"Nath ... " Posisi Vincent yang masih di atas tubuh Nickolas langsung mencengkram kuat kedua tangannya di tanah lalu kembali beraksi seperti sebelumnya. Sensasi sentuhan dari sesama pria ini membuat Nickolas betul-betul kegelian tak karuan sambil menunggu tenaga pulih kembali, Nickolas pun berkata "Tu-tunggu woi, gua ngerti yang lo pengen" Vincent sontak menghentikan aksinya, memandang kedua bola mata Nickolas secara intens "Nath ...." "Loe pengen maen adu kepala kan?" Nickolas berkata lembut memuncakkan gairah pada diri Vincent. "Nath kau ..." Vincent senyum semringah tak habis kira Nathan yang dia sukai sejak lama ternyata gay seperti dirinya. "Ssttt … diamlah, gua yang mau main duluan, gimana? Apa loe setuju?" Ucap Nickolas. Vincent diam terpana, secepat kilat Nickolas langsung beralih posisi ke atas tubuh Vincent, pertama-tama membubuhkan senyuman khas kemudian merekatkan jarak, Vincent yang berada dibawahnya memejamkan mata siap menerima perlakuan yang amat dia dambakan sejak lama. Jarak Nickolas semakin lama semakin mengikis, kemudian ... Bugh! Bukanlah cumbuan yang dia berikan melainkan menghantamkan kepalanya di kepala si Vincent. "Arrgggh!! Bangsat!" Vincent teriak tak kuasa menahan sakit dikepalanya bagaikan di hantam sebuah batu, sementara Nickolas beranjak bangkit dari atas tubuh pemuda itu, membiarkan pemuda itu bangkit juga. Vincent bangun, kedua tangannya memegangi kepala dan terus-menerus mengumpat "Bedebah lo Nath!" "Hahaha, apanya yang salah Men … ? bukankah loe sendiri tadi yang bilang mau adu kepala, kan? Yaudah ayok sini pala loe aduin sama pala gua, gimana sensasinya tadi? Enak?" "Bangsat!" Kata umpatan masih terus Vincent lontarkan, hasrat yang membelenggu jiwa telah padam akibat perlakuan lawan main tak sepadan dengan pikiran, dia lekas kembali mengayunkan pukulan. "Oit," Melotot, mendapati begitu lincahnya Nickolas menepis pukulannya serta pukulan balik yang Nickolas lakukan justru mampu membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang. Keganjilan yang sempat Vincent rasakan, kini semakin dirasakannya, karenanya Nathan yang dikenali tidaklah sekuat ini. "Siapa sebenarnya Loe?!" melotot heran. "Menurut lo gua siapa?" - Nickolas "Aeh Babi!" "Haha, slow men … Lo sendiri kan yang tadi bilang pengen adu kepala, Gua tadi pan bilang kalo gua udah siap layani lo nyampe puas, tapi sorry bukan puas sampai Croot! Nama gua Nickolas, cowok populer dan tampan sejagat raya sampai luar angkasa dambaan banyak wanita, yang pastinya gua bukan cowok homo kayak elo, Cuih!" "Bangsat! Gak usah belagu mulut loe ngebacot Nath, Ngaca dulu loe! mata loe gak bisa ngebohongi gua, kalau loe Gay juga, dasar munafik loe Nath!" Vincent masih belum bisa mempercayai kalimat Nickolas lantaran fakta dari fisiknya tak memungkiri bahwa paras Nickolas benar-benar sama dengan Nathan. "Halah persetan, udahlah bro gak usah banyak nge-halu deh, sinih gih lo maju gua siap layani loe nyampe Croot! Eh salah, maksud gua sampek bacot lo moncrot! Haha" Ekspresi khas Nickolas saat dihadapan lawan membuat siapapun lawan semakin geram melihat tingkahnya. Darah pun bagai mendidih dalam diri Vincent. "Come on Men ..." Nickolas menggerakkan jari-jari pertanda siap berkelahi. Nickolas tidak tahu-menahu siapa pemuda asing ini dan mengapa tiba-tiba menyerangnya sambil menyebut nama Nathan? Meski sebenarnya tubuh masih lemas, bukan hal sulit apalagi tidak bisa Nickolas meladeni so'al berkelahi, mengingat cukup pengalaman didunia liar, perkelahian justru suatu hal yang sangat dan menyenangkan. Sementara Vincent hanyalah pemuda desa yang seringkali mengandalkan teman-temannya untuk membully siswa yang lemah termasuk Nathan-lah yang paling parah menjadi korbannya. Setelah Perkelahian berlangsung berdurasi hanya beberapa menit saja, posisi Vincent duduk meringkuk sudah tak mampu lagi melawan serangan Nickolas, dia bahkan pasrah apabila Nickolas yang dia kira Nathan ini hendak membalas penganiayaan yang dia lakukan di hari jum'at kemarin. Hei, tapi yang berdiri dihadapannya ini bukan Nathan! yang tentunya tidak tahu-menahu ada permasalahan apa yang terjadi diantara mereka. Perlahan Nickolas mendekat padanya disaat perkelahian telah usai, sementara Vincent lemas tak berdaya, memejamkan matanya siap menerima pembalasan dendam. Nickolas semakin dekat dan dekat, jarak wajah kian mengikis sembari memanggil pelan "Wei bro, sttt … wei wei!" Vincent perlahan membuka matanya, "Gak usah tanggung Nath, kalau loe dendam mau bunuh gua, bunuh gua aja sekarang!" "Aeh kampang. Gua tuh mau nanya kampret! emangnya muka ganteng gua ini kayak tampang pembunuh ya?" Ucap Nickolas dalam tutur kata khasnya. Vincent tidak menjawab, hatinya bimbang antara percaya atau tidak tentang pemuda yang berdiri di hadapan menentang bukan si Nathan? "Yang lo panggil Nathan siapa sik, ngapa lo daritadi manggil gua Nathan, mata lo keder? Apa emang lo lagi nge-flay?" - Nickolas. "Lo kira lucu becanda lo hah?! kalau loe mau bunuh gua, gak usah banyak basa-basi Nath!" - Vincent. "Aeh buang-buang waktu gua aja loe, di tanya baik-baik malah jawabnya muter-muter mulu kayak trenggiling" Kesal Nickolas tak mendapati jawaban, akhirnya beranjak pergi dari sana. __ Kesal dan gumam yang kini dia rasakan penasaran siapakah gerangan yang bernama Nathan tak kunjung mendapat satupun jawaban, menuntun langkahnya tak terasa sudah tiba di pinggir jalan. "Sial amat gua, udahlah tersesat ketemu cowok homo pula." Teringat diri seharusnya bersama ketiga teman, menoleh kekiri dan kekanan mencari arah dan tujuan untuknya melanjutkan perjalanan. Sempat terpikir hendak mencari pinjaman telephone genggam pada orang yang berlalu lalang di jalan maupun warung-warung terdekat, tapi tak jadi dilakukannya lantaran tersadar suatu hal. "Lah iya gua baru inget, percumah juga kalo gua pinjam hape, nomor-nomor temen aja kagak ada yang gua hapal, Haissh! ini jalan apa kuburan sih, Sepi amat yang lewat" Menoleh ke seluruh arah, lalu melihat ada pemuda mengendarai motor di seberang jalan sedang menepi sejenak tak jauh darinya. "Bang," Panggilnya. Perlahan pemuda itupun menoleh "Nah, Elo Nath. Darimana Loe? Lalu ini … ngapain loe di jalan sini, tumben amat." Nickolas terdiam sejenak, dalam hati penuh penasaran dan pertanyaan kenapa lagi-lagi dia di panggil Nathan? Siapakah gerangan si Nathan ini? "Hoi, Nath!" Seru pemuda itu, membuat lamunan Nickolas tercabik "Eh, ya" "Ditanya malah bengong, Jum'at kemarin loe ngapa kagak balik ke asrama? minggu lalu loe bilang mau weekend di asrama bareng gua, harusnya bilanglah kalau mau pulang ke rumah, kan bisa gua anter." Lanjut dia yang mana membuat Nickolas benar-benar tak tahu harus jawab apa, namun tersirat rasa penasaran semakin membelenggu pikiran, akhirnya dia pun coba menjawab sebagai seorang Nathan. "Oh itu anu kemarin gua ... anu .... kemarin gua kebelet bro, jadi … gua balik duluan sorry kagak ngomong dulu hehe" Ceplosnya ngasal. "Hah?" Pemuda itu pun bengong. Tentu dia terbengong heran lantaran pemuda itu adalah teman satu kamar dengan Nathan di asrama sekolah plus teman yang paling mengenal Nathan sejak kecil bernama Zatra Yudas. Mendengar jawaban ngawur Nickolas dan juga dari tata bahasa yang Nickolas gunakan benar-benar sangat berbeda dengan Nathan yang ia kenal membuat dia betul-betul keheranan. "Lo kesurupan dedemit mana sih Nath, tiba-tiba berubah jadi aneh banget begini, apa salah minum obat?" - Zatra. "Gua ... Eh, saya eh, Aku …" Nickolas bingung menempatkan diri menjadi seorang Nathan lantaran bahasa khas yang dia gunakan cenderung kasar dan kurang sopan tidak mengetahui bahasa apa yang biasa Nathan gunakan "Ah, eh, oh, gua, saya, aku, eh, ngomong apa'an sih Loe Nath, kagak jelas banget dah" Penggal Zatra ditengah Nickolas sedang kebingungan lantas tiba-tiba Zatra melotot sambil memegangi perutnya sendiri, "Oohhhh Nath! Ohhh Nath awuhh Ahhhh …" "Dih, ngapain sih lo?" Heran Nickolas mengangkat satu alisnya. "Perut Gua mules banget Nath kebelet Boker. Buru loe naik gih kita balik, rasanya dah di pucuk nih." "Haiish, kampret!" - Nickolas. Walau Nickolas tidak mengetahui siapakah pemuda didepannya itu, dia tetap duduk di atas motor mengikuti pemuda itu membawanya pergi. Benar-benar sangat penasaran, kenapa bisa ia dianggap sebagai Nathan? sedangkan ini saja baru pertama kali datang mendaki gunung di daerah ini. ___ Tak lama kemudian mereka sudah sampai di tempat tujuan, Zatra memakirkan kendaraannya tepat didepan rumah Farid (Ayahnya Nathan). Zatra cepat-cepat turun lalu lari terbirit-birit seraya tangan memegangi perutnya menuju ke arah rumah dia yang letaknya bersebelahan dengan rumah Farid. "Wei Bro," Panggil Nickolas. "Apa'an? anu gua udah di pucuk nih, udah gak tahan sumpah, uuhhh …" Ringis dia yang memang sedang menahan 'Panggilan Alam' "Rumah Nathan, em ... maksud gua rumah gua yang mana?" Tanya Nickolas. "Di luar angkasa! ngaco' loe akh, Sue!" Zatra langsung lari pergi karena rasa mulas sudah tidak tertahan lagi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus banget critanya
11/05/2025
0you
07/11/2024
0👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
27/10/2024
0Lihat Semua