Bab 30

“Saya tahu tujuan kalian ke sini. Saya tidak setuju dengan penobatan yang dilakukan besok. Karena itu saya datang menawarkan bantuan.”
Ustaz Ramli dan Aldi saling berpandangan, lalu mereka menatap Seno dan Hartanto bergantian.
“Bantuan?” tanya Ustaz Ramli lirih.
“Benar. Saya akan membantu kalian untuk menyelamatkan wanita itu agar penobatan besok gagal. Bagaimana? Saya tidak meminta balasan apa pun. Penobatan gagal saja sudah membuat saya senang,” tutur Hartanto panjang lebar.
Aldi mengernyit. Ia menatap Hartanto lekat, mencoba mencari kebohongan di wajah laki-laki yang terlihat tua itu.
Berbeda dengan Ustaz Ramli yang mengangguk menyetujui. Dengan sekali pandang, ia bisa menilai ketulusan Hartanto.
“Baiklah. Kami setuju.”
Hartanto tersenyum senang. “Saya akan bergerak sebentar lagi untuk menyelamatkan wanita itu. Kalian tunggu saja di bawah pohon tempat kalian masuk kemari.”
“Apakah tidak sebaiknya saya menemani dan membantu Anda?” tanya Aldi menawarkan bantuan. Ia belum sepenuhnya percaya begitu saja. Bagaimana jika Hartanto membohongi mereka? Saat mereka sudah berada di bawah pohon, ternyata Hartanto tidak datang. Bukankah semua yang mereka lakukan sia-sia?
Hartanto tampak berpikir sejenak. Lalu menatap Seno. “Saya hanya takut mereka menyadari bau manusia dari tubuh Anda. Jika ketahuan, pasti tahu bukan akibatnya? Kalau saya sudah tahu seluk-beluk rumah saya, jadi sepertinya aman.”
“Saya ingin ikut dan menyelamatkan istri saya!” sela Dion yang rupanya sudah terbangun. Sejak tadi ia sudah membuka mata, tetapi tidak ada yang menyadari karena fokus berdiskusi. Ia menegakkan tubuhnya, lalu menatap semuanya, berusaha meyakinkan dari tatapan mata.
“Jangan, Kak. Kakak tidak tahu apa yang akan kakak alami di sana. Lagi pula, kakak kosong. Tidak mengerti bagaimana menghadapi mereka,” sergah Aldi. Ia tidak mau Dion menjadi korban.
Hartanto mengernyit saat Dion menyebut Adisti sebagai istri. Jadi, Adisti tidak hanya istri Abimanyu, tetapi juga istri dari manusia? Mereka sudah menikah? Apakah mereka sudah berhubungan badan? Timbul was-was dalam diri Hartanto.
“Maaf, Anda suami Adisti?” tanya Hartanto tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Dion mengangguk mantap. “Benar, Tuan. Saya menikah dengan Adisti setelah dia menikah dengan anak Anda.”
“Tapi ... apakah kalian juga berhubungan ... badan?” tanya Hartanto.
Dion menggeleng cepat. “Ustaz Ramli sudah memberitahu saya apa efeknya jika saya berhubungan dengan Adisti setelah dia menikah dengan Abimanyu.”
Dion menunjuk Ustaz Ramli menggunakan jempolnya sebagai bentuk sopan santun.
“Syukurlah! Saya takut Anda sudah berhubungan badan. Untung saja belum.”
“Saya akan ikut menyelamatkan Adisti.”
Hartanto menghela napas dengan berat. Ia tahu bagaimana rasanya seperti Dion. Istri yang disayangi, berada di tangan makhluk lain. Pasti pukulan berat baginya.
“Bagaimana kalau kita bagi tugas saja, Tuan. Tuan Hartanto, Ustaz Ramli, dan Kak Dion mencari kak Adisti, kami berdua memastikan keamanan kalian sampai akhirnya kak Adisti bisa dibawa sampai gerbang dimensi,” usul Aldi yang disetujui Ustaz Ramli langsung.
“Benar. Mana mungkin kami membiarkan Tuan menyelamatkan Adisti sendirian. Kita harus menyatukan kekuatan untuk menyelamatkan wanita itu agar penobatan gagal,” sambung Ustaz Ramli.
Hartanto tampak menarik napas dengan berat. Sepertinya semua sudah satu suara untuk menyelamatkan bersama. Mana mungkin ia bisa menolak lagi.
“Baiklah. Mari ikut saya.” Hartanto membuka pintu, lalu keluar diikuti oleh Ustaz Ramli dan Dion.
Tanpa Hartanto sadari, sepasang mata memergokinya dari balik pepohonan. Setelah memastikan mereka masuk rumah, ia segera masuk lewat pintu belakang untuk melaporkan pada seseorang.
Sedangkan Aldi dan Seno, mereka pun keluar dari ruangan itu lalu mengikuti yang lainnya dengan jarak aman.
Hartanto dan lainnya berjalan menuju kamar Adisti. Hartanto yakin, Abimanyu membawa wanita itu ke kamar yang biasanya digunakan ratu terdahulu.
Mereka mengendap-endap saat melewati lorong yang diapit dinding. Sesekali mereka berhenti saat tidak sengaja ada pelayan yang lewat. Di dalam rumah, tidak ada penjaga sama sekali. Hanya ada pelayan dan anggota keluarga.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan pintu yang lumayan tinggi dengan pengetuk pintu model kuno.
Hartanto memberi isyarat bahwa di sanalah Adisti berada. Namun, saat laki-laki itu akan membuka pintu tangannya serasa tersengat saat mendorong pintu. Membuat Hartanto terpental menabrak dinding.
Dion dengan sigap membantu Hartanto berdiri, sedangkan Ustaz Ramli ia meletakkan telapak tangan tepat di depan pintu lalu menutup mata. Kemudian, tak lama ia membukanya.
“Pintu ini sudah dipagari. Tidak sembarang bisa masuk.”
Hartanto berdesis. Ia kesal rupanya Abimanyu telah siaga dengan memasang pagar.
Hartanto kembali mencoba membuka pintu, kali ini ia berdiri di depan pintu setelah Ustaz Ramli bergeser. Ia mengelus cincin dengan mata akik berwarna merah terang, lalu mulutnya komat-kamit membaca sesuatu.
Kemudian, tangan Hartanto memegang hendel lalu mendorongnya pelan. Ajaibnya terbuka. Pintu terbuka, menampakkan sosok Abimanyu yang berdiri tegak di balik pintu, seolah menunggu kedatangan mereka.
Abimanyu tersenyum miring melihat raut terkejut dari 3 orang yang akan menyelamatkan istrinya. Ia bahagia bisa menjebak manusia yang pernah berusaha mengalahkannya. Namun, pandangannya kemudian tertuju pada Hartanto, ayahnya.
“Jadi, ada pengkhianat di keluarga ini,” sindir Abimanyu sambil tersenyum tipis. Tatapannya tajam seolah menghunjam pada Hartanto. Ia tidak menyangka, bahwa ayahnya tidak mendukung dirinya menjadi pimpinan wilayah. Sialan!
“Hentikan semua ini, Abimanyu. Kita kembali hidup biasa aja seperti dulu. Lepaskan wanita itu. Bukan tempatnya berada di sini.”
Hartanto mencoba membujuk Abimanyu, tetapi sepertinya percuma. Abimanyu hanya mencebik mendengar penuturan ayahnya. Ia menganggapnya angin lalu. Tekatnya sudah bulat, apalagi ia yakin sudah berhasil membuahi rahim Adisti lagi.
“Hentikan omong kosongmu, Ayah. Aku tidak mau lagi hidup seperti dulu. Yang jelas, sebentar lagi aku akan mempunyai anak lagi dari istriku. Jadi, tidak ada alasan aku membatalkan rencanaku.”
Mereka tampak terkejut mendengar pengakuan Abimanyu, terutama Dion. Ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Marah karena Adisti kembali hamil anak Abimanyu. Padahal ia sudah berusaha keras meminta Ustaz Ramli membuangnya.
“Tidak akan kubiarkan itu terjadi!” hardik Dion. Ia menatap Abimanyu dengan pandangan tidak suka. Ia maju berniat menampar mulut Abimanyu, tetapi lengannya ditahan Ustaz Ramli. Laki-laki tua itu menggeleng. Abimanyu bukan tandingan Dion.
“Hahaha ... lalu, apa yang akan kamu lakukan? Kamu hanya manusia lemah dan tidak memiliki kekuatan apa pun! Sekali hempas sudah hilang dari pandangan,” ejek Abimanyu, “kalian tidak terkejut mengapa aku bisa tahu kedatangan kalian?” tanya Abimanyu memancing mereka.
Tidak ada yang bersuara, Hartanto menutup mulutnya rapat. Ia mencoba memikirkan bagaimana menjauhkan Abimanyu dari kamar agar 2 yang lainnya bisa membawa Adisti pergi.
Ustaz Ramli pun sama. Ia tidak membalas Abimanyu. Dirinya sibuk membaca sesuatu salah hati. Sedang Dion, laki-laki itu berusaha menahan emosinya karena akan percuma menghadapi Abimanyu dengan hati yang dipenuhi amarah. Justru hal itu akan membuat Abimanyu senang.
“Bicaralah! Kenapa menjadi bisu semua? Bukankah kalian kemari ingin menyelamatkan Adisti? Membawa wanitaku ke alam kalian? Bawa saja jika dia mau.” Abimanyu melirik Adisti, lalu memberi kode pada wanita itu untuk mendekat.
“Sayang, mereka berdua ingin membawamu kembali ke duniamu. Apakah kamu mau?” tanya Abimanyu sambil merangkul pinggang ramping Adisti.
Melihat itu, emosi Dion yang semula hampir reda, kini kembali memuncak. Apalagi saat melihat dengan santainya Abimanyu mencium bibir Adisti dengan rakus di depan mereka. Gila!
“Aku ingin bersamamu selamanya, Sayang,” ucap Adisti sambil membalas pelukan Abimanyu. Mereka terlihat seperti pasangan yang serasi jika tidak mengingat Abimanyu bukan manusia.
Mendengar pengakuan Adisti, seketika tubuh Dion lemas. Jika tidak ada Hartanto dan Ustaz Ramli yang menahan tubuhnya, mungkin laki-laki itu sudah ambruk ke lantai.
terima kasih sudah setia menunggu bab lanjutannya ♥️♥️

Komentar Buku (173)

  • avatar
    May suryaApriyanti

    ending yg membingungkan,di mana adisti jadi waras padahal udh senang di mana dion akhirnya mendapat kebagian malah,end

    24/06/2025

      0
  • avatar
    YoonHee Oh

    Sangat bagus

    22/06/2025

      0
  • avatar
    fannia khofifah faisal br sitepu

    bgus bangettt

    01/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru