logo text

Bab 13 Tikus Dan Kucing

"Jangan terlalu membenci seseorang, benci itu 11/12 sama dengan cinta"
Titik ~ DR. ANDRO
***
Author POV:
Pasca komentar pedas Andromeda, Meisya kini lebih memilih jalan tengah dimana ia tidak ingin lagi bertegur sapa dengan dokter yang ia harap tak pernah ia lihat keberadaannya.
Meisya berdoa jika ia di berikan penyakit ensafalitis, dimana manusia yang menderita penyakit tersebut tak memiliki memori sama sekali di otaknya. Dengan begitu Meisya tak perlu lagi mengingat sesuatu hal yang mengganggu otaknya.
"Huft.. " Kesal Meisya. Titik terkekeh melihat tingkah laku impulsif Meisya barusan.
"Kenapa ketawa? lucu?" Tanyanya. Titik menggeleng, Meisya beralih menatap Wira yang tak bereaksi.
"Nggak mau ikut ketawa? takut ya di pecat papah?" Tuding Meisya, Wira menaikan salah satu alisnya.
"Takut? tidak sama sekali. Ini hanya tidak lucu saja" Jawab Wira.
"Dia udah kesetting kayak gitu emang dari sononya Mei" Tambah Titik.
"Gak tanya sama Miss aku tuh" Meisya begumam, tanganya sibuk mengupas buah salak.
"Masalahmu sama dokter Andro, ngapa jadi aku ikut di marahin?"
"Ya aku sebel aja, pakaian gini di bilang pamer" Ucapku lagi.
"Nih.. " Tambah ku mengulurkan sepotong buah salah yang telah ku kupas dan buang bijinya.
"Jangan terlalu benci sama orang Mei, benci 11/12 sama dengan cinta loh" Kekeh Titik.
"Hekh!!" Teriak Meisya.
***
Waktu terasa cepat berganti, tak terasa perang dingin antara Meisya dan Andromeda telah berlangsung sejak 3 bulan yang lalu. Selama itu juga Andromeda tak terlihat batang hidungnya.
"Nyariin siapa neng" Bisik Titik memergoki mata Meisya yang bergerak kesana kemari mencari keberadaan seseorang.
"Enggak nyari siapa-siapa" Kata Meisya ia nampak gugup.
"Ought... " Balas Titik, dalam hati ia menahan kekehan kecil. Tiga bulan tak berkunjung kerumah sakit Tomorrow House dan tak mendapati asupan kedua tikus dan kucing memperdebatkan suatu hal nyatanya berhasil membuat Titik rindu juga.
Dengan kursi rodanya, ia nampak berjalan menuju ruang resepsionis dan menanyakan keberadaan dokter Andromeda.
"Permisi Sus, boleh tanya dokter Orthopedic atas nama Dokter Andromeda jam berapa ya Sus?" Tanya Titik. Dengan ramah petugas resepsionis itu mengatakan jika dokter Andromeda sudah tidak bertugas di Tommorow House.
" Tiga bulan yang lalu dokter Andromeda dipindah tugas kak, kemungkinan dokter akan kembali kesini jika pendidikan spesialisnya telah dokter selesaikan" Tambahnya lagi, Titik mengangguk setelah berterimakasih Titik lalu kembali menuju kursi tunggu.
"Ada berita sedih Mei" Kata Titik, wajahnya terlihat lesu.
"Apa?" Tanya Meisya penasaran.
"Musuh bebuyutanmu udah nggak tugas disini"
"E.. ouh.. bagus dong" Kata Meisya, entah mengapa hati Meisya mendadak resah.
Ia tak pernah mengira jika kisah tikus dan kucingnya mereka hanya sampai pada 3 bulan yang lalu. Pantas saja Meisya tak pernah lagi menjumpai Lili dijemput oleh sosok lelaki tengil itu.
***
3 Bulan telah berlalu, rasanya Meisya lalui begitu hampa. Kini rumah sakit yang dulu pernah sangat ia benci justru menjadi tempat pertama yang akan ia datangi begitu hatinya tak nyaman.
Berdalih menemani Titik check-up, Meisya selalu menyempatkan berjalan melewati gedung dimana hal-hal menyebalkan pernah Meisya lewati bersama dokter nyentrik itu.
"Ini lorong pertama kali aku nggak sengaja bersitatap sama Tikus aneh itu" Gumam Meisya sembari berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Koridor utama yang menghubungkan antara halaman dan UGD.
Meisya tersenyum saat melewati ruangan UGD, nampak kilas balik kenangan yang membuatnya terkekeh geli.
"Merindukan ku hah?" Sebuah suara yang terdengar familiar berhasil membuat bulu kuduk Meisya berdiri. Apakah ini yang dinamakan sudah tidak waras?
Apakah merindukan seseorang dapat membuat jiwa kita berdelusi?
Apakah rindu yang dipendam dapat membuat otak sukar membedakan mana suara yang bersumber dari otak dan bukan?
Apakah suara barusan ini nyata?
"Ya Tuhan.. Ada apa dengan diriku?" Gumam Meisya menenangkan diri.
"Aku nggak mungkin beneran kangen sama sosok yang pernah aku maki-maki itu kan?" Kata Meisya menepuk-nepuk kedua pipinya.
"Ya, mungkin ini karena dia pergi disaat aku dan dia lagi ada persoalan yang belum dituntaskan. Makanya aku kepikiran dia terus, makanya aku jadi ngedelusiin suara dia. Tapi ini bukan dia, aku juga nggak mungkin suka kan sama dia?? enggak!! ini nggak mungkin!! Iya.. Iya.. Ini pasti karena aku ngerasa bersalah aja sih sama dia" Gumam Meisya sambil terus bergumam dan mengingatkan diri sendiri.
Iya tak boleh menjilat ludah, ia tak boleh menaruh apapun terhadap sosok nyentrik itu.
"Mei" Gumam suara itu lagi, Meisya semakin memperkuat tutupan telinganya.
"Enggak!!! Enggak nyata!" Gumam Meisya sembari merapalkan doa.
"Meisya!! " Tegur seorang dokter bernama Alif. Meisya menoleh menghela nafas kasar antara kecewa karena suara itu bukan milik Andromeda sekaligus lega karena Andromeda tak harus tahu jika ia merindukan nya.
"Ehh.. Dokter, eh kok dokter tau nama saya? kita saling kenal?" Tanya Meisya heran, Alit tertawa geli.
"Siapa yang nggak kenal perempuan bernama Meisya? Satu-satunya perempuan yang berani berdebat dengan Andromeda. Kamu sendiri ngapain disini? kangen ya sama kucing besarmu itu? mulai merasa kehilangan Huh?" Goda Alif menaik turunkan alisnya.
"Gimana tadi? suara saya sudah mirip bangetkan sama dokter Andromeda?" Tambah Alif.
Bukanya menjawab Meisya justru berlalu begitu saja, Alif menggeleng tak percaya.
"Tikus kesayangannya Andromeda," Gumam Alif tak habis fikir.
***
Langit malam terlihat begitu cantik dengan warna hitam pekatnya, bintang-bintang mengelilingi dan menghiasi tubuh indahnya.
Langit seolah menggeliat, tertawa mengejek Bumi yang terlihat selalu insecure dan tak percaya diri dengan bagaimanapu betuk tubuhnya.
Langit seolah ingin memamerkan warna kulitnya yang tak secerah matahari, hitam bukan berarti tidak cantik bukan? Ya langit seolah ingin berkata demikian.
Meisya mengangguk setuju pada kepercayaan diri langit, Meisya seolah mendapat pancaran energi dari langit sehingga ia berambisi untuk menjadi Meisya yang penuh percaya diri dan karisma.
Hatinya meronta ingin memencet tombol follow pada laman media sosial makhluk yang tah mengacaukan hatinya belakangan ini.
"Kenapa di privat sih, sok kecakepan banget jadi kucing!! " Keluh Meisya.
"Follow dulu apa biarin aja? dia kapan sih nyelesain pendidikan nya? sumpah ini makhluk kok sok ngartis banget sih" Omel Meisya.
Tanganya yang gatal tanpa sadar memencet tombol Follow, seketika Meisya teriak panik dan heboh sendiri.
"Ini astaga!! nggak bisa.. nggak bisa... BEGO BANGET ASTAGA!! MEI TOLOL!!" Teriaknya tak beraturan.
"Tekan Unfoll kali, aelah ribet amat" Asoka datang telat dibelakang Meisya.
"Ngagetin tau nggak!! "
"Ngaca!! Kamu berisik banget tau" Balas Asoka, tubuh melayangnya kembali menembus tembok dan menghilang.
"Dasar Setan!!! "
***
Disisi lain, Andromeda terkekeh geli mendengarkan cerita terbaru dari informannya.
"Yakin loe masih mau nunda? doi rindu keknya sama elo" Kata Alif sembari berjalan menuju parkiran basement rumah sakit.
" Tunggu gua keren, gua bakalan balik buat dia" Jawab Andromeda.
"Buruan, nanti gua tikung lo"
"Tulang loe mau gua patahin? " Jawab Andromeda serius, awas saja jika Alif berani mendekati Meisya.
***
Bersambung..

Komentar Buku (49)

  • avatar
    SamsunAndi

    bagus bangettt sukaaa

    03/07

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    mantap

    10/09/2025

      0
  • avatar
    KasihAyuracinta

    suka bangettts

    09/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru