Aku tak menyangka, kehidupan yang di lalui wanitaku sangatlah pelik. Seperti tak pernah ada ketenangan yang membersamainya. Sebentar-sebentar ada teror. Entah itu dari mantan suaminya, mantan ibu mertuanya, bahkan kini pelakor yang mengganggu rumah tangganya dulu juga ikut terjun untuk menghancurkan kebahagiaan Sinta, istriku. Tapi setelah Bu Risma mantan ibu mertuanya itu di tahan karena kasus penculikan anakku, aku yakin hidup kami akan lebih tenang dari sebelumnya. Karena polisi akan mengusut tuntas kasus ini dan mencari Sari sampai tertangkap. Kami membawa Ahmad pulang ke rumah Ayah. Mulai besok kemanapun kami pergi, akan kami bawa ahmad bersama. Tidak akan aku biarkan hidup Sinta menderita lagi karena gangguan keluarga aneh itu. Hari ini, kami akan pergi ke rumah sakit, karena Ayah sudah di perbolehkan pulang. **** Sudah lima hari kami di rumah Ayah, dan hari ini aku harus kembali ke rumah Papa karena sudah terlalu lama aku tidak berangkat kerja. Aku juga mendapat kabar dari polisi bahwa Sari sudah tertangkap. Tinggal menunggu sidang untuk memutuskan vonis hukuman mereka berdua. Lega hatiku. Akhirnya hidup Istriku akan berjalan aman dan normal . Aku juga tidak akan menjenguk kedua penculik itu, malas sekali rasanya menemui mereka . *** "Mas, kenapa kamu lihatin aku seperti itu?" tanya Sinta tersipu, saat ku tatap lekat wajahnya setelah Ahmad tertidur di pangkuannya. "Sini sayang, mas bantu nidurin ahmad di box nya." Jawabku mengambil Ahmad untuk ku tidurkan di box. Setelah menyelimutinya, aku kembali ke atas ranjang, ku bimbing kepala istriku agar bersandar di bahuku. Ahh.. Rasanya rindu sekali bermesraan dengannya, beberapa bulan ini , ada saja masalah yang menimpa kami. "Mas rindu sekali sama kamu dek." bisikku lirih. Ku kecup keningnya. Kulihat istriku tersenyum. Dia masih malu-malu saat hanya berdua denganku. Entahlah. Akupun tak tahu apakah dia sudah mencintaiku atau belum. Karena setahu ku, dulu kami menikah karena dia mematuhi perintah bapaknya. "Sayang..." panggilku padanya. "Hemm" jawabnya singkat. "Boleh Mas bertanya sesuatu?" Tanyaku ragu. "Tanya apa mas? tanya saja". Jawabnya masih tetap bersandar di bahuku. Ku usap puncak kepalanya. "Apa kamu sudah mempunyai rasa padaku dek? apa kamu sudah bisa mencintaiku dari hatimu?" Dia menegakkan badannya, kemudian menatap mataku lekat. "Bagaimana bisa, aku belum mencintai suamiku, sedangkan setiap harinya hanya kau gunakan untuk membahagiakanku, hemm???" tanyanya sambil menatapku . Tatapan matanya, bahkan mampu menghipnotisku, aku menunduk, tak mampu lagi menatap mata indah itu, ku dekap erat tubuhnya. "Terima kasih ya, karena kamu mau menjadi pendampingku" "Justru aku yang harusnya berterima kasih Mas, karena kamu yang mendampingiku, aku jadi mampu dan kuat menghadapi semua masalahku. Kamu selalu memberiku perlindungan, kenyamanan dan segala yang aku dan Ahmad butuhkan." jawabnya panjang lebar. Ku ciumi lagi keningnya. Tak lama setelah itu, terjadilah ibadah suami istri... **** Saat aku baru saja terlelap, samar-samar terdengar Ahmad menangis, sungguh berat mata ini untuk terbuka, tapi ku paksakan, karena tangisan Ahmad terdengar tidak seperti biasanya. Ku lihat Sinta sedang menimang-nimang putraku, sesekali duduk untuk mencoba menyusuinya, tapi tidak ada respon dari Ahmad, dia hanya menangis semakin kencang. "Kenapa Dek? apa dia tidak mau menyusu?" tanya ku pada Sinta dengan suara serak has bangun tidur. "Iya nih Mas, nggak tau kenapa dari tadi nggak mau menyusu, badannya juga agak hangat sepertinya Mas."
Ku dekati dia, aku cek suhu di dahi nya dengan pungung tangan, hangat. " kita bawa ke rumah sakit sekarang Dek, sepertinya dia demam, takutnya dehidrasi karena tidak mau menyusu." ajakku pada Sinta. "Iya Mas, sebentar kamu pegang dia dulu, aku ganti baju dulu dan siapin beberapa pakain ganti ahmad." dia serahkan Ahmad padaku, dan bergegas mengganti pakaiannya. Setelah selesai, kami berangkat berdua, biar besok saja kasih tau Papa, kalau sekarang takut ganggu istirahatnya. Sepanjang perjalanan, Sinta terus berusaha menenangkan Ahmad dengan memberi ASI, namun sang anak tak mau juga. Wajahnya kentara sekali sedang panik. "Tenang sayang, mudah-mudahan Ahmad tidak apa-apa ya, kamu jangan terlalu panik, tenangkan hati dan fikiranmu, supaya Ahmad juga lebih tenang" ku nasehati Sinta dengan petuah yang sering Bunda katakan kepada keponakannya saat anaknya rewel. Konon kalau ibu gelisah hatinya, bayi juga akan merasakan hal yang sama, dia akan mudah rewel, kata beliau karena ikatan batinnya kuat. Kulihat dia mendongakkan kepalanya, dan sesekali mengusap air mata. Sinta ku sangat rapuh jika menyangkut anaknya ini. "Iya Mas, aku hanya sangat menghawatirkan keadaan Ahmad." Dia menghembuskan nafas, mencoba menetralkan kondisi hatinya. Sampailah kami di depan UGD Rumah Sakit Ibu dan Anak di kotaku. aku segera turun dan membukakan pintu samping, Sinta turun dan tergesa menuju ruang UGD. Ahmad sedang di tangani dokter, kami di minta untuk menunggu di luar. Masih terdengar tangisan Ahmad yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Ku dekap tubuh Sinta, mencoba memberikan kekuatan agar dia tetap tenang. "Tenanglah sayang, kita berdo'a yang terbaik untuk anak kita." Dia hanya mengangguk, tapi masih terdengar isaknya. "Kamu harus kuat Nak, Mama menantimu." maafkan Mama yang ceroboh saat menjagamu ... huuu" Terdengar dia berkata lirih. "Mas, kenapa dokter lama sekali ya." "Sebentar lagi pasti keluar Dek," jawabku menenangkan. Tak lama kemudian terdengar pintu di buka, sosok lelaki ber jas putih keluar dari ruangan dimana anakku di tangani. kami sontak berdiri. Bagaimana keadaan anak kami Dok, kenapa dia?" tanya Sinta seketika kepada dokter itu. "tubuhnya demam, dan mengalami dehidrasi, mungkin karena terlalu lama tidak menerima cairan. Kami juga sudah mengambil sempel darahnya, karena di temukan beberapa bintik merah di kaki. Di hawatirkan adeknya terkena demam berdarah." penjelasan dokter membuatku terkejut. "Apa dia tidak mendapatkan ASI atau susu formula dalam jangka lama?" Tanya dokter. "Iya dok, beberapa hari yang lalu , dia di culik, dari siang dan baru malam harinya kami berhasil menyelamatkannya. Saya kira, si penculik akan memberikan Susu padanya, sekedar untuk keselamatan anak kami,karena yang menculik itu mantan mertua istri saya dok, tapi ternyata kami salah, dia bahkan tega tidak memberikan asupan apapun pada bayi tak berdosa ini." Jawabku panjang lebar, Sinta hanya menangis di bangku tunggu setelah mendengar kondisi anaknya. "Baiklah, sekarang kalian boleh masuk, untuk Ibu, teruslah berusaha memberikan ASI nya. Dan bapak , anda juga harus mengawasi kebutuhan makan Ibu, agar ASI nya melimpah." Jelasnya sebelum pamit untuk kembali ke ruang jaga. Kami pun masuk ke ruangan dimana Ahmad di rawat. ***** Ke esokan harinya, hasil lab Ahmad keluar, ternyata benar , selain dehidrasi, Ahmad juga terkena demam berdarah, mungkin saat diculik, penculik membawa Ahmad ke tempat-tempat yang kotor dan banyak nyamuk penyebab DBD.
Setelah beberapa hari di rawat, akhirnya Ahmad sembuh dan di bawa pulang. Kami di sambut oleh Papa, Ayah dan Bunda juga ada, ternyata mereka di sini dari tadi malam karena menghawatirkan keadaan cucu satu-satunya. Ke esokan harinya, kami sepakat untuk mengadakan syukuran kesembuhan Ahmad, Papa, dan Ayah yang kebetulan mereka sakit secara bergantian. Dengan membuat bingkisan berupa sembako untuk para tetangga dan makanan ringan serta pakaian untuk anak yatim di panti asuhan dekat kantorku. Dengan harapan, mudah-mudahan keluarga kami terhindar dari segala marabahaya yang selama ini selalu saja melanda. Akhirnya, setelah di tahannya para penjahat yang selalu mengganggu keluarga kami, hidup kami bahagia. TAMAT SEASON 1 *****
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (261)
Dhe Rumengan
ceritanya bagus moga aja endingnya juga ..paling tidak ada pesan moral yg terkandung didalam ceritanya yg bermanfaat bagi pembaca..semangat ya thor..
ceritanya bagus moga aja endingnya juga ..paling tidak ada pesan moral yg terkandung didalam ceritanya yg bermanfaat bagi pembaca..semangat ya thor..
08/01/2022
1asatafafagas
11/08
0sy suka dngn DRMA"nya
08/08
0Lihat Semua