Bab 18

Bab 18
Hati Sima semakin terasa sakit saat mendengar ucapan Sarah. Saudara-saudara Amira menganggap keluarganya sedemikian rupa. Sedangkan kenyataannya sungguh jauh berbeda. Bahkan Amira harus bekerja banting tulang dari pagi hingga petang demi mencukupi kebutuhan rumah.
Sima semakin malu. Keluarganya tidak pernah melakukan apa pun untuk membantu Amira pada saat terpuruk dan sakit-sakitan.
"Bu Sima tidak usah banyak pikiran, apalagi beranggapan jika kami di sini akan menyalahkan Ibu. Dan, untuk pengobatan Amira selanjutnya, Ibu tidak usah khawatir. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik," Fariz berkata dengan hati-hati karena tidak ingin menyinggung perasaan Sima seperti sebelumnya.
"Nanti sore Bu Sima mau ikut kami ke RS?"
"Bukan tidak mau ikut, tapi, ibu mau kembali ke Malang sore nanti. Tidak enak kalau harus berlama-lama di sini," jawab sima.
"Loh, Ibu mau pulang nanti? Mira pikir mau nginap di sini lebih lama," Amira terkejut begitu tahu mertuanya hendak pulang.
"Nggak, Nduk. Kasihan Bapakmu di rumah. Mana dia harus kerja, gak ada yang nyiapin makan dan keperluannya,"
"Tapi, Bu, sebaiknya tinggallah di sini beberapa hari. Di sana 'kan ada mbak Rosa,"
"Kamu 'kan tahu bagaimana bapak. Dia tidak mau makan hasil masakan orang lain,"
Amira akhirnya diam, tak lagi menanggapi ucapan mertuanya.
"Benar kata Mira, Bu, sebaiknya menginaplah beberapa malam lagi," ujar Sarah.
"Terima kasih, Nak Sarah, ibu pulang sore nanti saja," jawab Sima kukuh pada pendiriannya.
"A, bisa minta tolong pesankan tiket kereta? Mira gak bisa pergi ke Stasiun soalnya," Amira menatap Fariz yang sedang menikmati sarapan.
"Iya. Nanti Aa minta orang untuk belikan ke sana,"
"Makasih, A,"
"Emang keretanya jam berapa gitu?" Tanya Faiz pada kakaknya.
"Kalau tak salah jam duaanlah. Kereta cepat loh ya, jangan yang ekonomi," Amira melirik adik lelakinya yang mengangguk-anggukan kepala.
"Iya, tahu. Kalau jam dua, berarti harus beli sekarang dong ya? Takutnya nanti kehabisan tiket,"
"Kereta biasa saja, Nduk, gak usah kereta cepat,"
"Gak papah, Bu, biar bisa tidur enak nanti malam. Kalau yang biasa kan posisi tempat duduknya tegak, gak enak kalau buat tidur,"
"Memang siapa yang mau bepergian naik kereta?" Semua kepala menoleh pada pemilik suara.
"Ini loh, Mam, Bu Sima katanya mau pulang nanti," jawab Sarah seraya mengambil nampan dari tangan Aisyah.
"Loh, Besan kok buru-buru pulang? Tinggallah di sini beberapa hari lagi," Aisyah duduk di samping Sarah, ikut menikmati sarapan.
"Sebab kasihan bapaknya di rumah, Besan. Tidak ada yang menyiapkan keperluannya," jawab sima. Bukan tidak ingin berlama-lama dekat dengan cucu dan menantunya. Andai saja Prasetya tidak membuat malu keluarga, mungkin Sima akan sangat betah dan nyaman tinggal di sana beberapa hari ke depan.
"Coba kemarin pak Pono di ajak ke sini, kan jadi enak, gak terus kepikiran," ucap Aisyah. Sima hanya tersenyum sebagai tanggapan.
Seandainya saja suaminya ikut mungkin dia akan sedikit tenang. Hanya saja urusan dapur untuk beberapa hari ke depan akan tersendat.
Pekerjaan suaminya yang hanya pengayuh becak di tengah hiruk pikuk keramaian kota Malang. Membuat Sima harus pandai-pandai mengatur keuangan. Karena tidak setiap hari sang suami mendapatkan hasil. Kadang, demi selembar uang lima puluh ribu saja Pono bekerja sampai larut malam.
Jika rezeki tengah lancar dan ada penumpang yang berbaik hati. Pono sering memberi uang lebih, bahkan membawa makanan pemberian dari orang yang sudah berlangganan naik becaknya.
"Tinggallah beberapa hari lagi, Besan. Kita akan mengunjungi kediaman nenek Amira di luar kota. Biar pergi ke sana sama-sama sekalian jalan-jalan," usul Aisyah.
"Terima kasih banyak, Besan. Mungkin di lain waktu," Sima kembali menjawab dengan penolakan.
"Sayang sekali, padahal ayah Amira sudah berpesan untuk mengajak Besan ke sana," jawab Aisyah. Gurat kecewa tergambar jelas dari wajahnya.
***
Cuaca Jakarta yang sangat panas tidak menyurutkan langkah Amira untuk mengantar mertuanya menuju stasiun Pasar Senen.
Sepanjang perjalanan Sima memilih bungkam. Hanya sesekali saja Sima berbicara untuk menanggapi celoteh Zein yang menanyakan banyak hal padanya.
Sima menahan air matanya sekuat tenaga supaya tidak keluar. Pikiran-pikiran buruk terus berputar di kepala. Bagaimana jika nanti Amira tidak lagi kembali ke Malang? Bagaimana jika ini terakhir kalinya Sima melihat cucu dan menantunya?
Sima menatap Amira dari arah samping. Sejujurnya menantunya itu cantik, namun sayang tidak pandai merawat. Ditambah kesibukannya yang membuat tidak sempat untuk merawat diri.
"Maafkan ibu, Nduk, kalau selama kalian tinggal di Malang selalu kekurangan,"
Amira menoleh dan menatap mertuanya. "Sudah, Bu, semua sudah terjadi, jangan lagi di ungkit dari pada jadi pikiran,"
"Uti napa nangis?" Zein menatap Sima yang masih berderai air mata.
"Gak papah, Le, Uti cuma kelilipan,"
"Uti mau naik kereta lagi ya? Terus, nanti ke sini lagi kapan?" Mendekap erat tubuh mungil sang cucu dan menghirup aroma tubuhnya dengan rakus. Andai saja bisa menghentikan waktu, mungkin Sima akan melakukannya supaya bisa lebih lama dekat dengan orang-orang tercinta.
Mobil yang ditumpangi berhenti di parkiran Stasiun Senen. Sima membuang napas kasar berharap sesak di dada ikut menguap.
Amira mengantar mertuanya hanya sampai pintu masuk, Sima menolak saat menantunya ingin ikut masuk dengan alasan takut dia kelelahan.
"Bu, maafkan Mira kalau banyak salah pada Ibu, sampaikan salam buat bapak dan mbak Rosa," Sima memeluk menantunya untuk terakhir kali.
"Wa'alaikumussalam, nanti ibu sampaikan pada mereka. Jaga diri baik-baik, jangan banyak pikiran, sayangilah dirimu dan anakmu. Jangan hanya memikirkan perasaan orang lain,"
Amira tersenyum, jemarinya mengusap lelehan air mata yang membasahi pipi Sima.
"Maaf, Mira tidak sempat membeli oleh-oleh untuk orang rumah,"
"Tidak apa-apa, Nduk, mereka juga tahu kondisimu seperti apa. Tidak akan mungkin mengharapkan buah tangan bukan?!"
Sima beralih pada Zein yang tengah sibuk memutari pintu besi. "Le, jaga mami ya, jangan nakal. Mbah Uti pulang dulu, kapan-kapan mbah main ke sini lagi," ujar Sima seraya membungkuk dan mencium puncak kepala cucunya.
"Uti ke sininya sama mas Riko ya, aku mau main,"
"Insya Allah, nanti mas Riko di ajak ke sini. Mir, ibu masuk dulu ya, kalianlah pulanglah. Tidak perlu antar ibu ke dalam,"
"Tapi, Bu ..."
"Tidak apa-apa, pulanglah. Bukankah nanti harus ke dokter? Sekarang sudah jam 2, sebaiknya istirahat dulu di rumah,"
"Baik, Bu. Mira pulang sekarang, Ibu hati-hati ya, kalau sudah sampai jangan lupa kabari,"
Keduanya berpelukan dan saling mengucap kata perpisahan. Sima tidak sanggup lagi membendung air matanya yang sempat di tahan, kini kembali membasahi pipi yang keriput.
"Bahagialah, Nak, doa ibu selalu menyertaimu." Ucapnya lirih sambil memperhatikan Amira dan Zein yang sudah menjauh.
Waktu menunjukkan hampir setengah tiga sore, perlahan kereta yang di tumpanginya meninggalkan Stasiun Senen dan menuju tempat tujuan, Malang.
Amira menatap rangkaian gerbong kereta dari luar. Pikirannya benar-benar kosong, entah sedih atau bahagia yang dirasa. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana cerita hidupnya nanti. Akankah dia kembali menaiki kereta itu menuju kediaman mertuanya atau tidak sama sekali.
"Teh, sebaiknya kita pulang sekarang. Kasihan Zein kalau lama-lama di sini,"
Amira mengangguk, mengiyakan ajakan Faiz, adiknya. "Ayo,"
Satu bulan sudah Prasetya bekerja di restoran. Hari ini para karyawan akan menerima gaji bulanan dan juga bonus dari atasan mereka. Ya, sebagian dari mereka menerima bonus karena giat bekerja dan juga datang selalu tepat waktu.
Prasetya cemberut karena uang yang diterimanya hanya gaji saja tidak ada tambahan apa pun seperti halnya yang diterima Yanto dan beberapa rekan lainnya.
"Kalian kok gak kasih tahu sih! Kalau ada uang bonus seperti itu?" Prasetya bertanya pada rekan-rekannya dengan nada marah. Kecewa karena selama ini tidak seorang pun memberitahu jika setiap karyawan yang rajin dan datang tepat waktu akan mendapat bonus.
"Maaf, Mas, ini tuh sudah kebijakan perusahaan. Setiap karyawan baru tidak di kasih tahu jika ada uang bonus seperti ini. Karena si Bos pengen lihat cara kerja kita," jawab Yanto menjelaskan perihal dirinya dan juga rekan kerjanya yang lain tidak memberitahu Prasetya.
"Udah, Mas. Alhamdulillah itu uang gaji sebulan ke terima utuh. Saya aja yang udah lama di sini gak dapat bonus, kok," Azis datang menghampiri dan ikut nimbrung obrolan.
"Emang kamu juga gak dapat bonus, Zis?" Azis menggeleng.
"Sebulan terakhir ini kalah gesit sama mas Yanto dan Beni," jawabnya seraya mengulas senyuman tipis.
Prasetya mendengus sebal. Terbersit dalam pikiran untuk mengirimkan uang pada istrinya. Namun, di lain sisi terjadi pergolakan batin. Antara ingin memberi dan memikirkan kebutuhan hidupnya.
"Mas Yanto mau ke Bank kapan?" Azis bertanya pada Yanto yang tengah sibuk mencoret-coret kertas.
Yanto berpikir sejenak lalu menjawab, "kalau kamu mau pergi, aku titip saja ya?"
"Iya, Mas, Boleh. Paling besok jam istirahat siang. Siapkan saja uangnya," Yanto mengangkat satu jempolnya pertanda setuju.
"Mas Pras mau kirim ke kampung gak? Kalau mau, sekalian saja besok tak setorin ke Bank," kali ini Azis bertanya pada Prasetya.
"Kirim...?"
"Kirim uang buat istrinya, Mas, saya besok mau ke Bank. Mas Yanto juga mau titip sekalian," terang Azis. Mulut Prasetya membulat membentuk huruf O.
Pikiran untuk mengirimkan sebagian uang memang ada, akan tetapi, mengingat kebutuhan dirinya sendiri keinginan itu hanya berupa keinginan saja. Sekarang, di hadapan orang banyak Azis bertanya padanya. Ego Prasetya dan rasa gengsi yang begitu tinggi membuat kepalanya refleks mengangguk tanpa sempat otaknya berpikir.
"Kalau begitu siapkan saja besok uangnya sama kirimnya ke Bank apa. Saya kan ke Bank Pemerintah di seberang itu tuh," Azis menunjuk sebuah bangunan berwarna biru di seberang jalan. Prasetya mengangguk lemah.
"Semangat mas Pras, yang rajin dan datang tepat waktu, siapa tahu bulan depan masuk jajaran karyawan teladan," Yanto menyemangati Prasetya yang terlihat lemas.
Prasetya tersenyum mendengarnya. Dalam hati menggerutu karena yang membuatnya kesal dan lemas bukan hal itu. Akibat gengsi dan ego yang begitu tinggi membuat Prasetya selalu mengambil keputusan dengan terburu-buru dan berakhir dalam penyesalan.
Keesokan harinya Azis menghampiri Prasetya di kamar dan menanyakan uang yang hendak di kirim ke Bank.
"Sekalian sama nomor rekeningnya ya, Mas!" Teriak Azis dari luar kamar.
"Nih," Prasetya menyerahkan uang sebesar 500 ribu pada Azis juga secarik kertas.
"Ini saja, Mas?" Azis menatap uang yang di sodorkan Prasetya padanya.
"Iya. Itu sudah banyak. Istriku hemat, lagi pula dia sudah biasa kerja sendiri. Tidak akan kekurangan apa pun," jawab Prasetya bangga. Hatinya benar-benar bahagia karena akan mengirimkan uang sebanyak itu pada Amira. Sudah dia pastikan jika wanita itu akan kegirangan menerimanya. "Memang kamu kirim berapa, Zis?" Setelah euforia dalam hatinya berkurang Prasetya pun bertanya.
"Dua juta lima ratus, Mas," suara Azis terdengar begitu menusuk di telinga Prasetya.
"Nanti uangmu habis gak jelas, loh," seloroh Prasetya. "Mas Yanto kirim berapa buat istrinya? Kapan hari istrinya sakit katanya,"
"Mas Pras ini aneh. Saya kan bekerja memang buat mereka, kalau habis, ya, gak papah," jawabnya santai. "Ya udah, sini uangnya, Mas. Yuk, ah, kita kerja dulu. Yang rajin, biar dapat bonus seperti mas Yanto. Dia itu kalau kirim uang kurang lebih sama seperti saya," Prasetya tidak menjawab. Hatinya benar-benar gundah.
Gundah karena memikirkan uang yang berkurang, juga karena takut jika ada temannya selain Azis yang tahu jika dirinya hanya mengirimkan sedikit uang pada istrinya.
Tidak jauh berbeda dengan Prasetya, keadaan Amira pun sama. Beberapa hari terakhir ini dirinya harus berjauhan dengan sang anak karena menginap di rumah sakit.
Kondisi tubuhnya yang semakin lemah membuat dokter menyarankan untuk rawat inap. Amira harus menahan rindu karena hampir seminggu tidak bertemu Zein. Hanya sehari sekali dia di izinkan menelepon dan berbicara.
Orang tua dan saudara-saudaranya selalu mengatakan jika itu semua demi kebaikan Amira dan juga Zein.
Sebuah pesan masuk di ponselnya, dengan malas Amira meraih benda pipih itu dan memeriksa pesan yang masuk.

Komentar Buku (28)

  • avatar
    murniAyu

    Y bagus

    22/07/2025

      0
  • avatar
    Alif

    APK inii memang terbaik sekarang aku ga.kelurin duit lagi untuk top up dan aku tinggal rebahan aja udah dapat duit Coba deh kalau ga percaya

    25/06/2025

      0
  • avatar
    evitasanty

    cerita nya sangat menarik

    23/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru