Beranda/PENDEKAR DALAM SELUBUNG MANTRA/
13
Desir halus merambat dari dada terus merangkak ke sekujur raga. Mata pemuda tanggung itu berbinar dengan mulut sedikit menganga. Dia kagumi sepasang dada gadis itu yang baru mengembang dan terlihat membayang di permukaan bening air sungai. Endaru rasai permukaan kulitnya meremang. Dia membayangkan diri menjadi bagian dari aliran sungai itu dan merasakan kelembutan kulit bersih sang gadis yang selama ini tak disadari sari madunya.
Setelah mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengembalikan pikiran sadarnya, Endaru beranjak dan bersandar pada batang pohon besar dengan kedua tangan menekan dada yang berdentam-dentam.
“Dasi—gadis kecil itu—tak kusadari dia tumbuh menjadi begitu indah,” ucap Endaru.
“Dasi?” kernyit Suro.
“Putri Nyai Centini—istri ketiga Warok Sastro,” jawab Endaru datar.
“Gadis cilik yang menjadi teman bermainmu itu?”
Endaru mengangguk dengan mata terpejam, ”Dua tahun tinggal di sana aku tak pernah melihatnya sebagai seorang gadis hingga saat itu.” Endaru tergelak di lantai kereta.
Suro merasa lega mendengarnya. Pemuda itu bisa sejenak melupakan kesedihan dan lukanya, “Jadi kau mendapatkan mimpi basah pertamamu dengan gadis itu?”
Endaru membisu. Tanpa Suro ketahui pemuda itu tersenyum membenarkan.
“Apa gadis itu tahu kau menyukainya?” selidik Suro.
Endaru membeku. Dia urai kembali rajutan kenangan yang berkelindan dalam alam pikirannya. Pemuda tanggung itu berlari pulang ke rumah dengan dada yang berdentum-dentum. Dia menjadi gelisah sepanjang hari. Usianya sudah memasuki bilangan empat belas tetapi mimpi yang semalam dia alami sama sekali berbeda dari kenyataan yang terjadi. Endaru merasa ada yang salah dengan tubuh dan pikirannya.
Selama ini kasih sayang yang dia tahu hanya datang dari Warok Sastro. Semua anak-anak laki-laki yang menjadi gemblak di sana tak sedikit yang mengakui membenci perempuan. Mereka menjauhi anak-anak perempuan. Persis seperti apa yang pernah diucapkan Dasi. Kesukaan dan kecintaan mereka hanya pada sang warok. Akan tetapi, sejak siang itu Endaru merasakan kebalikannya.
Apa yang salah dengan diriku?
Saat Endaru mondar-mandir di balik gebyok yang memisahkan kamarnya dengan serambi, Dasi melintas membawa talam berisi kembang. Pemuda kencur itu menarik pinggang ramping Dasi dan menyeretnya ke balik gebyok untuk menghindari tatapan orang-orang yang mungkin menyaksikan.
Dengan napas memburu, Endaru curi ciuman pertama gadis itu untuk dirinya sendiri. Dasi terbelalak hingga menjatuhkan talam berisi kembang, mendorong dada Endaru, dan berlari menjauh tanpa menoleh ke belakang. Tangan kiri Endaru mencengkeram pinggiran gebyok untuk menahan getar dengan mata terpejam berusaha menerjemahkan peristiwa yang baru saja dia alami.
“Enes? Apa yang kau lakukan pada putriku?” Suara berat dan dalam Warok Sastro menjungkir balikkan pemahaman baru Endaru tentang hubungan antara pria dan wanita yang sesungguhnya.
Warok Sastro berdiri di belakang Endaru dengan tatapan dingin yang menggigilkan. Dia tarik lengan pemuda itu hingga terseret-seret menuju pendopo. Di bawah kesaksian belasan pasang mata para gemblak yang tengah berlatih jatilan, Endaru diperintahkan untuk berlutut di depan kursi goyang Warok Sastro. Pada tangan kanan pria itu tergenggam cambuk kuda yang terbuat dari kulit pilihan—diambil dari bagian alat kelamin seekor sapi yang dikeraskan.
Buk! Buk! Cambukan demi cambukan mendarat di punggung pemuda tanggung itu.
“Seorang warok harus bisa menahan diri dari godaan perempuan!” bentak Sastro.
Buk! Buk! Endaru menggigit bibir menahan sakit, perih, dan panas yang menjalar di punggungnya.
Setelah puas melampiaskan kemarahan dan kecewanya, Warok Sastro memanggil Nyai Larsih yang segera datang tergopoh-gopoh. “Obati luka anak ini dan bawa dia ke kamarku malam ini seorang diri! Sudah saatnya dia belajar cara menjauhkan diri dari godaan perempuan!”
Endaru terbelalak dengan tubuh masih membungkuk seperti kuda.
“Jadi karena cambuk kuda itu akhirnya kau memutuskan menjadi warok dan menjauhi para perempuan?” selidik Suro.
“Tidak! Justru karena cambuk kuda itu aku semakin jatuh cinta pada Dasi tetapi ragaku seakan cenderung pada Warok Sastro yang membuat jiwa dan akalku semakin kacau. Kepala ini ingin sekali menolak setiap perintah dan permintaan Sastro untuk memasuki bilik dan mendampinginya setiap kali berpelesir, tetapi ragaku selalu mengkhianatiku. Seakan ada kekuatan besar tak kasat mata yang selalu membuatku manut dan nurut. Aku selalu merasa tak berdaya setiap kali tatapan Warok Sastro turun ke mataku. Di sisi lain aku terus membiakkan cinta kepada Dasi.”
Kenangan Endaru melambung ke Ponorogo pada suatu siang di tahun 1891. Endaru memanjat pohon sampai tiba di salah satu dahan tertinggi. Dia ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentang kekebalan dan kehebatan ilmu kanuragan para warok saat sedang duel.
Ujung kemeja hitam tak berkancing Warok Sastro berkibar tersapu angin menampakkan dada dan perut yang berbenggol-benggol karena otot yang memadat. Di tangan kanannya tergenggam celurit yang bilahnya berkilat-kilat diterpa bagaskara.
Sastro menyabetkan celurit berulang kali ke arah lawannya—seorang pemuda dengan lesung pipi sebelah. Wajah pemuda itu begitu teduh berlawanan dengan paras Warok Sastro yang bersengkelit kemarahan. Mereka berdiri berhadapan-hadapan di tengah-tengah tanah lapang saling menyabetkan celurit, memukul, menendang, dan menjatuhkan.
Celana gombroh hitam pemuda itu berlumuran debu dan lumpur merah. Dia baru saja berguling menghindari serangan Sastro yang terus-menerus mengincar batang lehernya. Celurit pemuda itu selalu gagal mengoyak tubuh Sastro meski berulang-ulang dia sabetkan ke sekujur bagian yang terbuka di perut dan dada.
Kenyataan itu membuat Endaru terheran-heran. Dia tak percaya pada ilmu kebal tetapi matanya jelas-jelas menyaksikan kekebalan itu ada pada tubuh Sastro.
“Akan kubawa kepalamu sebagai hadiah perpisahan untuk Centini!” teriak Warok Sastro di tengah cericau burung pada dahan-dahan pohon ketapang.
Warok muda yang menjadi lawan Sastro tersenyum dan mengedar pandang ke sekitaran. Di balik semak-semak dan pepohonan terlihat sejumlah warga yang sengaja datang ingin menyaksikan pergulatan. Mereka penasaran tapi takut untuk mendekat.
Kedua lengan kurus Endaru membekap kuat dahan pohon yang menopang tubuhnya agar tak terjatuh. Di bawah sana sejumlah pria dan wanita bercaping bambu turut menahan napas sambil sesekali memekik melihat kengerian yang terjadi.
“Pemuda itu tak akan menang melawan Demang Sastro karena kesaktiannya masih rendah,” kata seorang pria berjanggut tipis.
“Tapi mereka sama-sama tak terluka, sama-sama kebal, bukan?” bantah yang lainnya.
“Tidak! Perhatikan pemuda itu. Dia hanya terus berusaha untuk tidak terluka. Pemuda itu tidak kebal. Dia hanya memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni,” jawab yang lainnya lagi.
Semua saja berbisik-bisik dan mengeluarkan pendapatnya masing-masing. Mereka mengira-ngira dan menduga-duga. Perlahan semakin banyak warga yang meringsek di bawah pohon itu sehingga sedikit mengganggu kesenangan Endaru. Diam-diam dalam hati dia berharap pemuda itu yang akan menjadi pemenang. Dia tahu di mana pangkal semua masalah ini bermula.
Seminggu yang lalu, Endaru keluar diam-diam dari bilik kamarnya. Dia berjalan-jalan mengelilingi padepokan untuk mengusir gelisah yang tak juga reda. Sudah dua bulan ini dia terus memikirkan Dasi dan semakin menjadi-jadi saat terdengar kabar gadis itu harus masuk ke bilik pingitan sampai datang sebuah lamaran.
Paras dan kemolekan gadis itu terus membayang dalam benak Endaru. Setiap sore dia perlukan diri untuk berjalan ke sungai, menyauhkan tatap pada permukaan airnya yang jernih, dan berharap bertemu Dasi meski hanya sekali. Tak mampu dia membayangkan jika Dasi harus dinikahi seorang putra demang, bendoro, atau mantri. Perih menyayat ulu hati Endaru disusul rasa mual yang bergulung-gulung setiap kali memikirkannya.
Malam itu rindunya memuncak. Dia lupakan sungai yang tak pernah lagi dijamah oleh Dasi. Endaru tahu ke mana seharusnya mendatangi gadis itu. Dia tahu pada bilik mana kekasih hatinya dipingit. Di sanalah Endaru sekarang berdiri—di depan bilik pingitan Dasi—yang berjarak lima langkah dari bangsal terujung dan terpisah dari rumah utama.
Endaru memutus langkah. Dia masih juga terpaku di sana. Bayangan hukuman berat tiba-tiba melintas jika sampai ada mata yang memergoki kenekatannya. Sastro akan memberinya hukuman yang jauh lebih berat dari pada sekadar cambukan di sekujur badan. Sastro telah menggadang Endaru untuk menjadi penerusnya. Maka, pemuda itu diharuskan menjalani lelaku mulai dari puasa sampai menjauhi perempuan untuk menjadi seorang warok.
Lamat-lamat terdengar suara bisikan, erangan, dan desahan yang timbul-tenggelam. Telinganya tergelitik untuk mengungkit. Suara itu tidak datang dari bilik pingitan Dasi tetapi dari kamar lain tak jauh dari sana.
Dia mendekat dan mengintip ke dalam bilik yang meremangkan cahaya sintir itu. Seorang pria dan wanita tengah beradu raga. Wajah berpeluh mereka sangat dikenali oleh Endaru. Sintir itu sesekali meliuk lemah ditingkahi erangan dan desahan yang terus berderak-derak keluar melintasi celah-celah sambungan papan jati sebagai dinding bilik itu.
Endaru ingin kembali dan memutus kegiatan memalukan itu—mengintip urusan orang lain—tetapi ada dorongan yang sangat kuat yang membuatnya terus bertahan di sana. Mata kirinya yang runcing membelalak menyaksikan semua yang terjadi disusul pertanyaan besar yang terus bersengkelit menuntut jawaban.
Kenapa mereka melakukannya—laki-laki dan perempuan—sedangkan kami sesama laki-laki. Apa yang salah? Di mana aku seharusnya berada?
Merasa sesak dengan semua kecamuk yang terjadi Endaru memilih beranjak. Pada sisi yang lain dia mendapati Dasi juga sedang mengintip ke dalam bilik dengan mata membeliak. Gadis berkulit kuning langsat yang mengenakan kebaya putih dan jarik merah itu membuka mulut siap menjerit. Endaru berdiri di belakangnya dan membekap mulut gadis itu dengan cepat. Dasi berusaha melawan dan menggeliat tetapi Endaru semakin kuat memeluknya.
“Jangan berisik!”
Menyadari yang memeluknya Endaru, gadis itu seketika membeku. Endaru mengendurkan bekapannya dan memutar tubuh Dasi hingga mereka saling berhadapan,“Aku tahu! Tidak seharusnya kau melihat semua ini, Dasi ....”
Mata gadis itu mulai berkaca, “Ibuku dan ... pemuda itu ....”
“Kita pergi dulu!” ditariknya lengan Dasi yang masih gemetar menjauhi bilik Nyai Centini.
Dasi mencoba berlari meninggalkan Endaru. Rasa malu yang menjadi-jadi membuat gadis itu tak bisa menahan diri. Endaru mencengkeram lebih kuat tangan Dasi dan memeluknya dari belakang.
“Sebentar saja ... biarkan aku seperti ini. Aku tidak tahu perasaan apa ini. Aku hanya merasa nyaman saat berada di dekatmu dan begitu gelisah setiap kali harus masuk ke kamar romo. Apa yang salah dengan diri ini, Dasi?”
Endaru ingin menangis tapi tak ada air mata yang dapat keluar. Dia benamkan wajahnya ke rambut Dasi yang wangi. Gadis itu berdiri mematung dengan dada yang sesak. Dia mencoba bertahan sedikit lebih lama untuk Endaru.
Dasi mengenang pertengkaran Warok Sastro dan ibunya beberapa malam sebelumnya.
“Aku tidak tahan lagi, Kangmas!” pekik Nyai Centini di hadapan Warok Sastro yang masih duduk di kursi goyang sambil mencangklong pipa tembakau.
“Apa yang tidak bisa kau tahan, Nyimas?”
“Kembalikan saja aku ke dusun jika kau masih menolak menjamahku!”
Kursi goyang Warok Sastro berhenti. Dia embuskan asap putih dari mulutnya yang mendesis. “Tak senang kau hidup berkecukupan di sini, Nyimas?”
“Lepaskan saja aku, Kangmas, jika hanya kau jadikan pajangan di sini. Aku manusia biasa yang lemah—membutuhkan pelampiasan hasrat di dalam diriku. Tak bisa lebih lama lagi aku menahannya.” Perempuan itu terisak sambil bersimpuh di ujung kaki Warok Sastro.
“Aku bisa kehilangan kesaktian hanya karena menuruti rengekanmu, Nyimas! Berpuasalah! Tirakat agar tubuh dan pikiranmu dapat dikendalikan. Hanya itu satu-satunya jalan,” Warok Sastro bangkit meninggalkan Nyai Centini yang masih terisak di lantai.
“Lalu untuk apa Kangmas beristrikan sampai empat orang?” sergah Nyai Centini dengan dada yang kembang kempis. Dia beranikan diri menanggung hukuman berat dengan terus membantah dan mengajukan pertanyaan pada sang warok.
“Dunia perlu melihat bahwa aku bisa menggenggam segala yang aku inginkan, termasuk kehadiranmu di sini!”
Perut Dasi menegang. Endaru melingkarkan lengannya begitu kuat di sana.
Gadis itu berbisik, “Kau tahu kenapa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan? Bukan semua laki-laki atau semua perempuan?”
“Beri tahu aku Dasi ... berikan jawaban untuk segala kegelisahan ini,” balas Endaru parau di belakang telinga Dasi yang bersubang intan.
“Karena mereka ada untuk saling melengkapi. Kau ada karena bapak dan emakmu bertemu. Jika saja kedua orang tuamu sesama laki-laki atau sesama perempuan, maka mungkin kau terlahir dari batu lumpang!” Dasi melepaskan lilitan tangan Endaru. Dia berjalan cepat meninggalkan pemuda kencur yang kebingungan akan jati dirinya itu.
Tak! Satu sabetan besar dari celurit Warok Sastro mendarat di punggung pemuda yang menjadi lawannya. Perasaan kecewa menggelombang dalam dada Endaru. Pemuda yang wajahnya terlihat kemerahan karena pantulan sintir di kamar Nyai Centini malam itu mulai menemui kekalahannya di tangan Warok Sastro.
Tak! Tak! Dua sabetan lagi mendarat di dada dan leher pemuda berwajah teduh itu. Warok Sastro berhasil mengalahkannya tanpa banyak usaha. Demang itu berdiri di tengah-tengah lapangan dengan napas terengah. Dia usapkan lengan kemeja kirinya ke wajah untuk menyeka lelehan darah milik pemuda itu. Celurit pada tangan kanan dia angkat setinggi kepala dengan darah segar mentes-netes di sana. Mata bengisnya menatap barisan warga yang diam-diam mengirimkan kekaguman dari balik semak-semak.
“Siapa pun yang berani mengusik harga diriku, dia akan berakhir seperti pemuda ini!” teriak sastro sambil mengelap bilah celuritnya menggunakan kemeja sang pemuda yang terbujur di atas genangan darahnya sendiri.
Endaru turun dari dahan pohon dengan hati guncang karena harapannya agar Warok Sastro mati di tangan pemuda itu sudah pupus. Dia berjalan pulang dengan enggan. Dalam perjalanan, seseorang mendekatinya dari samping dan berbisik, “Temui aku di sungai!”
***Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (530)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
thank you
19d
0mantap
15/02
0bagus banget
19/10
0Lihat Semua