Part 39

“Nda! Mobilnya nggak mau nyala! Gimana ini? Apa aku harus turun dulu, Nda?”
Sejak tadi mas Ubay berusaha menstarter mobil, tetapi masih saja nihil. Wajahnya begitu khawatir. Di dalam hatinya pasti sangat mencemaskan aku dan Arsya, dia sampai terpikir akan turun dari mobil untuk mengeceknya.
“Nggak usah, Yah. Kita di dalam mobil saja. Kamu nggak boleh turun dari sini. Kita coba saja sampai berhasil. Ada sosok itu di luar, kamu nggak boleh keluar. Bahaya, Yah! Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu.”
Tentu akan kutolak mentah-mentah ide gilanya. Jika dia keluar dari mobil, lalu sosok itu melukainya, semua akan sia-sia. Pengorbanan ibu kandas begitu saja.
“Lalu kita harus bagaimana, Nda?” Dia melihat ke belakang dengan tatapan nanar.
“Berdoa, Yah. Kita harus terus berdoa dan selalu berusaha untuk menstarter mobilnya. Jangan putus asa, Yah!”
Aku tidak mau melihat mas Ubay layu, meski keraguan di dalam hati sudah semakin tebal menyelimuti. Aku tak akan memperlihatkan keputusasaanku kepadanya.
Brak! Brak!
“Hihihi … serahkan anak itu kepadaku! Cepat serahkan, sebelum boneka tempat bersemayamku lenyap menjadi abu. Cepat serahkan! Sekarang hanya dia harapan satu-satunya untukku tetap hidup abadi di dunia ini! Serahkan!”
Beberapa kali sosok itu menghantam mobil ini dengan sangat kuat. Dia memberitahukan alasan kenapa dia masih bisa bertahan dan memaksa untuk mengambil Arsya dariku. Pertanyaanku akhirnya terjawab dengan sendirinya. Artinya, jika boneka itu sudah lenyap menjadi abu, sosok itu akan ikut lenyap dan tidak lagi mengganggu kami.
Kini harus tetap bertahan sampai boneka itu benar-benar habis terbakar. Jangan sampai ada yang terluka. Tidak boleh lengah. Arsya harus tetap berada didekapanku. Aku yakin, kini sosok itu tak sehebat dulu. Jadi kami tetap aman berada di dalam mobil ini.
“Serahkan milikku!”
Hantaman semakin kuat dan berulang kali. Sosok itu tak hentinya meminta Arsya untuk diserahkan kepadanya. Biarkan saja, semoga semua baik-baik saja. Arsya tak akan mungkin kuserahkan kepadanya. Tidak akan pernah.
“Nda, Arsya takut, Nda. Kapan kita pulang, Nda? Hiks.”
Jagoan kecilku meringkuk ketakutan di dalam pelukanku. Dia tak henti mengeluarkan air mata. Aku hanya bisa membelai rambutnya untuk menenangkan rasa takut yang merajai hatinya.
“Iya, kita akan pulang, Sayang.”
Rasa perih menemani lubuk hati. Air mataku sesekali masih jatuh membasahi pipi. Sampai kapan semua ini berakhir? Apakah kami akan baik-baik saja? Ya, keraguan dan kekhawatiran kian menggunung di dalam hati.
Aku melihat mas Ubay masih mencoba untuk menghidupkan mobil agar bisa segera pergi dari tempat ini. Padahal tinggal selangkah lagi, tapi kenapa mobil mendadak mogok tidak bisa dihidupkan seperti ini. Apa ini semua ulah sosok itu?
“Yah, belum bisa juga, Yah?” tanyaku.
Mas Ubay hanya menggeleng.
“Mungkin ulah sosok itu, Yah. Kamu dengar ‘kan tadi, Yah. Sosok itu akan lenyap bersama dengan boneka yang hangus terbakar saat sudah menjadi abu. Selama itu, kita harus bertahan, Yah,” ucapku lagi.
“Iya Nda, Ayah dengar waktu dia mengatakan hal itu. Tapi, aku sangat khawatir kalau terjadi sesuatu sama kita, Nda. Entah kapan boneka itu akan lenyap menjadi abu. Kalau masih lama, apa kita masih tetap bisa bertahan?”
Mas Ubay melihat ke arahku. Dia semakin putus asa.
“Kita harus yakin, Yah. Kita berdoa saja. Semua akan baik-baik saja.”
Prang!
Baru saja bibirku mengatup, kaca belakang mendadak pecah seperti dihantam benda sangat keras.
“Hihihi … serahkan anak itu! Dia adalah milikku. Dia harapan terakhirku!”
Sosok nenek berwajah penuh luka muncul dari balik kaca yang baru saja pecah. Rambutnya putih panjang terurai menutupi sebagian wajahnya. Matanya membelalak dengan sorot kebencian.
“Astaghfirullah! Jangan mendekat dan jangan ganggu kami!”
Aku bangkit dan bergegas pindah ke bangku depan di sebelah mas Ubay.
“Cepat Nda, ke depan Nda. Bismillah, ya Allah! Lindungi kami!”
Dia kembali menyalakan mobil dan hal luar biasa terjadi, mobil yang sejak tadi tidak mau hidup kini terdengar mesin yang siap membawa kami pergi dari tempat ini.
“Alhamdulillah, Nda! Mobilnya hidup, Nda. Alhamdulillah … terima kasih ya Allah!” ucap mas Ubay dengan perasaan sangat bersyukur.
“Ayo Yah, cepat Yah!”
“Arsya takut, Nda. Arsya mau pulang, Nda,” rengek Arsya.
“Iya Sayang. Ini mau pulang kok. Arsya berdoa saja ya?”
“Hiks. Iya Nda. Arsya udah pengin pulang ke rumah. Arsya nggak mau ke sini lagi. Arsya takut.” Bocah lima tahun itu menyembulkan kepalanya, menatap mataku.
“Hihihi … serahkan anak itu! Dia milikku!”
Dari kaca belakang yang pecah sosok itu berusaha meraih Arsya. Dia melayang hampir menerobos jendela yang kacanya sudah pecah berserakan.
“Aaaa! Teman nenek datang lagi, Nda! Arsya takut, Nda!”
Tanpa sengaja Arsya ikut melihat sosok itu di belakang. Sontak dia kembali membenamkan diri di dalam pelukanku.
“Cepat yah, pergi dari sini, Yah!”
“Iya Nda! Kita akan segera pergi dari sini.”
Mas Ubay menjalankan mobil tanpa aturan. Apa pun yang di hadapannya diterjang begitu saja. Dia seperti baru belajar menyetir mobil padahal sebenarnya mahir. Dia begitu khawatir dengan keselamat kami semua. Apalagi sosok itu sudah bisa masuk ke dalam mobil menerobos lewat jendela belakang yang kacanya pecah.
“Hihihi … aku akan mendapatkanmu. Kau adalah milikku.”
“Aargh!” teriakku, sosok itu menarik rambutku.
“Bunda! Bertahan sebentar lagi, Nda.”
Meski mas Ubay sibuk menyetir dan masih berusaha melarikan diri dari halaman rumah ibu, dia menyempatkan diri melihat ke arahku yang sedang kesakitan menahan rambut yang ditarik oleh sosok itu. Mobil yang kami tunggangi belum sampai di jalan beraspal. Mas Ubay sangat kewalahan memarkirkan mobil keluar dari halaman rumah ibu.
“Nda … Arsya takut, Nda,” rengek Arsya, dia melihat kepalaku yang mendongak dan bibirku yang meringis menahan rasa sakit.
“I-iya Sayang … A-Arsya, berdoa saja ya.” Susah payah aku mengatakannya.
“Serahkan anak itu! Atau kau mau semakin tersiksa?” ancam sosok itu.
“Nggak! Nggak akan pernah, a-aku menyerahkan A-Arsya!”
“Pergi kau Iblis!” hardik mas Ubay.
Dia membanting setir bertujuan untuk melepas rambutku yang ditarik oleh sosok itu. Aku pun menghantam kaca yang berada di sebelahku.
“Astaghfirullah!”
“Lancang!” ucap sosok itu.
Rambutku sudah terlepas dari cengkramannya. Sepertinya dia semakin tak berdaya. Artinya boneka tempatnya bersemayam hampir ludes dilalap api dan segera menjadi abu.
“Nda! Baca doa seperti waktu di rumah ibu, Nda!” perintah mas Ubay. Dia tetap fokus menyetir pergi menuju ke jalan beraspal. Dia sudah bisa memarkirkan mobilnya.
“Iya, Yah!”
Mulutku komat-kamit melafadzkan doa semampuku dengan volume keras agar sosok itu mendengar apa yang sedang kuucapkan.
“Argh! Hentikan! Hentikan doa-doa terkutuk itu!” Sosok itu mulai merasa tak nyaman dengan apa yang keluar dari mulutku.
Aku semakin berantusias dan yakin bisa mengalahkan sosok nenek berwajah seram tersebut. Doa kulantunkan dengan sangat khusuk. Sangat berharap jika Tuhan selalu melindungi dan menyelamatkan kami dari sosok itu.
“Hentikan! Manusia terkutuk!”
Tak kuhiraukan hujatan yang sosok itu lontarkan kepadaku. Justru aku semakin yakin dia akan segera lenyap dan tidak akan mengganggu hidup kami lagi.
“Kita sudah ada di jalan. Kita akan baik-baik saja, Nda. Teruskan melafadzkan doa-doa itu, Nda,” ujar mas Ubay.
Kini mas Ubay ikut melafadzkan doa yang sama sepertiku. Kami saling bahu-membahu untuk mengusir atau justru melenyapkan sosok itu. Mungkin boneka tempatnya bersemayam sebentar lagi akan menjadi abu. Kami harus bertahan sebentar lagi saja dan kami akan selamat pulang kembali ke rumah.

Komentar Buku (484)

  • avatar
    Ukhty Fi Sabilillah

    Aku kasih bintang 5 ya,soalnya ceritanya sangat mengesankan,seolah olah pembaca pun ikut terjun ke dalam kejadian demi kejadian yang menimpa keluarga bu diyah Sungguh tragisnya,takdir bu diyah menyekutukan Allah. semoga dengan membaca novel ini bisa memberikan pelajaran kepada kita semua. Owh iya,kalau aku boleh tebak.sosok yang dimaksud oleh arsya itu jenglot apa ya?

    30/12/2021

      0
  • avatar
    SudarsonoJulio

    bagus bu

    04/10/2024

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus bgt

    04/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru