Bab 8

Flashback ON.
"Tumben nih pak bos kesini." Revan menimpali kakak nya.
"Hmm iya van, pengen ngobrol aja sama kamu, Btw gimana nih bengkel mu, kelihatan nya sih makin rame ya." Ucap Fairuz sambil terkagum melihat perkembangan pesat bengkel milik adik nya itu.
Dalam hati Fairuz mengakui, bahwa sang adik memang sangat kompeten dalam bidang yang ia pilih untuk di jejaki, Revano juga adalah orang yang pekerja keras sebenar nya, andai dia lebih cepat memulai, mungkin bengkel dan showroom milik nya sudah lebih besar dari saat ini, namun sayang, Revan sempat menjadi anak muda yang sedikit tersesat jalan.
Aaah sudah lah untuk apa membahas hal yang sudah berlalu.
"Alhamdulilah mas, seperti yang mas lihat, Terimakasih karna mas sudah mendukung ku sejauh ini." Revan mengungkap kan isi hati nya, rasa terimakasih kepada kakak nya, dan rasa syukur karna Tuhan sudah memberikan ia kakak sebaik Revan.
"Hmmm, tidak masalah Van,mas pun ikut senang dengan semua hal baik yang sudah kamu capai, mas bangga sama kamu van." Ucap Fairuz sambil menepuk nepuk pundak adik nya.
"Oya Van, mas mau cerita sama kamu, tapi mungkin jangan di Sini, Ada pak Yitno, entar kepo lagi." ucap Fairuz lagi, sembari bercanda meledek montir senior Revano itu.
"Yatno mas, Yatno!, doyan banget ganti nama orang loh, lagian aku mah gak suka kepo kalik mas." Jawab pak Yatno, sambil menggerutu.
hahahaha
Tawa kedua nya berderai, sedangkan pak Yatno masih menggerutu dan bibir nya manyun.
"Ya udah mas, gimana kalau ke ruangan aku aja, di sana aman." Ucap Revan sambil berdiri menuju ruangan nya.
dan di susul oleh Fairuz, mereka meninggalkan pak Yatno bersama montir yang lain nya di sana.
Setelah menapaki anak-anak tangga, mereka pun sampai ke lantai atas, di mana ruangan Revano berada.
"Duduk mas, kaya nya penting banget ya, ada apa mas?." tanya Revano pada sang kakak, sambil mempersilahkan nya untuk duduk.
"Terimakasih Van, hmm iya Van, penting bagi ku, meski mungkin engga penting bagi mu." Jawab Fairuz, wajah nya tertunduk lesu, tidak bersemangat seperti saat ia ada di depan tadi.
"Kenapa mas, ada apa." Revano langsung mendesak kakak nya, Tampa berniat untuk menjadi pendengar terlebih dahulu.
"Mas harus tau, sesuatu yang penting bagi mas, juga penting bagi ku, yang buruk bagi mas juga buruk bagiku, begitu pula yang terbaik menurut mas, pasti terbaik untukku." Revano meyakinkan sang kakak, agar Fairuz tidak ragu mengungkap kan kegelisahan nya.
Dalam hati Revano sudah sangat penasaran, dengan hal yang ingin di sampai kan oleh kakak nya.
"Ah yang bener, yakin kamu." Fairuz malah menggoda sang adik.
"Malah bercanda." Revano berdecak kesal.
"Ada apa mas, mas bilang aja." Revan sangat penasaran.
"Aku tadi baru pulang dari dokter Van." ucap Fairuz lirih, ia kembali menundukkan wajahnya.
"Hah?, dokter?, siapa yang sakit, sakit apa kak?." Revano memberondong Fairuz dengan pertanyaan.
"Aku Van, aku sakit." Suara Fairuz semakin lirih.
"Halah, aku kira kak fio atau Fasya, mas kan kuat, kalau sakit dikit mah biasa mas." Revan bernafas lega.
"Aku di vonis dokter, mengidap kanker otak Van." Ucap Fairuz masih dengan suara lirih dan wajah Tampa semangat.
"Itu sebab nya, kenapa aku sering tiba tiba sakit kepala, dan muntah muntah Van." lanjut Fairuz lagi.
Revan Tercengang mendengar penuturan kakak nya itu.
'Apakah arti nya, aghhh' Revan menggeleng geleng kan kepala nya.
"Mas pasti sembuh mas." Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Revano.
"Enggak Van." Suara lirih Fairuz sambil menggeleng kan kepala.
"mas harus optimis mas, aku pun yakin, mas pasti akan baik baik saja, mas pasti akan sembuh." Revan mendekati kakak nya dan menepuk nepuk pundak sang kakak.
"Aku hanya bisa berharap dan berdoa Van, Semua nya aku serah kan pada Tuhan." Ucap Fairuz sambil memandang wajah adik nya.
"Aku datang kesini, aku mau buat satu permohonan sama kamu, aku harap kamu mau menyanggupi nya, ini permintaan terakhir ku Van." Fairuz terus memandang wajah adik nya itu, dengan tatapan penuh permohonan.
"Mas jangan bilang gitu, mas jangan lemah, mana mas Fairuz yang kuat dan berani, mas harus yakin, kalau mas pasti sembuh." Revan menenangkan kakak nya.
"Aku udah pasrah Van, aku cuma mau, kamu setuju dengan permintaan terakhir ku." Kini Fairuz bicara dengan tegas, seolah memaksa sang adik untuk menyetujui nya.
"Mas, apa pun itu, aku akan selalu berusaha untuk enggak mengecewakan mas fairuz, tapi mas, aku mau mas yakin kepada diri mas sendiri bahwa mas pasti sembuh, meski tidak demi aku, mama atau papa, maka mas harus sembuh demi kak fio dan Fasya." Kembali Revan berusaha menyakinkan kakak nya.
"Aku selalu berusaha Van, Tapi aku mohon Van, aku mohon sanggupi permintaan terakhir ku ini, jikalau seandai nya usia ku memang tidak panjang." ucap Fairuz penuh permohonan.
Terselip rasa iba dan kecewa mendengar ucapan kakak nya itu, namun Revano menepis itu semua, dan berusaha lagi dan lagi menenangkan hati kakak nya itu.
'Mungkin aku harus bilang ya, supaya mas Fairuz merasa lega.' monolog Revano pada diri nya sendiri.
"Ya mas, aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan mas, aku mau tau, apa permintaan mas itu." Revano mengalah, dan berusaha untuk melegakan perasaan Fairuz.
"Janji ya Van, kamu jangan menolak ini, meski bukan karna keinginan mu, laku kan ini demi aku, kakak mu, aku mohon Van." Fairuz menyatukan kan kedua telapak tangan nya, dengan nada lirih memohon.
Revan terbelalak melihat perilaku kakak nya.
"Aku janji mas." Akhir nya hanya kata itu saja yang mengalir dari mulut Revan, yang sebenar nya tidak percaya, bahwa sang kakak, terlihat amat sangat lemah saat ini.
"Van, kalau seandai nya, mas memang tidak di beri umur yang panjang, mas mohon sama kamu Van, mas mohon, jaga lah Fioni dan Fasya, sebagaimana mas menjaga mereka selama ini, cintai lah Fioni seluas hati mu Van, bahagiakan lah Fioni, lanjut kan lah perjuangan mas Van, jadi kan lah Fioni ratu dalam hidup mu, jadi kan lah Fasya anak mu, jika kamu tidak bisa melakukan nya karna cinta, makan mas mohon, laku kan lah itu untuk mas, mas yakin Van, jika kamu mengenal Fioni lebih jauh, kamu akan sangat jatuh hati pada nya, kamu pasti akan merasa sangat beruntung memiliki nya, mas mohon Van, mas mohon jangan kecewakan mas." Panjang dan lebar Fairuz memohon kepada adik nya, dengan wajah memelas, dan air mata yang terbendung.
"Tapi itu engga mungkin mas!." Revan membentak kakak nya, meski terkejut, namun ia atur raut wajah itu, agar hanya nampak penolakan saja.
FLASHBACK OFF.

Komentar Buku (78)

  • avatar
    Fani ArisnawatiNur

    romance novel

    08/07/2025

      0
  • avatar
    Aura Aura

    Bagus kakak

    01/06/2025

      0
  • avatar
    WulanNesmawulan

    bagus

    19/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru