30. Pembuktian

Pagi ini Raka sudah bersiap dengan rutinitas paginya. Selesai mandi, memakai kemeja hendak ke kampus. Sepertinya, ia rela berangkat bolak balik sejauh itu antara Surabaya – Kediri -Nganjuk demi Jingga.
Jingga datang dengan tongkat penyangganya menuju dapur yang diikuti tatapan tajam dari Raka.
“Kamu ngapain ke dapur? Saya baru saja akan antar makanan ke kamar” cegah Raka.
“Aku ingin belajar berjalan biar cepat kembali ke posko. Kasihan teman-teman ku”
“Biar saya yang atur, kamu bisa adakan pelatihan untuk prokermu lewat video conference”
“Ya mana bisa begitu, sinyalnya tidak stabil. Warga juga pasti kesulitan memahami nanti”
“kalau begitu tunggu sehari lagi” bujuk Raka. Setelahnya ia mendapat telefon dan segera menjauh dari jangkauan orang lain.
Jingga melirik ke arah Raka yang begitu serius dalam berbicara melalui telepon. Apa ada masalah? Kenapa juga harus menjauh begitu? Ah.. Atau ada masalah dengan Bu Sarah? Mungkin mereka batal menikah. Eh, kenapa ada yang bikin girang dengan pikiran kotor itu?
“Kamu awasi dia, saya khawatir kalau Jingga kesana lagi untuk saat ini akan ada hal yang membuatnya celaka lagi” diam-diam Jingga mendekati Raka dan mencuri dengar. Tau namanya disebut-sebut, dia tak mau tinggal diam.
“kenapa? Ada namaku segala?” Raka sontak menutup teleponnya. Jingga, kebiasaannya yang buruk apa bisa dihilangkan?
“kamu bisa tidak kalau ada orang bicara itu enggak usah kepo atau ikut campur”
“Kenapa sewot kalau tidak ada yang kamu sembunyikan. Apaan sih?” Raka melenggang pergi tak menghiraukan rengekan gadis itu yang terus menuntut jawaban.
“Raka!!” tidak mendapat respon yang ia mau, gadis itu kembali ke kamar dengan wajah ditekuk. Beberapa saat kemudian Terdengar suara pintu diketuk.
“saya boleh masuk?” ternyata Raka, gadis itu masih sambil menggerutu membuka kunci kamar.
“Kalau mau berangkat kerja, berangkat aja. Enggak usah pamitan aku” tuturnya ketus, masih membiarkan si empunya kamar di luar.
“Saya mau ambil jas sama beberapa buku saya” Ih rasain kamu Jingga, malu kan! Makannya jangan kegeeran! Mukanya semakin ditekuk melihat Raka yang tanpa berdosa melenggang masuk.
Setelah ia mendapatkan yang ia mau, lantas ia bersiap keluar. Sambil melihat ke arah Jingga yang masih memasang muka cemberut dengan bibir mengerucut di samping pintu.
“sudah ya, saya berangkat”
Tidak dibalas apapun dari mulut Jingga. Raka tetap melangkah keluar.
“Saya mau pergi. Ini sudah telat Jingga” protes Raka ketika langkahnya dihadang tongkat miliknya. Kali ini, jingga memasang wajahnya memelas. Biar saja dia marah kali ini, yang penting rasa penasarannya terobati.
Keduanya diam, melihat Jingga dengan Puppy eyes nya, ia jadi mendesah pelan tidak bisa berkutik.
“duduk, biar saya jelaskan”
“enggak mau, nanti kamu bohong”
“astaga... Apa saya ini termasuk tampang pembohong”
“memang enggak! Tapi itulah kecerobohanku. Mudah terpedaya olehmu” Raka geleng-geleng kepala dibuatnya.
“duduk dulu, nanti saya jelasin”
“Enggak!”
“Enggak mau dijelasin, yaudah..”
“Enggak mau duduk...” rengeknya manja.
“Kaki kamu masih sakit...”
“Kaki masih bisa diobati, tapi hati aku sakit kamu enggak peduli”
“astaga, salah terus saya sama kamu”
“Jelasin... Disini”
“baik, Saya kasih tahu. Sebenarnya setelah insiden kamu jatuh dari tangga kemarin. Dinda dan yang lainnya menemukan kejanggalan. Mereka menduga bahwa ada yang sabotase tangga lipat itu” Jingga menutup mulutnya dengan kedua tangan tak percaya.
“S-siapa yang berani melakukan itu?”
“Ada dugaan, mengarah ke Lusiana. Karena dia yang awalnya menyuruh Karin untuk mengambil pot gantung itu”
“B-bagaimana bisa?”
“Ada yang berusaha melepas baut agar penyangganya patah ketika dinaiki”
“Bisa saja itu terjadi karena kebetulan kan?”
“Ya, dugaan awalnya memang begitu. Tapi ternyata ada yang melihat Lusiana disana sebelum kamu naik tangga” Raka menatap nanar wajah lugu di depannya.
“Kamu tahu perasaan saya seperti apa saat mendengar kamu terjatuh kemarin? Ini semua salah saya. Seharusnya saya mengiyakan ketika kamu meminta saya menjaga jarak dari kamu. Gara-gara saya, kamu mendapat celaka. Oleh karenanya, saya pastikan kondusif dulu baru kamu kembali ke posko”
“Enggak, ini semua bukan Salah kamu. Aku yang ceroboh” suara jingga sedikit bergetar, air mata telah menggenangi pelupuk matanya.
“aku mau kembali ke posko, aku janji enggak akan buat kamu khawatir lagi”
“Besok saya antar kesana, sekalian kita adakan rapat. Masalah ini bukan masalah sepele. Hari ini saya harus ke Surabaya”
“Oh ya, mana ponsel kamu?” tanya Raka sembari melihat ke arah nakas lalu mengambil ponsel milik Jingga.
“Mau ngapain?” sekilas Raka sedang mengotak Atik ponsel Jingga.
“awas Saya hubungi tidak bisa, pakai blokir kontak saya lagi, bikin khawatir!”
Jingga meringis, mengangguk manis, gadis itu melangkah dengan pincang ke arah nakas dan mengambil sesuatu disana.
“kemarin seharian aku dikamar hanya untuk membuat ini” Jingga menyerahkan sebuah sapu tangan biru dengan hiasan cantik sekelilingnya dengan hasil sulamannya. Di ujung salah satu sisinya ia buat nama Raka sebagai penanda.
“Kamu simpan, siapa tahu kamu lagi kangen aku hehe” Raka mengambil benda itu sembari tersenyum. Lalu memasukkannya ke dalam saku.
Memang yang disimpan itu harusnya sapu tangan. Bukan kenangan bersama mantan.
---------------************--------------
Seperti janji Raka, dia mengembalikan Jingga ke posko keesokan paginya dan membuka rapat tertutup dengan anggota timnya.
“saya benar-benar tidak akan membiarkan kasus ini lolos begitu saja. Tidak bisa dimaafkan. Saya sengaja Tidak mengangkat masalah ini sampai ke telinga pak Lurah. Untung yang terjatuh kemarin anggota tim, bukan warga. Kalau sampai hal itu terjadi dan pak lurah tahu masalah ini, nama baik kita tercoreng” tutur Raka dengan sorot mata tajam menatap penghuni posko satu persatu tanpa celah. Ruang tamu yang begitu besar dan biasanya ramai protes ketika rapat evaluasi itu kini mendadak sunyi mencekam karena intimidasi dosen pembimbingnya.
“Ada yang mau tahu darimana saya mendapatkan bukti ini?” Raka mempertontonkan sebuah video ketika salah seorang merekam acara makan-makan setelah kerja bakti hari itu dan tak sengaja memuat Lusiana yang sedang berada didekat tangga lipat dan mengotak-atiknya.
“ini tindakan kamu Yang memalukan Lusiana” Imbuh Raka sekali lagi. Lusiana hanya diam menunduk namun tak ada penyesalan sama sekali terlihat dari wajahnya.
“beruntung Jingga tidak mengalami luka serius, Jika sampai patah tulang bisa sampai seumur hidup dia cacat bagaimana?” Nada suara raka lebih tinggi dan tegas dari biasanya, benar-benar marah sekali kali ini.
“saya putuskan akan menarik kamu dari anggota KKN dan mencoret kamu dari daftar anggota. Otomatis nilai kamu kosong. Mungkin hal ini bisa sampai ke telinga dekan”
“Maaf Pak... Saya mohon. Saya janji tidak akan mengulangi lagi. Ngga... Aku minta maaf tapi tolong jangan sampai hal ini diangkat sampai pihak kampus tahu. Tolong bujuk pak Raka Ngga...” kali ini Lusiana memohon dengan gaya memelas. Sebenarnya Jingga enggan memaafkannya, namun ia kasihan karena sebenarnya mata kuliah KKN ini sudah separuh jalan. Ia masih punya hati meskipun ada rasa sakit hati.
Jingga mengekori Raka ketika laki-laki itu hendak pergi dan menutup forum secara sepihak. Ia benar-benar menolak permintaan maaf Lusiana meski dengan memohon.
“Pak... Tolong maafkan Lusiana, dia berhak mendapatkan pengampunan. Pikirkan bagaimana ketika orangtuanya tahu kalau ternyata dia membuat masalah kriminal seperti ini. Atau lebih parahnya dia di DO dari kampus. Perjalanannya kurang setahun, sudah lebih dari separuh jalan” Raka menoleh kearah sampingnya, menatap lekat-lekat gadis itu jengah. Ia paling malas mendengar gadis itu merengek, dan menolak permintaannya. Raka memutar bola matanya malas saat gadis itu menarik ujung kemejanya sambil menunjukkan puppy eyes nya seperti biasa.
Tanpa berkata-kata, laki-laki itu melangkah lagi masuk ke dalam posko yang kini disuguhi suara Isak tangis Lusiana.
“saya tarik kata-kata saya tadi. Dengan syarat kamu tidak akan mengganggu Jingga lagi”
Gadis bertubuh padat berisi tersebut tersenyum mengiyakan. Namun jangan salah, dia hanya berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya. Bukan untuk memplester mulutnya yang usil.
-------------------**********-----------------

Komentar Buku (378)

  • avatar
    WahyudinYuyu

    sungguh luarbiasa

    04/07

      0
  • avatar
    Dafa Al Habsyi

    mantap

    20/03

      0
  • avatar
    Bubllegumverosa

    Aku suka banget sama cerita dan Karakternya bagus 🫵🏻💗💗✨

    15/02

      1
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru