logo text

Bab 13 Rencana Agam

Berkali-kali pria itu membuka ponsel pintar miliknyanya, lalu menutupnya kembali. Dia merasa perlu, tetapi ragu untuk menghubungi Rinjani. Yang sebenarnya adalah, Agam takut egonya kembali terluka, dia masih merasa bahwa ini bukan sepenuhnya salahnya.
Agam masih merasa jika Rinjani tidak seharusnya menampar dirinya. “Telpon … jangan. Tapi …. Argh, kenapa jadi begini, sih! Baru juga perkenalan udah bikin marah, Agam … Agam …, buruk sekali nasibmu.
Pria itu merasa lelah berperang dengan dirinya sendiri. Dibaringkan tubuh kekar itu pada ranjang berukuran besar, lenganya terangkat menutupi mata yang terpejam. Kepalanya berdenyut nyeri menciptakan rasa tidak nyaman.
“Ya, Tuhan, kenapa serumit ini?”
Akhirnya, Agam memilih untuk menghubungi sepupunya. Berharap gadis itu bisa memberinya solusi, atau setidaknya bisa membantu mengurangi beban pikiran.
“Halo, Sha,” sapa Agam saat panggilan ketiga yang akhirnya dijawab.
Terdengar suara dengusan malas dari seberang sana. Kemudian dengan nada ketus Arsha bertanya, “Kenapa?”
“Aku sudah tau semuanya dari Bunda. Maaf …,” ucap Agam pelan.
“Aku nggak masalah, Cuma sedikit kecewa aja atas kecerobohanmu. Minta maaf sama Rinjani dia lebih terluka. Bertahun-tahun tidak ada yang merayakan ulang tahunnya, dan kemarin kamu memberinya kejutan. Selamat, ya, rencanamu mengejutkan Rinjani sukses, sampai-sampai mentalnya kembali down.” ucap Arsha menohok.
“Iya, aku memang berniat meminta maaf padanya. Tapi aku tidak tau caranya,” jelas Agam membuat Arsha kembali mendengus malas.
“Sadar nggak, sih. Kamu itu bukan nggak tau caranya, tapi gengsi. Minta maaf ya tinggal bilang, yang tulus dari hati. Asal mau pasti bisa. Nggak usah gengsi.”
Agam benar-benar merasa tertohok, semua yang diucapkan Arsha memang benar. “Oke, Sha. Makasih, ya.”
Perkataan Arsha barusan terus berputar di otak Agam seolah tengah berusaha meruntuhkan segala penyangkalan pria itu atas perbuatannya.
***
Awan mendung menghalangi sinar sang mentari. Rintik air hujan mulai turun membasahi bumi. Mata hitam layaknya burung elang itu menatap ke luar jendela kamarnya.
“Bahkan alam pun mengejekku, mentari tak Nampak dan mendung yang menyambut pagiku. Agam bodoh, harusnya kamu cari informasi lengkap dulu sebelum bertindak!” maki Agam pada dirinya sendiri.
Meski malas dan masih mengantuk karena semalam kesulitan tidur, Agam tetap memaksa untuk bangkit dari ranjang. Pria itu bergegas mandi dan bersiap untuk ke kampus.
Namun, tujuan utamanya bukanlah kelas, karena sebenarnya hari ini tidak ada jadwal kelas pagi. Agam berniat menemui Rinjani dan meminta maaf kepadanya karena telah mengingatkan gadis itu dengan traumanya.
Kurang lebih sepuluh menit, Agam telah siap dengan celana jins dan kaus santai, tidak lupa dengan rambut basah yang sedikit berantakan.
Pria itu menuruni tangga sambil sesekali mengirim pesan kepada sepupunya, untuk menanyakan kabar Rinjani.
“Pagi, Bunda,” sapa Agam seaya mencium pipi Eisha yang sedang menyiapan sarapan.
“Padi, Sayang. Sarapan dulu, ya, sebelm berangkat. Kebetulan tadi ada penjual bubur ayam langganan kamu, jadi, Bunda beli. Ayo dimakan,” ucap Eisha sambil memberikan semangkuk bubur yang aromanya membuat perut Agam semakin kelaparan.
“Ma, cara minta maaf ke cewek yang lagi marah gimana?” tanya Agam di sela-sela makannya.
Eisha terbatuk mendengar pertanyaan Agam. Sudut bibirnya terangkat lalu tertawa. Bagi wanita itu, pertanyaan Agam sungguh menggelikan.
“Agam, Agam …, kamu itu kok ya aneh, masa mau minta maaf aja bingung. Minta maaf, ya tinggal bilang maaf aja. Tapi, setelah mendapat maaf itu yang sulit, kamu harus bisa mempertahankan kepercayaan orang yang telah memaafkanmu. Kenapa? Karena biasanya orang hanya akan mengampuni kesalahanmu sau kali saja, selebihnya dia tidak akan benar-benar percaya lagi padamu,” jelas Eisha, sedangkan Agam hanya mengangguk paham.
“Oke, Bunda, kalau gitu Agam berangkat dulu. Doakan Agam supaya mendapatkan maaf dari Rinjani, ya, Bund,” inta Agam sambil mengecup tangan sang ibu.
***
Agam turun dari mobil hitam mengkilap milikya saat sampai di parkiran kampus. Agam langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Arsha.
“Halo, Sha. Udah berangkat kampus belum?”
“Udah, kenapa?” tanya Arsha di seberang sana.
“”Aku mau ketemu, bahas penting. Tapi kamu sendirian, ya. Kita ketemu di kantin Fakultas Bahasa, biar kamu nggak terlalu kejauhan.”
“Oke, aku otw,” sahut Arsha seraya mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Agam bergegas menuju tempat di mana dia dan Arsha akan bertemu. Pria itu berniat meminta bantuan sepupunya untuk mendapatkan maaf dari Rinjani.
***
“Sha,” sapa Agam langsung duduk di kursi kosong depan Arsha yang sedang menikmati es krim.
Tanpa menjawab atau menoleh, Arsha terus saja menikmati es krim cokelat di tangan seraya berkata, “Langsung aja, nggak usah basa-basi.”
“Sha, aku tau kalau perlakuanku kemarin emang keterlaluan. Aku sadar itu salah ….” Agam menjeda ucapannya sejenank untuk menghela napas karena sifat cuek yang ditunjukkan Arsha. “Aku mau minta bantuan kamu, biar bisa dimaafin Rinjani.”
“Caranya?” tanya Arsha sangat ketus.
“Oh, ayolah, jangan begini, Sha. Tolong bantu aku. Masa kamu nggak kasian sama sepupumu ini?” mohon Agam yang sudah mulai frustasi dengan sikap Arsha.
Arsha meletakkan gelas es krim yang telah kosong di meja. Matanya menatap Agam serius. Tidak ada senyum manis seperti biaanya, kini wajah gadis itu benar-benar datar.
“Gini, ya Gam. Aku mau bantu kamu, tapi kamu harus jelaskan semuanya secara rinci. Aku nggak mau kecolongan lagi kaya kemarin. Jadi, mending sekarang jelasin apa rencana kamu, karena setengah jam lagi aku masuk.”
“Jadi gini, aku mau minta maaf sama Rinjani, tapi nggak secara langsung—”
“Kenapa? Gengsi? Ya ampun, udah deh. Percuma juga aku bantu kalau kamu masing pertahanin ego!” ucap Arsha memotong penjelasan Agam.
“Bukan gitu, Sha … makanya dengerin dulu, jangan dipotong!” geram Agam.
Arsha melepaskan tangan yang digenggam Agam. Gadis itu kembali duduk dan siap mendengarkan kelanjutan dari ucapan sepupunya.
“Maaf. Ya udah, lanjut!” pinta Arsha.
“Aku mau memperbaiki citraku yang sudah terlanjur jelek di mata Rinjani. Nah, rencananya, setiap hari aku akan memberikan hadiah misteri kaya tempo hari, tapi kini aka nada surat-surat di dalamnya,” jelas Agam dengan wajah bahagia karena yakin jika rencananya kali ini tidak akan mengecewakan.
“Jadi, tugasku apa?” tanya Arsha tidak sabaran, pasalnya dia sudah terlanjur malas dengan rencana-rencana yang Agam buat.
“Kamu bantuin aku kasih kado misteri kaya gini ke Rinjani, tiap hari,” ucap Agam seraya menunjukkan kotak kecil yang terbungkus kertas kado bermotif bunga. “Tapi jangan bilang kalau ini dari aku.”
“Kalau aku yang kasih, ketebak dong kalau ini dari kamu, Gam,” keluh Arsha.
Bukan tidak mau mambantu, Arsha hanya tidak ingin keadaan Rinjani semakin buruk. Dia takut jika rencana Agam kali ini juga akan berdampak buruk kepada sahabatnya itu.
“Tolonglah, kali ini aja, kamu bisa kasih alasan kalau dapat titipan dari adik tingkat cewek. Bilang aja dia buru-buru atau apa gitu, makanya titip kamu. Aku janji buat kali ini aja, besok aku minta tolong orang lain. Bisa, ya?”
“Oke, kali ini aja. Mana sini barangnya, aku mau ke kelas sekarang.”
“Ini, makasih, ya, Sha,” ucap Agam tulus seraya tersenyum, yang dijawab anggukan oleh Arsha.

Komentar Buku (740)

  • avatar
    Putrinurma

    bagus asik

    07/07

      0
  • avatar
    Arrirat Boonkanha

    good

    23/03

      0
  • avatar
    AmirAmiruddin

    keren

    22/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru