"Sibuk banget, nih aku pesenin bakso buat kamu," ucap Feby meletakkan dua piring berisi makanan favorit mereka. "Makasih Bi," jawab Riko tanpa menoleh ke arahnya. "Kamu udah nentuin kampus belom?" tanya Feby. Riko masih tidak menjawab. Ia hanya menggeleng perlahan. "Kabarin aku kalau kamu mau daftar ya, aku bantuin belajar buat tes masuknya nanti," sambung Feby. "Iya siap." Feby melirik Riko yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Terlihat sekali ia tengah serius memerhatikan tayangan ponselnya. "Eh, Bi. Sorry banget ya aku nggak bisa lama nih. Andri ngajakin futsal sore ini. Sekalian aku mau ngambil jersey yang aku laundry," jelas Riko mengejutkan Feby yang tertangkap mengintip ponselnya. "Oh, oke. Aku ikut nonton ya, suntuk juga di rumah," pinta Feby. "Next time gimana? Soalnya hari ini kita mau bahas tentang kepengurusan futsal yang baru. Aku nggak mau kamu malah bete nanti nungguin aku," jelas Riko melarang. "Hm, ya udah deh. Kabarin ya kalau udah di rumah." Riko pamit pada kekasihnya untuk segera pulang. Tidak ada kecurigaan apa pun yang di rasakan Feby saat itu. Hanya rasa sedikit kesal karena Riko masih saja sibuk dengan dunia olah raganya dibanding masa depan. Sepanjang jalan Riko merasa gelisah. Ada sesuatu yang ia sembunyikan kembali dari Feby. *** "Jadi mulai besok kabarin di grup kalau ada sesuatu yang penting dari Feby oke?" Ting Suara bel apartemen Lira berbunyi. Seketika ke tiga sahabat itu saling bertatapan menerka siapa yang datang di tengah acara merayakan ulang tahun Lira. "Ya ...." "Happy birthday sayang." Lira terdiam mendapat kejutan dari Riko. Ya, kekasihnya telah berada tepat di depan pintu unitnya membawa sebuah cake lengkap dengan lilinnya. Tak lupa seikat mawar merah di tangan kirinya menambah romantis kejutan di hari itu. "Make a wish dong," pinta Riko. Setelah meniup lilin dan menerima seikat mawar dari Riko, Lira mempersilakan kekasihnya untuk masuk. Pricil dan Via melambaikan tangan tanda menyambut. "Kalian udah lama di sini?" tanya Riko. "Lu-lumayan sih, dari tadi pagi," jawab Pricil merasa canggung. Riko mengambil posisi di sofa seberang mereka. "Oh iya, sorry ya sayang gue nggak bawa hadiah, nanti kamu pilih sendiri aja ya," celetuk Riko. "Santai aja kali, gue aja lupa ultah gue. Ini juga kalau mereka berdua nggak ke sini pagi tadi gue udah bablas sampe sore tidur," jawab Lira seraya memberikan sekaleng minuman bersoda pada Riko. Meski sebagai kekasih Lira sahabat mereka, tapi baik Pricil dan Via tidak begitu akrab dengan Riko. Alhasih percakapan mereka pun tidak seasyik sebelumnya. "Eh, Ko. Lo udah daftar kuliah?" tanya Pricil mencoba membuka obrolan. "Belom, males sih pengennya masuk akademi bola atau nggak renang aja," jawabnya. "Oh, nggak tertarik masuk ke Starlight University gitu? Pakai jalur beasiswa," usul Pricil. "Belum tahu sih, ntar gue pikirin lagi." "Feby udah keterima oh di sana," timpal Lira. "Hah? Nggak mungkin deh, dia 'kan nungguin gue biar bareng katanya," sangkal Riko. Lira dengan seringai jahatnya mulai menatap Via. Mencoba menyinkronkan informasi itu agar sahabatnya mendukung pernyataan tersebut. "Loh, emang dia nggak cerita? Dia ke terima di sana sama Via. Malah bareng lagi ujian masuknya, tanya aja Via," sambung Lira. Via yang terlihat bingung mencoba mengiyakan saja. Meski ia tidak suka cara Lira mengadu domba Riko dan Feby. "I-iya Ko. Aku juga sekelas sama Feby," ungkap Via. Sejenak Riko hanya mengangguk-angguk perlahan. Mencoba mencerna apa yang tengah dialami. "Ya, bagus deh. Jadi, dia nggak perlu susah-susah ngajarin gue buat masuk kuliah," ucap Riko. Sontak hal itu membuat Lira kesal. Kenapa bisa Riko tidak sedikit pun marah saat tahu ternyata Feby diam-diam daftar kuliah tanpa dirinya. "Ra, kenapa?" kejut Pricil yang menyadari jika wajah Lira berubah menjadi merah menyala. Bak tengah kebakaran jenggot sesaat setelah melihat respons RIko yang biasa saja. tAk kehabisan akal Lira pun mengajak berfoto bersama Riko. "Sayang, kalau mau upload tahu 'kan harus gimana?" bisik Riko pada Lira yang tengah sibuk mengedit foto mereka. "Aman sayang." Lira tersenyum di sebelah Riko. Sore itu mereka habiskan dengan berbincang ringan sembari menikmati kue ulang tahun Lira. Beberapa kali ponsel Riko bergetar tanda notifikasi pesan dan panggilan masuk silih berganti. Namun, karena tak ingin merusak pesta kecil Lira, Riko hanya meletakkannya di samping sofa. Lira diam-diam meminjam ponsel Via untuk membagikan foto bersama mereka di lama story-nya. Lira yakin bahwa Feby memiliki kontak Via karena mereka kini akan lebih dekat. Sementara itu di kediaman Feby. Ia masih sibuk mencarikan kampus yang cocok untuk Riko. Jalur prestasi hingga mandiri ia cari demi Riko dapat segera mendaftarkan diri. "Nah dah siap, besok tinggal kasih ke Riko nih," gumam Feby. Feby merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia tidak sabar memberi tahukan Riko tentang beberapa pilihan kampus yang sesuai untuknya. Rasa bosan mulai muncul. Gadis itu menggulir badannya ke samping sembari mengecek ponselnya. Beberapa story ia lihat dengan cepat. Sampai pada sebuah story yang membuat dirinya sedikit penasaran. "Via? Ini bukannya Lira sama Pricil?" gumam Feby di dalam hatinya. Terdapat sebuah foto yang menunjukkan perayaan kecil ulang tahun Lira di foto itu. Lira memegangi sebuah kue dan dengan kedua sahabatnya di sampingnya. Namun, ada satu hal ganjal si foto tersebut. Ada sebuah tangan lelaki di samping Lira yang sengaja di crop untuk menutupi orangnya. Hanya terlihat sebuah tangan merangkul Lira tanpa segan. "Ini 'kan?" kejut Feby. Ia mendapati foto yang tak biasa. Perlahan ia membesarkan resolusi foto itu hingga satuan terkecilnya. Di pergelangan tangan lelaki itu terdapat benda yang tak asing baginya. Feby sontak melirik pergelangan tangannya. Gelang pemberian darinya untuk Riko. Ya, itu adalah gelang pemberiannya. Hati Feby hancur seketika. Lututnya lemas. Jantungnya berdegup kencang. "Berarti selama ini benar dugaanku dan ucapan Beni, kamu selingkuh Bi," ucap Feby. Tak terasa air matanya menetes deras. Tak bisa ia membendung kesedihan telah dikhianati selama ini. Rasanya ingin sekali kembali ke masa di mana Riko pertama kali menembaknya. Andai saja ia menolak lebih dulu, mungkin hal ini tidak akan terjadi. *** "Via, ini Riko ya?" ketik Feby mengomentari story dari whatsapp Via. Membaca itu Via langsung terkejut. Seingatnya ia tidak pernah memposting foto tersebut di status whatsapp-nya. Di tengah keadaan bingung itu, Via menatap Lira. Lira hanya tersenyum padanya. Sudah pasti ini adalah ulah Lira. Bersambung ...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
hidup adalah proses, dalam proses ada kenyataan yang terjadi kadang tidak sesuai harapan dan harus di jadikan pelajaran hidup, pelajaran hidup memberi pengalaman yang membuat kita bijak membuat keputusan yang tepat dalam memilih jalan terbaik untuk masa depan rumah tangga yang di idamkan.
30/12/2021
2
Annisa Febri
baguss dan menarik,karena mewakili hati seorang perempuan di sayang oleh pacarnya..dan tidak ada yang seperti dia
ditunggu kelanjutan ceritanya yaa kaa😍 seruu bngeet😊, smpee kebawa suasana aku bacanya:)
18/01/2022
1hidup adalah proses, dalam proses ada kenyataan yang terjadi kadang tidak sesuai harapan dan harus di jadikan pelajaran hidup, pelajaran hidup memberi pengalaman yang membuat kita bijak membuat keputusan yang tepat dalam memilih jalan terbaik untuk masa depan rumah tangga yang di idamkan.
30/12/2021
2baguss dan menarik,karena mewakili hati seorang perempuan di sayang oleh pacarnya..dan tidak ada yang seperti dia
22/12/2021
1Lihat Semua