logo text

Bab 66 - Malam 21 Ramadan

Bahagia Mal benar-benar ramai, banyak sekali pengunjung yang datang pada malam ke dua puluh satu ini. Mereka berbondong-bondong bersama anak-anak, istri dan suami.
"Ramai banget sih ya," ujar Isra dengan menaiki eskalator pertama.
Biru, Arman dan Isra, mereka bertiga baru saja sampai pada Bahagia Mal sore hari ini---pukul empat sore. Tanpa Anila, karena kekasihnya itu sedang bekerja, mengejar target untuk konten-konten Tania. Saat dia dan Kana mudik dan berada di kampung nanti.
"Biru kamu mau beli apa aja?" tanya Arman yang berdiri di samping Biru.
"Belum tahu, nanti lihat-lihat aja. Nanti Biru bayar sendiri, kok," jelas Biru.
"Jangan dong, Ru. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Ibu dan Ayah akan belikan. Kan, kamu belum menikah.
Nanti kalau sudah menikah, jatah tahunan baju lebaran ini ya untuk cucu kita, ya enggak Mas?" tanya Isra kepada Arman.
Ya, Biru memang setiap tahun sejak dia kecil hingga sekarang. Ketika menuju waktu lebaran pasti Arman dan Isra akan mengajak Biru ke Bahagia Mal. Walau memang hubungan mereka masih renggang pada beberapa kali lebaran tahun lalu.
"Ya, benar dong. Nanti kalau kamu sudah menikah, bukan tanggung jawab kita lagi. Tapi, kamu juga sudah mempunyai tanggung jawab yaitu Anila," jelas Arman seraya merangkul Biru.
Mereka sudah sampai di lantai pertama, kemudian dia masuk pada toko baju yang sudah sangat terkenal di Malang. Kedua laki-laki itu mengikuti Isra terlebih dahulu untuk memilih pakaian yang akan dia beli.
"Kamu sudah ada bayangan untuk beli apa?" tanya Arman lagi.
"Gak tau, Yah. Lagian baju Biru juga masih banyak, terlebih ada kiriman dari merek itu empat stel," jelas Biru sambil memandang ke arah sekitar.
"Ya, beli apa gitu. Masa iya kamu ke sini cuma nganterin Ayah dan Ibu belanja," ujar Isra sambil memilih baju gamis bermacam warna.
Biru diam, kemudian dia melihat area sekitar. Laki-laki itu kemudian mengerjapkan mata berkali-kali, ketika dia melihat orang yang dia cari sejak dulu sedang berada di Bahagia Mal juga.
"Itu, Om Rendi?" tanya Biru sambil menunjuk ke arah kerumunan orang yang sedang memilih baju lebaran.
Arman yang sedang memberikan pendapat kepada Isra langsung ikut menatap ke arah yang ditunjuk oleh Biru. Arman juga kaget, ketika dia menemukan Rendi sedang belanja bersama dengan istri dan anaknya.
"Yah, itu beneran Om Rendi?" ulang Biru kepada Arman.
Arman mengangguk, tanpa menunggu jawaban dari ayahnya. Biru yang sedang mengenakan jaket berwarna ungu serta sarung berwarna merah langsung berjalan ke arah Rendi dan menenepuk punggung laki-laki itu beberapa kali dari belakang.
"Om Rendi," ujar Biru dengan suara yang tegas.
Biru bisa melihat kalau Rendi langsung gugup, ketika mengetahui kalau yang menepuk pundaknya adalah Biru---anak dari rivalnya dulu untuk merebut hati Isra.
"Mas, ini siapa?" tanya seorang perempuan yang Biru yakini adalah istri dari Rendi.
"Saya anak dari Bapak Arman dan Ibu Isra," ujar Biru sambil menunjuk ke arah kedua orangtuanya yang mematung di tempat yang sama.
"Kita bisa berbicara empat mata, Om?" sambung Biru kepada Rendi.
Rendi masih mematung, dia tidak percaya kalau Arman, Isra dan juga Biru sedang berada di tempat dan waktu yang sama dengan dirinya. Rendi kemudian mengangguk, dan mengikuti langkah Biru keluar dari pusat belanja pakaian di Bahagia Mal ini.
Biru melangkahkan kaki menuju area makan yang letaknya pada lantai atas. Dia melirik ke belakang dan melihat kalau Arman sudah mengikutinya.
"Duduk, Om," ujar Biru dengan santai, saat mereka sudah sampai di area makan yang masih sepi.
"Ada perlu apa, Biru?" tanya Rendi dengan sedikit gugup.
"Saya sudah tahu semuanya, saya sangat kecewa kepada Om Rendi yang semena-mena kepada keluarga saya," jelas Biru dengan tegas.
Rendi tersenyum kecut, laki-laki itu kemudian membuang muka ke arah yang lain.
"Lalu?" tanya Rendi dengan memiringkan kepala.
"Kalau bisa, jangan lagi-lagi mencoba merusak keluarga saya. Mengingat, Om Rendi juga sudah berkeluarga, kan?" tanya Biru.
Tanpa ada jawaban lagi, Rendi kemudian meninggalkan Biru seorang diri. Kalau tidak sedang puasa, Biru pasti akan memaki dia dengan sangat pedih. Biru sekarang hanya mampu mengelus dada dan kemudian berjalan turun lagi menuju ke tempat Arman dan juga Isra.
"Gimana, Ru? Kamu gak diapa-apakan sama Rendi?" tanya Isra dengan nada khawatir.
Biru menggeleng, "enggak, mungkin dia juga tahu kalau Ayah sama Ibu sudah harmonis lagi."
"Sudah ya, Ru. Jangan berurusan lagi dengan laki-laki itu," ujar Arman dengan menatap Biru lekat-lekat.
Biru mengangguk, dia sudah sangat lega bisa bertemu sekaligus mengobrol dengan Rendi. Walau, perbincangan mereka berdua sebenarnya belum selesai dari pihak Biru.
"Ya sudah, ayo kita bayar. Habis itu cari pakaianmu dan Biru," ujar Isra sambil berjalan terlebih dahulu menuju kasir.
Kasir benar-benar mengular, ada enam deret pada lantai ini. Isra segera masuk ke dalam antrean. Sedangkan Arman dan Biru berdiri menjauh dari meja kasir. Biru melirik jam tangan yang dia pakai.
"Sudah jam berapa?" tanya Arman tanpa menatap Biru.
"Hampir jam lima sore, sepertinya setelah Ibu bayar, kita harus segera ke atas. Untuk pesan makanan," jelas Biru.
Butuh waktu hampir sepuluh menit, menunggu Isra membayar baju pilihan dia. Hingga selesai terlayani---Isra berjalan menghampiri Arman dan Biru.
"Kita persiapan berbuka yuk, ternyata sudah mau azan. Kita beli makan di atas aja," ujar Arman.
"Eh, gara-gara Ibu milihnya lama ya?" tanya Isra.
"Ayok!" ujar Biru dengan melangkahkan kakinya terlebih dahulu.
Sesampai di atas, dia kebingungan mencari kursi yang kosong. Rata-rata semua meja sudah ada orang yang menempati. Seperti sebelum pandemi dulu---Bahagia Mal kembali ramai.
Setelah berkeliling---akhirnya mereka juga menemukan meja yang kosong. Kemudian mereka langsung menempati, takut diisi orang lain yang sama-sama mengincar meja itu.
"Ayah sama Ibu aja yang pesan makan dulu," ujar Biru sambil memandang Arman dan Isra secara bergantian.
"Yasudah," ujar Isra singkat.
Biru melihat kedua orangtuanya sudah menjauh, kemudian dia membuka gawai. Sejak tadi siang, dia tidak menyalakan internet. Karena sibuk membuat konten, stok untuk lebaran nanti.
Biru langsung mencari kolom pesan dengan Anila, laki-laki itu lantas mengirimkan pesan kepada kekasihnya.
Biru: aku masih di mal, masih cari makan untuk buka puasa. Aku sama ayah belum beli baju.
Biru: karena tadi tersendat, aku bertemu dengan Rendi.
Biru: kamu sudah berbuka?
Tidak menunggu dibalas, Biru memasukan kembali gawainya ke dalam saku jaket. Kemudian pandangan dia tertuju pada keramaian yang ada pada sekitar Biru.
"Seneng deh, ngelihat Bahagia Mal seperti ini. Seperti gak ada pandemi," ucap Biru dengan lirih.
Arman dan Isra sudah kembali, dengan masing-masing membawa nomor meja dari warung yang berbeda. Biru kemudian bangkit, kemudian dia berjalan mencari makanan yang diinginkan untuk berbuka puasa.
"Beli apa ya?" batin Biru seraya menyisir satu demi satu warung atau stan yang ada.
Akhirnya pilihan hati Biru tertuju pada StanKoe Ayam Bakar. Biru langsung disambut dengan ramah oleh seorang pegawai perempuan.
Setelah melihat menu, menimbang, akhirnya Biru sudah memutuskan untuk membeli hati dan tempe bakar serta tidak lupa es teh.
"Makanan akan segera kami antar ya, Mas," ujar pegawai perempuan itu seraya memberikan nomor meja.

Komentar Buku (37)

  • avatar
    DamopoliiRiki

    mantap

    19/01/2025

      0
  • avatar
    Wahyuni05Rida

    bagus cerita nya

    18/11/2024

      0
  • avatar
    MustofaDiah Dulis

    5.0

    26/07/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru