Teaser Novel Baru

Hai, gaes. jika kalian suka dengan cerita saya, kalian juga bisa membaca novel KEBANGKITAN 7 PANGLIMA PERANG di aplikasi Fizzo.
aplikasi fizzo juga menyediakan fasilitas baca gratis. pembaca juga bisa mendapatkan koin yang bisa ditukar dengan uang.
jadi jangan ragu untuk download aplikasi Fizzo. setelah menginstal, kalian bisa ketikkan judul KEBANGKITAN 7 PANGLIMA PERANG di pencarian atau ketikkan nama penaku ROE untuk membacanya.
dijamin seru dan menegangkan.
aku kasih sedikit teasernya di sini ya.
##########
1. Pengemis Tua
Seorang pemuda duduk di sebuah batu besar sambil memegangi kedua lututnya yang gemetar. Dia terbangun setelah pingsan entah berapa lama. Pemuda berambut panjang itu kebingungan. Dia mendongak menatap terbing curam di depannya. Dia tak ingat apa-apa. Pada tubuhnya juga tak terdapat apa pun yang bisa mengingatkannya pada sesuatu tentang keberadaannya di sana.
“Di mana aku? Bagaimana bisa aku berada di sini? Kenapa aku tak mengingat apa-apa? Siapa aku?”
Kepalanya terasa ditusuk-tusuk dan sakit luar biasa. Dengan tangan masih gemetar hebat, dia pegangi kepalanya yang berdenyut. Rasa hangat mengalir di belakang kepalanya. Pemuda itu mengusapkan tangan dan darah merah melekat di telapaknya.
“Apa aku terbentur?”
Pemuda itu tidak ingat bagaimana dia bisa terluka dan kehilangan memorinya. Satu-satunya petunjuk yang dia miliki adalah kalung di lehernya. Kalung itu memiliki sebuah liontin yang terlihat seperti pecahan dari sebuah batu pipih dengan ukiran-ukiran simbol di atasnya. Di sisi lain pecahan batu itu terukir kata RION.
“RION? Apa itu namaku?” Dia usapkan jempol ke permukaan ukiran huruf-huruf itu.
Entah bagaimana tiba-tiba sekawanan burung datang dan mengerumuni tubuhnya. Pemuda itu menjerit dan menghalau kepakan serta cakaran burung-burung itu. Tiba-tiba sebuah potongan kenangan muncul di pikirannya. Seseorang mendorongnya dari puncak tebing.
“Temukan tujuh Panglima Kalamantra!” bisik burung-burung itu di antara kepakan sayapnya.
Pemuda itu menyilangkan kedua lengan untuk melindungi wajah dan kepalanya dari serangan burung-burung. Tak lama, burung-burung itu pergi begitu saja. Akan tetapi, di salah satu dahan pohon ada seekor elang yang mengawasinya dengan sepasang mata tajam.
Dia mendongak, berusaha menatap kembali puncak tebing yang baru saja dia tinggalkan, tapi tak terjangkau karena lebatnya tanaman dan terjalnya bebatuan di dinding tebing hingga menutupi puncaknya. Dia bisa mengingat terjatuh dari atas tebing ke dasar jurang, tapi hanya sebatas itu.
“Apa yang baru saja terjadi? Kenapa burung-burung itu seakan membisikkan sesuatu padaku? Siapa tujuh Panglima Kalamantra? Kenapa hanya ingatan itu yang tersisa di kepalaku?” Pemuda itu mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah dengan putus asa.
Dasar jurang itu ternyata cukup indah. Ada sebuah lembah tersembunyi dengan pepohonan buah-buahan tumbuh di sana. Air sungai dangkal yang jernih mengalir lembut memecah bebatuan besar yang banyak tersebar di tengah. Lamunan Rion dibuyarkan oleh sebuah suara gerisik tak jauh dari tempatnya berada. Mengikuti naluri, pemuda itu mencari sambil menggenggam sebongkah batu tajam untuk perlindungan.
Rion berada di belantara hutan dengan sebongkah batu terkepal di tangan.  Telinga pemuda itu berjengit. Dia mulai memperhatikan dengan seksama. Kepalanya menoleh ke kiri untuk mendengarkan, hanya ada suara kesiur angin yang menerpa dedaunan. Dia meneleng ke kanan untuk kembali mendengarkan, suara-suara keretak ranting kayu yang terinjak samar terdengar mendekat ke arahnya.
Plash! Dia ayunkan batu tajam ke belakang. Ujung batu mengenai sesuatu meski sangat tipis.
“Tunjukkan dirimu!” teriak Rion.
Suasana kembali sepi. Rion mendengarkan lagi dengan seksama. Suara kesiur angin dan gesekan dedaunan di atas kepalanya menutupi suara-suara yang ingin dia dengarkan.
Wush! Sebuah belati memelesat dan Rion refleks miring beberapa senti.
“Bagaimana bisa?” Rion terkejut dengan kecepatan refleksnya sendiri.
Pemuda itu memejamkan mata dan mulai berkonsentrasi untuk mendengarkan suara-suara yang mendekat ke arahnya. Lalu, sepasang mata birunya terbuka. Satu belati melayang lagi. Kali ini, dia halau dengan tendangan. Sekelebat, dia melihat pergerakan sesosok manusia bertubuh kecil melompat dari pohon dan berlari meninggalkannya. Rion memburu sosok itu dengan kecepatan angin. Sosok itu pun berlari dengan kecepatan yang tak kalah gesit.
Rion terkejut. Dia tidak ingat jika pernah menguasai jenis bela diri apa pun. Akan tetapi, otot-otot tubuhnya seakan bergerak secara naluri untuk bertahan dan melindungi dirinya dari ancaman. “Siapa aku sebenarnya? Siapa orang yang ingin membunuhku ini?”
Didorong rasa ingin tahu yang kuat, Rion mencoba memburu sosok ini. Di atas kepalanya, sejumlah burung turut berterbangan bersama laju larinya. “Kenapa burung-burung ini terus mengikutiku?”
Burung-burung itu terbang memelesat memburu sosok yang Rion buru dan menyelubunginya. Badai burung itu berada di tengah-tengah hutan. Rion sekali lagi terperenyak. Burung-burung itu seakan membantunya. Akan tetapi, sesosok manusia keluar dari perisai burung itu seperti seekor kupu-kupu yang baru muncul dari kepompong. Dia lemparkan belati tepat ke dada Rion. Pemuda itu terlambat menghindar dan belati menancap di bawah bahu kiri.
Rion terdorong ke belakang. Bukan hanya belati yang menghunus dadanya, tapi juga sebuah kekuatan besar mendorongnya hingga terjengkang. Burung-burung yang semula membantu Rion, kini berbalik menyerangnya atas perintah sosok misterius itu.
“Orang itu bisa mengendalikan burung. Siapa dia?”
“Aku harus membuat perhitungan denganmu, Panglima Burung!” cibir seorang pria bertubuh kecil berpakaian jembel yang terlihat seperti seorang pengemis tua.
“Siapa kau?” beliak Rion tak percaya sambil menahan luka di dada. “Apa kau mengenalku?” pemuda itu gelisah. “Kenapa kau ingin membunuhku?”
“Kau sudah melalaikan tugas dan tanggung jawabmu sebagai seorang Panglima Kalamantra. Sudah terlalu banyak nyawa yang melayang karena sikap pengecutmu! Kau bahkan berpikir untuk melarikan diri dengan membiarkan dirimu jatuh ke jurang? Maka, kau harus membayarnya dengan kehidupanmu!”
Pemuda itu menganga tak percaya. “Ba-bagaimana bisa aku bunuh diri dengan melompat dari tebing?”
Rion tak percaya dengan apa yang dia dengar. Dalam ingatannya dia didorong oleh seseorang dari puncak tebing tapi wajahnya tak bisa Rion kenali.  Napas Rion sesak dengan dada yang berdentum-dentum. Sambil menggertakkan gigi, dia cengkeram belati di dada kiri dengan kuat dan mencabutnya meski dengan rasa sakit luar biasa. Darah merembes dari luka yang menganga.
“Kau tahu siapa aku? Bisa kau jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” Rion memucat menahan luka di dadanya. “Siapa itu Panglima Kalamantra?”
Pria bertubuh kecil, berjenggot putih panjang, dan berambut yang juga putih digelung itu mengira Rion hanya sedang berpura-pura. Dia kembali memutar kedua tangannya dan memanggil burung-burung untuk menyerang Rion. Pemuda itu terselimuti burung-burung, terangkat dari tanah, dan tubuhnya diempaskan hingga menumbuk sebatang pohon besar. Rion jatuh terduduk dengan muntahan darah dari mulutnya.
“Kau... ingin membunuhku?” desis Rion di tengah muntahan darahnya dengan putus asa. “Apa salahku?”
“Kau harus hidup untuk membayar kesalahanmu!”
Rion membeliak. Pria bertubuh kecil karena sedikit bungkuk itu kembali menggerakkan tangannya memanggil seekor elang berukuran raksasa. Dengan sejumlah ucapan mantra dan gerakan tangan yang membentuk sebuah simbol cepat, seekor elang yang rasanya tidak asing untuk Rion muncul hanya saja dalam ukuran yang berlipat-lipat lebih besar. Elang itu menghantam tubuh Rion. Kekuatan hantamannya seperti ditimpa dengan batu besar dari ketinggian ratusan kaki.
Rion merasa tubuhnya remuk dan dicabik-caik. “Beginikah rasanya kematian itu?”
Perlahan-lahan, Rion kehilangan kesadaran. Di tengah-tengah ambang, dia masih sempat melihat rambut hitam panjangnya berubah menjadi merah. Sepasang matanya membeliak. Warna biru langit pada mata Rion berubah menjadi merah darah. Pemuda itu memekik kesakitan dan berteriak hingga suaranya menggema di hutan. Burung-burung dan binatang berlarian karena teriakannya. Sekilas, Rion bisa melihat elang itu memasuki tubuhnya, melalui dadanya, dan terasa menembus keluar melalui punggung.
Suasana menjadi senyap, seakan-akan waktu berhenti berputar. Rion terjatuh ke permukaan tanah masam dan lembap di tengah hutan. Selama beberapa saat, dia terbaring dalam keadaan sekarat. Jemari tangannya mulai bergerak dan pria berpakaian jembel itu berjalan mendekatinya. Rion melihat sosok itu mengangkat sebuah pedang yang bilahnya berkilat diterpa cahaya dan menghunuskannya ke punggung Rion dengan senyum kemenangan. Blesh!
Pemuda itu memekik lagi saat dia merasakan dingin logam tajam menembus tubuhnya dengan rasa sakit yang luar biasa. Penciumannya merasakan aroma amis darah dengan napas yang terputus-putus. Rion merintih kesakitan. Otot-otot tubuhnya terasa kaku hingga tak mampu digerakkan. Kelopak dengan bulu mata perak lentiknya perlahan mengatup. Bagian kemeja di perut dan dadanya terasa lembap oleh genangan darah dari tubuhnya sendiri.
“Aku akan mati,” bisiknya. “Aku akan mati tanpa mengetahui siapa diriku!” Pemuda itu mengepalkan tangan dengan dedaunan dan mulsa tergenggam tanpa sengaja, sambil menitikkan air mata dan perlahan-lahan terpejam.
Pria bertubuh kecil itu menjambak rambut merah Rion hingga kepalanya yang terkulai tak berdaya terangkat. Dia tersenyum puas. Pengemis tua itu pergi meninggalkan Rion sendirian yang terkapar dengan pedang masih tertancap di punggungnya.
##########
gimana? jika kalian penasaran yuk baca di Fizzo.

Komentar Buku (530)

  • avatar
    AnwarSyamsul

    thank you

    29d

      0
  • avatar
    dwi saputradolly

    mantap

    15/02

      0
  • avatar
    SaputraMuhammad

    bagus banget

    19/10

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda