logo text

Bab 22 buaya

"Nih, anakmu!" Lirih Ardan, lalu kembali mendekat ke arah Meli yang masih menunggunya di tempat mereka tadi berdiri.
Mimi dan Tika melongo. Bisa bisanya Ardan tidak mau mengakui keberadaan anak dan istrinya sendiri dan Justru malah memilih untuk wanita lain.
"Mi, itu beneran suami kamu?" Tanya Tika tidak percaya.
"Iya. Dari tampangnya si suami aku, tapi kelakuannya bukan," jawab Mimi sekenanya. Dia paham situasi bahwa suaminya itu pasti malu melihat dirinya ada di pesta mewah seperti ini. Bahkan, untuk sekedar menyapa saja dia tidak berkenan apalagi mengakui sebagai bagian dari keluarganya sendiri.
"Fix, kalau suami kamu modelnya seperti ini sih, aku setuju kalau kamu tukar tambah sama suami yang lebih oke. Bisa-bisanya dia tidak mengenal istrinya sendiri dan malah memberikan sikap tak peduli pada anak istrinya. Kampret benar!" sungut Tika.
Mimi tersenyum mendengar omelan sahabatnya yang merasa kesal sendiri dengan perilaku Ardan. Mimi memang kesal tapi dia memang sudah tahu hubungan antara Melly dan suaminya sehingga dia bisa mengambil sikap bagaimana sebaiknya menunjukkan kepribadian di depan semua orang.
"Udah, biarin aja. Pada saatnya nanti dia yang akan mencari keberadaan kita. Tunggu aja," ucap Mimi santai.
Memang setelah mendapatkan saran dari Santi agar dia lebih fokus untuk memikirkan dirinya dan Laila, kini dia juga sudah mulai santai ketika sudah kehadirannya Tidak dianggap lagi. Tak ada masalah, selagi Ardan tidak membuat diri nya malu di depan banyak orang.
"Mau ikut foto bareng sama pengantinnya, gak? Mumpung lagi pada naik teman-teman semua," ajak MC yang mendekat ke arah meja Mimi.
"Boleh."
Mimi digandeng oleh Laila, membuat semua orang menatap Mimi dan nilai dengan tetapan bahagia karena serasi dengan pakaian yang tentu saja berkelas. Memang penampilan Mimi ini terkesan sederhana tetapi tidak terlalu menor karena ketika memang salah satu penata rias yang cukup dipertimbangkan dalam dunia seni rias. Mimi melirik ke arah Ardan yang melihat ke arahnya, dia memilih membuang muka dan berdiri dengan bedanya ikut berfoto dengan para tamu undangan yang merupakan sahabat dari Santi.
"Yang baju hitam, mundur. Masnya yang ganteng, di dekat Mbaknya yang cantik itu," tunjuk sang fotografer kepada Mimi dan lelaki yang tentu saja sempat Mimi tabrak saat baru berangkat tadi.
"Ya. Begitu. Mepet dikit," ucap sang fotografer.
Tentu saja kesempatan ini digunakan Mimi untuk membuat suaminya sedikit cemburu atau ingin tahu bagaimana respon suaminya ketika ia berdempetan dengan lelaki yang tentu saja lebih gagah daripada Ardan. Nyatanya, saat dia selesai berfoto ia sudah tidak melihat keberadaan Ardan di sana.
Santi berbisik kepada sang MC lalu Mimi yang hendak turun dari panggung pun merasa kaget karena namanya dipanggil oleh pembawa acara.
"Untuk Mbaknya dan Masnya, yang berbaju hitam dan mocca. Spesial malam ini, maukah nyanyi buat calon pengantin? Mungkin mau menyumbang lagu buat pasangan pengantin barunya. Mereka yang request lu katanya suara Mbak dan Masnya itu bagus," pinta MC.
Mimi melirik ke arah Santi. Nanti mengacungkan jempolnya dan Tika juga memberikan semangat agar Mimi mau menerima tawaran untuk menyanyi di depan para tamu undangan.
"Saya nggak bisa nyanyi," ucap si Lelaki.
"Ayolah! Kasihan kalau sampai Mbaknya ini nyanyi sendiri. Dengan Mas siapa?" tanya si MC.
Lelaki itu tidak mau menjawab dan hendak turun tetapi mempelai pria justru mendorongnya dan membawanya agar berdekatan dengan.
"Ayolah, Fa. Kamu kan paling jago buat nyanyi." Mempelai pria adalah sahabat dari lelaki yang hendak diajak duet Mimi.
"Sekali saja ya?" ucap lelaki tadi.
"Ya."
Riuh tepuk tangan dari para tamu undangan membuat suasana semakin ramai karena kedua orang yang ditunjuk untuk menyanyi di atas panggung itu memiliki suara yang sama-sama merdu. Mimi memang bukan wanita berpendidikan tinggi tapi dia sering menjuarai lomba tarik suara di sekolah waktu SD. Dia juga tidak pernah menyangka bahwa suara emasnya itu masih berlaku sampai ia sudah menikah.
Lagu 'Pertemuan' menjadi saksi bertemunya antara Mimi dan lelaki tadi. Ada yang minta untuk menyanyi kembali karena kecanduan suara emas mereka, ada juga yang senang karena keduanya nampak serasi. Akan tetapi lelaki itu tidak mau dan turun ke panggung dengan segera. Dia kembali duduk dengan teman teman di deretan para sahabat-sahabat dari mempelai pria. Mimi melihat lelaki tadi nampak kesal saat teman-temannya meledek penampilan dia tadi.
Tak Sengaja, tatapan keduanya bertemu dan keduanya kembali pada posisi semula saat beberapa sorak teman memberi dukungan keduanya.
"Keren kamu, Mi! Kamu masih tetap jadi juara tarik suara dari dulu. Apalagi yang jadi lawan duet kamu. Beuh … kalian pasangan yang super duper serasi," puji Tika.
"Iya. Mama keren," imbuh Laila.
"Apaan sih kalian. Tadi itu hanya kebetulan dan terpaksa. Tadi itu bukan karena suaraku yang keren, tapi karena memang suaranya lelaki tadi itu memang bagus."
"Cie … siapa dia?" ledek Tika juga.
"Mana aku tahu siapa dia. Ketemu juga tadi saat kita nabrak di depan pintu masuk. Mana dia mukanya dingin banget kayak gitu. Hih," ucap Mimi begidik membayangkan wajah lelaki tadi. Lama sekali tidak ada senyum yang mengembang saat baru bertemu.
"Ma, mau minum es krim," ucap Laila menunjuk stand es krim yang ada di ujung tempat catering. Mimi yang sedang mengobrol dengan Tika pun akhirnya memilih untuk beranjak mengambilkan es krim untuk anaknya.
"Bentar, Mama ambilkan. Kamu tunggu di sini sama Tante Tika ya," ucap Mimi pada Laila.
Mimi berjalan menuju ke tempat di mana es krim diletakkan. Saat sedang mengambil es krim, sebuah tangan terulur dan menarik lengan Mimi dengan kasar.
"Ganjen! Kenapa kamu datang ke tempat seperti ini tidak bertanya dulu kepada Mas?" tanya Ardan kesal.
Mimi kali ini justru tersenyum melihat tingkah Ardan yang tampak kesal akibat tingkahnya tadi saat sesi pemotretan. Ternyata melihat dia yang berdekatan dengan lelaki lain membuat Ardan merasa kesal sendiri.
"Kenapa malah senyum? Kamu sudah gila?" umpat Ardan.
"Aneh aja. Kenapa Mas tiba-tiba kesal seperti itu? Seharusnya tadi Mas itu ikut ke atas dan ikut berjejer untuk bersua foto bersama dengan yang lain. Mas juga tadi seharusnya ikut nyanyi kalau cemburu liat aku sama pria yang suaranya merdu tadi. Bukan malah misuh-misuh nggak jelas kayak gini. Mas tahu nggak? Sikap Mas yang seperti ini justru membuat aku merasa geli sendiri. Aneh! Situ yang datang sama cewek cantik dan seksi kenapa aku yang dimarahin hanya karena foto dan nyanyi bersama dengan lelaki ganteng tadi. Mau saingan? Ya jelas, kalah jauh!"
"Kamu?!"

Komentar Buku (235)

  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus

    28/04

      0
  • avatar
    ronanoviana

    kren

    11/09/2025

      0
  • avatar
    ZaiYohanes

    semangat terus kak ceritanya sangat bagus

    23/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru