Siasat Licik Hari ini sesuai jadwal yang sudah ditetapkan dalam rapat evaluasi adalah kerja bakti kantor desa. Pak Lurah yang meminta tolong waktu itu karena mendekati bulan Agustus. Untuk membersihkan serta memperbaiki balai dan mengganti beberapa figura yang rusak serta membutuhkan tenaga para anggota posko untuk membuatkan tanaman toga. Sebenarnya tempat untuk tanaman toga sendiri sudah ada. Namun program itu lama tidak berjalan. Oleh karenanya keberadaan tim KKN sangat membantu desa ini. Tidak hanya tim KKN, namun pamong desa dan juga karang taruna pun turun tangan. Terlihat kesibukan dan kekeluargaan disana. Ada Ferry, Sakti dan Choki yang mengecat dinding balai desa yang warnanya mulai memudar. Andre dan yang lainnya memindahkan beberapa meja dan tempat duduk. Ada yang mengangkat pot dan sibuk dengan tanaman mereka seperti Karin dan Dinda. Bu Lurah dan beberapa ibu-ibu yang lain datang dengan membawa makanan, minuman serta gorengan untuk mereka. Sesuatu yang ditunggu-tunggu pastinya. Tanpa diperintah pun mereka telah menyerbu ke arah baskom berisi gorengan serta mengambil minuman. “Ngga, bisa minta tolong?” panggil Karin yang melihat Jingga selesai minum segelas es teh setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dinda dan Jingga menoleh bersamaan. “ikut aku..” perintah Karin. Jingga mengekorinya di belakang diikuti tatapan mata Dinda. “Ada apa sih Rin?” tanya Jingga setelah sampai di halaman samping balai desa yang tadinya dipakai tempat toga. “itu tuh, tadinya kan tempat ini sudah ada tanamannya, tapi yang diatas itu tanaman gantung sudah layu dan menguning. Dipandang jadi enggak enak aja” jelas Karin yang menunjuk di atas, tempat tanaman tergantung di sisi tembok. “Terus?” “bisa tolong ambilin enggak?” “hah? Yang benar saja dong Rin, aku mana bisa manjat” “ada tangga lipat sih Ngga... badanmu kan kecil, ringan diantara yang lain. Nanti aku bantu pegangi dari bawah ya” “Suruh anak cowok saja deh Rin, aku enggak berani manjat-manjat begituan” “Enggak enak mau minta tolong Ngga. Mereka sibuk dengan kerjaan masing-masing. Ada yang masih makan juga” jingga menghembuskan nafas berat. Tak enak mau menolak, jadi terpaksa mengiyakan. Karin dan Jingga mengambil tangga lipat yang tersedia tak jauh dari mereka lalu memasangkannya tepat dibawah pot gantung. Kemudian membukanya agar menjadi tegak lurus lalu menyandarkannya ke tembok. Dengan mengumpulkan keberaniannya, ia mulai naik satu dua tangga. Lima tangga kakinya mulai gemetar. Ia merasakan tangan kakinya berkeringat dan peluh menetes dari dahi. Tak lupa ia melihat ke bawah, takut-takut kalau Karin meninggalkannya dan melepas pegangannya. Tiba-tiba “brukkk” Pijakan anak tangga yang ia naiki patah dan membuatnya jatuh tanpa Tedeng aling-aling. Karin yang dibawahnya tak bisa menolong apa-apa karena tangga sempat oleng sedangkan Karin juga kehilangan keseimbangan. “Awwwww....” Suara teriakan dari arah jalan samping membuat semua orang berlari ke arah sumber suara. Terlihat Jingga yang meringis kesakitan berusaha bangkit namun tak bisa. Sakti dan Dinda histeris. Sementara Jingga dibawa ke rumah pak lurah oleh beberapa orang. Dinda dan Sakti sibuk menelepon seseorang. “Panggil dokter dulu di puskesmas. Suruh kesini” Perintah pak lurah kepada seseorang yang langsung dibalas anggukan dan melesat pergi dengan motornya. “Bu... Panggil Mak Fatim buat pijat mbak Jingga. Siapa tahu ada yang terkilir sambil nunggu dokternya kesini” titah pak lurah kembali kepada istrinya yang langsung tergopoh-gopoh pergi. Sementara yang lain tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Jingga di dalam sana dan memberi Jingga air agar lebih tenang. “Sori Ngga.... Aku enggak tahu kalau kejadiannya bakal begini” ucap Karin sambil berlinang sedih. Ia terlihat merasa bersalah sekali sambil menggenggam tangan Jingga. Sementara Sakti dan Dinda masih di balai desa di tempat Jingga tadi mendapat insiden. “Ada yang enggak beres disini” kata Sakti penuh selidik sambil memegang pijakan anak tangga yang bautnya sudah hilang. “Maksudnya Sak?” tanya Dinda penasaran. “Ada yang niat jahat sama Jingga” “Maksudmu Karin?” Raka datang Setelah memarkir mobil di halaman rumah pak lurah dengan asal-asalan. Laki-laki itu harus mengambil kecepatan tinggi dari Surabaya setelah mendapat telepon dari Dinda, namun ia mampir ke Kediri untuk menjemput Ayya. Di dalam mobil Ayya berusaha menenangkan kakaknya yang diliputi kecemasan dan ketegangan. Bolak-balik dia menyalip dan mengklakson kendaraan lain hingga nyaris beradu mulut dengan pengemudi lain. “Mas... Kamu yang tenang. Kuasai diri kamu. Mbak Jingga pasti baik-baik saja” “Gimana mas bisa tenang. Pokoknya sampai sana kamu bujuk mbakmu agar mau dibawa pulang ke Kediri sementara ini” “Iya... Asal kamu jangan terlihat mencolok di depan teman-temannya. Kasihan mbak Jingga...” Belum memasuki rumah pak Lurah saja, ia sudah merasa ngilu mendengar teriakan gadis itu yang melenguh dan merintih kesakitan akibat dipijat. “assalamualaikum..” sapa Raka dan Ayya saat masuk. Sebenarnya Raka ingin bertindak impulsif, memeluk dan menggendong gadis itu untuk segera dibawa pulang. Tapi dia ingat kata-kata adiknya. “Mbak Jingga...mana yang sakit mbak?” tanya Ayya yang langsung mengusap area punggung Jingga yang langsung dibalas teriakan kesakitan. “sudah panggil dokter Pak?” tanya Raka. “sudah nak... Tapi dokter disini tidak bisa berbuat banyak. Tadi sudah diberi beberapa obat nyeri. Untuk lebih jelasnya lebih baik dibawa ke rumah sakit kota untuk mengetahui ada yang patah tulang atau tidak” jelas pak Lurah. “Ayya... Mbak enggak mau dipijat. Sakit semua badan mbak...” rintihnya setengah merengek manja seperti anak kecil yang tidak mau dibawa ke dokter. “Iya... Kita ke rumah sakit kota saja yuk mbak. Untuk memastikan mbak tidak kenapa-kenapa” jelas Ayya yang dibalas tatapan penolakan ke arah Raka yang sedang bersendekap menyimpan kekalutan. Melihat tatapan Raka yang tajam seperti itu ia jadi takut. Seakan mengerti bahwa perintah itu tidak bisa ditolak. “dokternya yang suruh kesini bisa?” Jingga mencoba menawar yang dibalas decakan oleh Raka. “Siapa yang mau merawat kamu di sini? Malah merepotkan yang lain saja” balas Raka yang sudah tak terbendung lagi emosinya dan dibalas pelototan adiknya. Dijawab seperti itu, Jingga semakin ingin merintih kesakitan campur sakit hati ucapan Raka barusan. “kita ke rumah sakit kota. Saya masih dosen pembimbing kamu. Saya yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa nanti” Jingga terdiam, keputusan Raka tidak bisa diganggu gugat. Raka mendekat ke arahnya lalu menunduk. Ia tahu Raka akan membopongnya karena dirinya tidak bisa bangun ataupun berjalan. Namun entah kenapa tubuhnya seakan menolak sentuhan Raka. Mungkin karena ada beberapa temannya di sana hingga malu yang ia rasakan. Keduanya berbicara melalui pandangan mata. Jingga tak mau dibopong, sementara Raka terpaksa tak menuruti keinginannya. Dibawa naik ke dalam mobil lalu Raka menemui Sakti dan Dinda tak jauh dari sana. Jingga melihat ketiganya bercakap-cakap dengan mimik yang serius. Sesekali tangan Raka yang ikut terangkat dan menunjuk-nunjuk membuat Jingga penasaran apa yang sebenarnya terjadi. ---------------************----------------- Untung saja dokter bilang tak ada luka yang serius ditubuh Jingga. Hanya memar di area kaki dan pinggang karena terkilir. Hingga Jingga tak perlu rawat inap. Mungkin beberapa hari akan sembuh. “aku pingin pulang ke Surabaya” cetus Jingga di tengah kesunyian saat ketiganya baru saja menaiki mobil. “ini sudah malam, lagian tidak ada Awan di rumah. Dia ada urusan ke luar kota” “Aku nggak mau ngerepotin keluarga kamu” sindirnya dengan ketus. “Ayyaaaa....” karena tak ditanggapi oleh Raka, jingga merengek manja pada Ayya agar menolongnya. “mbak... Mbak Jingga sebaiknya istirahat di rumah Kediri ya? Tidak ada yang merasa di repotkan. Ayya juga bude pasti merasa senang” “orang di sebelah kamu tuh!!! Pasangi filter di mulutnya!” Raka sepertinya tak punya tenaga untuk membalas karena tenaganya telah habis untuk kepanikannya tadi. Sementara Ayya menahan tawa sendiri melihat Raka yang tanpa perlawanan. Beberapa menit setelah ia mengomel dan mendumel tentang Raka sendirian, tiba-tiba suasana di mobil sunyi dan hening. Ayya melongok ke belakang jok nya. Dilihatnya Jingga sudah tertidur lelap. “Hihihi, lucu Mbak Jingga kalau lagi ngomel kayak tadi” “enggak ada yang ngalahin marahnya mbak mu” “Eh tapi kasihan mas, kayaknya mbak Jingga belum kemasukan nasi dari tadi siang” “kebiasaan dia kalau lapar sih memang mengomel” keduanya tergelak bersama.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (378)
WahyudinYuyu
sungguh luarbiasa
04/07
0
Dafa Al Habsyi
mantap
20/03
0
Bubllegumverosa
Aku suka banget sama cerita dan Karakternya bagus 🫵🏻💗💗✨
sungguh luarbiasa
04/07
0mantap
20/03
0Aku suka banget sama cerita dan Karakternya bagus 🫵🏻💗💗✨
15/02
1Lihat Semua