logo text

Bab 13 Malang Tak Dapat Ditolak (2)

Mama dibawa ke RSUD dr. Rasidin Padang yang terletak di Gunung Sarik, Kuranji. Aku sampai tak berapa setelah Mama masuk ke dalam UGD. Hanya Kak Rika yang menemani di dalam. Adik-adik Mama yang mengantarkan tadi sudah tak tampak batang hidungnya.
Uni Rika meminta aku untuk menunggui Mama begitu diri ini sampai. Roby sendiri memilih mondar-mandir di depan ruang UGD rumah sakit. Entah untuk apa hal itu dilakukan.
Mata Mama terpejam, sesekali dari mulutnya terdengar erangan pelan. Setiap kali suara itu tertangkap oleh pendengaranku, hanya elusan lembut pada punggung tangan Mama yang bisa kuberikan. Jika saja rasa sakit beliau bisa sedikit saja dipindahkan, aku dengan senang hati menerimanya.
Terngiang sudah kata-kata orang-orang sebelum Mama berangkat. Ikhlaskan semuanya, biar Mama bisa tenang. Namun, apa segampang itu merelakan orang yang begitu kita sayangi pergi selamanya. Siapapun mungkin tak sanggup.
Dokter jaga di ruang UGD telah selesai memeriksa kondisi Mama beberapa saat yang lalu. Kak Rika, suaminya dan Roby mendengarkan semua intruksi yang diberikan. Hanya aku yang tetap bertahan di samping Mama.
Perawat juga sudah selesai memasangi Mama kateter dan infus di pergelangan tangan kiri.
“Kak, tolong nanti kalau ibunya bangun, diperhatikan tangan kirinya agar tidak terlalu banyak bergerak. Kasihan kalau nanti lepas, berdarah.” Perawat berpesan yang langsung kujawab dengan anggukan kepala.
Mungkin karena rasa nyeri yang akibat pemasangan dua benda itu, membuat Mama bereaksi. Atau mungkin memang sudah waktunya Mama sadarkan diri dan kembali sehat tak lama lagi.
“Ma ….” Tak ayal senyum mengembang di bibirku.
Tangan kanan Mama yang bebas langsung beraksi menyentuh pergelangan yang dipasangi infus.
Reflek aku langsung menghentikannya. “Jangan, Ma,” pintaku.
Tanganku juga menarik perlahan tangan Mama yang hampir menyentuh selang infus.
“SAKIT! KAMU TAHU TIDAK! ADUHH! USIR ANAK INI DARI SINI! USIR DIA!” teriak Mama begitu histeris.
Aku hanya bisa terpana dan melihat sekitar. Orang-orang yang ada di UGD melirik sedikit dan mulai berbisik-bisik dengan sesamanya.
Deg!
Aku seperti sudah melakukan kesalahan yang fatal. Namun, aku juga tak bisa membiarkan Mama melukai dirinya sendiri. Tidak masalah dengan tanggapan orang lain terhadapku. Tidak masalah dengan tatapan menuduh mereka. Terlebih penting, Mama tidak terluka.
Saat tangan kanan Mama kembali bergerak, seperti tadi kutarik dengan lembut.
“Tangan kirinya tidak boleh dipegang dulu, Ma. Nanti infusnya lepas. Rasanya sakit.”
Sekali lagi Mama berteriak. Kata-katanya pun sama persis dan hatiku kembali merasakan perih yang teramat sangat. Berkali-kali aku hanya beristigfar di dalam hati untuk menguatkan diri sendiri. Mama masih belum sadarkan diri. Mama yang kukenal tidak akan berkata kasar seperti itu padaku, kakak dan adik, juga orang-orang sekitar.
“Kenapa, Vi?” Kak Rika muncul setelah teriakan Mama kesekian kalinya.
Pandangan orang-orang masih sama seperti di awal tadi, menuduh dan menerka-nerka.
“Perawat bilang, supaya Mama tidak boleh bergerak banyak. Tapi tangan Mama malah tidak mau tenang. Mama ingin menarik selang infus di tangannya.” Aku menagadu.
Bisa kudengar sendiri jika suaraku menjadi serak seperti orang yang habis menangis.
Kak Rika menghela napas dalam. Ia memintaku mundur dari ranjang Mama. Kuikuti permintaannya dengan menjauh beberapa langkah.
“Tidak boleh dicabut selangnya. Mama ingin segera sembuh dan bisa pulang, kan?” tanya Kak Rika.
Nada bicaranya seolah Mama bisa paham dengan wataknya seperti biasa.
“Ya … ya … ya. Tapi tolong jauhkan adikmu dariku. Aku tidak ingin melihat wajahnya.”
Kak Rika memandangku penuh penyesalan.
Ada rasa sakit tak terperi yang kurasakan. Penolakan Mama yang sedang tak sadar memberiku luka.
Aku mundur, memilih menjauh dari ranjang. Roby menarikku keluar ruang UGD dan berdiri bersamanya di pintu.
“Kita pulang, ya?” pintanya.
Aku mengeleng segera. Aku masih ingin membersamai Mama walau perempuan yang melahirkanku menolak. Melihatnya masih bisa bicara secara normal pada kakakku mengobati sedikit rasa sakit di hati.
“Mama akan dirujuk ke Rumah Sakit M. Djamil. Siapa yang nanti naik ke ambulans?” Suami Kak Rika—Edi—muncul.
Ditangannya ada beberapa lembar kertas. Saat diserahkan padaku itu merupakan surat rujukan dan diagnosis awal penyakit Mama. Lembar diagnosis sama sekali tidak bisa kubaca. Tulisannya terlalu amburadul untuk mata normalku.
“Biar aku saja,” putusku.
Aku sedikit kesal karena mereka malah saling menyalahkan untuk memutuskan siapa yang akan menemani.
Tak berapa lama setelah suara bulat menyetujui keputusanku, brankar Mama didorong keluar dari UGD. Mata Mama setengah terpejam lagi seperti akan berangkat ke rumah sakit tadi. Ia kembali tak bisa mengenali salah satu dari kami.
Bahkan teriakan Mama yang tak suka aku berada di dekatnya seperti tadi tidak terdengar lagi ketika kupegangi tangannya di dalam mobil ambulans sepanjang perjalanan.
Tak lama kami terombang-ambing di dalam mobil ambulans. Entah karena mobil yang terlalu kencang, atau sopirnya yang menganggap kami yang ada di dalam bukan makhluk hidup, aku sempat merasa brankar dan diri sendiri akan terlempar keluar mobil ketika berbelok. Untunglah sebelah tanganku berpegangan erat-erat pada besi pengaman di dekat tempat duduk dan sebelah lagi pada brankar Mama. Tak bisa kubayangkan jika tadi membiarkan Mama sendirian di dalam mobil.
Aku bernapas lega saat merasakan mobil berhenti—untung sopir kali ini tidak rem mendadak karena aku yakin akan terlempar menimpa Mama jika itu terjadi. Pintu belakang ambulans tiba-tiba terbuka dan tempat tidur dorong Mama ditarik keluar. Kutunggu sampai orang-orang di pintu menjauh sebelum beringsut pergi.
Kak Rika telah berada di belakang brankar Mama ikut mendorong saat kakiku menjejak lantai. Segera pula kuberlari untuk menyejajari langkah yang lain.
Ini adalah kali kedua aku menginjakkan kaki di ruang UGD. Pertama kali saat kelas enam SD, ketika itu kakak laki-laki Mama yang tak memiliki istri ditabrak di By Pass hingga pendarahan otak dan meninggal tiga hari setelah dirawat di ICU. Hari ini saat membawa Mama kemari.
Sama saat aku ke sini kelas enam SD dan tidak diperbolehkan masuk karena masih kecil, aku berharap keluarga yang dilarikan ke sini pulang dengan selamat.
“Kakak mau urus administrasi, kamu tungguin Mama, ya?”
Tanpa menunggu persetujuanku, Kak Rika pergi.
Aku berpegangan pada besi brankar Mama yang menyangga di kedua sisi. Perlahan Mama mengeliat, matanya mengerjap dan memindai sekitar.
Tidak kucoba melakukan hal yang membuat beliau tak nyaman lagi bersamaku.
Beberapa dokter menghampir dan memintaku mundur supaya mereka bisa bertugas. Kulakukan perintah mereka dengan diam. Mataku tak lepas mengawasi apa saja prosedur yang akan dilakukan pada Mama.
Kak Rika sudak kembali dan kini ada di sisiku. Suaminya juga.
“Mana Roby?” tanya Kak Rika padaku.
Aku baru sadar. Sejak tadi belum melihat pria yang baru beberapa jam menjadi suamiku. Tidak ada keinginan untuk mencarinya kini. Di dalam hatiku Mama masih lebih penting dari dirinya.

Komentar Buku (256)

  • avatar
    Arsen

    sangatlah seru

    24/06/2024

      0
  • avatar
    Riky Rm

    riky

    03/02/2024

      0
  • avatar
    Nailaansari

    yey

    07/06/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru