Sepuluh menit kemudian, Dilan telah kembali dengan sekotak rokok. Sebatang di antaranya, telah bertengger di bibirnya dalam keadaan menyala. Ditemuinya Neta tengah berbincang dengan Papa dan Mama. Dari gestur wajahnya, Neta terlihat nyaman, meski juga menyiratkan kekakuan. Hal yang wajar dialami oleh siapa pun, yang untuk kali pertama berjumpa dengan calon ayah mertua. "Aku menghabiskan rokok dulu," ujar Dilan, sembari mengacungkan rokoknya. "Sebentar, Néng." Neta mengangguk. Dilan kembali ke halaman, dan duduk di salah satu bangku besi yang ada di sana. Nyatanya, sepuluh menit kemudian, Neta keluar. Perempuan itu langsung duduk di bangku besi, tepat di sebelah kiri Dilan. "Sebentar lagi aku pulang," ucapnya. "Oke," sanggup Dilan. "Setelah rokok habis, aku langsung bersiap." "Aku pulang sendiri aja," putus Neta. "Aku mau pulang sendiri." "Lho, kenapa?" Dilan menatap Neta dengan sorot mata heran. Neta menjawab dengan gelengan kepala. "Kamu kuantar pulang," ujar Dilan. "Udah malam, Néng. Aku nggak mungkin membiarkanmu pulang sendiri." "Aku bisa pulang sendiri," Neta ngotot. "Néng," ucap Dilan, pelan namun tegas. "Demi kebaikanmu, izinkan aku mengantarmu pulang." Neta terdiam. *** Sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Neta, Dilan dibuat bingung. Neta nyaris bungkam. Hampir tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir perempuan itu. Pada awalnya, Dilan gigih mengajak bicara. Namun, lama-kelamaan, ia jengah karena Neta tak kunjung menanggapi sebagaimana mestinya. Hingga akhirnya tiba di Pagarsih, situasi tidak banyak berubah. Dilan duduk di ruang tengah, sementara Neta berada di dapur, membuatkan segelas kopi. Hanya ada mereka di rumah ini. Mama, si Tétéh dan juga putri bayinya, tengah menginap di kediaman adik Mama di Jl. Cigadung. "Minum kopi dulu, Kang," ucap Neta, sambil meletakkan sebuah gelas berisi kopi di hadapan Dilan. Ia sendiri kemudian duduk di sisi kanan sang lelaki. "Terima kasih, Néng," ujar Dilan, sambil tersenyum. Neta membalas senyum Dilan. Dilan menyesap sedikit kopi. "Kenapa kamu diam aja?" tanyanya. "Ada sesuatu yang salah? Ada ucapan keluargaku yang nggak berkenan di hatimu?" Neta menggeleng. "Lalu kenapa?" tanya Dilan lagi. "Pasti ada sebab, makanya kamu mendadak bungkam." "Aku butuh waktu untuk menenangkan hati, Kang," tutur Neta. "Apa yang bikin hatimu nggak tenang?" selidik Dilan. Neta kembali menggeleng. "Tolong jelaskan, Néng," mohon Dilan. "Aku bingung dengan sikapmu. Kalau terus ..." "Beri aku waktu, Kang," sela Neta. "Aku mohon." Dilan menghela napas. "Aku nggak mau kita bertengkar," lanjut Neta, dengan nada suara yang mendadak lirih. "Aku bahagia dengan penerimaan Papa dan Mama terhadap kehadiranmu," ucap Dilan. "Dan aku yakin, kamu juga gembira akan hal itu." Neta mengangguk. "Soal itu, aku memang gembira. Aku bisa akrab dengan Papa dan Mama, di pertemuan pertama. Juga dengan Deki. Tapi, ini bukan tentang penerimaan orang tua Akang." "Jadi?" gumam Dilan. "Ini tentang apa?" "Nanti aku jelaskan," jawab Neta. "Tapi, bukan sekarang. Sekali lagi, aku butuh waktu untuk menenangkan hati." "Berapa lama, Néng?" desak Dilan. Neta mengangkat bahu. "Kamu nggak tahu?" kening Dilan berkerut. "Jadi, sampai waktu yang kamu sendiri nggak tahu kapan akan tiba, aku harus terus kebingungan? Menduga-duga, apa penyebab dari sikapmu yang mendadak aneh?" Neta menggeleng. "Kamu kenapa, Néng?" tanya Dilan lagi. "Tolong, beri aku ..." "Berhenti mendesak aku, Kang!" potong Neta, dengan nada suara mendadak tinggi. Dilan tercekat. Ia terkejut dengan bentakan Neta. Sepanjang empat tahun hubungan mereka, belum pernah Neta membentaknya dengan gestur marah. Selama ini, bentakan-bentakan pendek hanya terlontar dari bibir Neta dalam nada gurauan, yang dapat ditanggapi Dilan dengan gelak tawa. Namun kali ini, menanggapi bentakan Neta dengan tawa, sama saja bunuh diri. Lelaki itu menyeruput kopinya, beberapa kali, hingga tinggal bersisa setengah gelas saja. Lalu, ia mendadak bangkit. Sesaat, direngkuhnya kepala Neta dengan kedua tangannya. Kemudian, Dilan melangkah ke arah pintu rumah. "Aku pulang, Néng," pamitnya. Neta bergegas bangkit, memburu Dilan. Dicengkeramnya lengan kanan sang kekasih. "Jangan pergi, Kang," cegahnya. "Aku mohon ..." Dilan menatap Neta. Diusapnya lembut ubun-ubun perempuan berwajah manis itu. "Jangan pergi ..." ulang Neta. "Kamu butuh waktu untuk menenangkan hati, 'kan?" tanya Dilan. "Oke, aku berikan. Jadi, aku pulang." "Kang ..." bujuk Neta. "Jangan pergi ..." Serta-merta, Dilan menyentakkan lengan kiri Neta, hingga tubuh perempuan itu tertarik ke arahnya. Didekapnya Neta erat-erat. "Aku nggak akan pernah pergi, selama kamu nggak mengusirku," bisik Dilan. "Aku hanya berusaha menghargai permintaanmu, yang ingin menenangkan hati." Dilan merasakan Neta membenamkan wajahnya makin dalam di dadanya. "Aku pulang, Néng," ucap Dilan. "Aku pasti akan datang lagi. Jangan khawatir." Dilan mendorong pelan kepala Neta agar menjauh dari dadanya. Ditatapnya kedua mata sang kekasih dalam-dalam. "Aku sayang kamu, Néng," lirihnya. *** Sikap diam Neta ternyata berlangsung lebih lama dari perkiraan Dilan. Berhari-hari, perempuan itu tidak pernah mengabari apapun. Hari pertama dan kedua, Dilan maklum dengan sikap Neta. Ia berasumsi bahwa sang kekasih memang butuh waktu untuk menenangkan hati. Selain itu, mungkin Neta tengah sibuk oleh pekerjaannya, hingga tak sempat memberi kabar. Namun, ketika dua hari berikutnya, Neta tidak juga mengabarinya, bahkan tidak pula membalas pesan singkatnya, Dilan pun cemas. Cemas akan keadaan Neta, juga cemas akan kelanggengan hubungan mereka. Karena selama empat tahun berpacaran, belum pernah mereka saling diam hingga selama ini. Belum pernah Dilan merasakan kesepian seperti saat ini. Satu hal yang membuat Dilan bingung, adalah samarnya penyebab dari perubahan sikap Neta. Perempuan itu tak kunjung membeberkan alasan. Tanda tanya besar pun sontak hadir di kepala Dilan. Kamu kenapa, Néng? Lalu, ingatan Dilan pun melayang pada peristiwa di masa lalu. Terakhir kali dirinya menghadapi sikap aneh kekasih, adalah dari Nessa, beberapa tahun lalu. Dan kisah pun berujung pada perpisahan. Sekarang, mestikah kisahnya berujung sama? Duh... jangan sampai... *** 30 Agustus 2008. Jengah dengan kebungkaman yang terjadi, pada hari keenam, Dilan menyambangi kediaman keluarga Neta. Beruntung, perempuan itu berada di rumah, dan bersedia menemuinya. "Néng ..." gumam Dilan, sambil mengelus lembut pipi kiri Neta. Neta menundukkan kepala, meski sesaat ditegakkannya lagi. "Iya, Kang." "Kamu baik-baik aja?" tanya Dilan. Neta mengangguk. "Kamu nggak pernah mengabari," ucap Dilan. "Aku khawatir." "Aku baik-baik aja," tanggap Neta, sembari tersenyum. Telapak tangan kirinya meraih tangan kanan Dilan yang tengah mengusapi pipi kirinya itu. "Masuk, Kang. Kata Umi, Akang nggak mau masuk. Harus aku yang memaksa, ya?" Dilan hanya tersenyum. Neta mempersilakan Dilan untuk duduk di kursi sofa. Ia sendiri kemudian duduk di sebelah sang lelaki. "Mau kopi?" tanya Neta. "Mmm... air putih aja, Néng," jawab Dilan. "Tadi aku udah ngopi." "Kubuatkan sirup, deh," putus Neta. "Sirup berbeda dengan kopi, 'kan?" Dilan tertawa kecil. Neta bangkit dan berlalu, meninggalkan Dilan. Sampai sejauh ini, tidak terlihat adanya perbedaan sikap yang ditunjukkan Neta. Mengingat bahwa perempuan manis itu telah 'menghilang' selama berhari-hari, sikapnya kali ini terbilang normal. Mungkin Neta udah berhasil menenangkan hatinya, batin Dilan menduga. Dan aku beruntung, karena datang ke sini di saat yang tepat.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
wawww seru sekali hoby bisa d bayar
29/06/2025
0mantap banget
09/03/2025
0bagusss
17/12/2024
0Lihat Semua