logo text

Bab 19 Anakku Sayang

"Rasa kecewanya telah dimakan oleh bujuk rayu dan janji. Kini ia telah pergi menjadi jiwa yang abadi."
Meisya ~ DR. ANDRO
***
AUTHOR POV:
Gelas yang telah pecah tak dapat menyatu sempurna sekalipun engkau telah menambal dengan lem terkuat didunia. Retaknya justru semakin terlihat jelas dan membekas.
Pecahan gelas itu dapat berpotensi menyakiti tangan orang lain maupun tanganya sendiri. Seperti halnya Widuri, jika membunuh di legalkan oleh negara ia tentu sangat ingin mengajak Prass untuk mati bersama janin yang telah ia gugurkan.
Hatinya begitu pilu, bukan ini yang Widuri inginkan.
"Ibu" Gumam Widuri sembari memeluk tubuh Bu Warti.
"Sehat yuk nak, ibu sama bapak sudah memaafkanmu. Biar bagaimanapun kamu tetep anak kandung kami. Kamu anak ibu yang paling baik. Widuri anakku.. Widuri putriku" Kata Bu Warti sembari menahan isak tangis.
Putri kecilnya yang kini sudah bertumbuh menjadi seorang wanita dewasa berubah bak seongkok daging tak bernyawa. Putrinya yang dahulu terlihat segar dan penuh perhatian kini untuk tersenyum barang sekejap saja rasanya sukar.
Widuri nya kini telah berubah, tak dapat lagi ia merasakan hangatnya suasana rumah. Widuri nya kini telah benar-benar berubah.
Cinta membutakanya, cinta membuatnya bersikap seperti orang buta, cinta membuatnya terlena dalam bujuk rayu semua dan fana, Cinta membuatnya terluka.
Cinta merusak mental dan harga dirinya, cinta merusak citra dan masa depannya.
Cinta merusak jiwa yang bahagia menjadi seperti ini.
"Ya Tuhan, Widuriku. Putriku" Gumam Bu Warti, transfusi darah telah berhasil dilakukan. Bu Warti merasa sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Meisya dan yang lainya.
Meisya yang memiliki day off ngajar hari ini lebih memilih untuk berada di depan kamar Widuri, matanya meremang dan berkaca menyaksikan betapa tulusnya kasih sayang kedua orang tua.
Tanpa sadar, Meisya menerima pelukan hangat Andro disebelahnya. Ia menumpahkan air mata yang telah cukup lama dipendamnya.
Mental Meisya pernah merasa sangat terluka dan kecewa, namun bukanya peran keluarga hadir sebagai stimulus dan membantu menguatkan Meisya. Peran keluarga Meisya justru sebaliknya Mamanya menyalahkan atas mental health nya yang terluka. Ia menyalahkan Meisya yang menurutnya tak berguna dan pembawa sial.
Mamah menyalahkan atas kelahiran meisya yang menurutnya salah. Mamah marah, mamah membencinya.
"Hiks.. " Isak Meisya pelan, tak banyak yang dokter mampu Dokter Andro lakukan ia membiarkan wanita galak itu untuk mencurahkan segala isi hatinya.
"Aku pernah minta maaf telah dilahirkan kedunia ini, aku berharap mama mau memaafkan namun nyatanya tidak. Aku ingin mama bahagia" Gumam Meisya terbawa suana.
Kegaduhan tiba-tiba terdengar dari dalam ruangan Widuri, setelah mengucap kalimat permintaan maafnya Widuri menghembuskan nafas terakhirnya.
Meninggalkan segala rasa pelik yang menyesakan dada.
Meninggalkan segala rasa sakit yang menyiksa batinnya.
Kini, Widuri telah bahagia di atas sana.
Terbang bersama bintang deneb yang bersinar, tertawa bersama semilir angin hangat di musim gugur.
"Waktu yang hilang tak akan kembali, hati yang patah harus sembuh kembali." Kata Widuri sembari memejamkan matanya dan melebur pergi.
Terima..
Rasakan..
Biarkan..
Nikmati..
Evaluasi..
Lanjut, mari berdamai dengan diri sendiri.
***
Arifin datang menjemput Meisya, ia tersenyum prihatin melihat Meisya tumbuh tanpa sosok kedua orang tuanya.
Ia tersenyum, jika bukan ia yang meminta Xyn ke Bali mungkin ia tak akan terlahir semenderita ini.
"Om Ar!! " Teriak Meisya, ia tersenyum melambaikan tangan pada mobil BMW hitam yang kini tengah berhenti didepanya.
Andromeda membulatkan matanya begitu melihat sosok orang penting yang berdiri menjemput pujaan hatinya. Seketika Andromeda merasa sangat kecil dan malu, pantas saja Meisya selalu menolaknya ternyata ia adalah keponakan dari orang berpengaruh di negri ini.
Namun mengapa ia tak tahu? bukankah Meisya sangat hebat dalam menutupi dirinya?
"Dok, kenalin ini Om saya. Om kenalan ini dokter Andro"
"Arifin"
"Andromeda" Kata kedua lelaki itu bersamaan. Tatapan mata Arifin terlihat dingin mengintimidasi, jabatan tanganya kuat dan berat.
"Yuk pulang" Arifin memutari mobil dan membukakan pintu untuk keponakan kesayangan mereka bertiga.
Xyn. Arifin dan Agam.
"Duluan ya dok" Gumam Meisya.
"Dia siapa kamu Sya? " Tanya Arifin begitu mobil telah melaju tenang di jalan raya.
"Temen" Jawab Meisya.
"Sejak kapan temen bisa sampai nemenin kamu ke Gunung Sempu? sedekat apa kalian?" Tanya Arifin lagi.
"Apaan sih Om, beneran temen" Jawab Meisya tak ingin menghiraukan pertanyaan Arifin.
"Mei, om nggak suka sama anak itu. Jika sesuatu terjadi sama kamu, jangan salahkan om jika peluru menembus otaknya"
"OM ARIFIN!! apaan dah, dia temen nggak lebih. Lagian Meisya ke gunung Sempu buat nganterin Widuri. Keluarga besar Widuri yang di Jogja menginginkan Widuri dimakamin di samping keluarga besarnya.Okaylah Gunung Sempu emang identik dengan Chinese dan orang Nasrani, tapi tanah tidak pernah pilih kasih dalam menerima kedatangan siapapun.
Tanah selalu menerima manusia, tanah selalu memberikan tubuhnya sebagi sandaran nyaman untuk hari akhir mereka.
Tanah tidak seperti manusia yang suka mengkotak-kotakkan sesuatu, tanah adalah dada ternyaman untuk menjatuhkan beban dan perasaan."
Meisya menjelaskan, "Dokter Andro kebetulan ada di sana, meisya hanya mencoba menjadi diri sendiri. Membiarkan kebaikan orang datang dan menemani meisya. Udah itu aja"
"Om, Ayah nggak bisa jemput Meisya. Meisya juga nggak papa, meisya nggak mau egois lagi. Meisya akan mencoba untuk menerima segala rasa yang ada. Penolakan mama, Keterdiaman Ayah. Kebisuan keluarga besar mama, dan penderitaan meisya. Nggak apa-apa, meisya akan mencoba menerima itu semua" Gumamnya.
Ia teringat pada senyum terakhir Widuri, senyum indah yang ternyata menjadi penutup cerita sebelum tidurnya.
Melepaskan segala nestapa didada, membiarkan ia berainar lebih terang lagi.
"Kini, ia telah tenang di langit sana. Menjadi salah satu bintang paling terang menemani Deneb dan The Summer Lights lainya, cantik kan Widuri om? " Gumam Meisya, pernyataan dan pertanyaan keponakannya itu berhasil mengusik hati Arifin.
"Hem.. cantik"
"Mei, perasaan orang tua tak pernah bisa berbohong. Ia mungkin bisa saja salah, namun om hanya minta satu hal" Kata Arifin serius, ia menatap Meisya memberitahu betapa tulus dan khawatir nya Arifin "Intuisi om mengatakan jika anak itu bukanlah orang baik, Berhati-hatilah jangan sampai tolol di buatnya" Gumam Arifin.
"Iya-iya... eh tapi om, jangan bilang Ayah ya tentang Andro. Please??? " Mohon Meisya.
"Gak GRATISS!! "
"Yahhhh, meisya miskin nanti om, aelah"
"Om nggak minta duit, om minta kamu panggil Winda. Masih bisa kan??? "
"Gak!! "
"Yah Mei, jangan gitu"
"Dikira setan itu makhluk yang bisa di perbudah suruh ngevlog gitu?, main panggil-panggil aja.. Nggak ada, nggak pokoknya nggak ada! "
"Om beliin kamu rumah sakit itu deh" Bujuk Arifin.
"Gak!!! Gak ya gak!! "
***
Bersambung..

Komentar Buku (49)

  • avatar
    SamsunAndi

    bagus bangettt sukaaa

    03/07

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    mantap

    10/09/2025

      0
  • avatar
    KasihAyuracinta

    suka bangettts

    09/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru