Siang ini, Anila sudah sibuk di dapur bersama Tissa. Kedua perempuan itu benar-benar sibuk sejak tadi pagi yaitu membuat kue kering. Hari terakhir puasa membuat Anila harus benar-benar bekerja keras, karena besok sudah hari raya. Biasanya daerah sini sangat ramai orang-orang yang datang. Saling meminta maaf satu sama lain, mengingatkan kampung ini benar-benar padat penduduk dan kekeluargaan dalam bertetangga sangat terjaga hingga sekarang. "Kira-kira, di rumah Biru juga bikin kue juga nggak ya?" tanya Tissa dengan menatap Anila yang sibuk di depan oven. Anila menganggukkan kepala, "Iya tadi sahur, Mas Biru bilang, kalau dia mulai semalam setelah tarawih membantu ibunya bikin kue kering." "Oh gitu, ternyata sama ya. Tradisi di Malang sama Surabaya," ujar Tissa sambil mencetak kue nastar dengan bentuk bulat. Jam baru menunjukkan pukul 12 siang, hari ini kedua orang tua Anila tidak bekerja karena mempersiapkan dan bersih-bersih rumah untuk menyambut hari raya. Besok sudah lebaran, berarti Mas Biru akan segera ke sini bersama kedua orangtuanya, batin Anila seraya mengangkat kue kering yang sudah matang dari dalam oven. Perempuan itu melihat kue nastar yang benar-benar tertata rapi di atas loyang, dengan suhu yang sangat panas karena baru saja terangkat. Aroma nanas menguar seisi dapur. "Ayah mau ke makam? Ibu sama Anila ikut nggak?" tanya Galang dengan pakaian yang sudah rapi. "Nggak deh, Mas. Masa iya aku ninggalin Anila sendiri," ujar Tissa dengan menatap suaminya. "Gakpapa, ditinggal aja. Lagian Anila juga zona merah," jelas Anila. Anila mengambil satu buah nastar dan memasukkannya ke dalam mulut, ya, tamunya sudah datang tadi pagi---saat Anila sahur alhasil perempuan itu gagal untuk puasa terakhir. Dan besok pagi, Anila juga tidak bisa mengikuti salat hari raya Idulfitri. "Nggak papa kalau mau Ibu tinggal sama Ayah, nastarnya sudah dibentuk tinggal memasukkan ke dalam oven aja," ujar Anila dengan meyakinkan Tissa. "Yakin kamu, An? Kenapa sih Mas nggak sore aja?" ucap Tissa sambil menatap suaminya yang sedang berdiri di dekatnya. Galang menggeleng, "kalau sore pasti macet dan area pemakaman juga sudah ramai sekali." "Ya sudah, An. Ibu tinggal ya, nanti untuk kue kedua nungguin Ibu aja. Paling cuma sebentar kok ke makam," jelas Tissa sebelum dia pergi meninggalkan dapur. Anila menggangguk, kemudian Tissa segera berjalan menuju kamar, untuk berganti pakaian. Tinggal Anila sendiri yang ada di dapur, perempuan itu pengin sekali menghubungi Biru sekarang. Tetapi dia takut kalau mengganggu. Anila mulai memasukkan lagi nastar yang sudah dibentuk oleh ibunya, ke dalam loyang. Menata dengan sangat rapi---supaya hasil yang maksimal dan bentuk yang tetap bagus. Tidak lupa, Anila mengolesi bagian atas dengan kuning telur secara perlahan. Setelah menata di loyang pertama Anila melanjutkan ke loyang kedua dan ketiga, padahal kue nastar ini sudah banyak menurut Anila. Tetapi Tissa masih pengin membuat kue yang lain. "Ya nggak masalah sih, lagian juga biar variasi," ucap Anila. Tahun ini, Anila juga bisa memberikan angpau untuk tetangga-tetangga yang masih kecil dan saudara-saudaranya yang datang ke rumah dia, besok. Dia sangat bersyukur, dengan keadaan sekarang. Sebagian gaji yang selama ini dia kumpulkan selama bekerja di Tania, sudah terbilang lebih dari cukup walau kerjanya hanya beberapa jam saja. Alhamdulillah Lebaran tahun ini bisa ngasih anak-anak kecil di sebelah rumah, gumam Anila dalam hati. Setelah ketiga loyang tadi sudah berhasil masuk ke dalam oven, Anila segera duduk ke kursi yang ada di dekatnya. Sembari menunggu Anila melihat media sosial. Konten terbaru mengenai inspirasi outfit perempuan saat lebaran sudah dipublikasikan Anila, yang bekerjasama dengan Ar-Rahman Muslim Outfit Bersama Biru. Ini adalah konten terakhir dari ketujuh konten, sesuai perjanjian. "Mas Biru lagi apa ya?" ujar Anila saat melihat foto dia berdua dengan Biru Armandeo. Sejurus kemudian pintu ruang tamu, yang kondisi tertutup diketuk oleh seseorang. Anila yang mendengarnya segera bangkit dan membukakan pintu. Ternyata Utari sudah berdiri dengan senyum yang merekah di hadapan dia. "Anila kamu nggak puasa? Kok bibir kamu basah? " ucap Utari seraya menunjuk ke arah bibir Anila. "Iya, tamuku datang tadi pagi. Ayo masuk! Temenin aku bikin kue, soalnya Ayah dan Ibu sedang ke pemakaman umum," ajak Kamila seraya menggandeng tangan sahabatnya. Utari menurunkan maskernya, perempuan itu langsung mengikuti Anila menuju dapur dia membawa sesuatu dalam plastik kresek Untuk Anila. "Apa sih itu? Kok kamu bawa-bawa barang segala?" tanya Anila sambil menunjuk ke kresek kecil yang tergeletak di atas meja makan. "Roti, makan gih! Kan, kamu juga nggak puasa, kalau aku sih puasa," jawab Utari singkat. Anila segera membuka dan melihat apa isi dari plastik hitam tersebut? Ternyata benar sebuah roti yang sudah terbungkus dengan rapi. "Ini Kamu beli di mana sih kok kayaknya enak banget?" tanya Anila. "Ya mampir di warung aja, aku kan punya insting yang kuat. Tahu kamu nggak puasa, jadinya aku belikan kamu roti daripada ke sini nggak bawa apa-apa kan jadi malu Anila," ucap Utari sambil melepas jaket yang dipakai. "Halah kamu kayak sama siapa aja, Tar, Tar." Anila tidak memakan roti itu langsung karena dia menghormati sahabatnya yang sedang berpuasa, oven berbunyi Anila segera mengangkat tutup oven dan mengeluarkan isinya. "Kamu bikin nastar ini sendiri?" ujar Utari seraya menunjuk ke kue nastar yang masih panas itu. "Nggak, Ibu yang bikin adonan. Aku yang bikin selai nanasnya," terang Anila. Anila meletakkan loyang yang sudah diangkat ke atas meja hingga selesai, Anila langsung kembali duduk. "Kamu nggak boleh baju lebaran, An?" Anila menggeleng, "soalnya aku sudah dibelikan Mas Biru." "Enak ya ada pacar, eh, lebih tepatnya calon suami sih." Anila tersenyum, kemudian dia mulai meletakkan nastar satu per satu ke dalam baskom secara hati-hati. Baskom kosong sudah berada di dekatnya. Ada dua baskom, satu sudah penuh dengan kue nastar. "An berarti aku besok ke sini siang-siang aja nggak papa ya? "tanya Utari seraya membantu Anila memindahkan kue nastar. "Ya nggak papa dong, aku kan nggak kemana-mana, bebas. Kamu ke sini jam berapa mau pagi, siang, sore, atau malam sahabatku," ucap Anila dengan menyunggingkan senyum kepada Utari. Anila tiba-tiba terbatuk meminta izin kepada Utari untuk minum dan Utari dengan senang hati mengizinkan sahabatnya. "Santai aja kali, An. Aku nggak akan tergoda kok, ya kali aku tergoda melihat kamu minum sayang juga udah siang soalnya." Setelah menandaskan air minum, Anila kembali duduk kemudian dia menata nastar yang sudah mulai dingin, memasukkannya ke dalam stoples untuk disajikan ketika hari raya, besok. Tidak berselang lama kedua orangtua Anila sudah pulang. Mereka berdua segera menuju ke dapur dan sedikit kaget mengetahui kalau ada Utari yang sedang duduk bersama Anila. "Eh Tari, kamu baru datang atau sudah lama?" tanya Tissa dengan nada ramah. "Tante, baru datang kok. Tante dari pemakaman ya? cepet banget?" "Gimana nggak cepet, Tar. Orang jalannya juga nggak macet kok udah banyak yang pulang kampung," Arman menimpali. Setelah mencuci kedua tangan dan kakinya, Tissa ikut duduk kembali dengan Anila dan juga Utari. Perempuan itu langsung membuat adonan yang baru untuk kue selanjutnya yaitu kue kembang goyang. "Kalau memang kamu nggak ada kegiatan, di sini aja sampai nanti malam kayaknya nanti rame ada takbir keliling lagi," jelas Tissa. "Wah, nanti sore aku juga ikut takbir keliling di kampung sana, Tan. Soalnya di sana juga rame," ucap Utari dengan tersenyum ke arah Tissa. "Oalah nanti kalau pulang, kamu bawa kue ya Tar. Biar orang di rumah kamu bisa ikut ngerasain." "Siapa sih Tan yang nggak mau dikasih rezeki? Pasti nanti Utari bawa kok tenang saja." Tissa tertawa mendengar ucapan Utari. Akhirnya, Anila juga mulai membantu ibunya membuat adonan kue kembang goyang dibagi menjadi dua rasa yaitu manis dan asin. Dengan dua warna berbeda. Untuk yang asin, tanpa warna atau polos. Sedangkan yang manis, Tissa memberi warna merah muda dengan taburan biji wijen.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantap
19/01/2025
0bagus cerita nya
18/11/2024
05.0
26/07/2024
0Lihat Semua