Revan terus memandangi fio, yang sedang menangis tergugu, memeluk kedua lutut nya. 'Sungguh aku benci suasana ini, suasana di mana aku, harus merasa benci dan iba, dalam waktu yang bersamaan.' Batin Revan berkecamuk. "Bunuh saja aku Van, bunuh aku, aku lelah, aku lelah dengan semua ini." ucap Fioni di sela tangisan nya. "Lalu, jika kamu mati, bagai mana dengan Fasya, apa kakak ipar ku ini tidak berfikir soal itu." Timpal Revan dengan nada meledek. Fioni terdiam, masih di sela tangis nya, bayangan tawa bahagia nya bersama Fairuz dan Fasya, berputar putar di kepala nya. "Kenapa harus begini, kenapa mas fai pergi, kenapa mas fai harus meninggalkan aku dan Fasya, kenapa?." "Kenapa Tuhan memberikan ini semua dalam hidup ku, apakah sebegitu tidak pantas nya aku bahagia." Fioni berkata lirih dalam tangis nya. Dada Revan bergemuruh, antara benci dan iba, semua bercampur menjadi satu. setelah hari, di mana fio menyetujui untuk menikah dengan Revan, Revan berubah seketika, menjadi sangat dingin, entah apa penyebab nya, hanya mereka dan Tuhan yang tau. Revan melangkah kecil, mendekati Fioni yang menangis, memeluk kedua lutut nya, dan bersandar di salah satu pilar. "Kak, fi." Hanya itu yang keluar dari mulut Revan. Bimbang masih menggelayuti hati, apakah penting bagi nya untuk membujuk Fioni agar tidak menangis lagi. 'Tapi untuk apa, biar apa?, toh yang penting bagi ku, dia sudah menyetujui untuk menikah, lagian salah siapa, salah siapa jadi perempuan bawel, dan murahan, mentang mentang suami sudah meninggal, seenak nya saja bisa dekat dengan pria lain, menjijikkan!. Tapi, agh, kasihan juga, lelaki apa aku, membuat perempuan menangis seperti ini, tapi ini semua salah nya sendiri" Revan bertengkar dengan diri nya sendiri. "Fi, Sudah lah, nanti ada yang melihat kamu menangis, nanti semua nya jadi kacau, nanti kalau mama kenapa kenapa, ketika dia tau keadaan kita, aku dan papa enggak akan maaf kan kamu fi, almarhum mas Fairuz juga pasti tidak rela jika istri nya, malah menyakiti ibu nya." ucap Revan pada Fioni berharap Fioni menghentikan tangisan nya. Sementara Fioni yang mendengar ucapan Revan, hati nya semakin sakit dan benci saja. "Kamu jahat Van, kamu jahat, Aku benci kamu, sangat benci." ucap Fioni lirih. "Jahat?, aku jahat?, jahat seperti apa hah!!!." Rahang Revan mengeras. "Aku tidak jahat, kalau aku jahat, aku tidak akan menikahi mu, apalagi untuk menjadi ayah fasya, mengerti kamu!." sentak Revan. Fio yang mendengar itu pun, seketika mengangkat kepala nya. "Aku tidak minta Van!!, aku tidak minta!!, aku tidak minta!!." suara fio meninggi. "Diam!." Revan mencengkram mulut Fioni. "Diam fio, Diam, aku bilang Diam!!!." "Jangan sampai semua orang datang kesini, dan melihat kamu begini, apalagi itu mama, jangan sampai fio, kalau tidak, aku tidak akan me maaf kan mu." Gertak Revan. Fioni tidak bisa bicara lagi, hanya rasa sakit di rahang nya, dan air mata yang mengalir deras. beberapa menit kemudian Revano tersadar bahwa ia telah menyakiti kakak ipar nya. Dengan segera ia melepas kan cengkraman nya, Dan Refleks memeluk tubuh ringkih Fioni. "Aku bilang Diam fio, diam, kenapa kamu keras kepala sekali hah!." Masih dalam keadaan memeluk kakak ipar nya itu. "Kamu jahat Van." kembali kata kata itu keluar dari mulut Fioni. Jantung Revan semakin berdentum dentum, amarah dan rasa bersalah kembali mengaduk emosi Revano, sehingga ia bingung, harus bagai mana. Revano melepas kan pelukan nya, mengunci tubuh Fioni yang masih terduduk itu, agar tersandar ke pilar. "Sekali lagi ku katakan fio, jangan lagi katakan aku jahat." Geram Revano dengan suara yang di tahan. Fio tidak perduli dengan semua ucapan Revan, hati yang hancur, perasaan yang luka, dan fikiran kacau, saat ini Fioni merasakan kembali hidup nya beberapa tahun sebelum Fairuz datang. Di mana fio hanya lah wanita biasa, yang banyak luka di dalam hati dan jiwa nya, di mana fio merindukan kasih sayang, dan pelukan hangat dari orang tercinta, namun Fioni menyadari, sebanyak apa pun ia menangis, sebanyak apa pun ia merindu, Fairuz tak akan pernah kembali, hanya untuk sekedar tersenyum pun tak mungkin, apa lagi memeluk dan menolong jiwa hancur Fioni saat ini. "Mas fai, mas fai, tolong." Suara Fioni lirih me mejam kan mata, masih dengan posisi tubuh nya yang tak berkutik, di kunci oleh Revano. Revan terus memandangi wajah itu, wajah indah, namun penuh derai an air mata itu, Revano menjadi kalut sendiri, apa yang harus ia laku kan, biar kan atau tenang kan. Dan Tanpa sadar, Tangan Revano kembali merengkuh tubuh ringkih itu. "Jangan menangis lagi fio, jangan menangis lagi, nanti ada yang dengar." Revan berusaha menghentikan tangisan Fioni. "Kamu tega Van, kamu tega lakukan ini sama aku, coba jelas kan Van, jelas kan di mana salah ku, jelas kan, apa yang buat kamu, begitu benci aku, aku fikir selama empat tahun lebih, kamu bersikap menjadi adik yang baik, karna kamu benar benar telah berubah Van, namun nyatanya, kamu tetap membenci ku, kamu sengaja selalu menyakiti ku, kenapa Van?, kenapa?, aku salah apa Van?, aku salah apa?." Fioni tersedu sedu dalam pelukan adik ipar nya itu. Tidak ada pilihan lain bagi Fioni selain menerima pelukan itu, Fioni sudah tidak sanggup, bahkan untuk menopang diri nya sendiri. "Sudah lah fi, berapa kali lagi aku harus bilang, jangan banyak bertanya dan menuduh ku lagi fi, sudah lah, hentikan tangisan mu Fioni, nanti semua nya dengar, aku tidak mau mengecewakan mereka, terutama mama." Revan berusaha melawan hati, bahwa ia hanya iba, Ya, sekedar iba, tidak lebih dari rasa iba. "Kenapa Van, kenapa begini, kenapa, tolong Van, tolong bicara yang sebenar nya pada mama Van, katakan yang sebenar nya, kalau kamu benci aku, tolong jangan begini Van, bagai mana mungkin aku hidup berdampingan dengan seorang yang membenci ku." masih dengan suara lirih dan air mata yang mengalir begitu saja. Fioni merintih dan memohon kepada Revano. "Tidak bisa fio, tidak bisa, aku tidak mau menyakiti hati mama, apa kamu sudah melupakan jasa mas fairuz, apa kamu sudah melupakan bagaimana papa dan mama menerima mu, sehingga kamu dengan mudah nya ingin menyakiti hati mereka, hah." lagi lagi Revan membentak kakak ipar nya. Fioni menggeleng lemah. "Tidak mungkin aku bisa begitu Van, tidak mungkin, aku menyayangi mereka tapi~~" "Tidak ada tapi fio, kalau kamu mau tau kenapa aku membenci mu, ikut aku ke kamar ku, aku akan katakan semua malam ini."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
romance novel
08/07/2025
0Bagus kakak
01/06/2025
0bagus
19/05/2025
0Lihat Semua