“Rin,” sapa Arsha seraya menepuk pundak sahabatnya yang sedang memunggunginya. Rinjani terjungkit kaget, beruntung ponsel yang dipegang tidak meloncat ke lantai bawah. “Kamu mengejutkanku, Sha,” protes Rinjani. Senyuman menyebalkan tanpa rasa bersalah terukir di wajah Arsha membuat Rinjani gamas dan jengkel secara bersamaan. “Maaf, maaf. Ini, tadi ada titipan dari adik tingkat. Nggak tau dari siapa karena aku dia juga nggak ngasih tau ke aku,” jelas Arsha sambil memberikan kotak kado yang dari Agam tadi. Alis Rinjani berkerut sambil tangannya membolak-balik kado tersebut, berusaha mencari nama pengirim. Saat Rinjani hendak membuka kado itu, Arsha menahan tangan sahabatnya. “Buka nanti aja di rumah, udah mau mulai nik kelasnya.” “Oh, iya. Oke deh,” sahut Rinjani lalu meletakkan kotak kado itu ke dalam tas. *** “Mama, Rin pulang! Yuhu …, Mama di mana?” teriak Rinjani saat memasuki rumah kelurga Tama. “Nggak usah teriak, Rin! Mama ada di ruang tengah!” sahut Hanna tak kalah keras. “Lah, katanya nggak usah teriak, tapi mama sendiri juga teriak. Dasar mama,” gumam Rinjani seraya menutup pintu. Gadis itu berjalan gontai menuju ruang tengah di mana ibunya ada di sana. Satu tangannya memegang buku, dan yang lain menenteng keresek hitam. “Ini, Ma, tadi Rin mampir beli martabak telur kesukaan Mama,” ucap Rinjani sambil meletakkan keresek yang ditentengnya di meja. Tangan wanita itu terulur menyingkap keresek hitam tadi. Ada dua kotak kardus kecil di sana. Hanna mengambil salah satunya kemudian membuka kotak tersebut. Aroma asin dan gurih martabak telur yang masih hangat langsung menyeruak di indera penciuman Hanna. “Aduh, Anak Kesayangan mama emang paling ngerti. Makasih, ya, Sayang,” ucap Hanna sambil kembali menyuapkan sepotong martabak telur itu ke mulutnya. Hanna benar-benar menikmati makannya. Rasa asin, gurih yang bercampur pedas sangat pas dan memanjakan lidanya. Dia bahkan mengabaikan Rinjani yang masih memerhatikan Hanna sambil tersenyum. Aku senang, mama bisa tersenyum atas pemberianku, batin Rinjani. “Sisakan untuk Rin juga, ya, Ma. Rin mau ke kamar sebentar.” Hanna mengangguk, mengiyakan permintaan putrinya sambil terus menuangkan saus ke potongan martabak yang sudah ada di tangan dan siap masuk ke mulut. Rinjani bergegas ke kamar karena matanya mulai berair. Dia terharu melihat ibunya memakan pemberiannya dengan lahap. *** Beberapa saat kemudian, Rinjani kembali turun dan ikut bergabung dengan sang ibu yang masih menikmati serial drama kesukaannya. Rinjani duduk di dekat sang ibu, bersandar pada pundak wanita paruh baya itu sambil menikmati martabak yang tinggal setengah porsi. Keduanya diam, Rinjani sibuk dengan lamunannya, sedangkan Hanna sibuk menikmati acara televise kesukaannya. “Ma, Papa ke mana?” tanya Rinjani tiba-tiba. Pasalnya, sang ayah biasanya hanya keluar rumah hanya sekali dalam seminggu untuk memantau para pekerja. “Sekarang ‘kan hari Senin, Rin. Papamu sedang memantau toko.” Rinjani membuka layar ponselnya dan melihat tanggal hari ini. “Oh, iya sekarang Senin.” Hanna tertawa mendapati kebiasaan putrinya masih saja belum hilang. “Kebiasaan, deh. Padalah tadi juga ada kelas, emang nggak nulis tanggal?” “Ya, gimana, namanya juga lupa, Ma.” *** Malam hari, saat Rinjani hendak mengambil alat tulis di tas, dia menemukan sesuatu. Sebuah kotak berwarna biru dengan motif bunga, seukuran ponsel. “Ah, iya, ini belum aku buka. Jadi penasaran deh, siapa yang kasih,” gumam Rinjani seraya mengambil kotak itu dan perlahan membukanya. Sudut bibir gadis itu terangkat menciptakan sebuah senyuman saat melihat isi kotak itu. Ada sebuah origami kertas berbentuk hati dan tiga buah permen lunak. Tangan Rinjani terulur mengambil origami tersebut. Dia meneliti setiap bagiaanya, dan menemukan jejak tinta di salah satu sisinya. Perlahan, gadis itu membuka lipatan demi lipatan kertas tersebut.
Teruntuk Rinjani. Mata ini tak pernah puas memandangmu. Meski dari kejauhan, aku bisa melihat indahnya senyummu. Namun, hari ini senyum itu hilang. Kamu kemanakan pemandangan indah itu, wahai Rinjani? Aku berharap, tiga permen ini bisa mengembalikan senyuman itu. jangan banyak-banyak, tiga aja, nanti aku bisa diabetes karena kamu terlalu manis. Dari pengagum rahasiamu.
Tanpa sadar, Rinjani terus tersenyum membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di sana. “Siapa, sih, kok lucu. Kasih permen cuma tiga, lagi. Udah gitu kasih tau alasannya kenapa Cuma tiga. Jadi penasaran, deh.” Rinjani melihat permen-permen tadi. Dia memang suka manis, tetapi ini sudah terlalu larut untuk memakan permen, jadi gadis itu menyimpannya di tas untuk dimakan besok. “Sayang sekali aku tidak bisa memperbaiki bentuk origami ini.” Rinjani bangkit dari duduknya lalu mengambil sebuah kardus sepatu yang tidak dia gunakan. Ditaruhnya surat itu di kardus, lalu di simpan di atas almari pakaian. Rinjani kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Dia mengerjakan tugas merangkumnya dengan cepat, karena entah mengapa tiba-tiba rasa kantuk datang lebih awal. *** Keesokan harinya, Rinjani kembali mendapatkan kotak yang serupa. Hal it uterus beranjut, dan gadis itu menikmatinya. Hari demi hari, suasana hati Rinjani semain baik. Setiap harinya selalu ada surat yang membuatnya selalu tersenyum. Bukan hanya surat, makanan yang sebenarnya sangat sederhana, juga sering kali membuatnya tertawa. Setiap sampai di rumah, gadis itu langsung menuju ke kamar untuk membuka isinya kotak misteri yang didapat di hari itu. Hanna bahkan keheranan melihat tingkah putrinya yang sering tersenyum sekarang. Wanita paruh baya itu merasa senang Rinjani sudah kembali tersenyum dan lebih ceria. Namun, hati kecil Hanna merasa khawatir. Dia takut ada hal buruk yang kembali menimpa putri satu-satunya itu. *** Sudah dua minggu Rinjani selalu mendapatkan hadiah misteri. Gadis itu selalu menceritakan semua isi kotak yang diterima, kepada sahabatnya—Arsha. Dia benar-benar menikmati perannya sebagai seorang gadis yang memiliki pengagum rahasia. Rinjani bahkan tidak sadar jika sejak kejuatan ulang tahun kala itu, Agam tidak pernah menemuinya lagi. Hari ini Rinjani kembali mendapatkan hadiah misteri. Saat dia berangkat, salah satu penjaga kampus menghampiri gadis itu dan memberikan sebuah hadiah misteri. Seperti biasa, Rinjani selalu membukanya saat sudah sampai di rumah. Kali ini berbeda, ada dua origami dengan masing-masing bertuliskan angka satu dan dua. Lalu, juga ada sebatang cokelat di sana. Rinjani mengambil origami itu dan membuka yang bertuliskan angka satu. Sayangnya tidak ada tulisan apa pun di sana. Gadis itu merasa sedikit kecewa. Tanpa sadar, dia telah terbuai dan mulai sealu penasaran dengan isi origami itu. Gadis itu bergegas membuka origami yang satunya. Di sana tertulis beberapa kalimat.
Dear, Rinjani. Aku tahu aku pengecut. Maaf tak berani menemui secara langsung. Aku merasa ragu dan takut kamu akan membenciku. Namun, setelah aku piker-pikir, kini aku siap menemuimu. Rin, temui aku di sebuah tempat yang menjadi tempat favoritmu. Di mana saat moodmu buruk, maka akan menjadi obat. Aku tunggu minggu ini jam sembilan pagi. Dari pengagum rahasiamu.
“Bertemu? Dengannya? Eh, tapi, dari mana dia tau tempat favoritku? Ini aneh. Aku jadi semakin penasaran dengan orang ini,” gumam Rinjani setelah selesai membaca surat dari sosok misterius yang mengaku sebagai pengagum rahasianya. Seperti biasa, Rinjani selalu menyimpan surat-surat dari si pengagum rahasia. Kini dia berbaring sambil menikmati sebatang cokelat yang juga dari sosok tanpa nama itu. Senyuman terus terukir di wajah gadis itu. Dia merasa bahagia mendapatkan perhatian yang sebenarnya sederhana, tetapi manis. Dia juga semakin penasaran dan sangat ingin segera bertemu dengan sosok itu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus asik
07/07
0good
23/03
0keren
22/01
0Lihat Semua