Beranda/Bimbing Aku Taubat, Dik./
HAMPA
“Aku mohon, izinkan aku tinggal di sini, Mak,” pinta Kirana menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca dan bibir bergetar.
Semua yang ada di ruangan itu menyarankan Kirana untuk ikut pulang bersama suaminya, tetapi Kirana berkeras ingin tetap tinggal dengan alasan ingin melahirkan anak pertama tanpa jauh dari ibunya, karena masih merasa canggung dengan mertua. Tentu saja alasan yang dikemukakan Kirana membuat sang ibu tertegun.
“Nak Adnan, mungkin memang sebaiknya Kirana di sini dulu bersama kami. Umak bisa memahami kesulitan, karena Umak juga membayangkan melahirkan diurus mertua itu mungkin memang canggung. Apalagi Kirana belum ada pengalaman. Macam mana, Nak?” Soleha menatap menantunya dalam. “Boleh dak Kirana tinggal di sini dulu untuk sementara?”
Cukup lama Adnan terpekur, menimbang-nimbang keputusan yang tengah dinanti oleh Kirana dan keluarganya. Walau pun keputusan itu ada di tangannya, akan tetapi dia tidak mau gegabah. Apalagi sekarang dirinya tengah berada di keluarga Kirana. Seorang diri.
“Okey lah, Mak, kalau begitu. Aku titip istriku di sini dulu. Nanti aku akan datang seminggu sekali.” Akhirnya apa yang diharapkan Kirana terucap juga dari bibir Adnan. Seulas senyum tersungging manis di bibirnya. Pada akhirnya, semua sepakat mengizinkan Kirana untuk tetap tinggal, karena alasan yang dikemukakan wanita yang tengah hamil enam bulan itu bisa dimengerti.
Namun, lain pikiran ibu, lain pula dengan apa yang ada di benak Adnan. Lelaki itu mengiyakan mertuanya karena terpaksa. Sesungguhnya ia merasa sangat kesal pada sang istri, karena dia sudah capek-capek menempuh perjalanan jauh, tetapi tidak membuahkan hasil.
Betapa tidak, perjalanan dari Palembang ke rumah orang tua Kirana yang hanya bisa ditempuh dengan kendaraan air selama beberapa jam hingga sampai di dermaga, lalu dari dermaga pun masih harus ditempuh dengan berjalan kaki beberapa kilo meter, karena tidak ada ojek yang mangkal. Apalagi dengan kondisi jalan yang belum diaspal, adalah sebuah perjuangan berat bagi Adnan yang sejak kecil terbiasa hidup di kota, ke sana ke mari menggunakan mobil pribadi. Hanya sewaktu-waktu dia menggunakan sepeda motor, bila menempuh lorong jalan jerambah.
Namun, lelaki yang masih trauma dengan hancurnya rumah tangga pertama dengan Artika beberapa tahun yang lalu itu, mulai merenung. Ia mulai memikirkan nasehat ibunya, bahwa dirinya memang harus mengoreksi diri dan belajar mengalah, demi kelangsungan hidup bersama Kirana, wanita yang memberinya ketenangan lahir dan batin. Wanita yang lemah lembut dalam bertutur kata dan selalu berhati-hati dalam gerak langkahnya, dan begitu hormat padai suami.
Tidak seperti Artika yang berbicara lantang dan sering kali memaksakan kehendak. Bila sudah A kata Artika, maka Adnan tidak bisa memintanya menjadi B, walau dengan rayuan apa pun. Usia yang lebih tua dan pendidikan lebih tinggi membuat Artika seakan memposisikan dirinya memiliki kedudukan lebih tinggi dari suami.
Adnan menyadari semua itu. Oleh sebab itu lah lelaki yang hanya menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas, sebelum memutuskan menggapai impiannya sebagai seorang prajurit TNI yang kini telah menjadi kenangan, dia tidak mau melepaskan wanita selembut Kirana dari pelukannya.
Namun, walau tidak mudah, kini Adnan harus belajar bersabar menghadapi Kirana. Karena wanita lembut itu begitu sulit ditaklukan. Lembut budi bahasa dan perangainya, tetapi pendiriannya. Lelaki pemilik mata indah dengan bola mata elangnya itu menatap sang istri yang hatinya seakan mulai menjauh. Detik ini, Adnan tiba-tiba mulai mengingat nama Tuhan. Dia memohon pada Allah untuk mendekatkan hati istrinya.
**
Malam itu Adnan melampiaskan kekesalan hatinya dengan menyerang Kirana di tempat tidur. Rasa kesal dan rasa takut kehilangan yang terpendam, menjelma menjadi sebuah hasrat yang menggila.
“Aduh! Sakit, Kak. Pelan-pelan, aku ‘kan lagi hamil.” Kirana meringis merasakan perlakuan suaminya yang seperti singa lapar. Akan tetapi, Adnan seakan tidak peduli karena hatinya dipenuhi rasa marah yang tak tersalurkan. Tidak ada rasa Bahagia yang kirana rasakan saat menunaikan kewajibannya sebagai serang istri. Ia menyerahkan dirinya hanya demi sebuah kewajiban, sebagai seorang muslimah yang memahami betul perintah Tuhannya.
Esok harinya Adnan bertolak kembali ke kota Palembang. Dengan diantar oleh Kasim, adik Kirana dengan menggunakan motor butut kesayangannya, Adnan menuju dermaga.
“Minggu depan, kau pensiunkan bae lah motor tua ini. Ganti dengan motor baru.” Adnan membuka percakapan, demi mengusir jenuh .
“Oi, dak ada duit, Kak. Macam mana nak ganti. Memangnya beli motor pake daun.” Kasim terkekeh menanggapi saran kakak iparnya.
“Kalau aku yang suruh, tentu aku lah yang bayar, woy.” Adnan terkekeh meninju pelan paha adik iparnya, dan Kasim melengkungkan bibir. Ia sudah menduga kalau suami kakaknya itu akan membelikannya. Tadi dia hanya berpura-pura saja mengatakan tak punya uang, karena untuk meminta langsung, tentu saja ia malu.
Bagaimanapun pendidikan agama yang ditanamkan kedua orang tuanya, ia pegang teguh. Meski hidup jauh dari kemewahan, tetapi pantang baginya untuk menadahkan tangan meminta-minta.Kasim termasuk pemuda yang taat, walaupun terkadang jail.
“Nian, Kak?”
“Ai dah, kenapa pula kau tanya macam itu? Kau ini macam dak tahu aku bae.”
“Asyik. Motor baru. Yuhuuu!” Kasim berteriak girang, membuat Adnan terkekeh.
“Tapi ada syaratnya.”
“Hah! Apa itu, Kak?” Kasim sedikit memelankan laju motornya.
“Kau mesti antar jemput, tiap aku nak bolak-balik Palembang, cak mano?”
“Oh, okey, Bos. Gampang lah itu.”
“Jangan gampang-gampang. Kau itu tukang tidur. Jangan-jangan kau malah pulas pas aku datang.”
“O, demi motor baru. Idak lah, Kak. Ha ha. Sudah lama aku pengen nak motor baru, tapi dak ada duit”
“Okey, minggu depan, ya. Kau tunggu aku di dermaga.”
“Siap, Bos, he he.”
**
Adnan termenung di tepi ranjangnya yang dingin. Ia menatap foto pengantin di atas nakas. Tanpa Kirana di sisinya, hatinya terasa hampa.
Sebelum menikahi Kirana, hari-harinya tak pernah sepi dari wanita. Deretan panjang wanita muda nan cantik-cantik mengantre berusaha dengan berbagai cara mendekatinya. Siapa yang tak tertarik pada pria tampan pemilik usaha bengkel mobil yang cabangnya tersebar di beberapa kota.
Namun, setelah bertemu Kirana, wanita dusun yang menambat hatinya pada pandangan pertama itu telah memenjarakan hatinya, hingga ia tak bisa berpaling pada wanita lain, bahkan Rindya, cinta pertamanya. Akan tetapi, tampaknya kecemburuan Kirana pada Rindya tak pernah terpadamkan. Perang dingin selalu menjadi akhir setiap pembicaraan mereka menyangkut-nyangkut nama wanita masa lalunya itu. Akan tetapi, betapa perang dingin itu mengindikasikan besarnya rasa cinta wanita itu. Ah, tiba-tiba saja Adnan merasa sangat merindukan wanita yang perutnya telah membuncit itu ada dalam pelukan hangatnya.
Adnan mendekap erat guling yang dingin. Ia kini bagai ABG yang tengah jatuh cinta. Memejamkan mata kala terasa sebuah tangan lembut menyelusup dan melingkar di pinggangnya. Bahkan ketika bobot tubuh wanita itu kini terasa berat di punggungnya. Adnan menikmati kehangatan empuk perut buncit yang menempel di kulitnya dengan senyum tersungging hingga ia terlelap.
**
Nun jauh di sana ….
“Aduh, kenapa perut ini semakin terasa sakit?” Tangan berjari lancip itu menahan perut bagian bawah yang terasa nyeri. Dari rasa nyeri yang dahsyat itu berubah menjadi mual. Kepala pusing, sementara perut bagian bawahnya semakin terasa mengejang.
“Mak! Umak!”
Soleha menajamkan pendengarannya kala mendengar suara lain selain suara sikat cuci yang tengah ia gosokkan pada helai demi helai baju yang tengah dicucinya.
“Kirana?” batinnya. Pirasatnya tidak enak. Ia segera membasuh tangan dan bergegas berjalan masuk ke rumah menuju kamar putrinya.
“Mak! Tolong, Mak.” Dari ambang pintu, dia mendapati Kirana meringis kesakitan sembari memegang perut bagian bawah.
“Kir! Kenapa kau, Nak?”Soleha mendekat dengan wajah cemas.
“Dak tau lah, Mak. Ini perutku sakit nian.”
“Kau terlalu banyak makan pedas tadi malam, yo? Kurangi lah makan pedas kalau kau lagi hamil.” Soleha membantu Kirana merebahkan tubuhnya di Kasur.
“Tapi aku dak makan pedas, Mak. Cuma ….” Kalimatnya menggantung. Tidak mungkin lah dirinya berterus terang awal mula rasa sakit di perutnya. Bagi Kirana, karena masalah ini terlalu pribadi untuk dibicarakan dengan ibunya.
“Cuma apa?”cecar wanita berusia menjelang setengah abad itu dengan pandangan yang sulit Kirana artikan.
“Mungkin aku kecapaian, mak.” Hampi saja dia keceplosan, kalau tidak segera ingat rasa malu.
Mata sipit yang sudah mulai dihiasi beberapa kerutan di sana-sini itu masih menatap Kirana tak percaya. Dia sanagat menghkhawatirkan kesehatan putrinya, akan tetapi feling seorang ibu menangkap sesuatu yang disembunyikan. Yakin putrinya tengah menyimpan sesuatu yang tidak ingin dia katakana. Dan dia harus menghargai keputusan itu, kini putrinya telah dewasa, bahkan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Soleha tidak akan menanyakannya hari ini. Tapi besok akan.
BERSAMBUNG ….
Nah, lo.
Kira-kira gimana nanti jawaban Kirana, ya? 🤔Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (21)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
terbaik
12/06
0keren
03/06/2025
0BAGUS KAKK
26/05/2025
0Lihat Semua