Bab 13

Bab 13
Setelah puas bermain Amira dan teman-temannya akhirnya pulang. Wajah yang tadi ceria kini terlihat murung. Mey dan Yani hanya memperhatikan tanpa berani bertanya. Mereka bukan tidak peduli pada Amira, hanya saja memberi waktu untuk sekedar menata pikiran yang kalut.
"Mbak Mira kita udah nyampe, ayo turun." Ucap Yani saat angkutan kota yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan Stasiun Kota Lama. Amira hanya mengangguk tanpa berkata apa pun. Tatapannya terlihat kosong.
Mey dan Yani menatap pilu, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mendoakan kebaikan untuk Amira.
"Mbak Mey, Mbak Mira, aku duluan ya," Yani pamitan karena rumahnya berada di gang yang berbeda.
Amira terlihat mengangguk samar, sedangkan Mey melambaikan tangannya.
"Mbak Mir, kalau ada apa-apa sebaiknya ceritakan, jangan di simpan sendiri ya, ingat kesehatan," ucap Mey dengan suara pelan. Sengaja dia berbicara saat Yani sudah benar-benar menjauh.
Amira menghentikan langkahnya, menatap Mey yang juga tengah menatap dirinya.
"Aku ..."
"Kalau belum siap, ya gak papah. Sebaiknya sekarang Mbak Mira tenangkan pikiran. Jangan banyak melamun,"
"Makasih banyak, Mbak Mey,"
"Sama-sama, Mbak, kita ini sesama perempuan dan berada di perantauan, jangan sungkan untuk minta tolong atau cerita. Tidak semua hal bisa di selesaikan dengan cara diam, yang ada jadi beban pikiran," tutur Mey. Dia sangat berharap Amira bisa terbuka dan tidak menyimpan beban pikirannya sendiri. Mey tahu, jika Amira tidak terbiasa dengan hal itu.
"Aku tahu, Mbak Mira bukan orang yang terbiasa mengatakan hal-hal pribadi, tapi, tidak salah kok kalau sekedar sharing biar pikiran kita gak sumpek dan mencari jalan keluar. Insya Allah, Mbak, dengan begitu beban pikiran kita akan berkurang,"
"Iya, Mbak Mey, makasih nasihatnya,"
"Utamakan ngadunya sama Allah, kalau ke kita sih sharing yang ringan-ringan saja hehe," lanjut Mey di selingi kekehan.
"Iya, Mbak Mey, mungkin ini juga teguran buatku. Karena udah lalai pada kewajiban dan terlalu larut dalam urusan duniawi,"
"Alhamdulillah, Allah masih sayang sama mbak Mira, buktinya masih di beri teguran. Mungkin Dia ingin mbak Mira mengingat-Nya lebih sering," Amira mengangguk setuju.
Semua yang terjadi dalam hidupnya tidak lepas dari sikap dirinya sendiri. Sering lalai akan kewajiban utama pada sang Khalik, juga mengabaikan nasihat orang tua yang selalu meminta dirinya menutup aurat.
Amira selalu beralasan suaminya tidak menyukai dirinya yang mengenakan pakaian tertutup. Katanya mirip ibu-ibu dan norak jika Prasetya melihat Amira mengenakan gamis.
Amira mengucap beribu syukur karena orang-orang yang ada di sekitarnya sangat baik dan begitu memperhatikan dirinya.
Sampai di rumah Amira segera berganti pakaian dan memandikan Zein. Menghabiskan sore dengan berkumpul bersama keluarga dan beberapa tetangga di teras rumah.
Bibirnya yang selalu tersenyum manis membuat siapa pun tidak akan pernah mengira jika dia sedang menghadapi masalah yang cukup berat.
***
Setelah telepon terputus Prasetya langsung bangkit dan menghampiri Laras. Emosinya sampai di ubun-ubun karena wanita itu dengan sengaja memancing kemarahan dirinya pada saat sedang menelepon Amira.
"Kamu sengaja, hah? Biar Mira denger suaramu dan marah padaku?" Bentak Prasetya pada Laras. Wanita di hadapannya hanya mengulas senyuman sinis melihat Prasetya marah.
"Halah, sudahlah! Lebih cepat dia tahu, itu lebih baik. Ingat ya, Pah, kamu itu cuma pengangguran di sini, kalau bukan karena duitku, bisa apa kamu?" jawab Laras tak kalah pedas.
Prasetya mengacak rambutnya, dia sangat frustrasi memikirkan kemarahan Amira jika hubungan gelapnya terbongkar nanti.
Prasetya tidak siap sama sekali andai Amira pergi dari kehidupannya. Itu sesuatu hal yang teramat sangat di takutinya.
"Ingat, Pah, jangan berbuat macam-macam. Aku bahkan berani kalau seandainya harus bicara jujur pada istrimu yang penyakitan itu!" Teriak Laras saat melihat Prasetya keluar dari kontrakan tanpa menghiraukan dirinya.
Hatinya sangat sakit karena selama ini hanya memiliki raga Prasetya saja tanpa pernah bisa menggantikan posisi Amira di hatinya.
Laras sudah melakukan berbagai hal untuk tetap berada di samping Prasetya, memberinya uang dan membelikannya barang-barang yang sekiranya tidak akan sanggup Prasetya dan Amira untuk membelinya.
Cinta yang selama ini dia agung-agungkan dan sudah terpendam selama bertahun-tahun lamanya, baru sekarang ini di sambut oleh Prasetya. Walaupun Laras harus meninggalkan suami dan juga kedua anaknya.
Padahal suami Laras orang sangat baik dan bertanggung jawab. Memiliki usaha sendiri dan terbilang sangat mampu untuk membiayai kehidupan Laras serta anak mereka.
Sayang, nafsu dan ambisinya untuk mendapatkan Prasetya membuat Laras lupa diri. Dia menggugat cerai suaminya dan menitipkan kedua anaknya.
Laras pergi ke kota Batam dan bekerja di sana. Semula dirinya hanya bekerja di sebuah pabrik elektronik, akan tetapi, penghasilannya tidak mencukupi untuk biaya sehari-hari.
Akhirnya Laras bekerja di sebuah warung. Pekerjaan yang sangat ringan karena hanya menemani pelanggan minum sambil karaoke saja. Tapi, uang yang dia hasilkan sangat banyak. Laras sangat senang karena dengan uang itu dia bisa menahan keberadaan Prasetya untuk tetap di sampingnya.
Laras tahu kelemahan lelaki itu, malas bekerja tapi berkeinginan untuk selalu memiliki uang. Makan enak, tidur nyenyak tanpa harus repot-repot membuang tenaga.
Menjelang malam Prasetya tak kunjung pulang, Laras terlihat sangat khawatir. Bukan khawatir jika lelaki itu kena musibah, namun, khawatir dirinya di tinggalkan.
Laras menatap jam dinding, sudah pukul 8 malam. Tapi, belum ada tanda-tanda Prasetya akan pulang. Dengan perasaan gelisah Laras akhirnya keluar rumah dan menuju warung tempat dia bekerja.
Laras bekerja dari pukul 9 malam sampai pukul 2 dini hari. Terkadang dia akan pulang menjelang subuh jika kebetulan ada kapal bersandar dan para awaknya mampir untuk sekedar bersenang-senang.
Sepanjang malam Laras tidak bisa konsentrasi karena terus memikirkan Prasetya. Beberapa orang temannya bahkan ada yang pernah menasihati supaya menjauhi lelaki seperti itu. Selain memiliki anak dan istri Prasetya juga mau dekat dengannya karena uang saja. Namun, cinta butanya mengalahkan logika. Pikirannya seakan mati, hati pun tertutup oleh nafsu.
"Kenapa lagi, Ras?" tanya seorang wanita berpakaian seksi.
Laras mengedikkan bahu. "Biasalah, urusan sama laki," jawabnya sambil menyesap minuman ringan.
"Bukannya kemarin si Mami sudah bilang, jauhi itu laki. Kamu itu cuma dimanfaatkan saja sama dia,"
"Ck. Kamu mana paham sih, perasaan aku sama dia itu sudah mendarah daging. Dari aku remaja di pendam dan sekarang udah kesampaian masa mau di tinggal? Yang benar saja,"
"Sakarepmu, Ras, jangan sampai suatu saat menyesal ya, kamu itu perempuan, malah nyakiti sesama. Jangan sampai kelak anak gadismu kena karma tuh." Laras tak acuh mendengar omongan pedas teman kerjanya.
Apa salah jika dirinya mencintai seseorang dan berkeinginan untuk terus hidup bersamanya? Batin Laras.
"Pikir baik-baik, Ras, apa sih untungnya ngerumat laki gak jelas gitu? Kalau kamu mau, cari tuh om-om yang banyak duitnya. Bukan laki kere yang cuma ngandelin isi kolornya,"
Laras tertegun untuk beberapa saat. Dia memang sangat terpuaskan jika bicara urusan ranjang dengan Prasetya. Apa mungkin karena hal itu juga yang membuatnya enggan jauh dan melepaskan?
***
Jadwal keberangkatan Amira masih 5 hari lagi. Tanpa membuang-buang waktu Amira dan kedua sahabatnya menghabiskan sisa hari bersama. Pergi jalan-jalan dan mengunjungi beberapa tempat wisata yang berada di daerah Malang.
Bahkan mertua dan kakak iparnya menyuruh Amira untuk bersenang-senang. Mereka berpikir dengan begitu Amira akan cepat pulih seperti sedia kala. Ada satu hal yang tidak mereka ketahui, bahwa penyakit dalam seperti itu tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Sedangkan Prasetya tidak ada kabar semenjak terakhir kali menelepon Amira. Padahal Rosa sudah berkali-kali menghubunginya, akan tetapi, Prasetya seolah menghindar.
Amira hanya bisa pasrah mengetahui sang suami mengabaikan keberadaan dirinya serta Zein.
Percuma saja pikirnya menghabiskan waktu memikirkan orang yang sama sekali tidak mengingat dirinya. Batinnya benar-benar sangat lelah.
Amira duduk santai sambil melihat anaknya yang sedang berendam di kolam air hangat. Menikmati uli yang di siram kuah tape ketan hitam. Sungguh nikmat, berada di bawah rimbunan pohon-pohon pinus dengan embusan angin sepoi yang menerpa kulit wajah.
"Mbak Mira! Mau pisang goreng gak?" Yani berteriak dari kejauhan seraya menunjukkan bungkusan pisang goreng. Amira mengangguk, hampir semua jajanan dia cicipi. Tapi, perutnya sama sekali tidak merasa kenyang.
"Beli di mana, Yan?" tanya Amira setelah Yani duduk di sebelahnya.
"Tuh, di dekat kolam pemandian yang paling bawah,"
"Enak. Apalagi masih panas begini,"
"Enak pake banget. Apalagi tinggal hap," sela Mey sambil tertawa.
Amira menatap sekeliling. Hutan lindung yang masih asri dan juga kolam pemandian air panas alami. Entah kapan dia akan datang lagi ke sana, bermain dan bercengkerama bersama sahabat-sahabatnya.
"Pulang dari sini kita makan bakso yang di seberang Stasiun yuk?" ajak Mey pada kedua temannya.
Amira dan Yani mengangguk dengan cepat. "Hayu," jawab Amira antusias.
"Iya ya, kapan lagi kita kumpul seperti ini. Mbak Mir, kalau udah di Jakarta, jangan lupakan kita ya?"
Amira tersenyum mendengar permintaan Yani. Tentu saja dia tidak akan pernah lupa, Yani dan Mey orang yang selalu ada di saat dirinya kesusahan ataupun senang.
"Iya, Mbak Mir, jangan lupa kalau kita pernah demo depan pabrik juga ya," Mey ikut menyahuti sambil tertawa.
Amira ikut tertawa mengingat dirinya dan juga teman-temannya yang pernah mendemo pemimpin pabrik tempat mereka kerja.
"Gak bakalan lupa sampai kapan pun.”
***
Sudah tiga hari Prasetya tidak pulang ke kontrakan Laras dan selama itu juga dia keliling ke tempat teman-temannya untuk menanyakan lowongan pekerjaan.
Beruntung salah seorang teman Prasetya ada yang berbaik hati dan mengajaknya bekerja di salah satu gerai makanan siap saji di Lucky Plaza.
Prasetya sangat gembira karena pada akhirnya dia bisa bekerja. Pekerjaannya pun terbilang ringan, hanya menjadi waiter. Dia di beritahu baru boleh masuk keesokan harinya.
Prasetya bernapas lega, apalagi setelah mendengar dari temannya kalau gaji bulanan di sana lumayan besar. Belum di tambah bonus penjualan yang akan di bagikan setiap awal bulan. Pulang dari Plaza Prasetya langsung menuju kontrakan Laras. Tujuannya hanya untuk mengambil pakaian dan barang-barang pribadinya saja.
Semenjak pertengkarannya dengan Laras emosinya belum surut walaupun sudah berlalu beberapa hari. Prasetya sudah bertekat untuk pergi dan menjauhi wanita itu. Apalagi dia masih sangat mencintai istrinya, sebaik dan seroyal apa pun Laras padanya tetap tidak bisa menggantikan Amira di hati.
Prasetya datang menggunakan ojek, tiba di kontrakan di lihatnya Laras tengah duduk seorang diri di atas pembaringan.
"Pah!" Seru Laras begitu melihat Prasetya kembali.
Prasetya hanya bergumam tidak jelas, berjalan melewati Laras dan langsung mengambil koper.
"Loh, kamu mau ke mana, Pah?" tanya Laras panik.
"Aku mau pindah,"
"Pindah ke mana? Kamu kan gak kerja. Emang ada duit untuk sewa kamar kos sama makan?" Cecar Laras. Dia sangat yakin kalau Prasetya hanya menggertak saja. Karena sepengetahuannya lelaki itu tidak memiliki uang sama sekali.
"Sudahlah. Jangan urusi urusanku lagi, capek." Prasetya memasukkan pakaian dan barang-barang pribadinya tanpa mempedulikan Laras yang semakin panik.
"Iya, tapi mau ke mana?" Laras berusaha menahan Prasetya supaya tidak pergi dari sana.
"Mulai sekarang kita urus diri masing-masing saja. Aku pamit, mau pindah ke mes,"
"Mes? Maksudnya?"
"Aku sudah kerja di restoran cepat saji dan mendapatkan tempat tinggal di sana. Jadi, mulai sekarang kita urus diri masing-masing saja, permisi."
Prasetya keluar dari kontrakan Laras, membawa sekoper pakaian menuju tempat tinggalnya yang baru.
Melihat pujaan hatinya pergi begitu saja Laras berteriak kencang dan menangis. Beberapa orang tetangga serta teman kerjanya berdatangan karena terkejut mendengar teriakan dan suara tangisan yang memekakkan telinga.

Komentar Buku (28)

  • avatar
    murniAyu

    Y bagus

    22/07/2025

      0
  • avatar
    Alif

    APK inii memang terbaik sekarang aku ga.kelurin duit lagi untuk top up dan aku tinggal rebahan aja udah dapat duit Coba deh kalau ga percaya

    25/06/2025

      0
  • avatar
    evitasanty

    cerita nya sangat menarik

    23/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru