logo text
Status WA Sekretaris Suamiku

Status WA Sekretaris Suamiku

Nia Khalila


Bab 1 Jam Tangan yang Kukenal

[Setiap waktu yang kita habiskan bersama begitu berharga. Aku hanya berharap bisa segera memilikimu seutuhnya dalam hidupku. Emoticon love tiga.]
Tampak foto tangan seorang lelaki yang melingkar di perut ramping Bella. Foto itu hanya menampilkan bagian tubuh sebatas dada. Tanpa menunjukkan wajah keduanya.
Bella mengenakan dress brukat berwarna merah maroon, sedangkan kekasihnya mengenakan kemeja polos berwarna biru laut. Di tangannya tampak jam tangan bermerek terkenal. 
Mata Meisya menyipit mengamati benda berbentuk bulat itu. Entah mengapa Meisya merasa jika jam tangan tersebut mirip sekali dengan jam tangan milik suaminya, Evan. Dari merek, model hingga warna. Tapi rasanya mustahil jika Evan menghianati Meisya. Di luaran sana tentu banyak pria kaya yang juga memiliki jam tangan serupa.
Untuk menepis pikiran buruk, Meisya mencoba menghubungi sang suami yang masih berada di kantor.
Tut ... Tut ... Tut.
Telepon tersambung, tapi Evan tak juga menerima panggilan dari Meisya.
Pandangan Meisya tertuju pada jam yang tertera di pojok kanan ponsel. Pukul 8 malam, mungkin saja Evan tengah mengemasi berkas dan bersiap untuk pulang.
Meisya berjalan keluar dari kamar. Menuruni anak tangga menuju dapur. Mengambil masakan dari lemari kaca. Kemudian menghangatkannya dalam microwave. 
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Bik Yem sembari mengelap tangan dengan kain serbet. Baru saja ia selesai mencuci peralatan dapur.
Meisya menggeleng.
"Nggak usah, Bik. Makasih ... Bik Yem istirahat aja," jawab Meisya sembari menggelengkan kepala.
"Iya, Nya. Saya permisi."
Meisya tersenyum.
Pelan ia menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi bubuk kopi dan gula. Seperti biasa, minuman itu tak pernah luput disiapkannya. Sebab Evan sangat menyukai kopi hitam.
Tak butuh waktu lama Meisya menyajikan sepiring makanan dan secangkir kopi di atas meja.
Ponsel Meisya bergetar saat ia baru saja duduk di kursi.
Segera Meisya mengangkat telepon dari suaminya.
[Halo, Mas. Kamu cepet pulang, ya. Aku udah siapin makan malam buat kamu di rumah.]
[Maaf, Mei. Sepertinya Mas akan pulang terlambat nanti. Masih ada kerjaan kantor yang belum selesai.]
Dahi Meisya mengernyit mendengar suara suaminya yang aneh. Suara Evan sedikit terengah-engah, seperti orang habis lari maraton saja. Ia berbicara dengan nada lemas seolah telah menghabiskan tenaganya untuk melakukan pekerjaan berat. Padahal pekerjaan kantor bukanlah pekerjaan yang memberatkan fisik, tapi otak.
[Mas, kamu kenapa?. Kok suaranya gitu?. Kamu sakit?]
[Nggak, Sayang. Mungkin Mas cuma kecapekan aja.]
[Tuh, kan. Mas pulang aja, ya. Aku nggak mau Mas sakit. Emangnya kerjaannya nggak bisa dilembur di rumah apa?]
Meisya menunjukkan wajah khawatir. Evan selalu saja bertindak gegabah. Bekerja keras, banting tulang demi mencukupi kebutuhan rumah tangga hingga menyepelekan kesehatannya sendiri.
[Iya, nanti kalau sudah selesai Mas langsung pulang. Kamu nggak usah khawatir. Kalau kamu ngantuk, kamu tidur aja duluan. Nanti Mas nyusul, ya.]
"Mas ... Aku udah buatin kopi nih buat kamu," teriak Bella sembari meletakkan kopi di atas meja kamarnya.
Mata Evan membulat seiring dengan degup jantung yang tak karuan. Dengan cepat ia memberi kode pada Bella. Memintanya untuk diam.
Meisya mengernyitkan dahi. Ia mendengar suara seorang wanita barusan. Apa mungkin telinga Meisya yang salah dengar?.
[Mas, itu suara siapa?. Kayak suara cewek?]
[Iya, Mei. Itu tadi sekretaris aku. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya, ya. Nanti kalau kerjaan aku udah beres, aku langsung pulang. Bye, Sayang.]
Tut tut tut ....
Evan memutuskan sambungan telepon. 
Meisya meletakkan ponsel di atas meja. Terdiam, memikirkan suara siapa yang tadi didengarnya di telepon. Evan bilang itu Bella. Tapi kenapa Bella memanggil Evan dengan sebutan Mas?. 
Sikap Evan juga aneh. Entah mengapa Meisya merasa suara Evan terdengar sangat gugup tadi. Apa Evan berbohong?.
"Ya Allah ... Aku harap firasat burukku ini nggak benar," gumam Meisya lirih.
Setelah mengemasi makanan dan kopi. Meisya kembali ke kamar. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk beristirahat.
Satu jam, dua jam, netra Meisya tak kunjung terpejam. Rasa kantuk dan lelahnya seolah buyar karena bayangan buruk yang melintas di pikiran. Entah mengapa hati Meisya tak tenang, seolah telah terjadi hal buruk yang tak ia ketahui.
Berkali-kali Meisya mengusap layar ponsel yang tergeletak di sampingnya hanya untuk mengetahui jam berapa sekarang. Pukul 12 malam, waktu berlalu begitu lamban tanpa Evan di sisi Meisya. Entah mengapa Evan belum juga pulang ke rumah. Meisya heran, akhir-akhir ini Evan jadi sering pulang lewat tengah malam.
🍓🍓🍓🍓🍓
"Pakai ini, Mas. Jangan sampai istrimu curiga," ucap Bella seraya menyodorkan alat pengering rambut.
"Iya. Makasih, Sayang. Emang nggak salah aku pilih kamu. Kamu ini perempuan yang cerdas," jawab Evan memuji.
Selang beberapa menit, rambut Evan telah kering. Ia mengenakan kembali kemeja yang dipakainya tadi pagi. Dan mengembalikan kemeja biru polos pemberian Bella. Hal sekecil apapun sangat Evan perhatikan untuk menghindari kecurigaan sang istri. Hari ini Evan telah berbohong pada Meisya. Dengan beralasan kerja di kantor, ia bisa pergi dan bersenang-senang dengan Bella. Kesenangan mereka semakin sempurna ketika Bella mengajak Evan ke rumah kontrakannya. Mereka bebas melakukan apapun di sana. Bahkan berhubungan badan layaknya pasangan suami istri.
"Iya dong ... Makanya kamu buruan nikahin aku, Mas. Emangnya kamu nggak bosen apa sama istri kamu itu?. Kamu udah lihat sendiri kan, Mas?. Aku lebih unggul dari Meisya. Lebih cantik, lebih muda dan lebih bisa pu*sin kamu. Iya, kan?" Bella mengusap dada bidang kekasihnya dengan tatapan menggoda.
"Kamu sabar dulu, ya. Aku pasti akan nikahin kamu nanti," sahut Evan sembari mengusap-usap rambut panjang Bella. 
Tak lama Evan mengecup bib*r Bella mesra.
"Mas pulang dulu ya, Sayang. Besok kita ketemu di kantor. Udah malem, kamu istirahat," ujar Evan.
"Iya, Mas. Hati-hati, ya." Bella melambaikan tangan. Menatap Evan yang telah duduk di balik kemudi.
🍓🍓🍓🍓🍓
Suasana yang sunyi membuat semua suara terdengar dengan jelas. Meisya segera beranjak dari ranjang saat mendengar suara mesin mobil milik Evan. Pelan ia menyibak tirai, menyaksikan mobil hitam melaju pelan melintasi pelataran rumah.
Selang beberapa menit Evan memasuki kamar.
"Kok belum tidur, Mei?" tanya Evan sembari meletakkan tas kerjanya di atas laci.
"Aku nggak bisa tidur, Mas. Lagian kamu kok pulangnya malem banget, sih?" Meisya memanyunkan bibir.
"Loh, aku kan udah bilang sama kamu tadi di telepon, Mei." Evan memeluk Meisya dari belakang.
Meisya kembali teringat status WA milik Bella. Jam tangan lelaki itu sama persis dengan jam tangan yang ia hadiahkan pada Evan saat ulang tahun. Gegas Meisya mengambil ponselnya dari atas ranjang.
"Mas, aku mau tunjukkin sesuatu sama kamu," tutur Meisya.
"Apa?"
"Status WA Bella, Mas. Dia foto sama pacarnya. Dan jam tangan yang pacarnya pakai tuh mirip sama jam tangan kamu. Coba kamu lihat dulu deh," jelas Meisya tergesa.
Dengan cepat Meisya mengusap layar ponselnya. Membuka aplikasi berlogo hijau itu di bagian daftar status. Meisya menggulir dari atas sampai bawah. Ia tak menemukan status WA Bella. Aneh, padahal baru beberapa jam status itu dibuat. 
"Mana, Mei?"
"Tadi ada kok, Mas." Meisya masih mencari status WA Bella dengan wajah heran.
Evan menghembus napas lega. Lelaki itu mengusap-usap dadanya yang sempat berdebar-debar.
"Untung tadi aku udah suruh Bella hapus statusnya. Kalau enggak Meisya bisa curiga," batin Evan dalam hati.
    

Komentar Buku (237)

  • avatar
    Sutiarti Tik

    bagus ceritanya...kasian pak bayu dpt istri.licik

    31/07/2022

      1
  • avatar
    SaputraDidit

    lanjutkan

    07/12

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    26/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru