logo text

Bab 34 Panggil Sayang

"Ayo, masuk! Kenapa jadi diam depan pintu begini? Pamali! Nanti jodohnya jauh." Hadi menghentikan suasana canggung ke-tiganya, mendahului masuk setelah menepuk pelan pundak Yusuf yang berdiri di sebelahnya. Pun ketika melewati Raja, Hadi tersenyum penuh pengertian pada calon menantunya, mengharap Raja tidak terpengaruh dengan keberadaan Yusuf di tengah-tengah mereka.
"Ah, iya... Pak," gugup Yusuf mengiyakan ajakkan Hadi, melirik pada Raja yang kini berdiri berdampingan dengan Cahaya, melihat keserasian gadis pujaan dengan lelaki lain membuat Yusuf dibakar api cemburu. Tapi kembali kenyataan menamparnya, siapa dia bagi Cahaya sekarang, hanya mantan pacar yang sudah berstatus duda pula.
'Kasihan sekali bukan?'
'Diam!'
Dan lagi Yusuf membenci apa kata sisi bathinnya.
"Masuklah, A. Silakan!" Cahaya membuka suara pada laki-laki pemilik hatinya dulu, dia hanya sekejap melihat pada Yusuf, tak ingin membuat kesalah pahaman pada Raja yang tengah menatapnya dengan penuh selidik.
Sementara Raja sedang memikirkan panggilan apa yang akan dia minta Cahaya sematkan untuknya, dia tidak ingin Cahaya memanggilnya dengan sebutan Aa lagi, karena terkesan umum dan sama dengan panggilan Cahaya pada mantan pacarnya.
"Ah, iya. Terima kasih, Neng." Yusuf menjawab dengan sengaja memanggil Cahaya dengan panggilan kesayangannya dulu, dia tadi tertohok oleh panggilan sayang Raja, dan kini dia membalas dengan mengingatkan Cahaya pada masa-masa indah mereka dulu. "Mari Raja!" Yusuf mengajak rivalnya itu untuk masuk.
"Ah, silahkan Suf, tamu lebih dulu." Raja menekan kata tamu dengan jelas, membantu mengingatkan Yusuf kalau keberadaannya hanya sebatas pengunjung, bukan bagian anggota keluarga di sana.
Yusuf tersenyum masam, kebenaran ucapan Raja membuatnya tak berkutik. Tapi dia belum menyerah, selama janur kuning belum terpasang di depan rumah Cahaya, Yusuf berharap pohon cintanya masih bisa tumbuh dan bertunas kembali.
Cahaya meraih dan menggenggam tangan Raja mengakhiri perang dingin di antara dua lelaki yang ada di depannya, namun tindakannya itu membuat Yusuf semakin meradang. Karena dulu, jangankan berani menggenggam tangannya lebih dulu, Cahaya bahkan selalu menghindar saat dia ingin meraih tangan gadis itu. Tapi kini, justru Cahaya-lah yang melakukan itu, tapi sayang bukan padanya.
'Arrggh! Kenapa juga kamu harus melakukan itu, Neng?'
Pun Raja yang juga tidak menyangka Cahaya akan melakukan itu, langsung membalas genggaman tangan Cahaya erat, merasa bangga bahwa dialah yang dipilih Cahaya.
"Masuklah, A Yusuf. Tidak enak berdiri di depan pintu terlalu lama, bukannya Aa datang untuk melihat ambu?"
Dan Yusuf harus kembali merasa tidak lagi diharapkan Cahaya, saat gadis itu mengingatkan maksud kedatangannya ke sana, tak lain hanya berkunjung melihat keadaan Rosita, meski hanya dia yang tahu maksud lainnya yang terselubung. Tentu saja menemui Cahaya, tapi sayang semua tidak seperti dugaannya.
"Iya, aku kemari untuk menjenguk ambu," jawab Yusuf pasrah.
"Silahkan masuk, tamu lebih dulu."
Raja menyeringai penuh kemenangan, saat kata-katanya dipakai Cahaya untuk menyadarkan Yusuf sepenuhnya.
"Mari, Suf?! Silahkan." Raja sedikit menarik Cahaya agar memberikan jalan pada Yusuf agar bisa masuk, dan tidak bersentuhan dengan gadisnya tentu saja.
'Dasar possesif!'
'Biarin! Sudah cukup dulu aku bodoh, sekarang tidak!'
'Terserah.'
'Diamlah!'
Dengan tanpa semangat, Yusuf melewati sepasang kekasih itu dengan api cemburu yang terus berkobar di dalam dada, setidaknya pemandangan Raja dan Cahaya yang berpegangan tangan tidak terus dilihatnya.
Begitu Yusuf masuk, Raja meraih lengan Cahaya dan mengarahkan padanya hingga mereka berhadapan. "Kamu sudah tidak mengharapkan dia lagi kan, Sayang? Kamu sudah tidak mencintainya kan?" tanya Raja dengan sorot mata dalam menghujam, mencari sisa rasa yang mungkin tertinggal di hati Cahaya, lewat bening mata indahnya.
Cahaya tersenyum tipis, ingin rasanya dia melabuhkan diri dalam pelukan Raja saat ini, tapi tentu saja itu adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. Tangan Cahaya mengusap lengan Raja, memberikan ketenangan pada calon suaminya itu, kalau apa yang ditakutkannya salah besar, dan tentu saja tidak akan pernah terbukti.
"Sekarang ini, bahkan mungkin dari tiga tahun lalu, sudah ada kamu di hatiku, A. Namun aku terlalu bodoh untuk mengartikan rasaku waktu itu, dan aku... Tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Percayalah, tak ada yang bisa merubah hatiku saat ini. Hanya kamu, A. Kamu! Aku cinta sama kamu, Raja-ku."
Raja merasakan hatinya berdesir hangat, sungguh jawaban Cahaya bagai siraman air dingin di kepenatan jiwanya. Apalagi tadi Cahaya mengatakan cintanya lebih dulu, tidak seperti biasanya dia yang selalu mengungkapkan rasa itu. Apalagi Cahaya juga mengakui tentang rasa yang tertinggal dulu, yang menegaskan bahwa dia sudah ada di hati Cahaya tanpa gadis itu mau menyadarinya. Bodoh memang, karena dulu pun Raja sudah sangat terang-terangan menunjukkan, tapi dengan segala dalih penyangkalan Cahaya memilih membuatnya terbuang.
"Bisa aku pegang kata-katamu, Sayang?"
Cahaya mengangguk pasti, menerbitkan senyuman lebar di wajah Raja. "Tentu saja, A. Pegang kata-kataku."
"Boleh aku meminta satu hal?" ya, Raja akan meminta Cahaya mengganti panggilan untuknya sekarang, saat hati gadis itu tengah berusaha meyakinkannya.
"Apa?" tanya Cahaya dengan dahi mengernyit, dan Raja terkekeh saat mendapati lagi ekspresi itu di wajah sang kekasih, setelah dulu dia melihat itu saat makan siang di restoran siap saji di Seoul.
"Jangan pernah mengernyitkan kening seperti itu, Sayang." Raja mengusap kerutan samar di kening Cahaya lembut.
"Ish! Sudah katakan, apa yang mau Aa katakan tadi?" Cahaya tidak sabar mengetahui apa yang Raja maksudkan.
"Jangan panggil aku Aa!"
"Apa?"
"Jangan panggil aku Aa lagi, karena ternyata kamu pun menggunakan panggilan itu pada dia," jelas Raja tanpa menutupi perasaan cemburunya, atas kehadiran Yusuf yang tidak diduganya sama sekali.
"Dih, kan itu emang panggilan umum, A--"
"Jangan panggil aku Aa!" potong Raja cepat, dia benar-benar tidak nyaman dengan panggilan itu sekarang.
Cahaya menatap heran pada Raja, sungguh ini adalah pertama kalinya Raja dengan ekspresif, menunjukkan sisi lain dari dirinya yang selalu bersikap dewasa. Raja berubah jadi kekanakan! Sedangkan dulu, lelaki itu sangat pandai menutupi rasa cemburu saat melihatnya bersama Kim.
"Kok, Aa jadi seperti anak kecil ya sekarang?" Cahaya tertawa kecil mencoba memahami apa yang sedang berkecamuk di kepala dan hati Raja.
"Tolong, Sayang. Jangan panggil aku Aa. Kumohon!" Raja menatap Cahaya sarat permohonan.
"Lalu apa?"
"Yang lain, selain Aa. Aku mulai tidak suka panggilan itu darimu." Raja semakin merajuk, dan Cahaya seperti mendapatkan celah untuk menggoda lelakinya.
"Baiklah, aku akan memanggilmu dengan panggilan... Bapak? Seperti pertama kita bertemu." Cahaya terkikik puas saat Raja menggeram pelan, dia pikir Cahaya akan memberikan panggilan sayang, ternyata justru semakin menggodanya.
"Ya tidak dengan panggilan itu juga Sayang. Masa sama calon suami manggil Bapak?"
"Loh apa salahnya? Ambu aja manggil bapak pada suaminya, kenapa kita yang masih berstatus calon tidak mau?" rupanya Cahaya sedang ingin menggoda Raja, membuat Raja terlihat menahan kesal karenanya.
"Sepertinya memeluk dan mencium kamu saat ini adalah waktu yang tepat, Sayang. Biar sekalian dinikahkan sama pak RT. Mau?!" ancam Raja penuh kemenangan saat tawa Cahaya langsung terhenti, dan bergerak menjauhinya. Namun karena tangannya masih menggenggam erat jemari Cahaya, gerakan gadis itu pun terbatas.
"Lepas, A! Malu kalau ada yang lihat!" Cahaya mencoba melepaskan tangannya, namun bukannya terlepas Raja semakin menguasainya.
"Jangan panggil Aa!"
"Iya, tapi lepas dulu ini!"
"Nggak, sebelum kamu memenuhi keinginanku."
"Lalu panggil apa?"
"Terserah selain Aa."
"Ya udah manggil bapak!" Cahaya masih saja meledek walau keadaannya sangat tidak menguntungkan, karena Raja malah melangkah memojokkannya.
"Kamu ternyata memang ingin aku peluk, Sayang." ancam Raja dengan seringai mesum yang baru dilihat Cahaya sekarang, membayangkan Raja membuktikan ucapannya membuat Cahaya bergidik ngeri, dan tampaknya lelaki itu tidak sedang sekedar mengancam saja.
"Ok... Aku panggil... Mas."
"Nggak mau!"
"Abang?"
"Big No!"
"Iya apa? Honey?"
Raja langsung melepaskan tangan Cahaya, dia ingat itu adalah panggilan kesayangan Kim pada Cahaya dulu. Dan sekarang dia akan menerima panggilan itu dari Cahaya untuknya? Jawabannya pasti saja tidak. Tidak. Akan. Mau!
"Apa kamu sedang ingat dengan dia, Sayang?" lagi, Raja menunjukkan sisi rapuhnya pada Cahaya, menyangkut lelaki bermata sipit mantan sahabat sekaligus rivalnya.
Cahaya terlihat bingung, dia belum mengerti maksud perkataan Raja. Kata itu keluar begitu saja dari bibirnya tanpa mengingat yang lain.
"Maksudnya?"
"Kamu tidak sedang ingat panggilan Kim untukmu kan, Sayang?" Raja menjauh, sebentar lagi kesempatan Cahaya bertemu dengan Kim terbuka lebar, dan gadis itu seakan sedang mencoba mengingat sesuatu yang berhubungan dengan Kim, menurutnya.
Cahaya tersentak kaget, dia tak menyangka Raja akan berpikir sejauh itu. Bahkan terbersit tentang Kim pun tidak sejak Raja menjadi kekasihnya lagi, lalu bagaimana Raja berpikir seperti itu?
"A... Em, maksudku-- Say-yang!" Cahaya meralat panggilan untuk Raja saat ingat lelaki itu ingin panggilan lain darinya, dan saat itu panggilan sayanglah yang terlintas cepat di benaknya. "Dengarkan aku, aku sudah tidak memikirkan dia. Lagi pula untuk apa? Sudah ada kamu yang menjanjikan kebahagiaan untukku, tak adil rasanya kalau aku terus mengingat dia dan menghadirkannya di antara kita, karena memang sudah tidak ada. Hanya kamu, Sayang. Kamu!" tegas Cahaya penuh keyakinan, mengharap Raja percaya dengan apa yang dikatakannya, mengingat dia pernah mematahkan hati raja sekuat itu.
Raja tersenyum bahagia mendengar panggilan Cahaya untuknya, dan itu benar-benar menghangatkan hatinya. Raja melupakan kecemburuan pada Kim yang beberapa saat lalu membuatnya marah, sekarang hanya bahagia saat kata itu meluncur manis dari celah bibir Cahaya.
"Katakan lagi?"
"Apa?"
"Panggilan baru kamu untukku!"
Cahaya tersipu, tadi saat mengatakan kata itu dia terdorong ingin menenangkan Raja, jadi refleks dia mengatakannya. Tapi sekarang, saat Raja kembali hangat, Cahaya malu untuk mengulang panggilan itu.
"Malu."
"Tadi enggak?!"
"Kan tadi kamu marah."
"Oh jadi aku harus marah dulu, kalau ingin mendengar kamu memanggilku itu?"
"Ish, ya nggak gitu juga."
"Terus?"
"Malu, Sayang." tanpa sadar Cahaya mengatakannya, dan Raja terkekeh pelan.
"Nah, itu bisa. Lagi!"
"Ish, tadi kan keceplosan."
"Makanya biasakan."
"Iya, nanti ya?"
"Nggak!"
"Ayolah, Sayang?!"
"Tuh, bisa!" seru Raja girang, saat Cahaya tanpa sengaja kembali memanggilnya sayang.
Tawa mereka pun berderai di keremangan senja yang semakin merayap pekat.
Kebahagiaan yang terdengar merdu sampai ke ruang tengah, di mana keluarga dan mantan lelaki masa lalunya berada, merdu untuk rungu Hadi sekeluarga, tapi hujaman sakit untuk telinga Yusuf. Sakit, sangat amat menyakitkan.

Komentar Buku (168)

  • avatar
    AmirAmiruddin

    keren

    19/01

      0
  • avatar
    ronanoviana

    kren

    11/09/2025

      0
  • avatar
    ZuswantiniLilik

    save dulu

    17/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru