Beranda/Merebut Suami Pelakor/
Bab 45 Perhatian yang Berlebihan
Nayna menelusup masuk ke kamar Rama dan Lisa selagi mereka belum pulang. Ia tak perlu mencari obat-obat itu, karena sudah terletak begitu saja di atas nakas.
Ia tak membuang waktu untuk sekedar mengulum senyum puas. Segera Nayna ganti obat-obat Lisa yang masih belum termakan satu butir pun dengan obat yang sudah dia siapkan.
Nayna merapikan bungkusan obat itu kembali lalu keluar dari kamar. Memastikan Bibik tidak akan melihatnya dan sang pemilik kamar belum pulang.
Bagus. Ia tinggal menunggu efek dari obat itu.
***
Lisa pulang lebih dulu daripada Rama. Ia langsung masuk kamar, tak ingin memperburuk mood-nya jika sampai dia berpapasan dengan Nayna.
Tasnya ia lemparkan ke ranjang. Hari ini ia ditemani oleh Bagus sampai malam, cukup untuk membuat bahunya ringan kembali. Secara tak sengaja matanya menyapu kantong obat yang tadi dibeli Rama.
Lisa menghela napas panjang. Ia ambil kantong itu dan ia buang ke tempat sampah di samping pintu kamar mandi. Dia tak perlu minum obat. Tak ada yang salah dengan dirinya.
Nayna-lah yang punya masalah di sini. Dia cukup menyingkirkan wanita itu dan bukti-bukti yang dia pegang.
***
Rama pulang cukup larut. Malam ini restoran sangat penuh dan dia harus turun tangan. Rama baru saja keluar dari garasi ketika ia melihat Ayna muncul dari balik pintu.
“Ayna? Mau ke mana?”
Wanita itu hanya mengenakan kardigan tipis dan piyama cokelat. Sepertinya ia cuma merias wajahnya setipis mungkin.
“Mau ke depan, cari tukang gerobak.”
Kening Rama berkerut. “Tukang gerobak?”
“Iya, makanan apa aja yang ada di gerobak.”
Rama melirik pintu di belakang Ayna dan Ayna sepertinya tahu apa yang sedang dia pikirkan.
“Lisa sudah pulang. Dia bisa saja ngamuk lagi kalau lihat aku masak. Aku lapar.”
Rama membuang napas. Rasa bersalah menyerbunya. Bukannya memberikan perlindungan kepada Ayna, dia malah membuat Ayna kesulitan.
“Nggak masalah, saya juga pengen makan makanan luar.”
“Tangan kamu masih sakit. Di luar juga dingin.” Mata Rama terpaku pada perban yang membungkus tangan kanan Ayna. “Saya aja yang beliin ya?”
“Nggak usah, Rama. Kamu pasti capek.”
Darah Rama berdesir ketika Ayna mengucapkan namanya. “Nggak, saya bisa ke restoran yang dekat dari sini.”
“Nggak perlu restoran, saya mau makan makanan yang dijual di gerobak.”
Entah perasaannya saja atau memang Ayna terlihat lugu di matanya. Dia seperti gadis biasa yang sederhana dan menawan. Hati Rama semakin tertaut, dan dia mengambil langkah yang cukup nekat untuk mengikuti kata hatinya malam ini. “Saya temani ya?”
Ayna terdiam sejenak seperti sedang mempertimbangkan lalu mengangguk. “Kalau kamu nggak capek, boleh.”
“Nggak kok.”
Rama mengikuti Ayna melewati pagar dan menyusuri jalanan kompleks perumahannya. Mencari-cari apakah ada pedagang kaki lima yang menjajakan gerobaknya di tepi jalan.
Rama tetap setia berjalan di belakang Ayna, memberikan jarak dan tidak berpikir untuk bersisian dengan wanita itu⸺untuk melindungi hatinya sendiri.
“Kita sudah jalan cukup jauh, tapi tetap nggak ada. Di sini memang nggak ada tukang bakso atau tukang sate yang sering lewat?”
Rama tidak yakin. Ini adalah kompleks elit. Tukang sayur gerobak dan tukang bakso atau sate keliling tidak pernah Rama jumpai di sekitar sini.
“Sepertinya kita perlu keluar dari kompleks. Saya ambil mobil dulu ya.”
“Nggak usah, Rama. Sudah dekat.” Ia menunjuk gerbang perumahan yang memang sudah ada di hadapan mereka.
“Tapi saya nggak jamin ada tukang gerobak keliling di depan⸺“
“Ayo.” Ayna menarik tangan Rama dengan langkah antusias. Dengan itu saja, Jantung Rama sudah berdebum keras.
Ayna menarik hatinya dengan kesederhanaan. Pada langkah kakinya yang ceria dan senyumnya yang mengembang hanya karena memikirkan tukang gerobak keliling.
“Oh, di sana ada!” Ayna menunjuk barisan tukang gerobak keliling di depan sana.
Rama bertanya-tanya, sejak kapan ada deretan gerobak di sana? Lalu saat ia menoleh ke belakang, ternyata mereka sudah cukup jauh dari kompleks perumahan. Rama tidak sadar Ayna sudah memegang tangannya sejak tadi.
Ayna kembali menariknya ke depan gerobak. Sepertinya Ayna juga tidak sadar sudah memegang tangan Rama terlalu lama. Wanita itu menyusuri satu per satu gerobak dan melihat-lihat makanan yang dijual.
“Semuanya enak. Bagusnya makan apa ya?” gumamnya, mengangkat kepala untuk berpikir. Dia terlihat manis di mata Rama.
Ada tiga gerobak di depan mereka. Nasi goreng, bakso, mie ayam dan martabak telur tersedia di masing-masing gerobak. Rama cukup terkejut karena Ayna terlalu antusias untuk ukuran makanan kaki lima.
“Kamu bisa makan semuanya.”
Spontan Ayna menoleh padanya. Matanya bersinar dan sudut bibirnya naik membentuk senyuman tipis. Rasa senang terlihat jelas dari ekspresinya.
“Pesan semuanya aja, kebetulan saya juga lapar. Biar saya yang traktir,”
Ayna tidak menolak. Ia mengangguk antusias dan menyusuri masing-masing gerobak untuk memesan. Sayangnya, tangan Rama sudah dia lepaskan. Rama sedikit kecewa.
“Kita duduk di sana ya.” Rama membawa Ayna ke kursi plastik dengan meja kecil di samping gerobak martabak.
Meski gerakannya terbatas, Ayna tetap lincah dan sedikit pun tidak pernah meringis atau terlihat kesulitan. Dia juga tidak protes dan mengeluh. Sejak tadi, Rama hanya melihat semangat yang bersinar pada kedua mata pekatnya.
Dua mangkuk bakso dan mie ayam datang lebih dulu. Asapnya mengepul ke udara dengan bau rempah yang cukup kuat. Dengan tangan kiri yang terbebas dari perban, Ayna menunduk untuk mencicipi kuah baksonya. Kuciran rambut panjangnya jatuh ke bahu dan hampir mengenai tepi mangkuk.
Rama menyampirkan rambut Ayna ke belakang dan merapikannya, sedang Ayna sama sekali tidak terpengaruh. Ia fokus pada makanan di depannya.
“Mau saya ambilkan kecap dan saos?”
Ayna menggeleng. “Saya suka yang original.”
Selera Rama cukup berbeda dengan Ayna. Ia suka memakan bakso dan mie ayam dengan saos dan kecap yang diracik dengan tambahan sedikit cuka, tapi untuk kali ini ia tidak ingin melakukannya.
“Kamu pakai tangan kiri. Pasti susah.”
Ayna cuma menggeleng tanpa mengalihkan perhatian dari baksonya. Spontan Rama tersenyum. Hatinya merekah.
“Biar saya potong baksonya, ini terlalu besar.” Ia memotong bakso di mangkuk Ayna menjadi potongan-potongan kecil yang sekiranya muat di mulut wanita itu.
“Makasih ya.” Senyuman Ayna sangat alami, seolah sikap dinginnya selama ini hanyalah topeng.
Bakso di mangkuk Rama tertinggal setengah ketika seporsi nasi goreng datang. “Cuma satu porsi ya?” tanyanya.
“Iya, Mas. Tadi istrinya cuma pesan satu porsi.”
Kedua alis Rama terangkat. Istri? Mau tak mau, ia mengakui bahwa hatinya tidak ingin menyangkal kesalahpahaman itu, meski ini tidaklah benar.
“Iya, kalau begitu makasih ya.”
“Iya, Mas. Selamat makan. Istrinya disuapin aja itu, kesusahan kayaknya.”
Rama menahan napas. Bolak-balik melihat Ayna yang sedang menunduk sangat dekat pada mangkuk dan juga pada piring nasi goreng yang porsinya cukup banyak itu.
“Mau sekalian makan nasi gorengnya?”
Ayna mengangguk.
“Kalau begitu saya suapin, ya?”
Nayna berhenti mengunyah. Rama sudah menyendok nasi goreng yang baru datang itu lalu mengulurkannya ke depan mulut Nayna. Ia terdiam ragu, bolak-balik memandangi sendok dan juga Rama.
Banyak alasan yang bisa Nayna gunakan untuk menolak, salah satunya ia ingin memakan nasi goreng itu setelah bakso dan mie ayamnya habis, atau dia sudah kenyang dan nasi goreng sosis yang masih mengepul itu biar Rama saja yang makan.
Namun, ia malah membuka mulut dan membiarkan Rama menyuapinya. Kendati kelezatan nasi goreng itu meleleh di mulutnya, ia tidak bisa memungkiri kalau perhatian Rama adalah yang terpenting saat ini.
Tidak. Misinya bukan itu. Ia melakukan semua ini untuk membalas dendam, bukan yang lain. Tujuannya tidak boleh melenceng. Ini hanya sekadar godaan.
“Mau lagi?”
Nayna mengangguk pilon, mendadak ia tidak bisa mengontrol pergerakan tubuhnya. Suapan kedua itu meluncur diikuti dengan pandangan intens Rama yang bisa Nayna sadari.
“Kamu lapar banget ya?” Lelaki itu tertawa ringan, terlihat seperti sedang gemas.
Nayna mengangguk lagi⸺secara tidak sadar⸻lalu Rama tertawa kembali.
“Bibik cuma kasih saya bubur sepanjang hari.”
“Jadi kamu kabur ke tukang gerobak?” Mata itu bersinar ramah dan hangat.
Nayna menjawab dengan kedipan yang cepat. Rasa-rasanya ia tak mampu menelan nasi goreng itu ketika menyadari mereka semakin dekat. Tangan kirinya memegang sendok bakso dan tangan kanannya teronggok begitu saja di atas meja tanpa bisa melakukan apa pun.
Rama-lah yang menyingkirkan anak rambut yang menempel di pipinya, lalu mengusap sudut bibirnya yang ditempeli nasi. Jari lelaki itu terasa hangat.
Semua perhatian Rama tampak natural, seolah lelaki itu murni hanya membantunya, tak ada niat yang lain dan harusnya Nayna berterima kasih bukannya merasa sesak.
“Permisi, Mas. Martabaknya sudah jadi.”
Ah, Nayna harus berterima kasih pada tukang martabak yang terlihat masih muda itu.
“Iya, makasih ya, Mas.” Rama meletakkan dua kotak martabak itu di samping kursinya. “Makannya di rumah aja ya, perut kamu bisa kepenuhan nanti.”
Senyum Rama tampak tulus dan mendadak membuat perut Nayna mulas. Ia hanya mau membalas dendam, bukan memberi atau menerima rasa lain yang seharusnya tidak boleh ada.
Rama kembali mengisi sendok dengan nasi goreng. Nayna menelan ludah gugup menunggu suapan itu, tapi Rama malah memasukkannya ke dalam mulut.
Satu tindakan itu memicu denyut yang hebat pada dada Nayna. Rama sama sekali tidak canggung ketika memakai sendok bekas Nayna dan makan dari piring yang sama. Sesekali ia akan menyuap Nayna lalu bergantian menyuapi dirinya sendiri sampai isi piring itu habis.
“Masih mau pesan?”
Nayna menggeleng.
“Bakso dan mie ayam kamu belum habis. Kamu bisa habisin semuanya?”
Nayna mengangguk. Dirinya sudah seperti robot yang dirakit hanya untuk mengangguk dan menggeleng.
Dengan cepat ia memakan baksonya sebelum Rama menyuapinya lagi. Meski ia sudah sangat kenyang, Nayna tetap menghabiskan semua isi mangkuk itu.
Saat ia mengangkat wajah, Rama memberinya senyum bangga, seperti seorang ayah yang melihat anaknya menghabiskan makanan dengan baik.
“Kita pulang sekarang ya.” Rama bangkit dan membayar semua pesanan mereka, lalu menggandeng tangan Nayna.
Kali ini Nayna yang ketar-ketir. Ketika Rama mensejajarkan langkah mereka dan menuntun Nayna menyeberangi jalanan. “Hati-hati, nanti ada mobil yang lewat.”
Segala perhatian itu tampak kecil, tapi sangat bermakna. Tak ada satu pun laki-laki yang pernah memperlakukannya seberharga dan seperhatian ini, kecuali ayahnya. Karena Bagus tidak pernah melakukan hal-hal semacam ini.
“Kardigan kamu terlalu tipis.” Rama melepas jasnya dan memasangkannya di bahu Nayna. “Udaranya dingin.”
Entah perasaannya saja atau memang nada suara Rama terdengar lebih lembut dari biasanya. Mata lelaki itu bersinar lebih hangat.
Mereka melanjutkan perjalanan yang dipenuhi keheningan itu. Kendati udara malam terasa dingin, tapi Nayna tetap hangat berada di samping Rama.
Mereka sampai tanpa sepatah kata pun dalam perjalanan. Rama membuka pintu lebar-lebar dan menyuruh Nayna masuk lebih dulu. Ia menyerahkan kantong martabak yang sejak tadi ditentengnya.
“Ini kebanyakan. Saya sudah kenyang.”
“Kalau begitu satu aja.” Ia mengeluarkan satu kotak dan memberinya pada Nayna. “Kamu bisa makan sama Bibik.”
Nayna menerimanya dengan canggung.
“Kamu sudah makan obat?”
Nayna mengangguk dalam tundukan kepalanya.
“Jangan telat ya dimakannya. Perban kamu juga diganti besok pagi. Kalau Bibik nggak sempat, kamu bisa kasih tahu saya.”
Tidakkah perhatian itu terasa berlebihan? Atau mungkin perasaan Nayna-lah yang berlebihan?
Nayna masih menunduk ketika Rama melangkah pergi ke kamarnya. Jantungnya masih berdebur kencang seolah ada ombak besar di sana. Ia menghela napas dan memutuskan masuk ke kamarnya.
Jas yang tersampir di bahunya terjatuh ketika ia menunduk meletakkan kotak martabak di atas nakas. Ah, dia lupa mengembalikannya. Ia memungut jas itu dan bergegas keluar kamar untuk mengembalikannya.
Namun, langkahnya berhenti ketika ia baru saja melangkah melewati pintu. Lisa ada di kamar itu. Di situasi normal, Nayna harusnya mengembalikan jas ini untuk menunjukkan kepada Lisa bahwa sekali lagi, dia menang.
Tapi, ini berbeda. Ada sesuatu yang menghalangi tekad Nayna untuk mempermainkan Lisa malam ini.
Maka, ia masuk kembali ke dalam kamar dan meletakkan jas Rama di atas kasur. Namun, Nayna kembali membeku. Hatinya luar biasa bimbang.
Haruskah ia melewatkan kesempatan malam ini untuk membuat Lisa semakin geram, demi untuk membuat tidur Rama nyenyak, agar lelaki itu bisa beristirahat dengan tenang?Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (82)
Share
Selesai
Rekomendasi untuk Anda
lanjutin dong kak ceritanya gantung bgt ini
17/05
0bagus
26/01/2025
0sangat puasss
07/06/2024
0Lihat Semua