Boy dan Prisca berjalan bersamaan menghampiri meja guru tersebut. "Yakin nih Boy?" Tanya bu Ati dengan tatapan menerkam nya. "Yakin dong bu, kalo nilai Boy seratus ibu ga boleh galak lagi masuk ke kelas ini oke?" Tantang Boy kepada bu Ati dan mendapat senyuman sinis oleh sang guru. "Oke." Jawab bu Ati ketus. Setelah bu Ati keluar membawa lembar lembar kertas ulangan kelas kembali ramai. Bu Ati mah suka tiba tiba ulangan. Tau, baru juga masuk udah ulangan. Pokonya setiap ada pr pasti ulangan. Gue ga yakin Boy dapet nilai seratus. Iya mana mungkin. Begitulah celotehan mereka setelah bisa menghirup udara dengan lega karena tadi mereka menahan nafas saat bersama bu Ati. Setelah mereka kembali belajar bel istirahat berbunyi murid-murid keluar berhamburan menuju kantin yangberubah menjadi pasar. "Pris ayo kantin." Ajak Dena menunggu Prisca memasukan alat tulisnya kedalam tas. "Duluan aja gue mau ke kamar mandi." Ucap Prisca sambil merapihkan rok nya. "Gue anter ya?" Tawar Lia dan dibalas gelengan oleh Prisca. "Jangan lama ya Pris." Ucap Dena sambil berjalan bersama Lia dan Andin. Prisca berjalan masuk kedalam toilet, tidak butuh waktu mengaca dan ber-makeup Prisca berjalan keluar dari toilet namun ada yang menahannya. "Hai adik kelas cantik." Ucap kakak kelas dengan ketiga teman nya. "Kemarin di gendong terus dianterin tadi dijemput terus sarapan bareng, pake modal apa lo bisa deket dia?" Tanya kakak kelas sambil mencengkram dagu Prisca. "Dia yang mau." Jawab Prisca dingin. "Lo gaada takut takut nya sama gue? Ngomong sama kakak kelas yang sopan!" "Adik kelas bakal sopan kalo kakak kelas nya ga merlakuin kaya gini." Jawab Priscaantusias. Plak, Prisca merasakan perih di pipi nya. "Lo jauhin Boy mulai detik ini." Ucap Cantika yang menampar Prisca. "Kalo gue liat lo sama dia lagi awas aja." Cantika menjambak rambut Prisca. "Gue ga takut karena gue ga salah." Prisca menepis lengan Cantika yang menjambak rambut nya. Bugh, Cantika meninju pipi Prisca. "Cuma lo adik kelas yang berani jawab omongan gue!" Cantika sangat geram terhadap Prisca. Cantika pergi meninggalkan Prisca dan teman-teman nya mengekori di belakang nya. "Jangan ganjen jadi cewek." Teman Cantika menoyor kepala Prisca. "Kapok ya lo." Ucap teman Cantika yang satu nya. "Ga." Jawab Prisca sambil meringis. Plak Teman Cantika menampar kembali pipi Prisca membuat sudut bibir Prisca mengalirkan darah. "Cabut woi." Cantika berteriak dan teman teman nya kembali berjalan meninggalkan Prisca. Prisca tidak ingin menunjukan wajah nya yang lebam ia pun bingung harus kemana agar orang lain tidak melihatnya. Terpaksa ia pun masuk kembali kedalam toilet. Sedangkan di kantin Dena, Lia dan Andin menunggu Prisca hampir lima belas menit belum datang juga sedangkan bel sebentar lagi akan berbunyi. "Prisca ngapain sih di kamar mandi?" tanya Andin sedikit emosi karena ia sudah memesan makanan dan minuman untuk Prisca. "Nyusul aja yu jangan-jangan dia sakit." usul Dena dan diangguki oleh Lia. "Ndin ikut ga?" tanya Lia. "Ikut." jawab Andin dengan cepat. Saat di koridor sekolah mereka berjalan dengan cepat sehingga tidak melihat ada Boy dkk. Aldi yang sedang tertawa terpingkal membuat diri nya mundur dan menabrak Andin. "Yang bener dong! Gatau orang lagi buru-buru." cerocos Andin membuat Aldi dan yang lainnya menoleh. "Oh." jawab Aldi sinis. "Bertiga doang? Prisca mana?" tanya Boy sambil mengabsen wajah Dena,Lia dan Andin. "Gue lagi nyari." jawab Lia lalu mereka bertiga kembali berjalan menuju toilet. Sesampai nya Dena, Lia dan Andin di toilet mereka melihat bahwa pintu kamar mandi hanya tertutup satu dan mereka memastikan bahwa di dalam adalah Prisca. Tok..tok.. "Ini Prisca kan? Lo di dalem?" ucap setengah teriak. Dena "Ka..kalian duluan aja ke kelas." jawab Prisca gugup. "Pris lo gapapa kan?" tanya Lia lalu mereka kembali mengetuk pintu nya dengan keras membuat Prisca membuka pintu itu. "Prisca?" mereka berteriak setelah melihat wajah Prisca yang lebam. "Udah udah gue gapapa." rambut yang sebelum nya ia ikat kemudian ia membuka nya dan di gerai agar rambut nya menutupi wajah nya yang lebam. Tett.. Bel berbunyi membuat murid murid berlarian menuju kelas nya masing-masing. Begitupun Prisca ia berjalan mendahului teman-teman nya. "Prisca kenapa sih?" tanya Lia kepada Dena dan Andin. "Lo ngapain nanya kita? Kita kan tadi bareng di kantin ogeb!" Andin menoyor kepala Lia. "YAUDAH SI." Lia teriak begitu keras saat mereka berjalan di koridor sekolah. Prisca berjalan menunduk lalu duduk di kursi nya. Dena, Lia dan Andin pun yang baru saja masuk berlari menuju Prisca. "Pris bilang sama kita lo kenapa?" tanya Andin begitu keras hingga menyebabkan kelas menjadi hening. "Iya Pris kita mohon sama lo apa yang terjadi?" tanya Lia dengan wajah penuh permohonan. Boy yang mendengar ucapan Andin danLia pun menghampiri meja Prisca. "Prisca kenapa?" tanya Boy. "Gue gatau dia gamau cerita." jawab Dena sambil memeluk Prisca. Prisca hanya terdiam menundukan kepala nya. "Kesurupan kali." ucap Zaen yang baru saja datang menghampiri meja Prisca. "Pris lo kesurupan?" tanya Boy dan mendapat pukulan di bahu nya. "Terus kalo bener dia kesurupan dia bakal jawab 'iya gue kesurupan Boy' gitu?" ucap Andin sambil mencibikan bibirnya. Boy menggeser Dena yang sedang memeluk Prisca, ia duduk di tempat tadi Dena duduk lalu memeluk kepala Prisca dan di simpan di dada bidangnya. Perlakuan Boy membuat Prisca mendongah. "Prisca?" Boy menangkup kedua pipi Prisca. Prica pun memundurkan diri nya lalu menenggelamkan kepala di lipatan tangan nya. "Pris kalo lo kaya gini gimana kita bisa tau?" ucap Boy dengan perlahan. "Gue ga minta kalian buat tau! Gue minta sama lo jauhin gue anggap kita ga kenal!" ucap Prisca dengan geram lalu ia memilih untuk pergi ke ruang UKS karena rasa sakit di wajah nya belum hilang. "Ga beres nih." ucap Boy sambil menarik hidung nya. Tettt.. Bel kembali berbunyi menandakan jam pulang telah tiba. Dengan kecepatan seribu bayangan semua murid telah berada di area parkiran. Boy berjalan dengan Dena,Lia dan Andin yang membawakan tas Prisca. Sedangkan teman-teman Boy sedang menunggu Boy di parkiran. "Boy lo pulang aja biar Prisca sama kita." ucap Dena namun dengan cepat Boy menggeleng. "Kalian aja yang pulang." Boy mengambil alih tas Prisca dari tangan Dena. "Tenang aja gue pasti jagain. Prisca baik-baik aja." "Gue titip Prisca ya." Lalu mereka bertiga berjalan menuju pintu gerbang sekolah sedangkan Boy masuk kedalam ruangan UKS di dalam sana ada Prisca sedang memakai sepatunya. "Lo ga di jemput kan?" tanya Boy namun Prisca hanya diam saja. "Lo tenang yang ngelakuin lo kaya gini bakal lebih parah. Siapapun yang nyakitin lo sama aja kaya nyakitin diri sendiri kalo berhadapan sama Boy." ucap Boy sok serius dan Prisca terkekeh. "Gue serius Pris." Boy meyakinkan Prisca karena ia berfikir bahwa Prisca hanya menganggap nya lelucon. Prisca hanya mengangguk-anggukan kepala nya lalu mengambil tas yang ada di samping nya. "Pris bareng gue." Boy mengejar Prisca yang sudah berjalan duluan keluar dari ruangan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lanjut donk
04/08/2025
0seruuuu kak
26/06/2025
0plagiat novel warmheart ya
09/06/2025
0Lihat Semua