Beranda/Catatan Luka Istri Rahasia/
40. Pertahanan Egois
Papa sama sekali belum sadar ketika aku sudah diizinkan untuk pulang. Hal ini menyebabkan aku terpaksa harus tinggal dengan Mas Satya, setidaknya sampai Papa pulih, atau ada keajaiban tubuhku bisa digerakkan.
Mas Satya sungguhan memenuhi apa yang ia katakan. Usaha Papa, dia yang urus sepenuhnya, selama Papa masih belum sadar. Bahkan, meski bayarannya tidak sesuai dengan honor sinetronnya.
Setiap hari, ketika Mas Satya berangkat bekerja, perawat yang akan membantu untuk keperluan terapi selama tiga jam, kemudian Bunda yang biasanya datang untuk menjagaku sampai Mas Satya pulang dari kantor.
Namun, di hari keenam setelah aku keluar dari rumah sakit, Bunda tidak datang. Padahal, perawat sudah waktunya pulang. Aku juga segan menahan terlalu lama.
"Mbak pulang aja. Saya bisa jaga diri, kok. Cukup bantu bawa saya ke ruang keluarga saja," ucapku ketika itu.
Perempuan ini tampak tidak nyaman, tetapi tetap, ia mendorong kursi roda yang aku kenakan sekarang meninggalkan samping kolam renang. Memasuki rumah. Semua pintu belakang ditutup oleh perawat, sebelum membawaku ke ruang keluarga.
"Maaf, ya, Mbak? Saya juga punya anak, dititip sama tetangga. Tetangga juga orangnya sibukan. Kasihan anak saya kalau saya telat pulang."
Aku mengangguki alasan si perawat, sembari memberi senyum tipis. "Nggak papa. Lagian tadi sudah sarapan. Bunda nggak bakalan telat datang, kok."
"Iya, Mbak." Perempuan itu menyetujui usulanku. Namun kemudian, ia mencari-cari sesuatu. Meletakkan ponselku di atas paha, kemudian membawa tanganku di atas benda pintar itu. "Mbak nanti langsung telepon saya kalau ada apa-apa, ya?"
Aku mengiyakan. Berhubung jemariku sudah mulai bergerak, aku pikir, mudah memenuhi arahan si perawat. Jadi, ia bisa pergi dengan tenang.
Usai suara pintu utama ditutup terdengar, aku mengalihkan fokus ke televisi. Tidak ada ancaman yang perlu ditakuti sekarang. Aku bahkan sudah kembali ke rumah lama Mas Satya. Semua para penjahat dalam hidupku sudah dipenjara.
Seharusnya ... tidak perlu ada yang ditakutkan lagi. Seharusnya ... tidak ada keraguan lagi.
Aku kembali ke pemikiran yang rumit, karena keputusanku sendiri. Waktu satu pekan yang diberikan Bunda, nyatanya tidak cukup, karena mengingat keadaan Papa. Aku juga butuh pertolongan Mas Satya, dalam urusan pribadi. Maka, pisah sekarang bukan pilihan yang tepat.
Mungkin ... mengejar kesembuhan adalah hal yang bisa aku usahakan sekarang. Jemariku mulai bergerak, dan telapak kakiku mulai kuat.
Melirik ke samping, pada pegangan sofa, aku menggerakkan tangan kiriku yang masih di atas pegangan kursi roda agar bisa berpindah ke sofa. Namun, sedalam apa pun aku mengerutkan kening saking fokusnya, tetap saja ... hanya sebatas jari yang bisa bergerak. Telapak tanganku bahkan tidak bisa terangkat sedikit pun, jadi ... percuma.
Aku bahkan jauh lebih tidak berguna dibandingkan bayi sekarang. Uh, bahkan ... bayi setidaknya punya harapan untuk berjalan setelah setahunan. Aku ... entah kapan harus membebani orang lain seperti ini.
Penyesalan-penyesalan seperti itu terus menumpuk dalam diriku, hingga ... aku sudah tidak tahu dengan cara apa untuk melampiaskannya, selain hanya bisa mengeluarkan air mata ketika sendiri.
Sekarang, seharusnya waktu yang tepat untuk melampiaskan semua bebanku, karena tidak ada orang. Bunda pasti tidak akan datang, sebab kemarin, ia mengatakan harus mengunjungi sepupunya yang sakit parah. Jadi, akan ada banyak waktu untuk membuat air mataku mengering sebelum kedatangan Mas Satya.
Namun, aku baru mengeluarkan beberapa tetes air mata, ketika mendengar suara pintu dibuka. Sekarang ini pukul setengah dua belas siang. Si perawat tidak mungkin datang karena baru saja pergi. Pengantar makanan juga biasanya tidak akan berani membuka pintu. Apa mungkin Bunda? Tapi kemarin dia mengatakan tidak akan datang hari ini.
Aku panik. Tentu saja. Wajahku masih basah, dan aku tidak tahu harus bagaimana untuk mengeringkannya. Aku berusaha menundukkan kepala dengan sangat dalam, agar setidaknya bisa mencapai lengan pakaian, atau dada, tetapi leherku tidak sefleksibel itu, dan berakhir dengan hilangnya keseimbangan tubuh karena aku terlalu memaksakan. Si perawat lupa mengunci roda kursi ini, dan berakhir tubuhku terdorong ke depan, sementara kursi mundur menjauh ke belakang.
"Medina ...." Seruan terkejut itu membuatku segera menoleh ke arah pintu.
Mas Satya yang datang.
Dia berlari cepat ke arahku, membantu memutar tubuhku hingga bisa telentang, dengan begitu, ia mudah membawaku duduk ke sofa.
"Kok Airin sudah pulang? Kenapa nggak tunggu Bunda sebentar?" tanya Mas Satya cemas. Ia memeriksa wajahku dengan teliti. Mengusap beberapa titik, yang kuyakini memar karena menimbulkan nyeri.
"Bunda harus ngunjungin sepupunya yang lagi sakit. Airin juga harus jaga anaknya. Kamu nggak usah limpahin kesalahan ke orang lain, Mas."
"Sakit banget?" tanya Mas Satya, yang jauh di luar topik kami sebelumnya. Ia mengusap bawah mataku, sembari memberi tatap intens yang nyaris tidak pernah terputus walau hanya karena sekadar kedipan.
"Nggak." Aku segera memalingkan wajah ke televisi. "Kenapa pulang sekarang? Bukannya jam limaan nanti?"
"Feeling aku nggak enak tadi," jawab Mas Satya yang entah jujur atau tidak. "Dan beneran, 'kan? Kamu di sini sendirian. Bunda kenapa nggak laporan ke aku kalau nggak bantu jagain kamu hari ini?"
"Bunda pesannya ke aku, buat bilang ke kamu—"
"Jadi ... kenapa nggak bilang ke aku?"
"Kamu udah sibuk urus usahanya Papa. Aku nggak bisa nambah beban lagi."
"Kenapa kamu selalu posisikan diri kamu sebagai beban di sini, Medina? Kamu istri aku. Kamu beban sama sekali, oke? Aku ... beneran nggak kenal Medina yang mudah insecure gini."
"Aku—"
"Mau makan martabak manis? Tadi aku beli. Kamu suka yang manis-manis, 'kan? Tapi jangan banyak-banyak, ya? Aku ngeri tadi lihat topping-nya," tawar Mas Satya, yang sama sekali belum aku tanggapi, tetapi ia sudah turun dari sofa demi mengambil kantongan putih dari lantai.
Mas Satya meletakkan sebentar kantongan itu di atas meja. Pergi dari ruangan ini setelah melepas jas kerjanya, menyisakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Hanya sebentar. Pria itu muncul tidak lama kemudian. Duduk di sampingku, mengambil kantongan untuk mengeluarkan kotaknya. Memamerkan sebuah martabak manis denhan topping yang benar-benar penuh di atasnya. Menggunakan sebuah pisau, Mas Satya membaginya menjadi potongan-potongan kecil, lalu menyuapiku dengan tangannya sendiri.
"Kamu suka nonton apa?" tanya Mas Satya, sembari melirik televisi yang menayangkan berita. "Suka acara berita?"
Aku secara asal mengangguk.
"Aku beneran ... kok kayak nggak kenal istri sendiri, ya? Padahal, kita sudah menikah setahunan." Pria ini menunduk, memperlihatkan penyesalan kentara. Ia menengadah, hanya untuk memberiku senyum bersalah. "Maaf, Sayang. Setelah ini, aku punya banyak waktu buat kamu. Kapan pun kamu mau, aku selalu ada di samping kamu. Kalau perlu, 24 jam ... aku bisa bawa kamu selalu sama aku."
"Tapi belum tentu aku berubah pikiran," ucapku cepat setelah Mas Satya berhenti berbicara.
"Berubah pikiran? Masalah?"
"Perceraian kita."
Berbeda dari rumah sakit, Mas Satya malah mengangguk tenang kali ini. "Itu pilihan kami, terserah kamu saja."
Kok ... sakit, ya?
Aku mengerjap beberapa kali secara cepat. Merutuk diri sendiri yang ... jujur saja, aku bahkan tidak mengenali diriku yang sekarang. Terlalu aneh ... dan entahlah. Aku ingin lepas, tetapi kenapa malah terasa sakit saat Mas Satya mengiyakannya tanpa beban sama sekali?
"Aku mau ganti baju sebentar, setelah itu kita jalan-jalan, oke?" tawarnya, yang bahkan belum aku tanggapi apa pun. Mas Satya sudah beranjak dari duduknya. Membawa martabak tadi bersamanya, padahal aku baru memakan satu potongan.
Aku mencoba fokus pada tayangan di televisi. Aku sama sekali tidak bisa menangkap apa pun dari berita yang disampaikan, sampai Mas Satya akhirnya muncul lagi.
"Memar kamu kok, tambah parah?" tanya Mas Satya, dengan nada sedikit panik. Ia keluar lagi, lalu datang dengan membawa sebaskom air serta lap bersih. "Sini-sini."
Mas Satya mengompres wajahku dengan air dingin, penuh ketelatenan. Pada jarak kami yang dekat ini, seharusnya aku merasakan debar khusus untuk Mas Satya, tetapi ... tidak ada. Apa jantungku juga ikut mati rasa sekarang?
"Aku ... kenapa?" tanyaku lirih. Pandanganku menunduk, mencari-cari sesuatu pada diriku sendiri, tetapi entah apa.
"Kamu memar, karena jatuh tadi."
"Bukan itu." Aku menggeleng kecil. "Aku nggak tau sama diri sendiri. Aku ... kayak nggak kenal diri aku sendiri. Aku ... otak aku nggak kena dampak dari kecelakaan, 'kan?"
"Kalau kata Bunda, kamu cuman trauma pasca kecelakaan. Apalagi dengan kondisi kamu sekarang ... kamu gampang terbebani segala sesuatu yang padahal seharusnya nggak kamu pikirin. Otak kamu membaca situasi secara berlebihan. Membuat kamu merasa diri kamu beban, merasa diri kamu nggak berguna, merasa ... kamu nggak mau merepotkan orang lain, padahal, aku sendiri nggak pernah merasa kayak gitu."
Aku diam sebentar.
"Kamu masih bingung. Efek kecelakaan emang bisa pengaruhi mental seseorang." Mas Satya melanjutkan. "Nggak papa, Sayang. Aku bisa bantu kamu supaya kembali semangat lagi. Kamu cukup perlu satu hal ...." Ia menempelkan kain basah di pipiku, mendorong ringan, wajahku agar lurus padanya. "Kamu bukan beban. Kamu nggak beratin aku sama sekali. Kamu ... istri aku, dan kamu ... anugerah paling ... paling berharga di hidup aku, Medina."
Kami tidak saling bicara selama beberapa saat, membiarkan suara televisi jadi satu-satunya sumber suara.
"Aku yang harusnya ngerasa ... nggak berguna di sini. Satu tahun nikah sama kamu ... aku pikir, aku nggak pernah lakuin sesuatu yang bikin kamu bahagia. Aku kurung kamu di sini, sementara aku sendiri bebas di luaran sana. Aku bahkan marah sama kamu padahal kamu cuman cemburu aku dicium sama perempuan lain. Tapi, meski semua yang sudah aku lakuin ke kamu ... kamu masih mau mempertaruhkan hidup kamu berulang kali, cuman buat selamatkan aku dari penjara. Aku bahkan nggak becus jaga kamu, dan ... anak kita."
Mas Satya menjeda sebentar penjelasannya karena harus merendam kain di air dingin. Menempelkannya di kening, dengan penekanan pas.
"Kalau seandainya kamu beneran mau pisah ... aku nggak bakalan larang lagi. Hidup sama aku emang ... serumit itu. Aku terlalu egois; nggak lepasin kamu sejak awal, padahal masalah aku belum selesai sama sekali. Cuman ... kalau aku boleh minta untuk yang terakhir kali ... biarin aku jaga kamu, ya? Seenggaknya, sampai Papa kamu sehat lagi. Aku bakalan tenang lepas kamu setelah itu."
Mendengar itu, aku langsung dilanda kebingungan. Aku sudah membuka mulut untuk berbicara, tetapi entah apa yang menahan, sehingga aku hanya bisa mengandalkan jemariku untuk meraih kain dari celana training Mas Satya untuk kugenggam.
Pria itu menyadarinya. Segera menunduk, dan tersenyum ketika ia kembali menengadah. Kain tadi diletakkan ke dalam baskom. Kali ini ia menggunakan telapak tangannya yang dingin untuk meredam memar di tulang pipiku.
"Nggak mau pisah?"
Aku mengangguki pertanyaan Mas Satya.
"Aku juga," lanjutnya. "Jadi ... jangan pernah bahas perpisahan sekarang, oke? Fokus sama kesembuhan kamu—" Ia membawa helaian rambutku ke belakang telinga, "supaya kamu bisa jalan lagi. Kamu cuman lumpuh sementara, kok. Syaraf-syaraf kamu bisa kembali aktif kalau sering dilatih. Tenang saja."
Sekali lagi, aku menggerakkan kepala-turun. Baru berhenti menggerakkan kepala, ketika Mas Satya menatap mata dan bibirku secara bergantian tanpa berkedip. Aku tahu yang akan dia lakukan, dan tidak melakukan tindakan penolakan apa pun, ketika Mas Satya benar-benar menciumku.
"Yang aku bilang tadi ...." Dia menjeda sejenak, tetapi tetap menempelkan kening kami. "Walaupun aku cuman uji kebingungan kamu—aku tetap serius. Aku berutang banyak sama kamu, yang nggak bakalan pernah bisa aku bayar seumur hidup. Jika nantinya kamu beneran muak, nggak sanggup hidup sama aku ... kamu bakalan aku bebasin. Cukup satu tahun lebih, aku tahan kamu dalam keegoisan aku."
Aku menggeleng pelan. "Tahan aku sekali lagi, dalam keegoisan kamu," bisikku lirih.
Aku memajukan wajah, dan Mas Satya yang berinisiatif untuk memberikan apa yang aku mau.
*Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (31)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ok banget
02/08/2023
0apk bagus
07/06/2023
0Menarik sekali ceritanya
06/06/2023
0Lihat Semua