logo text

Bab 17. Menahan Rasa

“E la dalah, kok berhenti. Kenapa, to?”
Andai si mbak ini tahu yang sebenarnya.
Namun, wanita berusia awal dua puluhan ini, karena sejak kecil dilatih sang ibu untuk berpikir dahulu sebab akibat dari ucapannya, maka ia menahan diri mengatakan yang sebenarnya kepada wanita yang baru hitungan hari dikenalnya. Pikirannya yang lebih dewasa dari usianya, membuatnya hanya menceritakan sesuatu yang umum dan telah diketahui orang lain saja. Ia sangat rapi menyimpan rapat-rapat masalah pribadi, walaupun ia sebenarnya sangat ingin mencurahkan isi hati, menumpahkan tangis di bahu seseorang yang kemudian menghiburnya.
**
Kumandang Adzan Duhur hampir tenggelam di antara deru kendaraan yang lalu lalang di jalan raya di kota Sriwijaya yang dikenal juga dengan Kota pempek, bertepatan dengan jam istirahat para insan yang mencari rezeki di kantor itu.
Trisni menutup komputernya. Ia berniat melaksanakan kewajiban empat rakaatnya di musala asrama di lantai tiga. Gegas melangkah menapaki anak-anak tangga yang terbuat dari keramik berwarna putih, dengan pagar besi Stainless Steel bulat di sisi kiri-kanannya.
Trisni memandangi Kirana yang tampak seperti tidak punya semangat. Terasa aneh melihat Kirana tampak sedikit kurus dari biasa, dan tidak seceria sebelum sahabatnya itu menikah. “Kalau nak cerito. Seperti biaso, aku siap menampung.” Ia menawarkan bantuan.
“Iyo.” Kirana menjawab singkat. Seulas senyum menghiasi bibir. Namun, Trisni menangkap senyum itu tampak hambar. Ia yakin ada luka di balik senyum Kirana.
“Di pipimu ado cak lebam. Kenapo.” Trisni meneliti wajah sahabatnya.
“Mano?” Tangan Kirana berpura-pura mencari-cari dengan meraba wajahnya sendiri.
“Ini nah.” Trisni menunjuk pipi Kirana yang menampakkan bekas lebam yang mulai terlihat samar.
“Oh, ini. Emm itu ... kebentur pintu.” Tidak ada cara lain selain mencoba berbohong untuk menutupi masalah pelik yang sedang dihadapinya.
“Nian?” Trisni menatap tidak percaya.
“Iyo.”
Trisni teringat masa kecil, saat ia dan ibunya masih hidup bersama lelaki yang lebih pantas disebut monster.
“Jangan, Kak! Anak kito masih kecik. Jangan kau pukul dio.” Ibunya mengiba di kaki bapak, demi melindungi tubuh mungilnya.
“Minggir, Kau!” Mata bapak menatap ke arah ibunya nyalang.
Buk!
“Jangan ...! Au! Ya Allah,” jerit ibu bersamaan dengan tubuhnya yang limbung, terhuyung-huyung jatuh menimpa tubuh putri kecil yang tengah dilindunginya.
“Minggir! Kalau kau dak biso ngajari dio, biar kuajari cak mano sopan santun.”
“Dio tu cuma budak kecik, Kak. Tapi dio itu nyuruh kakak salat. Nyuruh baik, Kak.”
Hari itu adalah hari pertama Trisni mengingat ibunya dengan punggung memerah bekas sebatan ikat pinggang, karena melindungi dirinya yang membuat sang ayah naik pitam gara-gara dibangunkan saat tengah tertidur lelap.
“Kenapo, Tris? Kau menatapku sampai cak itu.” Kirana membuyarkan lamunan Trisni.
Trisni tidak menyadari tatapan pada sahabatnya kosong. Ia bisa mengenali bekas memar di pipi Kirana. Ia yakin betul memar itu memar yang sama seperti yang ada di punggung ibunya, dulu.
“Kirana! Samo orang lain mungkin kau bisa berbohong, tapi samo aku idak.” Ia menatap netra sahabatnya dengan tatapan sendu.

“Maksud kau?”
“Apo Kak Adnan melakukan KDRT samo kau?” telak. Pertanyaan yang diajukan Trisni bagai anak panah yang melesat dari busur, dan menancap tepat di jantung Kirana, hingga Kirana tidak bisa mengingkarinya. Mulutnya terkunci. Tidak ada kata-kata lain yang terlontar selain kata, “Iyo.”
Bergetar, kalimat pendek itu meluncur begitu saja dari mulut mungilnya tanpa bisa dikendalikan. Seakan mewakili hatinya yang tengah terluka.
“Aku siap menampung, kalau kau ingin mencurahkan isi hatimu, kapan saja.” Untuk ke dua kalinya Trisni menawarkan diri. Iya yakin sahabat kecilnya menyembunyikan suatu luka yang berusaha ditelannya sendiri.
Kirana hanya mengangguk, menyembunyikan rasa pedih di dalam hati. Serapi apa pun ia menyembunyikannya pada Trisni, ternyata tidak bisa. Sahabat sejatinya ini seperti seorang yang bisa membaca isi hatinya, hanya dari melihat raut wajah dan sorot matanya.
“Kau harus bertindak, Kirana. Jangan diam!” Matanya berkilat, seakan menyimpan kemarahan yang begitu dalam.
“Bagaimana caranya?” Rasa ingin tahu mendorong Kirana melontarkan pertanyaan itu. Ia merasa akan membutuhkan bantuan Trisni, walaupun ia sendiri tidak begitu yakin karena di dalam tubuhnya ada benih yang sedang tumbuh, dan akan memerlukan kehidupan keluarga yang utuh.
“Kau harus menyimpan nomor polisi, agar kau bisa melaporkannya sewaktu-waktu Adnan berlaku kasar. Kau jugo harus menceritakan pada orang tuamu, agar tidak terjadi sesuatu yang lebih parah lagi.”
“Iyo, Tris. Nanti aku pikirkan.”
“Jangan sampai terlambat, Kir. Kau harus berjaga-jaga.”
“Aku lagi hamil, Tris.” Air mata Trisni yang sejak tadi mengembang di pelupuk mata, kini mulai jatuh setitik demi setitik di pipi halus yang putih kemerahan.
“Hamil?” Trisni terpana. Mulutnya menganga, bola mata coklatnya mulai meredup. Direngkuhnya bahu Kirana, tidak ada lagi kata yang terlontar dari bibirnya. Ia hanya bisa memberikan sebuah dekapan erat sebagai tanda dukungan pada sahabat yang ia kira sangat beruntung dan telah menemukan kebahagiaan bersama lelaki tampan idaman kaum hawa itu.
“Kukira kau hidup senang, Kirana.”
“Idak, Tris. Hidup dengan lelaki tampan dan mapan tidak menjamin kebahagiaan. Aku cak hidup di balik penjara, Tris. Adnan memiliki kepribadian ganda.” Kirana sesenggukan dalam dekapan Trisni. Dadanya terasa penuh sesak oleh kepedihan dan kekecewaan.
“Kehidupan ganda cak mano, Kir?” Trisni meminta penjelasan.
“Maaf!” suara seseorang menyadarkan mereka berdua. Keduanya menoleh pada seorang gadis muda calon TKW baru yang tanpa mereka sadari telah berada sangat dekat di belakang mereka.
“Kata Bu Rindya, Mbak Kirana sudah ditunggu di bawah oleh suaminya.”
“Iya, Mbak. Makasih ya, Mbak.” Kirana menarik tubuhnya dari dekapan Trisni. Kemudian ia menangkupkan kedua tangannya di dada, sebagai tanda terima kasih pada gadis itu.
“Aku harus cepat balik, Tris.” Trisni mengangguk. Tangannya menepuk bahu Kirana beberapa kali.
Kirana berjalan masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya yang sembab karena tangis. Dilapnya wajah itu dengan sapu tangan lembut dari dalam saku blazer berwarna moka yang dipakainya.
Ia memandangi ruangan asrama yang lengang, karena para calon TKW sedang menikmati makan siangnya di ruang makan, sebagian tengah menjalankan salat Duhur di musala, dan beberapa orang lagi masih berada di kantor imigrasi.
Kirana merasa berat harus meninggalkan semua ini, karena semuanya telah menjadi bagian hidup Kirana. Setelah ini, semua hanya akan menjadi sebuah kenangan indah yang akan tersimpan di dalam ingatannya.
**
Adnan melempar senyum manis pada Kirana, meninggalkan rasa cemburu di hati si bos Rindya yang telah menjadi milik seseorang nun jauh di seberang sana.
Kedua tangannya terkembang menyambut tubuh mungil Kirana, dan merengkuhnya ke dalam pelukan.
Kirana menerima perlakuan manis sang suami dengan senyum yang dipaksakan. Ia harus menekan kekecewaan dan kemarahan yang membuncah di dalam dada. Ia memutar otak memikirkan mencari kalimat yang akan disusunnya untuk mengungkapkan rasa kecewanya nanti bila sudah sampai di rumah.
Namun, Adnan tidak membawa mobilnya menuju rumah. Ia ternyata membawa istri kecilnya pada salah satu tempat kerjanya. Kirana tidak memiliki pilihan selain memaksakan diri untuk selalu memasang wajah ceria di hadapan para karyawan suaminya.
“Tempat ini memerlukan sentuhan wanita, kalau kau ingin kerja. Kito jugo biso selalu samo-samo.” Adnan membuka percakapan, setelah mereka berdua duduk di sofa yang biasa digunakan Adnan menerima tamu yang menjadi pelanggannya.
Kirana memilih diam, belum mengerti ke mana arah pembicaraan Adnan. Apa maksudnya? Kirana masih memendam amarah, dan ia ingin segera menumpahkan amarahnya. Namun, tidak mungkin mereka berdebat di sini, di hadapan para karyawan suaminya. Ia khawatir kalau itu terjadi, bukan nya jalan keluar yang di dapat, bisa jadi malah Adnan yang naik pitam, lalu kembali menyiksa fisiknya seperti kala itu. Atau ... Jangan-jangan Adnan memang sengaja membawanya ke tempat ini, agar dia tidak bisa mengungkapkan kemarahan setelah dia mengetahui perbuatan Adnan yang membuat surat pengunduran diri tanpa sepengetahuan Kirana?

Komentar Buku (21)

  • avatar
    AmeliaIkhsani

    terbaik

    12/06

      0
  • avatar
    HasimHasim

    keren

    03/06/2025

      0
  • avatar
    athirahshafa

    BAGUS KAKK

    26/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru