Part 34

POV Ibu
Flashback on.
*** 
“Hanya karena aku lalai memberimu sesajen meski baru sekali, kau ambil nyawa suamiku! Kau tega, Nyai! Hiks. Tidak adil!”
Kupeluk erat jazad suamiku yang baru saja meninggalkan dunia ini. Aku tak terima dengan perlakuan Nyai Astuti saat mengetahui suamiku sudah tak lagi bernapas.
Terasa tak adil saat kehilangan seorang yang paling kusayang begitu saja. Seharusnya aku yang ada di posisinya. Aku yang salah, kenapa dia yang harus menerima balasannya. Keterlaluan Nyai Astuti.
Air mataku tak hentinya mengalir. Dadaku terasa semakin sesak. Ada rasa dendam yang mendalam kepada sosok Nyai Astuti. Dia melakukan seperti ini rasanya tak adil bagiku. Hanya sekali aku lalai tidak memberikan sesajen, kenapa harus digantikan dengan nyawa suamiku? Tidak adil.
“Hihihi … aku hanya melakukan seperti yang ada diperjanjian kita saja, Diyah! Apa kau lupa! Jika kau tidak memberiku sesajen akan ada orang terdekatmu yang tersakiti. Jangan pura-pura b*d*h kau, Diyah! Jangan pernah menyalahkanku atas kesalahanmu!”
Dia lenyap begitu saja setelah menghilangkan nyawa suamiku. Hanya ada suara tawanya yang menebar kemistisan. Aku sama sekali tidak merasakan takut. Di dalam hatiku hanya ada kebencian kepadanya. Dia semena-mena mengambil nyawa orang yang paling kusayang.
“Kau sangat tega, Nyai! Ini semua tidak adil bagiku!”
Aku tetap saja memprotesnya. Tak ada rasa takut lagi kepadanya. Nyawa sudah tak lagi kupikirkan.
“Hihihihi ….”
Hanya tawanya saja yang terdengar di seisi rumah ini. Iblis laknat.
Aku harus pergi dari sini. Jangan sampai ada yang terluka lagi seperti suamiku. Ya, aku harus segera pergi ke Desa Larangan seperti yang sudah kurencanakan. Biar hanya berdua di sana. Akan kuatur segalanya. Kau yang akan mengikuti alur yang kubuat. Kau harus tunduk pada permainanku.
Dalam hati terucap janji yang bernada dendam pada Nyai Astuti. Dia tak sepenuhnya tahu dengan apa yang sedang kupikirkan. Aku yakin, semua yang kurencanakan akan tetap aman.
*** 
“Joko! Tolong ke sini. Mas Syukur meninggal. Dia terkena serangan jantung. Tolong jangan beritahu Ubay dan Fira dulu. Kamu datang ke rumahku dulu. Hiks.”
Setelah membaringkan suamiku di tempat yang lebih layak, aku segera menelepon adikku. Meski jam di dinding hampir tengah malam, aku tetap menghubunginya. Tentunya, alasan meninggal kubuat sendiri. Meski tadi suamiku terlihat seperti orang yang tercekik, tapi di lehernya tidak ada bekas yang tertinggal. Aku pun heran.
Aku mewanti-wanti Joko agar tidak memberitahu kepada Ubay dan Fira jika bapaknya sudah meninggal. Aku tidak mau mereka datang ke rumah ini dan bertemu dengan Nyai Astuti. Aku tak akan membiarkan Nyai Astuti mengganggu mereka.
“Innalillahi! Iya Mbak, nanti aku ke situ. Tapi kenapa Ubay dan istrinya nggak diberitahu saja. Mereka pasti ingin melihat bapaknya untuk yang terakhir kalinya, Mbak. Aku beritahu saja ya?”
Dari ujung telepon, suara Joko terdengar sangat panik. Dia pun meminta persetujuan untuk memberitahu kabar duka ini kepada Ubay dan Fira. Aku tak akan mengizinkannya.
“Jangan beritahukan ke siapa-siapa dulu. Ubay dan Fira, jangan kamu hubungi dulu. Aku mohon padamu, rahasiakan masalah ini untuk sementara waktu. Kamu cepat ke sini.”
“Oh iya, Mbak. Aku akan segera datang ke rumahmu, Mbak.”
“Iya, jangan lama-lama. Aku menunggu.”
“Iya Mbak.”
Tut.
Sambungan terputus. Mungkin dalam benaknya banyak pertanyaan yang terlintas. Hanya saja dia tak mempertanyakannya lagi. Mungkin tahu, posisiku saat ini sedang sangat kacau.
Hampir dua jam menunggu, akhirnya Joko sudah sampai di rumahku. Aku menyambutnya dengan tangisan.
“Mbak, Mbak yang sabar ya?”
Tri—istri Joko memelukku. Dia menguatkanku yang tengah berduka.
“Iya Tri, terima kasih.”
Joko dan Tri pergi ke tempat dimana suamiku terbaring sudah tak bernyawa. Dia masih di dekat tembok, tempat ajalnya menjemput. Aku hanya menutupinya dengan kain jarik dan mengalasinya dengan tikar saja, karena aku sengaja tidak memanggil tetangga satu pun untuk membantu.
“Innalillahi. Mas Syukur, semoga kamu tenang di sana ya, Mas.”
Joko bergumam seraya membuka jarik yang menutupi wajah suamiku.
“Mbak, kenapa nggak ada tetangga yang datang? Apa kamu nggak memanggil siapa pun, Mbak?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng. Air mata tak kunjung berhenti.
“Kenapa nggak panggil tetangga saja, Mbak? Kenapa juga, nggak menghubungi Ubay dan istrinya. Mereka pasti ingin melihat bapaknya sebelum dikebumikan.”
Joko mencercaku dengan banyak pertanyaan.
“Ssttt! Pak. Jangan ditanya begitu. Mbak Diyah pasti sangat syok. Dia bingung harus berbuat apa. Kamu jangan nambah-nambahin rasa sedihnya.”
Tri membelaku. Dia terus memegang pundakku untuk menguatkan.
“Ya sudah Mbak, aku telepon Ubay dan istrinya saja ya?”
“Jangan! Jangan beritahu mereka dulu. Biarkan saja, mereka tidak usah diberitahu. Mereka tidak usah datang ke sini. Nanti saja setelah seminggu, aku akan memberitahukannya sendiri pada mereka.”
Tanpa pikir panjang aku pun melarangnya. Tentu aku takut saat mereka datang ke sini akan terjadi apa-apa.
“Tapi, Mbak. Apa kamu tega membiarkan anak dan menantu tidak mengetahui kalau bapaknya sudah meninggal? Kamu kenapa sih, Mbak?”
“Aku bilang jangan ya jangan! Nggak usah menyuruh Ubay dan Fira pulang ke sini. Biarkan mereka bahagia di kota. Nanti aku yang akan memberitahukan kepada mereka. Bukan kamu Joko. Jangan hubungi mereka!”
Air mata kian deras membanjiri pipi. Aku histeris karena tidak bisa membayangkan jika mereka datang dan akan mendapatkan hal yang sama seperti suamiku. Bukannya kebahagiaan, justru akan mendapat duka terus-menerus. Itu tidak akan terjadi.
“Iya Mbak, tenang ya? Mbak jangan histeris begini. Iya, Ubay dan istrinya tidak akan diberitahu. Mbak tenang dulu ya?” Tri kembali menanangkanku. “Udah Pak, kita turuti apa kata mbak Diyah saja.” Kini dia berbicara pada suaminya.
Joko menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar. Dia pasti memandangku sangat aneh.
“Ya sudah, akan kupanggil tetangga saja untuk membantu mengurusi jenazah mas Syukur.”
“Iya,” jawabku singkat.
*** 
Matahari sudah semakin memancarkan sinarnya. Almarhum suamiku pun sudah dikebumikan.
“Mbak, aku nggak habis pikir, kenapa Mbak Diyah begitu tega tidak mengabarkan kematian mas Syukur kepada Ubay dan istrinya. Kamu tega banget, Mbak. Padahal mungkin mereka ingin melihat bapaknya untuk yang terakhir kali. Apa kamu nggak kepikiran sampai situ, Mbak?”
Joko kembali memprotes tidakanku yang menurutnya aneh. Kini rumah ini sudah kembali sepi dari pelayat. Hanya tinggal satu atau dua orang yang membantu di dapur. Kami sedang duduk di ruang tengah.
“Joko, itu urusanku. Nanti akan kukabari tentang kabar ini. Tapi bukan sekarang. Aku punya alasan sendiri.”
“Alasan apa Mbak? Apa lebih penting dari mengabari anak sendiri kalau bapaknya sudah meninggal? Mbak Diyah ini aneh. Aku saja yang pamannya kasihan. Kenapa kamu yang ibu kandung setega itu.”
“Sstt, Pak. Udahlah. Mungkin mbak Diyah punya alasan yang kuat. Kita jangan menambah beban untuknya.”
Tri kembali membelaku.
“Udahlah, Bu. Ibu diam aja dulu. Ini urusanku dan mbak Diyah. Masa dia setega itu,” jawabnya pada istrinya. “Padahal yang kutahu kamu sangat menyayangi anak dan menantumu ‘kan, Mbak? Apalagi sekarang sudah punya cucu. Apa nggak kangen sama cucumu, Mbak? Bukannya saat seperti ini justru menjadi momen pertemuan keluarga? Kenapa justru melarang datang ke sini?”
Joko mengatakan dengan penuh emosi kepadaku. Aku tahu perasaannya, tapi tidak mungkin akan memberitahukan segala rahasiaku.
“Kamu nggak tau apa-apa, Ko. Lebih baik diam saja. Aku tau semua yang kulakukan. Semua ini sudah benar. Mulai besok, rumah ini akan kujual dan aku akan mencari rumah di Desa Larangan. Ini keputusanku. Kamu jangan ikut campur dengan permasalahan ini. Jangan beritahukan apa pun pada Ubay dan Fira. Joko aku mohon, kamu harus berjanji padaku.”
Aku mengucapkannya dengan sangat tegas dan sedikit memelas padanya.

Komentar Buku (484)

  • avatar
    Ukhty Fi Sabilillah

    Aku kasih bintang 5 ya,soalnya ceritanya sangat mengesankan,seolah olah pembaca pun ikut terjun ke dalam kejadian demi kejadian yang menimpa keluarga bu diyah Sungguh tragisnya,takdir bu diyah menyekutukan Allah. semoga dengan membaca novel ini bisa memberikan pelajaran kepada kita semua. Owh iya,kalau aku boleh tebak.sosok yang dimaksud oleh arsya itu jenglot apa ya?

    30/12/2021

      0
  • avatar
    SudarsonoJulio

    bagus bu

    04/10/2024

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus bgt

    04/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru