"Oke kalau lo pingin buru-buru princess batu." Boy mengacak-acak puncak kepala Prisca dan Prisca rindu itu. "Gue gabisa lagi sama lo. Kita putus Pris." Ucap Boy tanpa ragu namun Prisca tidak terlalu terkejut karena kemarin Boy mengatakan hal yang sama. "Kenapa lo ninggalin gue disaat gue mulai sayang sama lo Boy?" Tanya Prisca masih dengan nada yang sama. "Gue minta maaf gue pacarin lo karena gue mau balas dendam sama adik lo! Dia musuh gue, gue pingin nyakitin dia lewat perantara lo!" Kali ini ucapan Boy membuat Prisca membelalak ia menutup mulut nya, pelupuk mata nya menggenang air. "Jadi alasan lo pacarin gue bukan hanya bantu gue masuk ke sekolah?" Tanya Prisca dengan gemetar. "Itu skenario gue buat masukin lo ke perangkap gue, dan lo harus nya mikir lo siapa gue? Sehingga gue bantuin lo masuk sekolah dan masuk tempat kerja lo lagi? Emang dasar nya bodoh ya." Ucap Boy sambil melipatkan tangan nya di dada. "Dan gue mau kejar cinta gue, Dasha." Lanjut nya membuat Prisca kembali terkejut. "Gue gak peduli gue mau lo tetep disini Boy sama gue." Ucap Prisca seraya menggenggam lengan Boy. "Gue ga bisa, gue harus ngejar cinta nya Dasha." Boy menepis kasar tangan Prisca. "Lo liat disini gue berusaha jadi pacar yang baik Boy!" Ucap Prisca dan pipi nya sudah basah dengan air mata. "Gue nggak peduli karena gue nggak pernah punya perasaan apapun sama lo!" Ucap Boy sambil menunjuk wajah Prisca dengan jari telunjuk nya. "Gue akan kejar cinta lo biar lo punya rasa sama gue." "Kodrat nya cewe itu di kejar bukan mengejar Prisca!" "Gue gak peduli Boy gue ga peduli gue mau lo tetap sama gue, gue sayang sama lo Boy jangan tinggalin gue!" Prisca meledakan tangis nya seraya memeluk Boy. "Gue minta maaf Prisca." Boy meregangkan pelukan nya dan menjauhi Prisca. "Gue gak butuh maaf lo! Jangan tinggalin gue Boy." Teriak Prisca sambil memukul bahu Boy dengan sekuat tenaga nya namun itu tidak membuat Boy jera dengan perlakuan nya. "Maaf gue harus kejar cinta Dasha, gue gak cinta sama lo Prisca! Semakin lo ngejar cinta gue semakin gue benci sama lo karena gue nggak pernah punya perasaan sama lo! Lo dengar sekali lagi ya Prisca, gue pacarin lo karena gue mau balas dendam sama musuh gue, Lian!" Ucap Boy lalu setelah itu Boy mendorong Prisca hingga Prisca jatuh ke tanah. -BBVSCL- Prisca berlari keluar dari sekolah dan untung sekali saat itu pak satpam sedang tidur dan OSIS sedang rapat di ruangan nya sehingga Prisca bisa keluar dari sekolah. Ia berlari dengan sisa tenaga nya dan menangis di sepanjang jalan ia tidak peduli dengan orang sekitar yang menatap nya. Ia meluapkan tangisan nya ketika hujan mengguyur tubuh nya, bagaikan film-film yang ia tonton di televisi namun ini nyata ia menghadapi kenyataan dan rasa nya film itu selalu berakhir bahagia dan alur kesedihan nya tidak sepanjang ini. Ia menyebrangi jalan tanpa melihat kanan dan kiri nya sehingga ia berlari begitu saja dan tiba-tiba ada mobil menabrak nya. Benar-benar seperti cerita di sinetron dan kini Prisca mengalami nya, sebuah mobil berwarna putih berhenti dan pemilik mobil keluar tanpa payung ia berlari dan menggendong Prisca yang tergeletak tanpa sadar lalu di masukkan ke dalam pintu mobil belakang. "Aduh pah gimana sih? Nabrak kan, untung nggak ada yang liat kalau ada yang liat kita bisa di keroyok." Ucap seorang perempuan paruh baya namun dengan gaya muda. modis nya terlihat sedikit "Ya hujan nya lebat jadi nggak kelihatan mah." Ucap laki-laki yang baru saja menginjak gas dan melaju dengan kecepatan di bawah rata-rata khawatir menabrak lagi. Sebuah mobil itu berhenti di rumah sakit umum terdekat lalu memanggil suster dan membawa Prisca. Cukup lama Prisca berada di dalam IGD membuat sepasang suami istri yang menabrak Prisca semakin khawatir takut terjadi apa-apa. Setelah menunggu lama akhir nya dokter keluar dari ruangan dan menghampiri mereka, "apakah kalian orang tua pasien?" "Bukan, saya menemukan dia di jalanan pingsan dok." Jawab perempuan itu. "Bagaimana keadaan nya dok?" Tanya laki-laki suami dari perempuan itu. "Alhamdulillah pasien baik-baik saja dan sekarang sudah sadar." Jawab dokter membuat kedua nya bernafas lega. "Kalau begitu kami boleh masuk?" "Oh silahkan, saya permisi dulu ya." Mereka membuka pintu ruangan lalu menghampiri Prisca yang masih terbaring di brankar. "Kamu baik-baik aja?" Tanya perempuan itu. Prisca mengangguk. "Perkenalkan saya Rita dan ini suami saya Hendra kami yang membawa kamu ke rumah sakit maaf tadi suami saya menabrak kamu." Ujar perempuan yang bernama Rita. "Terima kasih." Ucap Prisca lalu tersenyum sopan. "Ada nomor keluarga yang bisa kami hubungi?" Tanya Hendra. "Nggak usah, saya nggak papa." "Tapi nanti orang tua kamu khawatir." "Saya nggak punya orang tua." Jawab Prisca sambil terkekeh namun dengan sorot mata yang menampakkan luka. "Oh maaf, kamu tinggal sama siapa?" Tanya Hendra. "Saya tinggal sama adik saya." "Terus biaya hidup kalian?" Tanya Rita yang semakin penasaran dengan cerita hidup Prisca yang menyakitkan. "Ada tante sama om." "Oh mereka baik sekali." Hendra menatap nametag Prisca dan ia membaca dalam hati nya 'Prisca Tania Dwinda'. "Mah, baca nametag nya." Bisik Hendra kepada istri nya yang bernama Rita. Rita membelalak menatap Hendra lalu beralih menatap Prisca. "Nama kamu Prisca Tania Dwinda?" Tanya Rita ragu. "Iya tante." Jawab Prisca. "Nama saya Rita Tania Dwinda." Ucap Rita dengan gemetar membuat Prisca terkejut. "Siapa nama adik kamu Prisca?" Tanya Hendra antusias. "Rizki Alifian." Jawaban Prisca berhasil membuat Rita dan Hendra terdiam. "Pah?" Ucap Rita dan terlihat air mata lolos di pipi nya. "Nama tante dan om kamu siapa?" Tanya kembali Hendra. "Ada apa?" Tanya Prisca. "Jawab saja." "Tante Fera dan om Yura." Rita kehilangan kesadaran nya! Hendra memanggil suster dan Rita di bawa suster. Hendra menangis menangkup wajah dengan kedua tangan nya membuat Prisca bingung. "Ada apa sebenarnya?" ... Bugh Terdengar suara jeritan siswi-siswi di koridor belakang sekolah karena melihat dua laki-laki sedang beradu tinju bahkan menendang. Seorang siswi merasa kesal karena tidak ada yang melerai mereka bahkan teman-teman nya pun malah menonton dengan santai nya. Kedua laki-laki itu adalah Boy dan Lian, Lian yang menyaksikan saat Prisca di rendahkan oleh Boy. Salwa yang sengaja membawa Lian untuk menyaksikan kejadian itu, wajah Lian sangat memerah akibat panas nya emosi dan urat-urat di tubuh nya menegang mengakibatkan menonjol di kulit-kulit nya sedangkan Boy menghantam Lian dengan santai nya karena merasa sudah menang. "Kak Boy! Lian! Udah, nanti kalau ada guru gimana." Lerai Salwa dan berteriak menghampiri Lian dan Boy yang masih saling meninju. Teriakan Salwa membuat Boy terdiam pasrah tidak melawan walau Lian masih menghantam wajah nya tanpa henti sehingga memberikan luka lebam dan darah mengalir dari hidung dan sudut bibir nya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lanjut donk
04/08/2025
0seruuuu kak
26/06/2025
0plagiat novel warmheart ya
09/06/2025
0Lihat Semua