Mukta yang kembali keluar kamar untuk mengambil air minum, penasaran saat melihat pintu kamar Raja yang akan di tempati Cahaya terbuka. Mendekati kamar dengan perlahan, Mukta bisa melihat Raja dan Cahaya yang sedang berpelukan. Awalnya Mukta ingin masuk dan menjewer telinga Raja, namun saat mendengar percakapan Raja dan Cahaya, yang sedang membicarakan tentang mereka harus terpisah lagi, dia memilih membiarkan. Mukta tentu tidak ingin Raja kembali menunggu Cahaya walau sebentar. Tidak akan. Mukta akan bertindak. Dan saat Cahaya melihatnya dan terlihat ketakutan, Mukta sengaja memasang wajah tak terbaca. Apalagi saat Raja pun terlihat pucat, saat mendapati dirinya berdiri di ambang pintu. "Um-mi?!" "Emm, ini... ini tidak seperti yang Ummi pikirkan, aku--" "Kalian keluarlah. Kita harus berbicara serius sekarang juga. Ummi tunggu di luar." Mukta berlalu setelah mengatakan itu, meninggalkan Cahaya dan Raja dalam prasangka. "Sayang?" Cahaya menatap Raja dengan hati berdebar cemas, dia takut Mukta berubah pikiran tentangnya. Dia trauma akan penolakan. Dua kali kisah cintanya kandas. Dua kali dia tertolak. Apa kali ini semua akan terulang? "Ini salah kamu, Sayang?! Kenapa kamu harus masuk dan memeluk aku? Aku takut ummi berubah pikiran tentang aku, aku takut beliau tidak menyukai aku lagi karena melihat kita berdua di kamar, dan tidak mengindahkan perkataannya tadi." "Tenang, Sayang... Hmm, tenang ya?! Kita tidak melakukan apapun, hanya berpelukan dan itupun tidak lama." Raja menatap Cahaya yang terlihat sangat panik, Raja mencoba meraba apa yang dirasakan oleh kekasihnya itu. "Aku takut, Sayang. Beneran takut. Aku takut sekali." Cahaya merasakan sesak dalam dadanya. Matanya memanas siap meluncurkan bulir bening. Dulu ibu Yusuf menolaknya dengan memarahinya di kedai bakso, lalu ayahnya Kim menolaknya tanpa diberitahu apa alasannya. Lalu sekarang, bahkan calon mertuanya itu melihat langsung dia dan Raja berpelukan di dalam kamar. "Hei, Sayang! Tenang! Itu hanya asumsi kamu saja. Kenapa kamu terlalu jauh berpikir? Tenang saja, semua baik-baik saja. Ummi tidak akan marah karena apa yang dilihatnya tadi, ingat kita tidak melakukan apapun." Raja kembali merengkuh Cahaya dalam pelukan, pelukan menenangkan yang dia harap bisa memberikan rasa nyaman. Namun bukannya tenang, Cahaya malah meronta bergerak menjauh. "Jangan peluk, Sayang. Jangan." "Ok, aku nggak peluk. Kita keluar sekarang ya?! Ummi nunggu kita, hemm?!" Cahaya mengangguk, mengusap wajah mencoba mengusir ketakutannya sendiri. Merapalkan kalimat positif untuk dirinya, bahwa semua akan baik-baik saja. Dan andaikan yang terburuk harus berlaku, maka Cahaya akan hadapi dengan lapang dada. Raja menarik tangan Cahaya pelan, menggenggam erat tangan itu, melangkah beriringan keluar kamar. Hati Cahaya semakin mengkerut, saat tak ada wajah seramah tadi saat Mukta pamit untuk tidur. "Duduk dekat Ummi, Sayang." Ada kelegaan yang menjalari hati Cahaya mendengar panggilan Mukta yang tetap memanggilnya, sayang. Dia berharap itu adalah pertanda baik. Menoleh pada Raja, Cahaya meminta izin Raja yang langsung mengangguk menyetujui. Sedikit ragu, Cahaya berjalan mendekati Mukta setelah cekalan tangan Raja dia lepas. "Jangan takut. Ummi bukan ingin membahas tentang kalian berpelukan tadi," kata Mukta tanpa perduli pada sepasang kekasih yang kini sudah bersemu wajahnya. "Duduk, A. Jangan deket-deket Aya tapi," lagi Mukta membuat Raja menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ih, Ummi kenapa jadi galak gini sih? Nggak asyik," protes Raja lalu memilih duduk di dekat Mukta, dari pada menerima lagi kata sindiran ibunya. "Coba jelaskan, apa maksudnya kalian akan berpisah sebentar lagi?" tanya Mukta kemudian, dengan menatap bergantian pada Cahaya dan Raja yang duduk mengapitnya. Raja menatap Mukta penuh tanda tanya, dia heran bagaimana ibunya itu tau tentang apa isi percakapannya tadi dengan Cahaya. Yang jadi pertanyaan, sudah berapa lama Mukta ada di sana? "Ummi... dengar?" "Ya denger lah! Orang Ummi di sana saat kalian lagi pelukan." Cahaya kembali merasa panas di wajahnya. Mukta dan semua kata-katanya, ternyata Mukta tidak berubah pikiran tentangnya. Semua prasangka tidak terbukti. "Itu, tentang Cahaya yang akan kembali ke Korea minggu depan, Ummi." "Apa? Cahaya akan kembali dikirim ke Korea? Tidak. Ummi tidak setuju. Kalian baru saja bersatu, kenapa harus berpisah lagi? Ke sana lagi. Nggak, Ummi nggak setuju. Jangan pergi ya, Sayang?!" Mukta melihat pada Cahaya, meminta gadis yang dicintai putranya itu akan menyetujui permintaannya. "Ummi, perusahaan membutuhkan Cahaya." Raja mencoba memberikan pengertian. "Dan kamu tidak?! Begitu?" Cahaya memeluk tangan Mukta, melihat betapa sayangnya Mukta padanya, Cahaya tentu saja lebih memilih mengikuti keinginan calon mertuanya itu. "Aya juga tidak ingin pergi, Ummi. Aya ingin di sini saja. Dengan Ummi, A Raja, dan semuanya." "Sayang... kita sudah bahas itu loh tadi, masa mau berubah pikiran lagi?!" ingat Raja. "Cahaya benar, emang tidak ada orang lain yang bisa diminta pergi selain Cahaya, A? Aneh aja," protes Mukta. "Bukan tidak bisa Ummi, tapi kalau orang lain yang pergi, mereka harus belajar lagi dari awal semuanya. Dari bahasa dan lain sebagainya, Um. Kan tujuan pengiriman kembali ke sana, untuk mempelajari apa yang menjadi sebab gagalnya produk di sini, yang pergi juga semua yang pernah pergi dulu, teman Cahaya semua." "Iya, tapi bisakan kamu mengusulkan kalau Cahaya nggak pergi? Aneh kamu ini." "Loh, jabatan Raja di sana apa? Dan sebagai apa, Umm? Tidak ada wewenang, Ummi sayang." Raja memberikan pengertian pada Mukta yang kini memeluk Cahaya, terlihat sekali kalau ibunya itu sangat menyayangi calon istrinya, kekhawatiran yang sempat singgah di hati Cahaya, Raja yakin terhapus sudah. "Tapi Ummi nggak bisa melihat kalian berjauhan lagi, A. Rasanya nggak terima. Nggak rela. Atau bagaimana kalau kalian nikah aja dulu? Jadi sudah jelas status kalian, dan Ummi juga bisa tenang melepaskan Cahaya pergi. Tidak akan khawatir seperti ini. Bagaimana?" Cahaya yang tengah bersandar manja pada Mukta menegakkan tubuhnya, menatap pada Mukta juga Raja. Hatinya menyetujui permintaan Mukta, tapi setelah pembicaraan dengan Raja tadi, dia jadi berpikir ulang tentang hal itu. "Mau ya, Sayang?!" tanya Mukta meminta kepastian. "Aya setuju saja, Umm. Tapi tadi Aa bilang tidak harus seperti itu juga. Lagi pula hanya enam bulan, Umm. Nanti sepulang dari sana mungkin kita bisa melangsungkan rencana, kita susun bagaimana baiknya, jadi begitu Aya kembali bisa langsung melaksanakan saja." "Ummi tetap tidak tenang, Sayang. Nggak rela. Ummi takut kejadian kemarin terjadi lagi." Tanpa sadar Mukta telah membuka kembali cerita lalu, dan Cahaya hanya bisa menundukkan kepala merasa tertampar oleh kata-kata Mukta. Melihat sikap Cahaya yang terlihat tidak nyaman, Raja memilih pindah duduk di lengan sofa dekat Cahaya, karena tidak mungkin juga dia menegur Mukta yang tanpa sengaja menyinggung hati Cahaya. "Kenapa pindah? Udah jauh-jauh, maunya nempel aja." Mukta yang belum menyadari perubahan Cahaya, menegur Raja ketus. "Pengen deket, Ummi... masa Ummi nggak kasihan sama kami yang mau berpisah ini? Cuma duduk deketan, ada Ummi juga." Raja menghempaskan bokongnya pelan di lengan sofa, menundukkan badannya sedikit hingga bisa berbisik tepat di telinga. "Jangan ambil hati ucapan Ummi, Sayang." Cahaya mengangkat kepala, menatap Raja lalu mengangguk paham."Iya, Sayang." "Tuh, kan... sekarang malah bisik-bisik." Mukta kembali menegur, dan Raja langsung menegakkan badannya, mengusap pundak Mukta dengan senyuman di bibir. "Bukan bisikin apa-apa kok, Umm." "Jadi bagaimana ini? Kenapa kalian tidak membicarakan ini tadi?" "Rapatnya saja baru tadi siang, Umm. Dan aku baru menyampaikan tentang ini pada Cahaya juga tadi di mobil, dia juga sama seperti Ummi baru tau tadi." "Tapi Ummi beneran tidak bisa membiarkan kalian terpisah lagi. Kapan tepatnya Cahaya harus pergi, A?" tanya Mukta yang kembali meraih tangan Cahaya, dan menggenggamnya erat. Cahaya kembali merebahkan kepalanya di pundak Mukta, bermanja pada wanita yang sudah dengan tangan terbuka menerimanya. "Paling cepat minggu depan, besok baru akan diberitahukan pada semua orang yang akan dikirim ke sana." "Sepertinya kita harus membahas ulang semuanya, A. Ummi mau kalian menikah dulu, sah dulu. Kamu mau kan?" kembali Mukta mengemukakan keinginannya, dia tidak ingin hal buruk terjadi setelah Cahaya pergi nanti. "Raja mau saja, Ummi. Sangat ingin malah. Tapi coba Ummi pikirkan, apa Ummi tidak ingin memberitahukan pada semua orang tentang menantu Ummi? Membuat pesta meriah untuk kami?" "Ya nanti pestanya, yang penting ikatan kalian lebih kuat dulu," ujar Mukta tetap dengan pemikirannya. "Tapi moment-nya beda loh, Ummi... tadi juga kami sudah bahas ini, jadi tolong Ummi mengerti, ya?" Mukta terdiam, benar apa yang Raja katakan, dan dia memilih untuk mengikuti saja apa yang menjadi keputusan Raja dan Cahaya. "Kalian yakin?" tanyanya menatap Raja dan Cahaya bergantian. "Kami yakin. Bukan begitu, Sayang?" Cahaya mengangguk menanggapi pertanyaan Raja, dan Mukta hanya bisa menghembuskan napas pelan. "Baiklah, kalau itu memang sudah menjadi keputusan kalian. Walaupun sebenarnya, Ummi berharap kalian bisa menikah lebih dulu sebelum Cahaya pergi, biar lebih tenang." "Aya janji tidak akan mengecewakan A Raja, Ummi. Aya juga... sangat mencintai Aa," pelan Cahaya mengakui perasaannya untuk Raja pada Mukta, membuat Raja tersenyum bahagia begitu pun Mukta. "Ya sudah, Ummi ikuti semua rencana kalian. Sudah malam, tidurlah. Ingat jangan ada aksi menyelinap lagi!" Cahaya terkekeh pelan, sementara Raja siap melayangkan protesnya atas pernyataan Mukta. "Menyelinap bagaimana, Ummi? Pintu kamarnya terbuka gitu." "Ya sama saja, tidurlah. Ummi juga maksudnya mau ambil minum tadi, malah lihat yang lagi pelukan di kamar, jadi lupa."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
keren
19/01
0kren
11/09/2025
0save dulu
17/07/2025
0Lihat Semua