Episode 23

Sesudah mereka pergi, Nathan kembali masuk kedalam rumah rencana awal ingin kembali beristirahat supaya tubuh dapat secepatnya pulih, tapi entah mengapa rasanya bosan bila harus berbaring di kamar saja, akhirnya duduk di kursi ruang tengah seraya menyalakan televisi. Lantas terdengar dering telephone dari dalam ransel di kasih oleh tamu yang tidak ia kenali tadi (Renz, Dion dan Samuel)
Kring … Kring … kring …
Semula dia biarkan, tapi lama kelamaan bunyi dering itu sangat menganggu karena memang volumenya di setel full oleh Nickolas. Ia raih Handphone itu sekedar dilihat saja tanpa di terima. Tapi, semakin dibiarkan handphone itu masih terus berdering, akhirnya ia coba menerimanya tanpa bersuara.
"Hallo, Nick." Suara seorang gadis terdengar dari dalam handphone itu.
"Nick, halo …. Ini sinyal loe yang ngadat apa gimana sih! Apa Loe keluyuran lagi hari ini?" Lanjut gadis itu terdengar akrab sekali dengan Nickolas.
"A--aku di rumah"
"Heleh gua kira sinyal bapuk, yaudah gue kerumah loe sekarang." Pungkas Gadis itu langsung mematikan sambungan telephonenya.
Semasih Nathan hendak menaruh hape tersebut di atas meja, handphone kualitas terbaik sekaligus keluaran terbaru itu cukup menarik perhatiannya. Mengusap layar, kebetulan Nickolas belum memberikan keamanan pada hapenya, tentunya Nathan dapat melihat langsung isi-isinya.
Meski selama dikehidupan masa lalunya tidak pernah memiliki telephone genggam, semua itu tak membuatnya menjadi pemuda yang tak memiliki pengalaman dalam hal kecil seperti ini.
Disaat melihat Galeri foto didalam handphone itu, dia pun tersenyum-senyum melihat aneka ragam foto Nickolas memakai seragam sekolah dengan teman-teman di sekolah.
"Apakah tingkahku dulu begini?" Laksana siswa nakal begitulah yang Nathan lihat di pose foto-foto Nickolas itu yang memang Nickolas nampak berpakaian sekolah tidak rapih sebagaimana mestinya.
Beranjak berdiri kemudian menuju kaca cermin yang ada di Westafel didekat sana. Dia lihat wajahnya sendiri di cermin sembari membandingkan foto yang ada didalam ponsel itu. "Kenapa aku merasa foto-foto ini beda denganku? Apakah karena efek kameranya ya?"
Ya, foto-foto itu benar-benar sama dengan dirinya tanpa ada perbedaan sedikitpun (Kecuali tanda lahir yang dia miliki di tengah-tengah dada milik Nathan) yang tentunya Nickolas tidak mempunyai-nya dan karena letaknya di tengah dada, tidak pula terlihat publik.
Kembali duduk di tempat semula, kemudian memperhatikan baik-baik seluruh wajah teman-temannya didalam Foto itu supaya mempermudahkannya dalam beradaptasi menjadi manusia baru bila berjumpa mereka di sekolah nanti.
Dilihatnya penampilan teman-teman sekolah benar-benar aneh, sekaligus gaya berfotonya pun sama saja seperti teman Nickolas di dunia luar yang terletak di dinding kamar.
Didalam foto itu (sekolah) kerapkali Nathan hanya mendapati 6 teman yang dominan Pria dan hanya ada dua gadis, bahkan yang lebih sering terlihat hanya ada satu gadis saja.
Mereka semua terdiri dari Ivan, Rava, Albert, Victor yang biasa di panggil Miss Vince karena tingkahnya centil melebihi gadis tulen. Serta satu orang gadis yang kerap disapa Jessa Jefferson, lebih sering terlihat di Foto dan satu teman perempuan bernama Violetta.
__
Selepas melihat-lihat Handphone tersebut tak lama kemudian terdengar suara bel rumah berbunyi bersamaan dengan dering Handphone.
Ting … tong … ting … tong …
Kring … kring .. kring …
Nathan diam di tempat, hanya sekedar melihat handphone itu di atas meja, sementara menoleh ke sisi lain Bu Lia sedang melangkah buru-buru hendak keluar pintu dan menuju ke bagian gerbang.
"Permisi Bu, Nicko-nya ada?" Tanya seorang wanita muda/gadis yang masih berusia setara Nickolas dari luar pintu gerbang, dia Jessa Jefferson.
"Ada Non di dalam, mari masuk Non Jes," Buru-buru Bu Lia membuka pintu, paham siapa si gadis ini.
Jessa beranjak masuk kedalam rumah, lalu melihat keberadaan Nathan di sofa ruang tengah.
"Hei Nick!" Sapa dia seraya melangkah mendekat, senyum merekah tampak dari bibir mungilnya yang tipis dan berwarna merah muda.
Paras jelita gadis sedang melangkah menujunya itu menjadi pusat perhatian Nathan, dia diam mematung sampai tidak menyapa balik dia.
"Hei Nick, bukannya jawab kok malah bengong?" Jessa sudah sampai didekat Nathan, lantas menyadari ada perban di kepala Nathan
"It--itu loe kenapa? pasti abis berantem lagi loe ya?" mengulur tangan hendak menyentuh perban itu.
Sebelum tangan sampai di kepala, Nathan reflek menepisnya langsung
"Oit, buseehh! galak amat. Biasa aja kali tu muka kagak usah ditekuk-tekuk gitu kali" gerutu Jessa secara khasnya.
Nathan menyingkirkannya lantaran sejatinya dia memang tidak begitu menyukai bila dirinya disentuh oleh siapapun bahkan oleh sahabatnya sendiri semasih kecil dulu (Zatra) Membuat Jessa keheranan karena Nickolas tidaklah demikian.
"Nick! Elah … Ngomong kek dikit, serasa gue lagi ngomong sama tembok" Jessa memayunkan bibirnya tampak lucu membuat Nathan sedikit tersenyum.
"Dih, napa malah senyum-senyum, Oh iya Btw daritadi ngapa telpon gue gak loe angkat-angkat?"
"Em ..." Nathan bingung hendak berkata-kata.
"Gue lagi buru-buru nih mau pergi bareng Vio, tadi kebetulan kita lewat jalan gak jauh dari rumah loe jadi ya … gue pikir sekalian mampir kesini"
Nathan sebatas mengangguk-anggukkan kepala dengan ekspresinya yang polos.
"Bentar deh gua ada sesuatu buat lo Nick" Jessa pun membuka sejenak tasnya sendiri.
"Taraaaaaa" sebuah Kertas HVS berisikan materi soal.
"...." Nathan masih diam saja, sementara kertas itu Jessa letakkan di atas meja.
"Itu tugas dari pak Erwan tempo hari, loe kan hari itu bolos, si Jovan yang nitipin itu ke gue, eh ... gue sendiri malah yang lupa ngasih ke elo hehe." Jelasnya, Nathan masih saja diam tak lepas memandangi bibir tipis, kecil dan mungil milik gadis itu.
"Kurang baik apa lagi gue coba? mau repot-repot kemari cuma nganterin itu doang, maklum lah … gue kan cewek cantik, cetar membahana, baik hati suka menolong, tidak sombong, dan pastinya tetap mau menolong teman yang songong kayak elo! Hahaha"
Nathan pun tersenyum melihat betapa cerewet dan lucunya gadis di depannya itu.
"Oi Nick, loe kesurupan setan mana sih, aneh banget deh perasaan daritadi diem mulu kayak ada lem-nya tuh mulut." Jessa menyadari tak ada respon yang signifikan seperti biasa saat dia bersama Nickolas.
"Memangnya seperti apa aku biasanya?" Tanya Nathan untuk kali pertamanya berbicara lebih dari satu kata.
"Aux ah. Gaje lu," Jessa pikir Nickolas sedang mencandainya, kemudian melihat arloji di tangan sambil berdiri.
"Canda loe gak Lucu tau gak, yaudahlah gue dah di tunggu Vio nih di mobil. Loe tau sendiri kan tuh anak kek mana kalo lagi marah, Cepat sehat loe ya Nick. Sampai ketemu di sekolah ya … Papay" Beranjak keluar tampak tergesa-gesa.
Nathan masih diam di tempat memandangi gadis itu berlalu tanpa ia sadari telah senyum-senyum sendiri.
Selepas Jessa pergi, ia bergegas kembali kedalam kamar seraya membawa kertas berisikan materi soal pemberian Jessa tadi tanpa membawa serta telephone genggam yang dia taruh di atas meja

Komentar Buku (86)

  • avatar
    In yeoupHawang

    Bagus banget critanya

    11/05/2025

      0
  • avatar
    Jroe Joseph Aquino

    you

    07/11/2024

      0
  • avatar
    lizashaz

    👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

    27/10/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru