“Kamu harus mencoba untuk menjalin hubungan dengan anak lelaki, Nov. Kamu terlalu polos dan penyabar. Lalu saat nanti dekat dengan mereka, jangan jatuh cinta. Karena jika jatuh cinta, kamu akan terluka sangat parah ketika orang yang kamu cintai tidak sesuai harapan.” Tiba-tiba aku mengingat kembali perkataan Fitri, teman SMPku. Saat itu aku heran sekali ia memiliki banyak sekali incaran anak lelaki. Aku yang tak terlalu peduli dengan cinta monyet, hanya mengangguk-angguk saat ia memberi nasihat. Sekarang aku mengerti apa maksudnya. Ah, memang diri ini sangat naif. Berharap terlalu banyak pada orang lain. Namun, aku yakin tidak cinta pada Roby. Lagi-lagi kurasakan mataku seolah menonjol keluar, seperti ikan koi. Sejak masuk ke dalam kamar setelah menerima talak dari pesan yang dikirimkan Roby, aku menangis. Bukan karena tak lagi memiliki suami. Namun, betapa malang nasib anak yang kukandung. Mungkin karena dosaku di masa lalu, ia mengalami takdir seperti ini. “Aku tidak akan memiliki suami seperti Papa, Ma.” Aku teringat kalimat lain yang kuucapkan pada Mama saat beliau masih hidup. Sombong sekali rasanya diri ini. Sekarang bisa kulihat kebaikan Papa. Walau ia memiliki dua istri, tak sekali pun terlontar penolakan soal status kami. Kuelus perutku yang membesar dan berkata, “Tak apa, Nak, ada Mama di sini. Mama akan selalu sayang padamu.” Samar kurasakan denyut pengertian dari bayi yang ada dalam kandunganku. Aku katakan pada diri sendiri untuk tidak menangis lagi, percuma. Roby sudah menjatuhkan talak dan aku sama sekali tak berniat mengemis padanya. *** Aku terbangun saat azan subuh berkumandang. Perlahan beringsut dari tengah ranjang untuk pergi mandi dan melaksanakan salat setelahnya. Badanku terasa begitu ringan setelah melaksanakan kewajiban umat muslim. Selesai salat, aku termenung. Biasanya aku sudah berkutat menyiapkan sarapan di dapur untuk Roby. Ah, sepertinya aku mengalami jet lag atau semacam itu. Setelah berjalan mondar-mandir di ruang tamu, memutuskan bahwa kartun Masya And The Bear sangat membosankan, aku kembali ke kamar. Namun, tidak melanjutkan tidur. Tiba-tiba saja kukeluarkan semua buku-buku isi seratus yang pernah kutulis. Kubaca satu persatu judul huruf besar yang sengaja ditebalkan dengan spidol hitam. Kubaca pelan-pelan semua kisah. Semua tentang seorang gadis yang berubah menjadi lebih baik. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri kapan akan berubah menjadi orang yang lebih baik? Aku mendesah. Tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah pesan masuk. Kuletakkan buku yang ada di tangan dan menyambar ponsel yang ada di atas meja rias. Sebuah pesan dari Roby rupanya. Roby: Vi, maafkan aku. Aku terdiam tidak tahu apa yang harus dikatakan dalam balasan. Kupilih untuk mengabaikan semuanya. Sudahlah, aku menyerah untuk bersama Roby. Anak dalam kandunganku adalah berkah yang tidak bisa ditolak. Roby: Ayo rujuk. Novi: Dalam mimpimu. Dapat dari mana keberanian untuk segera membalas SMS itu dengan cepat. Sebenarnya ingin kusertakan makian, tetapi aku ingat petuah para nenek di sekitar rumah. “Jangan berkata kasar, nanti kamu bab saat melahirkan.” Ternyata Roby tidak mau menyerah. Ia meneleponku kini. Lama kubiarkan ponselku terus berdering, sampai kuputuskan untuk mengangkatnya. Kuharap setelah diangkat dan mendengar keputusanku, ia akan menyerah. “Vi, maafkan aku. Ayo kita rujuk,” katanya langsung. Salam yang biasa diucapkan menghilang. “Walaikumsalam. Tidak, aku tak mau rujuk dengan Abang.” “Vi, sungguh. Aku benar-benar tidak ada niat untuk meninggalkanmu. Sungguh.” Ia diam beberapa saat sebelum akhirnya mulai bicara lagi. “Ini semua karena Nita dan juga orang-orang yang datang ke rumahmu. Mereka semua seolah tertarik padamu. Aku takut kehilanganmu makanya bersikap begitu.” Serta merta aku tertawa dibuatnya. Ia kembali menjadikan seseorang kambing hitam atas kesalahannya sendiri. “Aku lebih suka menangis sehari saja dari pada seumur hidup. Aku tidak ingin melewati sepanjang hidup denganmu seperti sebelumnya. Melangkah keluar pun tak berani karena takut kamu menuduh yang bukan-bukan. Menurutmu apa aku bahagia dengan kehidupan yang seperti itu?” Kupertanyakan hal yang selama ini tak berani kupersuarakan padanya. Ia diam, sama sekali tak punya keinginan menjawab. Ah, ia memang sudah lama kehilangan hatiku. Atau sejak lama tidak pernah mendapatkan posisi di hatiku. Selama bersamanya aku berusaha untuk menyukainya walau sedikit saja. Meski sulit, aku yakin pelan-pelan bisa. Akan tetapi, yang bisa dilakukan hanya selalu melukaiku dengan kata-kata saja. Segera kumatikan ponsel dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Aneh, tidak ada lagi air mata yang keluar. Hanya kemarin saja diri ini menangis hingga sesegukan. Hanya sampai kemarin Roby di dalam hatiku. Kini, kunikmati ketiadaan tanpa dirinya. Duniaku terasa sangat damai. Namun, hari-hari tenangku berakhir dengan cepat. Tak berapa hari, para saudara Mama datang. Aku keheranan karena mereka memilih berkumpul di rumah kami. Bukan hanya mereka saja, tetapi juga para istri mereka juga dibawa serta. “Tek, Nyiang.” Kukecup punggung tangan dua di antaranya. Yang lain keluar entah ada urusan apa, aku juga tak tahu. Kedua istri mereka juga kusalami dengan cara yang sama. Mereka memintaku duduk di tengah sofa. “Vi, kamu tahu kenapa kami kemari?” Istri dari Unyiang—Kakak Mama—bertanya. Jelas aku mengeleng dengan segera. Kedatangan mereka saat bersamaan begini sedikit membuatku terkejut. Terakhir mereka semua berkumpul di hari pemakaman Mama, itu lima bulan lalu. Bahkan pada hari resepsi pernikahanku istri Unyiang tidak bisa datang. “Ada apa, Wo?” tanyaku ingin tahu. Uwo adalah panggilan istri kakaknya mama. “Roby datang ke rumah Uwo tiga hari lalu.” Ah, aku hampir lupa dengan keinginannya rujuk denganku. Ia sempat bilang akan melakukan apapun untuk itu. Apakah ini salah satu caranya setelah tak berhasil membujukku? Pasti seperti itu. “Dia bilang menyesal atas perlakuannya padamu. Roby ingin menebus kesalahannya. Biarkan ia mencoba sekali lagi,” jelas Uwo padaku. Aku tak perlu berpikir lama untuk menolak dengan segera. Saat aku akan berdiri untuk kembali ke kamar dan membiarkan mereka bosan menunggu hatiku melunak, tanganku ditarik dan dipaksa duduk kembali. “Dengarkan Uwo dulu.” Aku duduk di tempat semula, tetapi tak lagi tertarik dengan pembicaraan mereka. “Dia juga datang ke tempat Ante, Vi.” Istri Etek En—Adik Mama—kini ikut bicara. “Dia sujud di kaki kami kemarin, meminta maaf.” “Dia melakukan kesalahan padaku, tetapi sujud di kaki kalian. Wah, hebat sekali,” pujiku lekas, memberikan ekspresi bahwa tak ingin mendengar apapun tentang Roby. “Jika kamu tidak mau kembali padanya untuk diri sendiri, lakukan itu untuk anak yang kamu kandung.” Jleb! Kalimat tersebut menikam hatiku tepat. Aku berusaha tidak mengusik perasaan keibuanku sejak kemarin ditinggalkan. Kenapa tidak ada seorangpun yang paham jika yang dibutuhkan seorang Novita hanya ketenangan. Gara-gara mereka aku menangis. Walau berusaha telah berusaha mengingat semua hal baik yang bisa dilakukan tanpa Roby, tangisanku tidak berhenti untuk setiap kebahagian anak yang ada dalam perutku. “Kamu tidak kasihan padanya?” Kupilih tidak menjawab dan menyelamatkan jiwa sendiri ke kamar. Aku tidak meminta izin pada mereka supaya bisa berpikir. Ini adalah hakku, membuat setiap keputusan besar untuk diri sendiri.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangatlah seru
24/06/2024
0riky
03/02/2024
0yey
07/06/2023
0Lihat Semua