Bab 36 PERTEMUAN

"Beb malam ini ada pasar malem dilapangan deket rumah, ini kan malem minggu kesana yuk!" ajak Feby.
"Yah aku udah ada janji sama Andi mau nemenin dia survey tempat sablon kaos futsal bi, apa aku batalin dulu aja ya aku telpon dia," jawab Riko.
"Eh nggak usah, berangkat aja lagian pasar malemnya semingguan kok adanya. Kita bisa kesana besoknya aja," jelas Feby.
Rasa percaya itu perlahan memudar dari tempatnya. Lelaki yang selalu dibanggakan banyak wanita kini mulai mengkhianati permaisurinya. Keraguan mulai bertanya di dalam hati. Apakah cinta harus sesulit ini?
Terkadang kata manisnya terasa sakit menusuk hati. Entah fase apa yang tengah Feby hadapi.
"Bi, beneran nggak papa nih nggak malem ini ke pasar malemnya? Padahal aku mau kasih liat skill aku lemaar bola ke tong itu yang dapet boneka beruang gede," ucap Riko seraya Feby memberikan helmnya.
"Iya nggak papa, mau mampir dulu apa nggak?" tanya Feby.
"Aku langsung ya, tadi Andi udah WA katanya mau kerumah dulu," jawab Riko.
"Ya udah, nanti malem kabarin aku ya kalo udah pulang," ujarnya melempar senyum.
"Pasti dong sayang."
Riko menancapkan gasnya menuju apartemen Lira. Malam ini mereka akan menemu orangtua Lira. Harapan Riko agar hubungan Lira dengan orang tuanya baik kembali sangatlah besar. Terlepas dari statusnya bersama Lira yang tidak bisa dibenarkan.
"Yang ...!" suara Riko mencari keberadaan Lira di apartemennya.
"Yuhu ...."
Lira keluar dari kamarnya. Mengenakan dress berwarna putih dengan bahu terbuka. Rambut panjang diikat membuat manis ia terlihat. Riko terhipnotis oleh kecantikan pacar keduanya itu. Mematung hampir tak berkedip menatapnya. Sosok wanita cantik tanpa cela sedang berhadapan dengannya.
"Yang, aku keliatan gendut ya? Ya udah aku pake kaos aja lah," ujar Lira berbalik akan masuk ke dalam kamarnya.
"Eh enggak enggak, cantik banget sumpah nggak bohong. Gue sampe nggak ngenalin," puji Riko.
"Makasih," sahutnya menyeringai.
Kembali mereka menghabiskan waktu di ruang tamu dengan menonton film. Menunggu kabar kapan orang tuanya datang.
Sementara itu Feby menyibukkan diri menonton film kartun favoritnya. Ia menyulap ruang tamu bak bioskop pribadinya. Bantal, guling, dan camilan telah siap dinikmati.
"Ahahahaha ..." tawa Feby terdengar ke penjuru rumah.
"Ya ampun anak Ayah, nanti kalo ada yang ke rumah gimana? Kamu sulap ini ruang tamu kayak gini," gerutu ayah.
"Santai Yah, emang siapa yang mau namu weekend gini," jawabnya sembari memakan kue kering.
"Riko nggak apel emangnya? Malem minggu ini lho, nggak ke pasar malem?" tanya Ayah sedikit meledek.
"Enggak ah, kek anak kecil aja malem minggu ke pasar malem," sahutnya.
Meski begitu Feby sebenarnya sangat ingin sekali kesana. Menghabiskan waktu bermain banyak permainan yang ada. Namun ia harus mengerti akan kesibukan kekasihnya. Bersusah payah ia melawan ego yang selalu menggelayuti pikirannya.
Menghabiskan waktu semalaman untuk menonton film favoritnya tidaklah seburuk yang dibayangkan. Taklupa ia menyalakan alaram tengah malam. Menanti Riko yang akan mengabarinya untuk sekedar sleep call menceritakan malam minggu mereka.
~~~~~~~~~~
"Yang, ini papa mamaku udah di bandara, mereka nggak nginep disini soalnya besok pagi harus flight lagi. Mereka tunggu kita di restaurant deket hotelnya," ujar Lira.
"Oke kita berangkat sekarang aja biar mereka nggak nunggu lama," jawab Riko.
Riko dengan setelan kaos polos dipadu dengan kemeja putih bercorak serasi dengan Lira. Sesekali Lira menata rambut juga kemejanya agar terlihat sempurna.
Mereka pergi menggunakan mobil Lira. Membelah kemacetan kota khas malam minggunya. Kemewahan terpancar dari Lira yang seorang anak pengusaha. Mobil sport yang hampir tidak pernah ia gunakan karena pemberian orang tuanya. Hidup mewah bergelimangan harta tak lantas membuatnya bahagia. Baginya kebahagiaan satu-satunya ialah memiliki Riko.
"Kita makan disini?" tanya Riko sesaat menghentikan mobil di depan restaurant bintang lima.
"Iya kenapa emang?"
"Kok jadi gue yang takut ketemu mereka ya sekarang," ujar Riko.
"Lebai ah, yuk masuk," ajak Lira.
Restauran mewah bintang lima di tengah kota berhasil membuat nyali Riko ciut. Pasalnya orang tua Lira bisa dibilang bukan orang kaya biasa. Kepercayaan dirinya seketika menurun kala menatap mereka dari kejauhan. Ruang VVIP disewanya hanya sekedar untuk makan malam bersama.
"Pah, Mah!"
"Hey honey, how are you? We miss you so much," mama Lira menciumi anak gadisnya penuh rindu. Begitu pula denga papanya.
"Lira kamu sama siapa ini?" tanya mama.
"Tante kenalin saya Riko," Riko mengulurkan tangannya.
"Oh halo saya Mamanya Lira, Pah ini ada temennya Lira," ucap Mama menatap Papa.
"Duduk duduk," suruhnya
Dari tatapan kedua orantua Lira, Riko menyimpulkan jika mereka merasa terganggu oleh kehadirannya. Ia merasa telah merusak suasana makan malam keluarga konglomerat tersebut.
"Pah, ini Riko," ucap Lira mencari perhatian papanya.
"Oh iya iya, Riko satu sekolah dengan Lira?"
"Iya Om, beda kelas aja," jawabnya.
"Ayah kamu kerja apa Riko?" sahut Mama.
"Papa cuman karyawan diperusahaan swasta Om," jawab Riko.
"Oh, ya ya."
Lira merasa situasi tersebut tidak lah sehat. Orang tuanya selalu mengukur segala sesuatu hanya dengan materi dan jabatan. Itu lah sebabnya hubungan mereka tidak seharmonis keluarga lain pada umumnya. Obrolan mereka semakin keterlaluan dengan merendahkan kehidupan Riko.
Sebelum keadaan semakin tidak menyenangkan, Lira segera mengakhiri makan malam tersebut.
"Pah, Mah kalian harus istirahat kan besok flight pagi. Lira juga mau pulang besok harus sekolah," ujarnya menyela pembicaraan.
"Iya, kamu jaga kesehatan ya, jangan lupa pikirkan kampus pilihan kamu di eropa ya, Papa tunggu," pungkasnya.
Tanpa basa-basi lagi mereka mengakhiri pertemuan itu. Raut wajah Riko yang tak berhenti menebar senyum membuat Lira merasa bersalah. Tak seharusnya ia mengiyakan saran Riko untuk bertemu orang tuanya. Kini ia akan merasa tidak enak sepanjang waktu di depan Riko.
"Nggak usah ngerasa nggak enak yang, I'm fine," ujar Riko di dalam mobil.
"Ini alesan kenapa gue males nemuin mereka, lu sih maksa mulu," gerutu Lira.
"Tapi asik kali ngobrol sama mereka. Setidaknya gue bisa ngaca buat deketin anaknya," goda Riko.
"Tuh kan."
"Hahaha becanda sayang. Ya udah karena malam ini sepertinya suasana hati kamu lagi nggak baik-baik aja, gimana kalo kita night riding aja?" ajak Riko.
"Bebas, ngikut aja."
Mereka menghabiskan malam dengan berkeliling kota. Mencicipi street food disepanjang jalan. Saling menertawakan diri masing-masing hingga lupa akan kesedihan. Namun ditengah keceriaan itu Riko melupakan seseorang yang menungguinya memberi kabar. Feby terpejam di depan televisi yang masih menyala. Menggenggam ponsel yang tak ada satu pun pemberitahuan panggilan dari kekasinya.
Bersambung ...

Komentar Buku (505)

  • avatar
    Ndrii

    ditunggu kelanjutan ceritanya yaa kaa😍 seruu bngeet😊, smpee kebawa suasana aku bacanya:)

    18/01/2022

      1
  • avatar
    HOMEGREA

    hidup adalah proses, dalam proses ada kenyataan yang terjadi kadang tidak sesuai harapan dan harus di jadikan pelajaran hidup, pelajaran hidup memberi pengalaman yang membuat kita bijak membuat keputusan yang tepat dalam memilih jalan terbaik untuk masa depan rumah tangga yang di idamkan.

    30/12/2021

      2
  • avatar
    Annisa Febri

    baguss dan menarik,karena mewakili hati seorang perempuan di sayang oleh pacarnya..dan tidak ada yang seperti dia

    22/12/2021

      1
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru