Total : 36Bab 1 Prolog
Putraku Yudha berlari kencang dari arah matahari terbenam. Sore itu setelah salat ashar, ia kubiarka
readmore Bab 2 Mencoba Mencari Cinta (1)
Pesan balasan dari orang yang aku tuju masuk tiga hari kemudian. Entah dia lupa, atau aku yang terla
readmore Bab 3 Mencoba Mencari Cinta (2)
Nyonya Bos pergi. Rupanya hanya penghasilan hari ini yang dicemaskan. Bagaimana kami pulang malam na
readmore Bab 4 Mencoba Mencari Cinta (3)
“Kamu sepertinya sahabat yang baik,” ungkapnya. Tangan pria bernama Roby sibuk mengaduk gelas cappuc
readmore Bab 5 Kencan
Roby: Nanti malam kita pergi sebentar, ya? Pesan dari Roby masuk saat aku sedang membereskan kertas-k
readmore Bab 6 Jadian dan Lamaran (1)
“Katanya mau berhenti?” godaku pada Nova yang duduk manyun keesokan harinya. Ia melirikku sedikit seb
readmore Bab 7 Jadian dan lamaran (2)
Ia menatapku dan aku juga. Selama beberapa detik mataku tak berkedip untuk memberitahunya apa yang k
readmore Bab 8 Tunangan (1)
Kuceritakan semua yang terjadi pada Mama di rumah. Rika—kakak perempuanku juga ikut mendengarnya. Ma
readmore Bab 9 Tunangan (2)
Siti, kawan karibku sejak SMP datang pada hari tunangan kami. Ia ke rumah atas permintaanku. Bukan u
readmore Bab 10 Kamu Masih Perawan, Kan? (1)
Aku sudah mengirimkan lamaran ketiga minggu ini. Setiap kali dipanggil dan kemudian ditanyai oleh pa
readmore Bab 11 Kamu Masih Perawan, Kan? (2)
Dari rumahku, ia berbelok menuju By Pass Ketaping. Selanjutnya lurus melewati Anduring dan Andalas.
readmore Bab 12 Malang Tak Dapat Ditolak (1)
Harus kucari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Itulah keputusan yang akhirnya kuambil setelah
readmore Bab 13 Malang Tak Dapat Ditolak (2)
Mama dibawa ke RSUD dr. Rasidin Padang yang terletak di Gunung Sarik, Kuranji. Aku sampai tak berapa
readmore Bab 14 Malang Tak Dapat Ditolak (3)
Roby duduk sambil merokok di depan pintu masuk ruang UGD. Ia begitu menikmati menghirup dan kemudian
readmore Bab 15 Malang Tak Dapat Ditolak (4)
“Jika dia meminta haknya nanti, jangan menolak. Dia sudah jadi suamimu.” Benar, karena terlalu sibuk
readmore Bab 16 Malang Tak Dapat Ditolak (5)
Roby membelokkan motornya ke Rilly Swalayan. “Beli apa, Bang?” tanyaku. Aku cukup lelah seharian ber
readmore Bab 17 Mama Sudah Pulang
Aku berdiri di kaki Mama, memandangi perempuan yang sudah melahirkan kami. Sekali lagi kukatakan, ti
readmore Bab 18 Ayo Kita Punya Anak (1)
Acara tagak batu (dua minggu memperingati kematian Mama) baru kemarin di langsungkan. Aku masih belu
readmore Bab 19 Ayo Kita Punya Anak (2)
Kampung Tanjung namanya, walau tak seluruh penduduk bersuku tanjung. Terletak di daerah Kapalo Koto,
readmore Bab 20 Ayo Kita Punya Anak (3)
“Ayo pergi mandi, jangan sampai azan subuh berkumandang kalian masih di dalam kamar. Jangan lupa ker
readmore Bab 21 Ini Anakku, Kan? (1)
Perasaanku benar-benar tak nyaman beberapa hari ini. Kepalaku mendadak sakit dan sering mual saat me
readmore Bab 22 Ini Anakku, Kan? (2)
Kini aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya. Tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku bin
readmore Bab 23 Ini Anakku, Kak? (3)
Berapa lama aku bisa mendiamkan Roby? Ah, tak sampai 1x24 jam. Seperti kata Mama, saat kamu bertemu
readmore Bab 24 Rujuk (1)
“Kamu harus mencoba untuk menjalin hubungan dengan anak lelaki, Nov. Kamu terlalu polos dan penyabar
readmore Bab 25 Rujuk (2)
Lama aku merenung sambil terus mengelus perutku. “Apa kamu membutuhkan ayahmu, Nak?” tanyaku. Kurasak
readmore Bab 26 Pindah (1)
“Kamu masukan apa ke dalam sumur?” Roby yang sedang menyesap kopi tersedak. Kopi panas bermerek cofemi
readmore Bab 27 Pindah (2)
Kami pindah. Itu keputusan yang sangat berat untukku. Seperti yang kuceritakan sebelumnya, rumah Mam
readmore Bab 28 Pindah (3)
Bagian kanan tubuhku muncul bintik-bintik merah dan terasa gatal. Aku menyadarinya setelah tiga hari
readmore Bab 29 Pindah (4)
Kenapa aku tidak lari saja? Begitu otakku bertanya pada diri sendiri setiap kali Roby mengatakan hal
readmore Bab 30 Kontrakan Baru (1)
Aku bertengkar dengan Roby beberapa hari lalu. Masalahnya adalah permintaanku. Aku menginginkan kond
readmore Bab 31 Kontrakan Baru (2)
“Jalannya pelan-pelan,” ingatnya saat aku menyusul ke depan setelah mengunci pintu rumah ala kadarny
readmore Bab 32 Yudha (1)
“Wah, cucu nenek.” Perempuan yang membesarkan Roby menjadi makhluk menyebalkan itu mengambil putraku
readmore Bab 33 Yudha (2)
Begitulah akhirnya, kami kembali pindah ke rumah orang tuaku. Kondisiku membaik perlahan. Warung kec
readmore Bab 34 Yudha (3)
“Apa maumu?” tanyaku kesal. “Maafin aku, Dik. Aku benar-benar menyesal. Aku ingin rujuk denganmu.” Lan
readmore Bab 35 Awal Kisah Baru (1)
Ketika Yudha berusia enam bulan, aku mengajukan gugatan cerai pada Roby. Rasanya sedikit malu saat h
readmore Bab 36 Awal Kisah Baru (2)
Aku benar-benar yakin tadi sedang tidur. Namun, tempat aku kini berada bukanlah kamar tidurku. Ini r
readmore
sangatlah seru
24/06/2024
0riky
03/02/2024
0yey
07/06/2023
0critanya bikin nangis banget
18/05/2023
0bagus
10/05/2023
0nice
17/04/2023
0terima kasih
14/04/2023
0Niche 🥰🥰🥰
13/04/2023
0saya sangat suka
12/04/2023
0seru
11/04/2023
0