20 Agustus 1999. Dilan benar-benar merasakan bahwa bagi para perempuan seusianya, predikat anak band dan anak basket adalah daya tarik tersendiri. Selama ini, ia tidak pernah menyadarinya. Apalagi, band yang ia gawangi belum terlalu sering tampil. Hingga kemudian Mira membuktikan asumsi tersebut. Semua berawal dari peristiwa tiga hari lalu, ketika Dilan mengantarkan Mira pulang, seusai mengikuti Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi di lapangan Gasibu. Bagi Dilan, peristiwa itu tidak berkesan apa-apa. Sekadar berniat menolong adik kelas yang sakit. Itu saja. Tapi tidak dengan Mira. Ia yang sejak lama mengidolakan Dilan, jelas melambung. Hal sederhana yang dilakukan Dilan terhadap dirinya, ditanggapi sebagai sesuatu yang rumit di hatinya. Tiga hari terakhir, hatinya berbunga-bunga, meski sesungguhnya tubuhnya sedang sakit. "Ucapan terima kasih dari Mamah," tutur Mira, saat menyerahkan nasi goreng dalam kotak plastik, di jam istirahat. "Mudah-mudahan Kang Dilan suka." "Semua orang pasti suka makanan gratisan," canda Dilan. Mira tertawa. "Bilang sama ibumu, terima kasih nasi gorengnya," ujar Dilan. "Enak." "Dimakan aja belum!" cibir Mira. "Makan dulu atuh, Kang." "Sekarang?" tanya Dilan. "Boleh," jawab Mira. "Aku tunggu." "Mesti, ya?" kening Dilan berkerut. Mira mengangguk. "Kotak plastiknya mau dibawa lagi." "Oh," gumam Dilan. *** 23 Agustus 1999. Jika momen Dilan ditemani Mira menyantap nasi goreng di kantin diketahui orang-orang, wajar. Saat peristiwa tersebut, kantin tengah ramai. Banyak orang yang melihat. Sangat pantas bila di kemudian hari, momen tersebut menjadi pembicaraan. Namun, jika momen Dilan mengantar Mira pulang seusai Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi di lapangan Gasibu juga menjadi buah bibir di kalangan para siswa, hal tersebut cukup mengherankan. "Ternyata, dinding pilar Gedung Sate bisa bicara, ya?" seloroh Dilan. "Mereka menyebarkan desas-desus tentang kita yang pulang bareng." Mira tertawa. "Mungkin ada yang melihat kita naik angkot sama-sama, Kang." "Bukankah itu wajar?" cetus Dilan. "Aku sering naik angkot bareng beberapa teman sekelasmu, nggak jadi gosip." "Karena Kang Dilan nggak memegangi tangan mereka, ketika naik angkot," tanggap Mira. "Iya, 'kan?" *** 31 Oktober 1999. Secara alamiah, gosip yang beredar selama lebih dari dua bulan terakhir, justru membuat Dilan dan Mira semakin akrab. Desas-desus terdengar semakin nyaring. Nyaris tak ada yang dapat dilakukan, selain membiarkannya. Makin ngotot menyangkal, makin kuat dugaan akan kebenaran kabar tersebut. Sayangnya, terjadi perbedaan antara Dilan dan Mira, perihal mengartikan keakraban tersebut. Dilan menganggap keakraban tersebut layaknya sepasang sahabat. Dan Mira, menganggap keakraban tersebut terjadi karena keduanya saling mencintai. Didasari pada kemungkinan terjadinya rasa sakit hati, Dilan mengajak Mira bepergian. "Perayaan kecil-kecilan setelah dibagi rapor?" tanya Mira, saat kemarin Dilan mengajaknya. Dilan tertawa. "Sekadar refreshing." "Bukan kencan?" semburat merah di pipi Mira makin kentara. "Kamu menganggapnya kencan?" tanya balik Dilan. "Kalau Kang Dilan kepingin kita kencan," ucap Mira pelan. "Aku mau." Dilan tersenyum. "Besok, kamu akan tahu." Dan kini mereka berada di Balaikota Bandung. Berbaur bersama ribuan penonton yang terhanyut dalam alunan musik ska yang dilantunkan sebuah band indie asal Yogyakarta. Ya, Dilan dan Mira sepakat untuk menjadikan acara parade band ska tersebut sebagai tujuan jalan-jalan mereka. Namun, baru menyaksikan dua lagu, Dilan mengajak Mira berdiri. "Ke mana?" tanya Mira. "Cari tempat yang agak lengang," jawab Dilan. "Aku mau mengobrol." Spot yang dipilih Dilan adalah sebuah area di dekat jembatan penyeberangan yang melintas di atas Jl. Wastukancana, menghubungkan Balaikota dengan masjid megah di seberang jalan. Terdapat beberapa bangku beton di area tersebut, dan kebetulan kosong. Dari titik tersebut, suara musik dari panggung hanya terdengar sayup-sayup saja. Cukup nyaman untuk mereka berbincang. "Kang Dilan mau ngomong apa?" tanya Mira, segera setelah keduanya duduk di salah satu bangku beton. "Penting, ya?" "Menurutku, ini penting," jawab Dilan. "Tentang perasaan kita, satu sama lain." Tampak pipi Mira sedikit memerah. "Sebenarnya, gimana kamu menilai soal keakraban kita?" tanya Dilan. "Gimana, ya?" tanya balik Mira, terdengar ambigu. "Aku suka sama Kang Dilan, sejak lama. Kang Dilan gimana?" "Aku nggak tahu," Dilan menggeleng. "Aku senang berdekatan dengan kamu. Mmm... rasanya, semua laki-laki akan senang berdekatan dengan perempuan secantik kamu." Mira tersipu. "Tapi, bukan berarti aku harus memacari kamu, 'kan?" sambung Dilan. "Jujur, rasa sayang itu ada. Yang aku nggak tahu, rasa sayang seperti apa? Lebih ke... hmm... rasa sayang layaknya terhadap adik, mungkin." "Kang Dilan nggak mau lebih?" tanya Mira, tanpa berani menatap Dilan. "Kamu mau lebih?" tanya balik Dilan. Mira mengangguk pelan. "Tapi aku nggak mau memaksa. Kalau Kang Dilan nggak mau, biar aja kita dekat seperti selama ini. Yang penting, aku bisa tetap dekat sama Kang Dilan." "Aku jahat, kalau bersikap seperti itu," tanggap Dilan. "Aku lebih memilih kita nggak usah dekat lagi, daripada harus dekat sama kamu, tapi malah menyakiti hati kamu, Mi." Mira menggeleng. "Nggak masalah, Kang. Meskipun harus begitu, aku tetap senang. Aku merasa aman bareng Kang Dilan." Ya, ucapan Mira memang beralasan. Karena kecantikan dan tubuh indahnya, Mira punya banyak penggemar. Namun seiring dengan hal tersebut, ia pun punya banyak musuh, para perempuan yang merasa kalah populer darinya. Terutama para kakak kelasnya, yang semenjak Mira masuk sekolah, merasa eksistensinya terenggut. Bukan rahasia lagi, jika beberapa kali Mira menerima intimidasi halus dari para kakak kelas. Minimal berupa tatapan sinis saat berjumpa mereka di kantin atau ruang guru, misalnya. Dan semenjak dekat dengan Dilan, tindakan intimidatif tersebut jauh berkurang. Wajah cantik dan tubuh indah Mira, sangat berpotensi mengundang birahi lelaki. Kedekatan Mira dengan Dilan, juga membuatnya terhindar dari godaan para lelaki, yang terkadang menjurus nakal itu. Dilan bagai malaikat pelindung bagi Mira, karena ia 'berbeda'. "Jujur, Kang," ucap Mira. "Aku selalu berharap, cinta akan datang di hati Kang Dilan, seiring kedekatan kita. Seperti kata pepatah Jawa." "Ing ngarso sing tulodo, 'kan?" sambar Dilan. "Iih...!" rengek Mira, sambil mencubit lengan kanan Dilan. "Kang Dilan mah ..." "Iya, aku tahu," Dilan tersenyum. "Cinta datang seiring lamanya kedekatan kita, 'kan?" Mira mengangguk. "Mestinya kamu yang seperti itu, Mi," ujar Dilan. "Ada seorang lelaki yang mendekati kamu, dan kamu nggak suka. Lalu lelaki itu keukeuh, terus menempel. Akhirnya kamu luluh. Bukan sebaliknya." "Jadi, perempuan harus selalu menunggu?" tanya Mira retoris. "Menunggu seorang lelaki datang mengejarnya, lalu memutuskan antara 'Oke, aku mau sama kamu' atau 'Maaf, kamu nggak masuk kriteria'. Begitu, Kang?" "Kira-kira seperti itu," jawab Dilan. "Laki-laki memilih perempuan mana untuk ia cintai. Dan perempuan memutuskan apakah dia akan menerima atau menolak laki-laki yang mencintainya." "Kalau ternyata, nggak ada satu pun laki-laki yang memilih aku untuk ia cintai, gimana?" tanya Mira. "Aku jadi perawan tua?" "Nggak mungkin," ujar Dilan. "Kamu cantik, dan banyak laki-laki yang mendekati. Kamu tinggal ..." "Kenapa Kang Dilan nggak mendekati aku?" sanggah Mira. "Dari sekian banyak laki-laki yang mendekati aku, kenapa Kang Dilan bukan termasuk salah satu dari mereka?" Dilan terpaku. "Karena Kang Dilan nggak mencintai aku," Mira menjawab sendiri pertanyaan yang tadi ia lontarkan. "Dan itu bikin aku memilih untuk mengejar Kang Dilan, bukan menunggu, seperti perempuan lain."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
wawww seru sekali hoby bisa d bayar
29/06/2025
0mantap banget
09/03/2025
0bagusss
17/12/2024
0Lihat Semua