logo text

Bab 20 Perempuan di Sebelahku

Julian mendongakkan kepalanya. Berharap dapat merenggangkan tubuh, tapi mendapati Frasa tidur dengan pulas di sisi tempat tidur yang lain membuat lelaki itu menahan nafas dan berhenti bergerak sesaat. Pelan-pelan ia menggeser badannya menjauh.
"Ssst..." Leonard duduk di lantai. Dagunya bertopang di sisi tempat tidur. Tersenyum selebar yang ia bisa. Julian tersentak, tidak menduga semua ini akan menjadi pemandangan pertamanya saat bangun pagi.
Tanpa suara, Leonard menyerahkan selembar kaos pada Julian. Julian menerimanya setelah menyadari kalau dirinya sudah bertelanjang dada saat terbangun. Pelan-pelan lelaki itu beranjak dari tempat tidur. Julian tidak ingin Frasa terbangun sekarang, tidak sampai dirinya benar-benar mengingat apa yang terjadi tadi malam.
Julian turun ke dapur bersama Leonard. Temannya itu tidak berhenti tersenyum. Dan hal itu mematik rasa jengkel di hati si pemilik rumah. "Ini tidak lucu!" sergahnya.
Tapi bukannya takut pada gertakan Julian, Leonard mengikutinya seperti ekor ke mana pun temannya pergi. Dengan wajah yang penasaran dan senyum yang tidak juga larut dari wajahnya. Julian menyiapkan dua buah cangkir, menuang serbuk kopi dan sedikit gula. Ia menunggu air mendidih sambil mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi semalam. Pada dirinya dan perempuan itu. Bagaimana akhirnya Frasa berakhir di rumahnya, di dalam kamarnya, di atas ranjangnya. Dan tepat di sampingnya pagi ini. Seburuk itukah mabuknya semalam, hingga semua plot kejadian tidak terjalin baik?
Setelah airnya mendidih Julian menuangnya ke dalam cangkir. Dan menyajikannya, Leona dan dirinya sendiri. Ketika Julian duduk, Leonard belum berhenti tersenyum lebar.
"Jelaskan," katanya.
"Ke mana saja kamu semalaman?" Julian tidak punya jawaban atas pertanyaan Leonard, jadi Julian menggantinya dengan pertanyaan.
Leonard mengangkat bahu. "Mari kita susun kembali semua lubang yang terjadi tadi malam." Alisnya berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Di tengah-tengah itu, suara langkah kaki Frasa mendekat pada mereka. Pandangan Leonard menyongsong sosok itu, Julian menoleh.
Gadis itu menuruni tangga sambil menggaruk-garuk kepala. "Selamat pagi menjelang siang, Julian. Dan…” Frasa memincingkan matanya dan berusaha mengenali Leonard. “Siapa pun kamu." Frasa mendekat, melingkarkan lengannya di leher Julian. Ia mengecup leher Julian. Setelah itu Frasa duduk di sebelah Julian.
"Omong-omong siapa kamu?" Frasa memandang pada Leonard. Ia butuh jawaban cepat.
"Leonard, teman baikku dari kota yang lama," jawab Julian masih sambil memandang Leonard yang merah pipinya. Lelaki itu tersipu, ia mengulurkan tangannya pada Frasa.
Frasa dengan canggung membalas salam itu. Julian menoleh pada Frasa, gadis itu menunduk, membenarkan rambutnya.
"Mau teh?" tanya Leonard.
"Kopi, mungkin," kata Frasa pelan. Sangat pelan sampai butuh waktu dua detik bagi Julian dan
Leonard untuk mengerti benar kata yang gadis itu ucapkan. Leonard bangkit dengan cepat, mengerling pada sahabatnya dan menghilang dari hadapan keduanya.
Julian dan Frasa membiarkan diam menyelimuti diri mereka. Yang terdengar sekarang hanya suara Leonard yang sedang sibuk menyiapkan kopi di dapur. Leonard kembali dengan dua cangkir kopi. Menaruhnya di atas meja makan dan kembali duduk menghadapi kopinya.
"Aku pikir hanya butuh satu cangkir kopi," kata Frasa. Memandangi dua lelaki di sana.
"Sebentar lagi kita akan duduk berempat," ucap Leonard. Di saat yang sama Frasa mendapati Julian sedang memijat pelipis.
Sial. Julian memaki dalam hati.
Mereka bertiga mengikuti langkah Rey menuruni tangga. Perempuan itu mengenakan sebuah kemeja kebesaran. Turun dengan pelan, tanpa suara. Kalau ini adalah sebuah film, tentu pemandangan ini akan digambarkan dengan ratusan watt cahaya dari belakang sosok Rey. Dilanjutkan dengan close up shoot wajahnya, betisnya, jari dan bokongnya. Lalu, Julian, Leonard dan Frasa akan digambarkan seperti tiga orang menyedihkan, yang terpukau dengan pesonanya.
"Selamat pagi,” sapa Rey.
"Kopi baru. Silahkan." Leonard menyapa dengan manis. Julian menunduk, Frasa memandangi orang-orang secara bergantian. Gadis itu kaget, dan Julian tidak kalah paniknya. Rey tersenyum, ia sudah berusaha duduk di meja yang sama dengan yang lain sambil menikmati kopinya. Namun ketika ia dan Frasa saling pandang, beberapa saat kemudian Rey bangun kembali, tangannya memegang cangkir kopi.
"Aku ngopi di kamar. Rokokku ketinggalan." Rey melangkah menuju tangga. Tidak ada jawaban dari tiga orang lain. Keadaan di sana sudah keburu kikuk dan atmosfernya tidak begitu menenangkan.
Julian langsung membuang muka. Leonard bangkit berdiri. "Aku mau cari udara di balkoni," katanya cari alasan. Ia menjepit cangkir di antara ibu jari dan telunjuknya. "Sampai ketemu, ehm, Frasa." Leonard memandangi Frasa sebelum menghilang di belokan tangga.
Kini tinggal Julian dan Frasa di meja makan itu. Tersiksa dalam diam. Tidak yakin harus bilang apa, tidak yakin harus bersikap apa. Julian yang telah menelepon Frasa dini hari tadi. Membuat gadis itu berpikir bahwa Julian akan menidurinya, sampai akhirnya Julian ketiduran sebelum semua itu benar-benar terjadi.
Juga masalah Rey, Frasa tak tahu kalau Julian dan Rey tinggal bersama dalam satu rumah. Tapi demi ayahnya, Julian akan menjelaskan. Jika saja ia diberi kesempatan. Julian memang belum bilang apa-apa sampai saat ini. Hanya bukan sifatnya untuk menjelaskan sesuatu sebelum ditanya.
"Sebelum kamu menjelaskan, biar aku mengatakan sesuatu lebih dulu." Frasa menyorongkan badannya agar dapat melihat wajah Julian dengan jelas. Julian mendeham, kemudian menatap lawan bicaranya dengan ragu.
"Kamu tahu apa yang aku lakukan sebelum akhirnya menjadi pemimpin di Jenggala?" Frasa menatap Julian yang tidak juga menjawab. "Aku berakhir dengan mengubur diriku dalam peti mati. Dan berhasil keluar dengan sebuah luka karena sayatan paku." Frasa berdiri, menunjukkan sebuah luka sepanjang dua belas centimeter yang terentang di sebelah kiri tubuhnya pada Julian.
Julian memberanikan diri untuk menyentuh bekas sayatan itu. Frasa reflek menarik diri ketika ujung jari Julian menyentuh luka itu. Setelah itu Frasa duduk kembali. "Kamu tahu siapa pemimpin sebelumnya?”
“Rey?" tebak Julian iseng.
Frasa mengangguk dan melanjutkan, "Aku hampir mati saat mendapatkan posisi ini. Aku tidak akan berbuat bodoh dengan melepaskannya begitu saja. Biar kuberitahu bagaimana peraturannya. Aku tidak bisa berpacaran terang-terangan denganmu, karena kamu juga anggota di sana. Kalau sejak awal aku tahu bahwa kita akan berakhir begini, aku tidak akan pernah memasukkanmu ke dalam sana. Dan aku tidak akan mengacaukan hubunganku dengan Rey. Integritas, Julian. Aku tidak bisa melakukannya. Aku menjaga semua rahasia mereka, dan mereka melakukannya untukku."
Julian lalu mengangguk. "Apa yang Rey lakukan saat dulu menjabat sebagai pemimpin di klub itu?" tanyaku mencoba tidak terdengar terlalu penasaran.
"Lehernya sobek, membuatnya berakhir di meja operasi. Suara yang kamu dengar sekarang…" Frasa tidak melanjutkan.
Julian keburu terpukul. Bersimpati untuk kedua gadis itu. Julian tidak pernah tahu kalau suara jahat itu bukan sepenuhnya keinginan Rey. Julian kini mengerti mengapa Frasa tidak benar-benar mengekspos tubuhnya dengan pakaian yang terbuka. Meski tubuhnya atletis, luka itu tidak akan bisa ia tutupi dengan mudah.
"Aku mengerti, dan aku minta maaf." Julian memberi jeda. "Tapi, mungkinkah itu semua berubah? Aturannya?"
Frasa memandang mata Julian. "Tidak. Kecuali salah satu dari kita keluar dari sekolah itu. Lulus atau pindah."
Julian kemudian mengangguk. "Menurutku selama kalian berdua membuat perjanjian di luar Jenggala, maka semua akan baik-baik saja." Julian berusaha mencari celah dari peraturan yang kini terasa konyol itu. Jenggala menyimpan banyak rahasia, kini Julian berada di dalamnya. Dan lelaki itu tidak begitu menyukainya.
"Itu kenapa, sejak awal aku mengajakmu bicara, tapi aku ragu."
"Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah memberitahuku.”
“Bagaimana ia bisa tinggal denganmu?” tanya Frasa pada Julian. Cukup soal Jenggala.
Julian membasahi bibirnya. “Mengenai Rey, ayahku mengajaknya tinggal di sini. Ayahku menyelamatkannya dari sebuah insiden pemukulan. Rey tidak tahu harus tinggal di mana. Semua kebetulan ini, aku sudah berjanji pada Rey untuk tidak menceritakannya pada siapa pun termasuk kamu. Tapi, kalau sudah begini, aku tidak akan merahasiakannya lagi darimu," kata Julian.
Frasa hanya diam. Sesaat kemudian mengangguk. "Aku akan pulang, ada beberapa hal yang harus aku lakukan hari ini." Tiba-tiba Frasa pamit, terkesan buru-buru.
Julian bangkit berdiri. Frasa mencium pipi lelaki itu dengan canggung. Julian menatap bibir gadis di depannya namun menahan diri. Kemudian mereka berdua berjalan ke arah gerbang. Si pemilik rumah melambai pada perempuan itu. Frasa tersenyum, menengok ke atas kemudian melambai pada Leonard. Julian ikut mendongak ke atas, melihat Leonard yang juga melambai pada Frasa.
Julian kembali ke atas setelah mencuci semua cangkir. Pelan-pelan ia mulai mengingat semua yang terjadi semalam. Leonard masih duduk dengan tenang di balkoni saat Julian menghampirinya tanpa suara.
Leonard menyambut kedatangan Julian dengan senyum. "Aku ingin bilang sesuatu," kata Leonard.
Julian memandangi temannya. "Tidak sebelum aku."
Leonard tampak kaget dengan perubahan ekspresi temannya. Ia mengangguk membiarkan Julian bicara.
"Dini hari tadi, kamu di mana?" tanya Julian cepat. Seperti bukan dirinya yang biasa.
Leona memutar pandangannya dari Julian. Lalu ia berbohong, "Aku tidur di kamar yang kosong itu."
"Jam berapa kamu tidur?"
"Setengah jam setelah kamu kembali ke kamar mungkin. Jam dua." Ia berbohong lagi.
Julian mengangguk, bagaimana pun juga, Leonard adalah sahabatnya. Julian tidak akan membuatnya malu dengan mengungkapkan kebohongannya sekarang. Mereka berteman terlalu lama, bukan karena Leonard mengendap-endap ke kamar Rey, tidur dengannya yang membuat Julian marah. Tapi mengapa ia harus menutupi itu?
"Tadi kamu akan bilang apa?" tanya Julian akhirnya.
"Frasa, dia menarik. Kalian cocok." Leonard tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.
Sayang sekali, Julian telah memergokinya mengendap-endap ke kamar Rey tadi malam. Leonard berbohong padanya, hanya dua puluh empat jam setelah ia bertemu dengan Rey. Dan itu membuat Julian tak bisa mempercayai sahabatnya sekarang ini. Julian tidak menyukai apa yang dia lihat. Entah kenapa Julian merasa terluka dengan apa yang mereka lakukan. Tapi, Julian tidak mungkin membenci Leonard, meski ia telah berbohong. Dan Julian tahu tidak akan bisa membenci keduanya, hanya karena merasa cemburu.

Komentar Buku (27)

  • avatar
    Callista

    alur bagus banget smp lupa waktu bacanya.. banyak plot twist🥵 tapi endingnya kurang bagus

    30/01

      0
  • avatar
    Arina Ra

    baguss

    24/04/2025

      0
  • avatar
    Ramadan saputraandika

    keren

    15/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru