logo text

Bab 18 Pemberontakan Naara

Happy Reading Ebeb2cu ❤❤
Jangan lupa tinggalin jejak kalian di part ini
Muaah muaah muaah
💋💋💋💋
🌲🌲🌲🌲🌲
Naara menyuapi Aderaldo dengan kekesalan yang tertahan. Wanita itu menyendokan nasi beserta lauk pauknya dengan sebanyak-banyaknya membuat Aderaldo mendelik kesal.
"Kau pikir aku ini apa? Memberiku makan dengan takaran tidak manusiawi seperti itu?" protes Aderaldo dan Naara mendesah mendengarnya.
"Kau pikir aku apa? Menyuruhku menyuapimu sedangkan kedua tanganmu masih baik-baik saja?" balas Naara sambil mengempaskan sendok itu dengan kasar ke atas piring.
"Jadi, kau terpaksa melakukan permintaanku?" tanya Aderaldo tanpanrasa bersalah.
Naara menghela napas kasar sambil memutar kedua bola matanya.
"Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu kau tanyakan lagi, karena kau tentu sudah tahu apa jawabannya," kata Naara kesal.
"Aku memang tidak tahu jawabannya, maka dari itu aku bertanya padamu," ujar Aderaldo tanpa rasa bersalah.
Naara mengurut dahinya dengan sebelah tangannya. Pria di hadapannya ini benar-benar memancing emosinya. Ia harus mampu mengendalikan diri agar tidak ikut arus permainannya.
"Whatever! Mari lanjutkan makanmu, dan kemudian pergilah dari sini," Naara menyendokkan makanan dan menyuapi bayi besar yang duduk dengan tersenyum tanpa rasa bersalah di sampingnya.
Wanita itu memilih untuk mengalah agar Aderaldo segera angkat kaki dari tempatnya sehingga ia bisa secepatnya kabur dari sana. Tapi sepertinya, Pria itu memperlambat segalanya. Ia benar-benar mengikuti aturan Healthline mengunyah makanan sebanyak tiga puluh dua kali. Ingin rasanya Naara melempar piring di hadapannya ke dalam kotak sampah agar segera habis dan pria itu pergi.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya kegiatan suap menyuap selesai dengan sempurna. Senyum lebar menghias wajah tampan Aderaldo. Namun, berbanding terbalik dengan Naara, wanita itu memasang wajah datar karena lelah dan menahan kekesalannya.
"Terima kasih atas suapan penuh kasih sayangmu. Sepertinya aku ketagihan untuk meneruskan memberimu pekerjaan seperti ini di lain waktu," ucap Aderaldo santai tanpa beban.
Naara melotot kesal, tapi menutup rapat mulutnya. Ia tidak boleh terpancing emosi pada Aderaldo.
"Kau sudah aku suapi. Aku sudah melakukan perintahmu dengan baik dan sekarang, aku yang akan meminta sesuatu denganmu," kata Naara.
Aderaldo berdiri menatap lurus Naara dengan serius.
"Apa yang kau inginkan? Ciuman? Pelukan? Atau bahkan permainan yang mengasyikan?" tanya Aderaldo.
"Ck! Aku ingin uang. Aku ingin kau mentransferkan sejumlah uang kepadaku. Aku tidak butuh ciuman atau pelukanmu, karena itu bukan sesuatu yang menyenangkan bagiku," kata Naara dan Aderaldo tercengang seolah tidak percaya atas apa yang keluar dari mulut wanita di depannya itu.
"Uang? Kau meminta uang?" ulang Aderaldo dan Naara mengangguk cepat begitu santai.
"Aku hanya butuh €5.000. Aku ingin bersenang-senang," jawab Naara cepat.
Aderaldo mengepalkan kedua telapak tangannya mendengar jawaban Naara. Nominal yang sebutkan wanita itu sama sekali tidak akan menghabiskan pundi-pundi uangnya, hanya saja, tingkah Naara saat ini persis sama dengan jalang-jalang mainannya yang lalu-lalu yang sudah ia buang ke tempat sampah.
Pria itu memandang lekat Naara yang memainkan kuku-kuku bersihnya tak acuh terhadap Aderaldo.
"Ah--, aku lupa," Naara melangkah secara spontan meninggalkan pria itu masuk ke dalam kamarnya.
Tidak sampai lima menit, Naara kembali lagi dengan menyodorkan secarik kertas bekas robekan kepada Aderaldo. Pria itu melirik kertas kecil itu dan menerimanya dengan ekspresi wajah datar.
"Aku sudah menuliskan nomor rekeningku. Jadi, kau bisa mengirimkannya saat ini juga padaku," ucap Naara dengan tersenyum lebar seolah apa yang ia ucapkan adalah hal yang sangat biasa.
Terlihat jelas dari raut wajah Aderaldo, jika pria itu sedang menahan geram atas kelakuan Naara padanya. Namun, tanpa disangka Aderaldo segera mengeluarkan ponsel mahalnya dari saku kemejanya dan berkutik dengan layar ponselnya beberapa waktu.
Nada pesan di ponsel baru Naara berbunyi, menandakan adanya notifikasi dari salah satu aplikasi di dalamnya. Wanita itu segera mengecek ponselnya dan tersenyum senang saat melihat pesan adanya uang yang masuk ke dalam rekeningnya.
Namun, wanita itu melotot kaget ketika melihat ulang nominal yang ada dipemberitahuan itu. Jumlah yang cukup fantastis, melebihi angka yang ia sebutkan tadi. Aderaldo mengirimkan €15.000 ke dalam rekeningnya.
"Kenapa kau memberiku lebih dari yang aku sebutkan?" protes Naara pada Aderaldo.
Pria itu berdecih sembari kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku kemejanya.
"Ck! Bukankah kau senang jika aku memberimu uang yang lebih banyak? Kau bisa menghabiskannya dengan berbelanja sepuasnya. Jangan pura-pura terkejut, aku sangat mengerti wanita," ucap Aderaldo dengan masih menampilkan ekspresi datarnya.
"Aku akan kembali lagi ke kantor. Masih ada beberapa urusan yang harus aku kerjakan," Aderaldo menarik tubuh Naara tanpa aba-aba membuat si empunya badan memekik terkejut.
"Aawh!"
Aderaldo mengabaikan pekikan nyaring wanita itu dan segera mendaratkan ciuman pada bibir ranum yang cukup seksi milik Naara. Pria tampan itu menciumnya dengan ritme pelan lalu menggebu.
Diawali dengan kecupan-kecupan ringan, lalu perlahan bibir Adelardo mulai melumat bibir Naara. Pria itu begitu ketagihan atas apa yang sedang ia lakukan pada wanita itu. Sedangkan Naara, hanya bisa diam pasrah mengikuti apa yang Aderaldo lakukan padanya saat itu. Karena akan sangat percuma jika ia menolak dan meronta, ia sudah pasti tidak akan bisa menang melawan kuatnya tenaga Aderaldo.
Deru napas keduanya terengah-engah ketika menyudahi sesi ciuman panas dingin mereka. Naara terlihat mengipasi wajahnya yang terasa panas dengan kedua telapak tangannya.
"Lain kali, balas ciumanku!" ucap Aderaldo terdengar seperti perintah di telinga Naara.
Wanita itu hanya diam tidak menggubris ucapan Aderaldo.
"Pergilah! Bukankah kau sudah mendapatkan semua yang kau mau hari ini," usir Naara tanpa ragu.
Aderaldo berdecih.
"Aku akan kembali lagi kemari menjemputmu besok. Aku yang akan mengantarmu ke kampus," pesan pria tampan itu pada Naara.
Naara hanya berdeham menanggapi ucapan itu.
Melihat punggung pria itu sudah menghilang dari pandangannya, Naara segera mengunci pintu dan bergegas menuju kamarnya untuk mengemasi semua barang-barang miliknya.
Wanita itu menatap layar ponselnya yang berisikan notifikasi pesan pengiriman uang tadi. Ia bahkan tidak menyangka Aderaldo akan semudah itu memberikan apa yang ia mau, apakah dia bersikap sama seperti padanya dengan mantan-mantan kekasihnya? Astaga, sepertiny itu bukan hal yang penting untuk dipikirkan saat ini.
Naara menggendong tas ranselnya yang berisikan baju-baju dan juga buku kuliahnya yang paling penting. Wanita itu segera angkat kaki dari sana, meskipun ia tahu ini adalah tindakan yang berisiko besar, tapi Naara yakin pria itu tidak akan tega menghancurkan keluarganya.
Dengan berhati-hati dan bersikap waspada, berjaga-jaga siapa tahu ada penjaga yang mengawasi gerak geriknya. Namun, sepertinya tidak ada. Ia bisa pergi dengan aman.
Naara sudah duduk manis di dalam bus yang akan membawanya kembali ke paman dan bibinya di Bonn. Ia sudah memikirkan matang-matang untuk kuliah dengan tenang kembali di Universitas lamanya. Ia akan mengajukan surat kepada Universitasnya mengenai kembalinya ia dari jadwal yang seharusnya dari pertukaran mahasiswa itu.
Naara menggenggam erat ponselnya. Wanita itu mematikan ponsel pemberian dari Aderaldo dan mengaktifkan ponselnya sendiri. Ponsel murahan yang ia beli dari hasil tabungannya sendiri.
Ia sama sekali tidak berniat menyentuh uang pemberian pria mesum itu padanya. Ia hanya akan menyimpannya sampai nanti ia akan mengembalikannya di waktu yang tepat dan tenang. Semoga saja Aderaldo tidak melaporkannya ke pihak berwajib atas tindakan penipuan.
Naara sudah menghubungi paman dan bibinya di sana. Ia meminta mereka berdua menjemputnya di tempat pemberhentian bus terakhir.
🌲🌲🌲🌲🌲
"Aku ingin melihat cctv keadaan semalam. Sekarang juga!" bentak Aderaldo emosi.
Pria itu hampir saja merusak pintu apartemen, tempat Naara tinggal dengan tangannya sendiri. Pagi itu ia datang ke apartemen Naara dengan senyum sumringah berharap bisa merealisasikan keinginannya untuk mengantar wanita itu pergi ke kampus, tapi seketika senyumannya luntur berganti menjadi amarah yang tidak terkendali saat mengetahui jika wanita itu tidak ada di dalam apartemennya.
Ia menendang meja kaca yang ada di dalam ruang tamu ruangan itu saat petugas apartemen membuka pintu rumah itu secara paksa dan tidak menemukan keberadaan Naara beserta barang-barang milik wanita itu. Serpihan kaca berserakan di mana-mana akibat tindakan brutal Aderaldo membuat beberapa pekerja di sana diam mematung, tidak ada yang berani bergerak atau bersuara sepatah kata pun.
"Kau ingin bermain-main denganku rupanya. Baiklah kita akan mulai permainan yang kau inginkan mulai hari ini," gumam Aderaldo sembari menekan beberapa angka di layar ponselnya.
"Lacak keberadaannya dan hancurkan!" ucap Aderaldo dengan penuh penekanan pada orang yang di seberang sambungan teleponnya.
🌲🌲🌲🌲🌲
Naara banguni Macan bobo
🤪🤪🤪
Jadi pengen nyabarin Bang Aderaldo sambil gosok dadanya 😆😆😆👀

Komentar Buku (6)

  • avatar
    Faizah Iza

    bebbyshin kapan update barunya lg ditunggu ini

    10/02/2023

      0
  • avatar
    Naura Ivalina

    antappppp

    16/08/2022

      0
  • avatar
    WatiHerlina

    Bab selanjutnya kelamaan muncul

    08/08/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru