Bab 45

Bab 45
Kamu Milikku
Riana mengangguk patuh. Ia melangkah naik ke lantai dua, menuju kamar Tristan yang berada di ujung lorong. Rumah itu masih sunyi, hanya terdengar detak jam dinding yang berdentang pelan.
Ia berhenti di depan pintu kamar Tristan. Menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pelan.
“Permisi, Tuan … sudah pagi.”
Tak ada jawaban.
Riana mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras. “Tuan Tristan, sudah pagi. Oma minta Tuan bangun.”
Masih sunyi.
Riana menelan ludah. Dengan hati-hati ia memutar knop pintu yang ternyata tidak terkunci. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan Tristan yang masih terlelap di atas ranjang besar, tubuhnya setengah tertutup selimut, rambutnya acak-acakan. Dan seperti biasa, Tristan tidur hanya mengenakan celana kolor.
Riana melangkah masuk dengan canggung karena sudah lama libur. “Tuan, sudah jam enam lewat. Tuan harus bersiap ke kampus.”
Tristan bergeming. Hanya alisnya yang sedikit berkerut seolah terganggu.
Riana mendekat, menjaga jarak aman. “Tuan …”
Tiba-tiba tangan Tristan bergerak cepat, menarik pergelangan tangan Riana hingga gadis itu terhuyung dan hampir jatuh ke atas kasur menimpa tubuh Tristan.
“Tuan—!” Riana terkejut, matanya membulat.
Tristan membuka mata perlahan. Tatapannya masih buram oleh kantuk, namun ketika fokusnya kembali, ia menyadari siapa yang ada di hadapannya. Bibirnya melengkung tipis.
“Sayang …” suaranya serak. “Kamu akhirnya kembali.” Tristan melebarkan lengannya ingin memeluk Riana. Namun gadis itu berkelit menghindar.
Riana mencoba menarik tangannya. “I-iya, Tuan. Lepasin dulu, nanti kalau Oma—”
Tristan melepas cengkeramannya, lalu bangkit duduk. Ia mengusap wajahnya kasar, tampak baru sadar sepenuhnya. “Maaf. Refleks.”
Riana mundur satu langkah, menunduk. “Saya mau siapin air mandi dan pakaian Tuan.”
Tristan menatap punggung Riana yang hendak berbalik. “Tunggu.”
Riana berhenti. “Iya, Tuan?”
“Kemarin … kamu aman 'kan?” tanya Tristan, nada suaranya terdengar biasa, tapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.
Riana mengangguk. “Iya. Sepupu saya nunggu di rumah.”
Tristan mendengus kecil. “Yang namanya Arya itu?”
Riana terkejut, tapi tetap menjawab jujur. “Iya, Tuan.”
“Hm.” Tristan berdiri, langkahnya mendekat. “Dia kelihatan posesif.”
Riana semakin menunduk. “Mas Arya cuma khawatir.”
Tristan berhenti tepat di depan Riana, jaraknya membuat jantung gadis itu berdegup tak karuan. “Kamu milik siapa sekarang, Riana?”
Pertanyaan itu membuat Riana membeku.
“Saya… saya bekerja di sini, Tuan,” jawabnya pelan, berusaha tenang meski dadanya terasa sesak.
Tristan tersenyum miring. “Jawaban aman.”
Ia lalu melangkah menjauh, seolah tak ingin memperpanjang. “Siapin aja. Gue mandi dulu.”
Riana menghembuskan napas lega. Ia segera keluar dari kamar, jantungnya masih berdegup keras.
Di dapur kecil lantai dua, Riana menyiapkan pakaian, handuk, dan perlengkapan kuliah Tristan. Tangannya gemetar tanpa sadar.
Bayangan Arya kembali terlintas di kepalanya. Tatapan marah, cemas, dan rasa tidak rela itu.
“Kenapa semuanya jadi rumit…” gumamnya lirih.
Beberapa menit kemudian, Tristan keluar dari kamar mandi dengan kemeja terbuka dan handuk di bahu. Riana refleks memalingkan wajah.
“Kopi,” ujar Tristan singkat.
“I-iya, Tuan,” Riana bergegas menyiapkan.
Saat Riana meletakkan cangkir kopi di meja, Tristan menatapnya lama. “Udik.”
“Iya?”
“Mulai sekarang, gue yang jemput dan anter Lu.”
Riana mendongak cepat. “Tapi—”
“Itu bukan permintaan.” Nada Tristan datar, penuh tekanan. “Gue nggak suka barang gue diatur orang lain.”
Riana tercekat. Ia mengepal ujung roknya, merasa berada di persimpangan yang salah.
Meski hatinya sepenuhnya cinta pada Tristan, tapi dia kadang khawatir soal status sosial mereka yang bagaikan langit dan bumi.
Tristan telah rapi dan ganteng dengan setelannya. Karena di kamar itu hanya ada mereka berdua, Tristan mendorong tubuh Riana hingga mentok ke dinding.
Tristan mengecup bibir Riana pelan, rasa candu itu sulit dia kendalikan.
"Sayang, aku mau sarapan di kamar." Tristan mengusap lembut pipi Riana.
"Tuan, ini di rumah. Kalau Nyonya atau yang lainnya liat, bisa bahaya."
Riana tak heran lagi, kalau sudah berdua saja seperti ini, Tristan pasti akan berubah manja dan akan kembali bersikap arogan dan dingin kalau di luar.
Tristan tersenyum tipis, masih menahan tubuh Riana dengan satu tangan di sisi dinding. Tatapannya turun-naik menelusuri wajah gadis itu, seolah menikmati kegugupan yang tak bisa disembunyikan Riana.
“Tenang aja,” bisiknya rendah. “Mereka masih di bawah.”
Riana menelan ludah. Tangannya mendorong dada Tristan pelan, bukan benar-benar menolak, tapi memberi jarak. “Tuan, tolong… jangan di sini.”
Ada jeda beberapa detik. Tristan menatap Riana lama, lalu akhirnya mundur selangkah. Sifat manjanya mereda, digantikan ekspresi datar yang biasa ia pakai di depan orang lain.
“Siapin sarapan aja,” ucapnya dingin, seolah kejadian barusan tak pernah ada.
Riana menghela napas lega, meski dadanya masih naik turun. “Baik, Tuan.”
Ia bergegas keluar kamar, meninggalkan Tristan yang kini sedang merapikan jam tangan di pergelangan tangannya. Begitu pintu tertutup, Tristan menyandarkan punggung ke dinding, rahangnya mengeras.
“Susah banget ngontrol diri …” gumamnya.
Di dapur lantai bawah, Riana menyiapkan sarapan dengan pikiran kacau. Sentuhan tadi masih terasa nyata di kulitnya. Ia tahu, berada terlalu dekat dengan Tristan selalu berbahaya, bukan hanya untuk reputasinya, tapi juga untuk hatinya sendiri.
Tak lama, Oma Rimelda masuk ke dapur. “Riana, Tristan sudah bangun?”
“Sudah, Nyonya. Lagi siap-siap,” jawab Riana sambil tersenyum sopan.
Tristan turun beberapa menit kemudian, kembali menjadi cucu kesayangan Oma Rimelda yang rapi, tenang, dan nyaris tak tersentuh emosi. Ia duduk di meja makan, sama sekali tak menatap Riana.
Namun saat Riana menyuguhkan sarapan, jari Tristan sengaja menyentuh punggung tangannya sekilas.
Riana terkejut, refleks menarik tangannya. Tristan hanya tersenyum samar, seolah berkata lihat aku dong sayang.
***
Di luar rumah, entah kenapa, Arya kembali merasa gelisah. Ada firasat buruk yang semakin kuat, seakan Riana sedang berada di tempat yang salah, bersama orang yang tak seharusnya terlalu dekat dengannya.
"Apa Riana bantu kerjaanku aja ya, nggak usahlah kerja di tempat lain. Tapi kan, aku bangun bengkel." Gumam Arya bingung.

Komentar Buku (43)

  • avatar
    ErdyErdy

    baguss

    12/05/2025

      0
  • avatar
    DytamiiYaya

    Keren uiii

    19/03/2025

      0
  • avatar
    ChumairohAlief

    bagus suka

    27/02/2025

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda