan itu. "Aku nggak papa sekarang. Malah, bagus, keadaan aku yang kayak gini bisa ngerepotin Mas Satya. Bisa hukum dia sedikit."
"Nggak perlu hukum-hukum apa pun. Mending pisah. Kelar." Papa memberikan keputusan tegas. "Papa sekarang sudah sembuh. Sudah cukup dia bantu kamu. Papa bisa rawat kamu. Bisa ajarin kamu jalan lagi kayak pas kecil."
"Tapi ... aku sekarang beda sama masa kecil, Pa."
Ketegasan Papa tidak boleh aku balas dengan hal sama. Karena kemauannya hampir sama denganku dulu, jadi sangat paham dengan kekhawatirannya.
"Nggak ada bedanya. Papa masih kuat buat tuntun kamu jalan. Papa bakalan kerja keras buat bayar dokter, pembantu, atau pengurus kamu—atau apa pun yang kamu butuhkan. Kamu nggak butuh suami kamu lagi."
"Pa ...." Mas Satya maju selangkah, berdiri di sampingku. "Tolong ... beri saya satu kesempatan lagi, untuk jaga Medina. Sekarang, suasananya berbeda. Semua masalah sudah kelar. Kakak saya, dan semua penjahatnya sudah dipenjara. Saya bisa jaga Medina dengan jaminan nyawa saya, Pa."
"Medina hampir mati tiga kali—kamu masih baik-baik saja, Satya," balas Papa.
"Papa ...." Aku memanggil lembut. Kali ini membawa ke depan wajah tangan Papa yang sedari tadi kugenggam, karena beliau sudah tidak mencengkeram erat dadanya.
Bersama dengan itu, seorang suster masuk. Memeriksa keadaan Papa, yang entah apa saja. Aku tetap melanjutkan bujukan tanpa peduli orang asing itu.
"Kecelakaan kemarin itu konsekuensi, Pa. Sekarang ... aku memang. Anak hebat Papa ini bisa kalahin mereka semua. Papa nggak bangga? Ya ... walau celaka dikit, tapi seenggaknya ... misi sukses, Pa. Musuh-musuh pernikahan kami udah dikelarin semua. Aku dan Mas Satya sudah bisa hidup tenang sekarang. Sama calon cucu Papa nantinya—kalau aku hamil lagi. Kita sekarang nggak perlu takutin apa pun lagi."
"Medina ...." Papa memanggil frustrasi. "Papa nggak bisa tenang gitu aja. Tiga kali, Medina. Kamu celaka tiga kali, dan hampir semuanya ambil nyawa kamu. Gimana kalau masih ada yang jahat sama kamu, dan keberuntungan kamu udah habis?"
"Ya ... jangan doa kayak gitu, Pa." Aku terkekeh ringan. "Aku beneran bakalan baik-baik aja ke depannya, Pa. Papa tenang aja, pokoknya. Nanti, kalau misal Papa nggak percaya, Papa bisa datang kunjungi aku kapan pun yang Papa mau."
"Nggak perlu, Medina." Mas Satya mendadak menginterupsi ucapanku. "Papa masih kangen sama kamu. Jadi ... gimana kalau kita tinggal di rumah Papa kamu selama Papa kamu lagi masa pemulihan?"
Aku langsung mengangguk antusias, sementara Papa hanya bisa mengembuskan napas beratnya.
Ini salah satu usaha untuk meyakinkan Papa.
*Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (31)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ok banget
02/08/2023
0apk bagus
07/06/2023
0Menarik sekali ceritanya
06/06/2023
0Lihat Semua