logo text
Ada Cinta di Desa

Ada Cinta di Desa

Darmawati212


Bab 1 Kekacauan di Jakarta

"Qihan! Zuo Qihan! Kamu denger Papa nggak, sih?!"
Suara berat Zuo Ming, ayah Qihan, menggelegar di ruang tamu rumah megah mereka di Jakarta Selatan. Tapi yang dipanggil, si empunya nama, Zuo Qihan, pemuda berusia 19 tahun dengan tatapan angkuh dan rambut acak-acakan yang sengaja ditata berantakan, hanya sibuk mengotak-atik ponselnya. Ia mengenakan kaus oblong hitam dan celana jeans robek, aura arogan terpancar jelas dari sorot mata tajamnya.
"Papa ngomong sama kamu, Qihan!" Kali ini Zuo Ming sampai menggebrak meja kopi di depannya. Qihan sedikit terlonjak, akhirnya mengangkat pandangan.
"Apaan sih, Pa? Berisik banget. Aku lagi push rank nih," jawabnya santai, seolah tidak ada masalah sama sekali.
Zuo Ming menarik napas dalam, berusaha meredam emosinya yang sudah di ubun-ubun. "Kamu tahu ini udah jam berapa?! Jam tiga pagi, Qihan! Tiga pagi! Pulang jam segini, abis balapan lagi? Tawuran lagi?!"
Qihan mendengus. "Biasa aja kali, Pa. Kan cuma balapan. Lagian, aku nggak kenapa-kenapa kan?"
"Nggak kenapa-kenapa kamu bilang?!" Zuo Ming berdiri, menunjuk wajah putranya. "Dua hari lalu kamu bolos kuliah, hari ini kamu hampir bikin anak orang patah kaki gara-gara ulahmu di jalanan! Uang jajan kamu habis buat hal nggak penting! Kapan kamu mau berubah, Qihan?!"
Di sudut lain ruangan, ibu Qihan, Xiao Ling, hanya bisa memijat pelipisnya. Keempat orang tua dari para sepupu ini sedang berkumpul, menghadapi masalah yang sama: kenakalan anak-anak mereka yang tak ada habisnya.
Di sofa seberang, Zhang Guiyuan, si sulung berusia 20 tahun yang tampak paling tenang, hanya bersandar malas dengan mata terpejam. Ia tak peduli dengan kegaduhan di sekitarnya, seolah ini adalah pemandangan biasa. Rambutnya yang sedikit panjang menutupi sebagian matanya, menambah kesan cuek.
"Guiyuan! Kamu juga! Bukannya kasih contoh adek-adekmu, malah ikut-ikutan berandalan!" suara  Xiao Mei, ibu Guiyuan, memecah ketenangan Guiyuan.
Guiyuan membuka mata sedikit, melirik ibunya. "Contoh apaan, Ma? Emang aku salah apa?" tanyanya datar.
"Salah apa kamu bilang?! Bolos kuliah, nongkrong di markas geng motor, ngabisin uang buat rokok sama minuman! Kamu pikir Papa sama Mama nggak tahu?!" Ayah Guiyuan, Zhang Wei, ikut menimpali, nadanya tak kalah geram.
Guiyuan hanya mengedikkan bahu, kembali memejamkan mata. "Santai aja kali, Pa. Kan udah biasa," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
"Biasa?!" seru Xiao Mei, nyaris histeris.
Sementara itu, di sisi lain ruangan, Zhang Yiran, gadis berusia 19 tahun, sedang asyik memainkan kukunya yang baru di-cat warna-warni. Ekspresinya menunjukkan kebosanan.
"Yiran! Kamu dengerin Papa sama Mama nggak?!" Suara ayah Yiran, Zhang Dong, terdengar tajam.
Yiran mendongak. 
"Denger, Pa. Kenapa lagi sih? Aku kan nggak balapan atau tawuran kayak mereka."
"Memang kamu nggak balapan! Tapi kamu ngabisin uang Papa buat belanja barang nggak jelas, tas-tas mahal yang cuma numpuk di lemari, sama makeup segudang! Kapan kamu mau belajar mandiri, Yiran?!" timpal ibu Yiran, Liu Jia.
Yiran mendengus. "Ya kan emang tugas Papa Mama ngasih uang buat aku belanja. Lagian, itu buat self-care!"
Liu Jia mengelus dada, mencoba menenangkan diri. "Pokoknya kali ini udah keterlaluan! Kalian berempat benar-benar nggak bisa diatur lagi!"
Tiba-tiba, suara ceria Nie Weichen, pemuda berusia 18 tahun itu terdengar. Ia sedang mencoba menarik perhatian dari keributan dengan live di TikTok.
 "Hai gaes! Lihat nih drama keluarga gue! Seru banget kan? Jangan lupa like dan subscribe!"
"Weichen!" seru ayah Weichen, Nie Feng, yang paling tenang di antara yang lain, tapi kali ini nada suaranya tegas. "Tutup itu ponselmu! Ini bukan bahan tontonan!"
Weichen cemberut, mematikan ponselnya. "Yah, Papa kok gitu? Kan lumayan nambah followers."
"Nambah followers kepala puyengmu! Kamu tahu kamu habis ngerjain satpam komplek sampai nyaris nangis?! Kamu itu udah gede, Weichen! Jangan cuma bisa gombalin cewek sama bikin onar!" tegas ibu Weichen, Liu Yan.
Weichen nyengir. "Kan aku cuma bercanda, Ma. Lagian, satpamnya lucu kalau lagi panik."
"Candaanmu kelewatan! Kalian semua kelewatan!" Zuo Ming akhirnya mengambil keputusan. Ia menatap satu per satu wajah sepupu-sepupu itu. "Kami sudah putuskan. Kalian akan kami kirim ke Bandung."
Sontak, keempatnya terdiam. Zuo Qihan yang tadinya angkuh, Guiyuan yang cuek, Yiran yang galak, dan Weichen yang ceria, semuanya memandang orang tua mereka dengan ekspresi terkejut.
"Bandung? Ngapain, Pa?" tanya Qihan, alisnya mengernyit.
"Kalian akan tinggal di rumah Kakek Huang Long. Kalian akan bantu-bantu Kakek di sana," jawab Zuo Ming.
"APA?!" seru Yiran, "Ke rumah Kakek? Nggak mau! Di sana kan nggak ada sinyal, nggak ada mal, nggak ada apa-apa!"
"Itu hukuman kalian! Kalian nggak boleh pulang sebelum bisa jadi anak yang berguna, berbakti, sopan, dan menyadari kesalahan kalian!" tegas Zhang Wei.
Guiyuan akhirnya bersuara, nadanya datar. "Nggak salah denger? Kami disuruh ke desa? Yang bener aja."
"Ini bukan lelucon! Kalian sudah membuat kami pusing tujuh keliling. Ini pertama kalinya kalian ke sana. Dulu setiap mau diajak, ada saja alasannya nggak mau ikut. Sekarang, tidak ada lagi alasan!" ucap Liu Jia.
Weichen mencoba menawar. "Tapi, Ma... aku kan harus latihan balapan. Terus nanti gimana sama cewek-cewek yang aku gebet?"
"Lupakan balapanmu! Lupakan cewek-cewekmu! Sekarang yang penting kalian belajar jadi manusia yang lebih baik!" Liu Yan tak kalah tegas.
Keempat sepupu itu saling pandang. Mereka tahu, kali ini, mereka benar-benar tidak bisa melawan.
****
Pagi itu, mobil SUV hitam melaju membelah jalanan Jakarta yang masih sepi. Di dalamnya, empat remaja dengan wajah kusut dan mata sembab. Mereka adalah Zuo Qihan, Zhang Guiyuan, Zhang Yiran, dan Nie Weichen. Suasana di dalam mobil begitu hening, hanya ada suara deru mesin dan sesekali napas berat yang keluar dari salah satu di antara mereka.
Yiran memandang keluar jendela, wajahnya ditekuk.
 "Ini seriusan kita mau ke sana? Aku nggak bisa bayangin hidup tanpa sinyal internet, tanpa mall, tanpa cafe!" gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri.
"Halah, lebay lo," sahut Qihan, matanya masih terpejam. "Paling juga cuma seminggu. Abis itu juga dijemput lagi."
Guiyuan membuka mata, melirik Qihan. "Lo pikir gampang? Ortu kita udah ngancam bakal blokir semua kartu kredit. Bahkan ponsel kita cuma boleh buat telpon darurat."
Mata Qihan langsung terbuka lebar. "Seriusan?! Berarti nggak bisa main game online dong?!"
Weichen yang sedari tadi diam, tiba-tiba tertawa renyah. "Mampus lo, kak Han! Rasain! Makanya jangan terlalu songong!"
Qihan menatap Weichen tajam. "Diem lo, bocil! Lo juga kena kan?!"
"Ya, tapi kan gue nggak separah lo. Gue masih bisa ngomong sama cewek-cewek di sana!" Weichen menyenggol lengan Qihan.
"Cewek-cewek di desa? Lo yakin?" Qihan mendengus. "Paling juga pada culun semua. Nggak level."
Yiran menghela napas. "Mending mikirin gimana kita bisa bertahan hidup di sana. Nggak kebayang mau ngapain. Mana di sana cuma ada Kakek sendirian lagi. Nanti kalau disuruh bantu nyangkul gimana?"
"Nyapu aja gue nggak pernah, apalagi nyangkul," Guiyuan berkomentar datar. 
"Gue sih, paling nggak bisa kalau disuruh diam. Bakal stres gue," Qihan mengacak rambutnya.
Weichen menepuk bahu Qihan. "Tenang, kak. Nanti kita bikin bandung rasa jakarta. Kita bikin balapan liar di sawah, atau bikin konser dadakan di tengah ladang jagung!"
"Gila lo!" Yiran menoyor kepala Weichen. "Mau dihukum makin parah sama Kakek?!"
Perjalanan terasa sangat panjang. Melewati jalan tol yang padat, kemudian masuk ke jalanan yang lebih lengang, dihiasi pemandangan hijau yang mulai mendominasi. Jakarta yang riuh pelan-pelan tertinggal di belakang, digantikan oleh hamparan sawah dan pepohonan rindang.
Setelah berjam-jam, akhirnya mobil itu berbelok masuk ke sebuah jalan setapak yang sempit. Jalanan mulai berbatu dan berlubang. 
"Ini beneran jalan masuk desanya?" tanya Qihan, alisnya naik sebelah. "Kok kayak mau masuk hutan?"
"Emang jalan desanya kayak gini, tuan muda," jawab sopir, yang sudah sering mengantar orang tua mereka ke sana.
Yiran merengut. "Aduh, ini AC-nya kok jadi nggak berasa ya? Panas banget."
Weichen membuka kaca jendela sedikit. "Wah, udaranya seger juga ya. Wangi tanah."
"Wangi tai ayam kali!" Qihan menoyor kepala Weichen lagi.
Tak lama, terlihat rumah-rumah sederhana berjejer di sisi jalan. Rumah-rumah itu sebagian besar terbuat dari kayu atau bata sederhana, dengan halaman yang asri. Suara ayam berkokok, burung berkicau, dan anak-anak bermain di jalanan, menciptakan suasana yang sangat berbeda dari Jakarta.
"Nah, itu dia rumah Kakek kalian," ujar sang sopir, menunjuk sebuah rumah kayu yang cukup besar dengan halaman luas, dikelilingi pepohonan buah.
Mobil berhenti di depan rumah itu. Keempat sepupu itu turun, membawa tas punggung masing-masing. Mereka memandang sekeliling, dengan ekspresi campuran antara terkejut dan enggan.
Seorang pria tua dengan rambut memutih dan senyum ramah berdiri di depan pintu. Ia mengenakan kaus polos dan celana longgar. Matanya berbinar melihat kedatangan cucu-cucunya. Dialah Kakek Huang Long.
"Cucu-cucuku sudah sampai!" seru Kakek Huang Long, melambaikan tangan.
Qihan, Guiyuan, Yiran, dan Weichen saling pandang. Rasanya aneh melihat kakek mereka yang selama ini hanya mereka temui sesekali di Jakarta, kini berdiri di tengah desa yang sepi ini.
"Halo, Kek," sapa Weichen paling pertama, dengan senyum paksa.
"Masuk, masuk! Kakek sudah siapkan makanan kesukaan kalian!" ajak Kakek Huang Long dengan antusias.
Mereka pun melangkah masuk, meninggalkan keramaian Jakarta dan memulai babak baru hidup mereka di desa yang asing ini.
****
Di desa yang asri itu, hiduplah dua gadis bersaudara yang sangat berbeda. Yang Bowen, gadis manis berusia 18 tahun dengan rambut panjang tergerai, sedang menata kue-kue di etalase toko kue ibunya. Senyumnya selalu terukir di bibir, meski pagi itu ia agak cemberut.
"Kak Hanrui, kamu yakin kue lapisnya nggak gosong?" tanya Bowen pada kakaknya.
Yang Hanrui, gadis berusia 20 tahun, dengan rambutnya yang dikepang dua, sedang sibuk bercermin, memoles bibirnya dengan lip gloss. 
"Aduh, Bowen! Udah kamu urus aja itu. Aku kan lagi make sure penampilanku cetar membahana!"
"Cetar membahana terus, kapan bantuin aku angkat nampan kuenya?" Bowen menggerutu.
"Sebentar, honey. Biarkan aku menikmati momen ini," jawab Hanrui dengan genit, mengibas rambutnya.
Tiba-tiba, terdengar suara tawa riuh dari arah jalanan. Tiga pemuda tampak sedang asyik bercanda sambil berjalan ke arah toko. Mereka adalah Wang Lujie, Chen Yiheng, dan Li Jiasen. Lujie dengan wajah datarnya, Yiheng dengan senyum lebarnya, dan Jiasen yang terlihat kalem.
"Wah, Wang Lujie, Chen Yiheng, Li Jiasen!" seru Hanrui dengan nada ceria, langsung mengibaskan rambutnya lagi.
Lujie hanya menatap Hanrui dengan tatapan julid. "Pagi-pagi udah tebar pesona aja, Hanrui."
"Sirik aja kamu, Lujie! Ini kan namanya menjaga penampilan!" Hanrui mendengus.
Yiheng hanya tertawa. "Kuenya apa aja hari ini, Bu?" tanyanya pada ibu Hanrui dan Bowen yang muncul dari dapur.
"Banyak, Nak! Ayo, sini masuk," jawab ibu mereka ramah.
Sementara Yiheng dan Jiasen memilih kue, Lujie melirik Bowen. "Bowen, kenapa wajahmu ditekuk gitu? Nggak kayak biasanya."
Bowen mendengus. "Gimana nggak ditekuk, kak Lujie. Kak Hanrui nih dari tadi cuma sibuk dandan, bantuinnya cuma sedikit."
"Halah, cengeng banget sih lo, Wen!" ledek Hanrui.
"Bukan cengeng! Ini namanya realistis!" Bowen membela diri.
Tiba-tiba, seorang gadis pendek dengan langkah energik masuk ke toko. Dia adalah Chen Sihan , sahabat Hanrui dan Bowen. 
"Pagi, girls! Wah, wangi kue! Udah nggak sabar nih mau makan!"
"Sihan! Pagi-pagi udah nyerbu aja!" Hanrui tertawa.
"Hehehe, kan enak kam makan kue buatan bibi," Sihan nyengir.
Tidak lama setelah itu, pintu toko terbuka lagi. Kali ini, masuk seorang gadis yang terlihat ceria dan selalu kelaparan. Dia adalah Chen Junmimg. 
"Pagi, Bowen! kak Hanrui! Bibiiii! Ada kue apa aja hari ini?! Aku lapar banget Pengen makan kua buatan bibi!" seru Junming, suaranya nyaring.
"Junming! Kamu ini, pagi-pagi udah kayak kesetanan aja!" Bowen menggelengkan kepala.
"Habis, perutku nggak bisa dibohongin, Wen. Dari semalem udah mimpiin kue bolu buatan ibumu!"
 Junming langsung mengambil beberapa potong kue bolu dan melahapnya dengan cepat.
"Gila, Junming. Kalau makan pelan-pelan dikit kenapa?" Yiheng tertawa melihat tingkah Junming.
"Nanti keburu habis sama kalian!" Junming menyahut dengan mulut penuh.
Obrolan mereka berlanjut dengan candaan dan tawa. Suasana toko kue selalu ramai dan hangat. Hanrui dan Bowen sesekali akan berkeliling desa untuk menjual kue jika stok di toko masih banyak. Itu juga menjadi alasan mereka bisa jalan-jalan dan melihat suasana desa.
****
Hari itu, setelah toko mulai sepi, Hanrui dan Bowen memutuskan untuk berkeliling menjual kue. Mereka berjalan santai, keranjang kue di tangan Bowen, sementara Hanrui sibuk bersenandung.
"Bowen, nanti kita ke rumah Kakek Huang Long ya? Udah lama kita nggak jenguk beliau," ajak Hanrui.
"Iya, Kak. Aku juga kangen sama Kakek," jawab Bowen. "Semoga Kakek sehat-sehat aja."
Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak, melewati hamparan sawah hijau yang luas. Aroma padi dan tanah basah memenuhi udara. Tak jauh dari rumah Kakek Huang Long, mereka melihat sebuah mobil SUV hitam terparkir.
"Mobil siapa itu, Kak?" tanya Bowen penasaran.
Hanrui mengernyit. "Nggak tahu. Kayaknya bukan mobil orang sini deh."
Mereka terus berjalan hingga tiba di depan rumah Kakek Huang Long. Pintu rumah terbuka, dan terdengar suara Kakek Huang Long yang sedang berbicara dengan seseorang. Saat mereka melangkah mendekat, tiba-tiba pintu terbuka lebih lebar, dan empat sosok remaja laki-laki dan perempuan muncul dari dalam.
Mereka berempat tampak tidak nyaman dengan pakaian kota mereka di tengah suasana desa. Ada yang menatap sekeliling dengan angkuh, ada yang cuek, ada yang cemberut, dan ada yang cengar-cengir.
Qihan, yang paling depan, secara tidak sengaja bertatapan mata dengan Bowen. Mata tajam Qihan yang sombong bertemu dengan mata Bowen yang ramah namun sedikit terkejut. Qihan langsung membuang muka, seolah tidak peduli. Bowen sendiri merasa sedikit terintimidasi dengan tatapan Qihan yang menusuk.
Hanrui melihat Guiyuan, yang tampak dingin dan cuek. Ia langsung merasa tertarik. "Wah, siapa mereka?" bisiknya pada Bowen.
"Kayaknya tamu Kakek deh," jawab Bowen pelan.
Kakek Huang Long menyadari kehadiran Hanrui dan Bowen. "Oh, Hanrui! Bowen! Sini, Nak!" panggilnya dengan senyum lebar. "Pas sekali, cucu-cucu Kakek dari Jakarta baru saja sampai!"
Keempat sepupu itu kembali menoleh ke arah Hanrui dan Bowen. Mereka saling pandang, aura kota dan desa berbenturan di udara. Ini adalah awal dari perkenalan mereka, yang akan mengubah segalanya di desa kecil ini.

Komentar Buku (39)

  • avatar
    caeraa

    lanjutttt jiee

    19/07

      0
  • avatar
    Kartini

    kapannn lanjutnyaaaaa jieeee nunggu nihhhh btww bagusss bgttt ceritanyaaaaa

    14/07

      0
  • avatar
    AiniQori Nur

    bagus banget jie

    02/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru