Tiga bulan setelah kepindahan Julian di kota ini berlalu dengan baik. Tidak semua hal berjalan dengan mulus, tapi pelan-pelan Julian mengakui kalau dirinya mulai menyukai kota ini. Leonard, satu-satunya sahabatnya berkunjung setiap akhir pekan. Meskipun kini menemui Julian bukan satu-satunya alasan untuk datang, tapi Julian sudah sangat menghargai usahanya. Bagaimana perasaan Julian mengenai hubungan Leonard dengan Rey, gadis yang juga ia sukai, sulit untuk ia jelaskan. Julian masih sering mendapati tangannya gemetaran karena cemburu, tapi sampai hari ini lelaki itu berusaha menerimanya. Rey, beberapa kali datang ke kamar Julian. Mereka mulai mengobrol, kadang Rey akan menginap di kamar lelaki itu. Memutuskan untuk menjaga perasaan masing-masing dan tidak melewati batas memang menyakitkan. Tapi mereka tidak punya pilihan. Sesekali mereka tidak sengaja bangun di pagi hari dalam keadaan saling memeluk, atau tanpa sadar telah berciuman. Mereka memutuskan untuk tidak membahasnya lagi. Karena Julian benar-benar tidak akan mampu kehilangan Leonard. Dan Julian tidak tega pada Frasa. Meski di antara mereka tidak ada apa-apa selain pertemanan. "Selamat pagi." Guru pelajaran Fisika memasuki kelas. Semua siswa duduk kembali setelah guru tersebut mempersilahkan. Julian membolak-balik buku teks dan catatannya dan berhenti pada bab terakhir yang mereka pelajari di minggu lalu. Lelaki itu berusaha fokus, bukan penggemar pelajaran fisika, tapi biasanya Julian lebih antusias dari hari ini. Sejak semalam Rey tidak kembali ke kamarnya. Seperti Frasa, gadis itu tidak menghubungi Julian sama sekali. Frasa bahkan tidak terlihat di sekolah. Beberapa kali Julian menelepon Frasa dan Rey, tidak satu pun dari mereka menjawab pertanyaannya. Julian sendiri tidak berani bertanya pada ayahnya. Julian tidak ingin Elijah bersikap terlalu dramatis, mengingat Elijah seperti telah menganggap Rey seperti anaknya sendiri. "Julian!" Mendengar teriakan gurunya Julian kaget luar biasa. Ia menoleh dengan wajah takut. "Saudara silahkan meninggalkan kelas." "Saya pak? Kenapa?" Julian menelan ludahnya. Ia belum pernah dibentak guru seumur hidupnya. "Saya tahu saudara ini anak yang pintar di kelas. Itu kenapa guru-guru tidak mempermasalahkan kalau saudara bolos pelajaran. Tapi, karena sejak tadi saudara selalu melamun. Saya tidak bisa menahan saudara jika ada yang harus saudara selesaikan di tempat lain. Kelas ini butuh konsentrasi. Saudara sebaiknya cepat keluar,” jelas si guru Fisika. Dengan perasaan malu Julian bangkit dari kursinya dan meninggalkan kelas. Suasana kelas menjadi hening, Julian merasakan pandangan setiap orang di sini membakar kulitnya. Julian melangkah pelan ke gudang. Mungkin di saat seperti ini, Julian sebaiknya menghabiskan waktu di Jenggala. Ruang Jenggala tampak sepi. Sesaat setelah Julian masuk, ia mendapati beberapa orang sedang berkerumun di sana. Julian penasaran dan menyibak kerumunan itu. Tepat di depannya Frasa terlihat sedang memukuli Rey. Tidak satu pun orang di sana yang berani memisahkan mereka dari pertengkaran itu. Julian maju untuk melerai, seketika siku Frasa mendarat di pelipis kanannya. Membuat Julian kehilangan keseimbangan dan terjembab. Mereka berhenti sebentar untuk melihat keadaan lelaki itu. Namun Julian dengan cepat berdiri, mengelus pelipisnya yang berkedut karena pukulan tadi. "Julian, maaf…" kata Frasa dengan wajah khawatir. Julian tidak menjawab. Hanya melihat wajah Frasa dan Rey satu persatu. Julian yang merasa kesal bercampur malu meninggalkan Jenggala saat itu juga. Julian berlari pulang dengan perasaan kesal. Hujan kemudian turun dengan lebat, Julian sampai di rumah dengan keadaan basah kuyup. Ia membuka pintu gerbang kemudian masuk ke dalam rumah. Ia naik ke kamar dan mengganti baju seragamnya yang basah dengan celana pendek dan kaos berwarna abu-abu. Julian kemudian duduk dengan nyaman di balkoni, merokok sambil memijat pelipisnya yang sakit. Julian bisa mengerti bahwa Frasa tidak sengaja memukulnya tadi. Tetapi melihatnya bertengkar dengan Rey di depan anggota Jenggala yang membuat Julian merasa miris. Masalah apa yang bisa membuat mereka berdua sampai memukul satu sama lain? Sikap macam apa itu? Sebegitu sensitifkah masalah itu hingga tak dapat diselesaikan dengan berdiskusi? Julian menghela nafas. Ia pandangi telepon genggamnya yang berdering dengan nama Frasa tertera pada layar. "Ya?" sapa Julian. "Julian, aku minta maaf karena yang tadi. Kamu di mana?" tanya Frasa. "Memangnya kenapa? Perlu memukulku lagi?" jawab Julian dengan pertanyaan. Suasana hatinya memburuk kembali. "Bukan begitu, aku bisa menjelaskan." "Aku tidak tahu kalau masalah kalian ada hubungannya denganku sehingga kamu harus menjelaskannya padaku." "Julian, kumohon." Julian menghela nafas. "Tidak sekarang Frasa, tidak hari ini." Julian menutup teleponnya. Meski sebenarnya Julian merasa penasaran, ia harus menahan diri. Julian tidak ingin membuat Frasa berpikir, kalau dirinya adalah orang yang mudah dibujuk. Julian tidak mau, diremehkan. Tapi, yang menjadi masalah sebenarnya adalah kenapa Julian merasa sangat marah? Apa yang sebenarnya membuat hatinya kesal pada Frasa? Apa karena ia dimarahi guru Fisika? Atau karena Frasa dan Rey bertengkar? Atau karena Rey tidak memberinya kabar dan itu membuat Julian merasa cemas? Julian merebahkan dirinya di kamar ketika Rey tiba-tiba masuk. Perempuan itu berdiri di pintu kamar mandi. Berjalan ke arah Julian dengan tenang. Lelaki itu melihat memar di tulang pipi dan dagu Rey, namun berusaha tidak terlihat mencemaskannya. "Jadi, bisa jelaskan padaku kenapa kamu ngambek seperti ini?" tanya Rey dengan tenang. "Aku tidak ngambek, aku hanya tidak tahu harus melakukan apa ketika pukulan Frasa mengenaiku," jawab Julian. "Apa susahnya mengakui, kalau kamu sedang ngambek? Frasa tidak sengaja. Jangan diperpanjang masalah ini," kata Rey. Ia kini duduk di tempat tidur Julian. "Sebegitu besarkah masalahnya, sampai kamu pun tidak bisa menjelaskannya untukku?" Julian menuntut seperti perempuan. Rey menggeleng. "Bukan hakku untuk menjelaskan." Julian mendengus dan memutar bola matanya. Kemudian memunggungi Rey. Rey memeluknya dari belakang. "Aku jelaskan, jika kamu berjanji tidak akan mengatakannya pada Frasa." "Aku akan pura-pura tidak tahu apa pun." "Aku tahu kamu pandai mengenai itu." Rey mencium leher Julian, membuat lelaki itu menjauh karena geli. Tapi lengan Rey menahannya. "Frasa ingin aku keluar dari Jenggala." "Kenapa?!" Julian tidak mempercayai apa yang ia dengar. Bukankah selama ini Frasa sangat menghormati Rey, dia tidak mungkin melakukannya begitu saja. Sesuatu pasti telah mempengaruhi Frasa, sehingga ia tidak punya pilihan lain selain apa yang ia lakukan sekarang. "Kami sama-sama tahu alasannya. Aku tidak ingin kamu tahu terlalu banyak, tapi yang jelas, jika aku ada di sana, Frasa tidak bisa mengontrol Jenggala seperti yang ia mau." "Bisakah kamu bicara lebih jelas? Frasa adalah temanku juga. Aku berhak tahu kalau ia dalam masalah, atau kamu…" Julian tidak meneruskan kalimatnya. Keburu merasa canggung. "Itu kenapa aku tidak ingin kamu tahu banyak, Julian. Tapi bagaimana pun aku berusaha bertahan di sana, aku akan segera lulus, aku tidak akan bisa mengontrol Jenggala seumur hidup." Rey kemudian diam. Setelah bisa menyusun kalimat dengan baik ia melanjutkan, "Seseorang mengontrol Frasa, menjadikan Jenggala sebagai markas bawah tanah penyelundupan soal Ujian Nasional. Aku tidak akan membiarkannya." Julian terbelalak, benarkah yang dikatakan Rey? "Apa untungnya bagi Frasa?" tanya lelaki itu. "Uang, Julian. Semua sekolah ingin anak didik mereka lulus Ujian dengan nilai yang bagus. Mereka akan membayar berapa pun untuk mendapatkan soal ujian itu lebih awal." Tentu, pikir Julian. Di mana seharusnya budi pekerti dan anti korupsi dibina, di sana semua ketidakbajikan bermula. Rey bicara lagi, "Sementara ayahnya Frasa yang biasanya mengurus itu sedang dalam penjara karena kasus lain. Ibunya pergi entah ke mana, sudah lama tidak kembali." Julian terpukul dengan informasi yang baru didengarnya. Ia dan Frasa dekat, tapi ia tak tahu apa-apa soal siapa dan bagaimana keluarga Frasa. "Tidakkah ada yang bisa kita lakukan untuk menolongnya?" tanya Julian. "Julian, kita ini anak SMA. Tidak ada yang bisa kita lakukan, selain mempertahankan posisi dan keyakinan kita sendiri." Rey menggigit bibir. “Tidak akan ada yang mempercayai kita.” "Apa anggota Jenggala yang lain tahu?" Rey menggeleng. "Tidak, selama aku tidak ingin mereka tahu." “Tapi, kita haruslah melakukan sesuatu.” “Tidak Julian, untuk sementara kita diam. Kita akan menunggu.” Rey menatap lelaki di depannya dengan tajam. Julian mengangguk. Sekarang sudah semakin jelas masalahnya. Tapi Julian tidak membenci Frasa. Gadis itu pasti melakukannya untuk bertahan hidup. Kini Julian yang malah merasa kasihan padanya. Membayangkan bagaimana Frasa akan membayar uang sekolah dan kebutuhannya yang lain. "Rey," panggil Julian dengan lirih. "Ya?" "Kenapa ayahnya Frasa ada di penjara?" tanya lelaki itu. "Karena ia memukuliku," jawab Rey pelan. Julian langsung duduk. Ia menghadapi Rey. "Tapi bukankah kamu dipukuli oleh ayahmu sendiri?" Rey hanya mengangguk. "Ya, dia orang yang sama." Julian tidak berhenti memandangi Rey, mencari kebohongan di setiap inci kulit wajahnya, kalau kebohongan itu memang ada. Tapi Rey kukuh, dan sepertinya tidak sedang menyembunyikan sesuatu. "Jelaskan padaku!” Rey tersenyum. "Ini mudah, aku dan Frasa bersaudara. Mengerti? Lebih tepatnya, aku sepupu Frasa. Ayahnya memeliharaku sejak kecil karena orang tuaku mati dalam sebuah kecelakaan yang direncanakan. Aku selamat, dan mau tidak mau harus tinggal bersama Frasa dan ayahnya." Julian mendengar ceritanya tanpa berkedip. "Aku dan Frasa tidak dekat, tapi kami tidak saling membenci. Ia mengenalku sejak kecil seperti aku mengenalnya. Kami saling menjaga. Aku dapat melakukan apapun untuknya, tapi aku tidak bisa melawan pendirianku. Aku tidak bisa membiarkan Jenggala menjadi tempat kriminal macam begitu.” Rey menjelaskan. "Apa ayahku tahu soal ini?" tanya Julian. Pastilah ayahnya tahu, itu kenapa Rey ada di hadapannya sekarang ini, tinggal dengannya. "Aku yakin ia sedang mencari tahu. Itu kenapa ia adalah orang pertama yang muncul untuk menolongku,” imbuh Rey. Selanjutnya, kami diam. Julian merasa tidak akan bisa mendengar dengan teliti lebih banyak rahasia lagi sekarang. Ia menguap lalu merebahkan dirinya lagi. Pelan-pelan dirinya tertidur dalam pelukan Rey.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (27)
Callista
alur bagus banget smp lupa waktu bacanya.. banyak plot twist🥵 tapi endingnya kurang bagus
alur bagus banget smp lupa waktu bacanya.. banyak plot twist🥵 tapi endingnya kurang bagus
30/01
0baguss
24/04/2025
0keren
15/04/2025
0Lihat Semua