Beranda/The jerk Billionaire/
Bab 20 Menyerahkan Diri
Happy Reading Gengs
Jejak kalian sepanjang jalan kenangan ditunggu ya
🌲🌲🌲🌲🌲
Aderaldo memanjangkan kakinya dan menaruhnya ke atas meja. Pria itu tersenyum samar saat mendengar satu per satu informasi dari orang suruhannya yang berhasil dalam hitungan jam memporak-porandakan kehidupan Naara. Wanita itu salah memilih orang untuk bermain-main.
Aderaldo akan melakukan cara apa pun demi mendapatkan dan mencapai apa yang ia inginkan, termasuk menghancurkan orang lain. Ia tidak akan pandang bulu dengan siapa pun yang mencari masalah dengannya, tidak terkecuali wanita yang kini menjadi mainan barunya.
Pria itu sangat yakin, jika sebentar lagi wanita itu akan menghubunginya dan memakinya dengan suara lantang dan juga emosi. Aderaldo hanya ingin menunjukkan pada wanita itu, kejadian bertubi-tubi itu bisa dilakukan pria itu dengan mudah seakan mengedipkan kedua bola matanya.
Memamerkan kekuasaan yang dimilikinya pada wanita itu. Jangan munafik, uang bisa mengendalikan segalanya. Selama ia memiliki uang, semua akan teratasi dengan cepat sesuai dengan perintahnya. Pria itu tersenyum miring menunggu kehadiran Naara yang memohon padanya.
Ini hanya peringatan ringan. Aderaldo bahkan sudah sedikit demi sedikit melakukan penghancuran pada Xion beserta keluarganya. Pria itu tidak akan memberi ampun pada orang yang sudah memilih untuk berurusan dengannya dan mencoba melawannya. Sebentar lagi, ia akan menikmati hasilnya.
Pintu ruangan kerja Aderaldo diketuk seseorang.
"Permisi, Sir. Wanita itu pergi dari rumah meninggalkan paman dan bibinya," ucap seorang pria yang sepertinya sekretaris atau kaki tangan Aderaldo melaporkan hal yang berkenaan dengan Naara.
Aderaldo hanya mengisyaratkan dengan telapak tangannya agar pria itu keluar dari ruangannya dan menerima laporan itu. Pegawai pria itu menuruti perintah bos besarnya untuk pergi dari ruangan itu tanpa banyak bicara bahkan bersuara.
Aderaldo tersenyum miring mendapatkan laporan itu. Ia melirik ponsel yang beberapa jam lalu mengirimkan sebuah pesan yang berisikan ancaman untuk wanita itu. Ia sangat yakin, wanita itu akan membaca pesan yang ia kirimkan pada ponsel yang dinonaktifkan dari semalam, ketika wanita itu kabur dari apartemennya.
"Ini adalah salah satu bukti nyata tentang sesuatu yang aku ucapkan. Aku akan selalu mewujudkannya termasuk menghancurkan orang lain," gumam Aderaldo.
"Permainan telah dimulai. Pintu nerakamu sudah aku buka seluas mungkin," lanjut Aderaldo bermonolog.
Pria itu menatap lurus pandangannya ke luar jendela. Sepertinya ia lebih baik menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu selama menantikan kedatangan Naara ke hadapannya. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mendedikasikan diri pada pekerjaannya.
🌲🌲🌲🌲🌲
"Kau mau pergi ke mana, Naara?" tanya Audrey saat melihat Naara terburu-buru memakai sepatunya.
"Aku akan pergi sebentar, Bi. Aku akan menyelesaikan masalah ini semua," ucap Naara mencoba memberi kalimat penenangan pada bibinya.
"Naara, jangan becanda. Bagaimana mungkin kau bisa menyelesaikan semua ini. Ini bukan perkara mudah yang bisa selesai hanya dalam hitungan hari bahkan hitungan jam. Kau akan pergi ke mana? Mencari utangan demi membayar utang kami? Jangan becanda, Naara. Utang itu sangat banyak," kata Audrey kepada Naara dengan wajah cemas.
Naara berjalan mendekati Audrey dan meraih telapak tangannya. Menatap lekat kedua bola mata Audrey mencoba meyakinkan.
"Tidak ada salahnya untuk mencoba terlebih dahulu. Aku berusaha. Aku hanya butuh doa dan dukungan darimu. Aku akan melakukan apa pun untuk membantu kalian lepas dari semua ini. Jadi, percayalah padaku, Bi. Semua akan baik-baik saja," ucap Naara mencoba meyakinkan Audrey dengan kata-katanya.
Air mata Audrey meleleh tak kunjung usai. Ia memeluk erat Naara seakan anak kandungnya sendiri.
"Aku percaya padamu," lirih Audrey.
Naara melepas pelukan mereka, jari-jari putih Naara menghapus bulir-bulir air mata Audrey. Ia pamit pergi dan tidak mengatakan ke mana arah tujuannya.
Di luar, Naara menemui para suruhan si penagih utang. Wanita itu menyuruh segerombolan itu menunggunya sampai ia kembali. Jika ia tidak kembali atau tidak ada kabar apa pun, Naara mengizinkan untuk mereka menyita semua yang ada di dalam rumah itu.
Naara pergi dengan menggunakan bus. Sepanjang perjalanan gadis itu memilin-milin jemarinya. Ia benar-benar membenci Aderaldo. Pria itu benar-benar berengsek dan kejam. Disatu sisi Naara ingin sekali melawan, namun disisi lain, wanita itu tidak kuasa melawan karena keterbatasan kemampuan.
Ia pikir, Aderaldo tidak akan mengusik keluarganya, karena hanya Naara sendiri yang membuat masalah. Namun, tidak seperti dugaan, pria itu ikut membantai keluarganya tanpa ampun dengan kekuasaannya.
Tujuan utama Naara adalah kantor utama Aderaldo. Wanita itu yakin jika pria itu berada di sana. Maka, sesaat turun dari terminal bus, ia melanjutkan perjalanannya menuju kantor Aderaldo dengan menggunakan taksi.
Helaan napas kasar Naara dan pegangan kuat jemarinya pada tali slingbag miliknya takkala menatap lekat gedung tinggi di hadapannya. Bangunan mewah nan megah itu menjadi tempat terakhir perjalanannya.
Naara melangkah menuju ke bagian Frontliner untuk mengabarkan jika ia ingin bertemu Aderaldo tanpa janji sebelumnya. Pegawai di sana dengan ramah menghubungi entah siapa dan beberapa saat Naara menunggu akhirnya ia diperbolehkan naik ke ruangan petinggi perusahaan itu.
Wanita itu diantar salah satu petugas keamanan menuju ruangan Aderaldo.
"Anda adalah salah satu orang yang beruntung bisa menemui Tuan Aderaldo tanpa harus membuat janji terlebih dahulu," ucap petugas keamanan yang mengantar Naara ke ruangan Aderaldo.
Naara menoleh sekilas orang itu dan tersenyum ala kadarnya.
'Aku orang tersial yang bertemu dengan Tuanmu itu. Itu adalah fakta yang sebenarnya,' batin Naara.
Pintu ruangan yang bertuliskan nama lengkap pria berwajah tampan, tapi kejam itu sudah di depan mata Naara. Jantungnya bergemuruh riuh, telapak tangannya berkeringat, bibirnya kelu dan tubuhnya sedikit gemetar, apalagi saat petugas keamanan meninggalkannya bersama sekretaris pria kejam itu dan mengkode wanita itu dengan anggukan kepala, memperbolehkan Naara masuk ke dalam ruangan setelah ia menutup sambungan telepon untuk mengabari kedatangan Naara.
Aderaldo tampak tak acuh dengan kehadiran Naara di dalam ruangannya. Pria itu masih menunduk, sibuk dengan berkas di tangannya. Seakan keberadaan Naara sama sekali tidak penting dan tidak dianggap. Setelah sepuluh menit berlalu, Naara hanya berdiri kaku di dekat pintu tanpa suara, akhirnya Aderaldo mengangkat kepalanya dan berdeham membuat Naara menoleh padanya dengan ragu.
"Bagaimana dengan liburan sekejapmu? Apakah berkesan?" tanya Aderaldo tampak basa-basi.
Naara menggigit bibirnya kuat. Matanya memanas menatap lekat pria yang kini sedang tersenyum manis seolah tidak ada apa pun padanya.
"Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Kenapa kau menyeret serta keluargaku? Apa kau tidak puas hanya menghancurkan hubunganku dan diriku sendiri? Kenapa kau kejam sekali?" Rentetan pertanyaan Naara kepada Aderaldo.
Pria itu mengendurkan dasinya dan terkekeh menanggapi pertanyaan Naara barusan.
"Aku? Memang apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak melakukan apa pun," sangkal Aderaldo.
Naara menggeram kesal mendengar Aderaldo berkelit seakan tidak melakukan apa pun. Pria itu memang pandai untuk memancing emosi orang lain.
"Jangan berlagak kau tidak tahu apa pun, padahal kau dalang dari semua kesengsaraanku. Kau tidak ingin mengaku?" jerit Naara meluapkan kekesalannya.
Aderaldo tertawa terbahak. Tawa yang begitu mengerikan di telinga Naara. Pria itu tertawa lepas, jika dalam keadaan normal mungkin ia akan terlihat begitu tampan berkali lipat dan tampak bergembira. Namun, tidak dalam keadaan seperti ini. Tawanya seakan mengejek kekesalan dan kemarahan Naara.
Saat tawanya sedikit merenda, pria itu menegak kopi yang berada di atas mejanya.
"Jika kau sudah tahu, kenapa kau masih bertanya padaku?"
"Naara Kiva ... Bukankah sudah kuperingatkan dari awal, jangan pernah bermain-main denganku. Aku tidak akan segan untuk menghancurkan siapa pun itu, termasuk pembangkang sepertimu," ucap Aderaldo.
"Lalu, jika aku seorang pembangkang, lantas kenapa kau masih ingin mempertahankan aku? Lepaskan aku lalu cari saja wanita lain untuk mainanmu!" Naara kembali membentak Aderaldo.
Pria itu dengan cepat mengubah ekspresinya dan berjalan mendekati posisi Naara. Salah satu tangannya mencengkeram lengan wanita itu kuat dan Naara meringis menahan rasa sakit akibatnya.
"Jangan pernah mencoba mengaturku untuk memilih apa yang aku sukai. Jangan pernah juga untuk bermain-main denganku, jika kau tidak ingin menyesal," desis Aderaldo dengan suara rendah nan beratnya.
"Kau gila! Kau menghalalkan segala cara agar semua orang tunduk padamu. Keluargaku bahkan sama sekali tidak terlibat dalam urusan kita, dan kau mengikutsertakannya. Paman dan bibiku bisa sakit dengan semua masalah bertubi-tubi ini. Mereka bekerja susah payah dan kau menghancurkannya dalam sekejap," omel Naara tanpa takut.
Aderaldo menggenggam kuat rahang Naara membuat si empunya wajah melotot terkejut atas perlakuan itu padanya.
"Listen, Naara Kiva! Aku bahkan tidak peduli. Bagian terpenting di sini, aku bisa mendapatkan apa yang aku mau dengan cara apa pun selama aku bisa," desis Aderaldo mulai terpancing emosi.
"Kau bisa menghancurkanku dengan uangmu, tapi kau tidak akan bisa membeli kebahagian dengan uangmu itu. Sialan!" umpat Naara tanpa ragu.
Aderaldo tersenyum miring menanggapi ucapan Naara.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu? Kebahagiaan tidak bisa dibeli? Haha ... Bukankah kebahagiaanmu saat ini bisa kuhargai dengan uangku?" tanya Aderaldo pongah.
"Atau kau ingin melihat pamanmu berakhir di dalam jeruji besi karena tidak bisa melunasi utangnya dan juga membongkar pekerjaan ilegalnya, menjadi kurir penjual narkotika?" Aderaldo memberikan ancaman pada Naara.
Naara melotot bahkan susah payah menelan air liurnya mendengar ancaman Aderaldo. Ia tidak percaya jika Kenneth melakukan pekerjaan haram itu. Pasti pria di hadapannya ini mengada-ada untuk mengancamnya.
"Kau pasti bohong. Tidak mungkin pamanku melakukan pekerjaan haram itu. Kau hanya mengancamku 'kan?" lirih Naara menahan air matanya jatuh dengan susah payah.
Aderaldo mengedikkan bahunya tak acuh.
"Aku tidak akan menyebarkan hoax. Aku selalu berbicara dengan bukti. Jadi, semua keputusan ada di tanganmu," Aderaldo melepaskan cekalan di lengan dan juga rahang Naara. Pria itu memilih untuk menyandar di meja sambil menatap Naara yang terduduk frustasi di lantai, menangisi keadaannya sekarang.
Apakah Aderaldo merasa kasihan? Jawabannya tentu tidak. Semua harus terjadi sesuai dengan keinginannya, tapi untuk kasus Naara ini, wanita itu seharusnya berterima kasih pada Aderaldo karena mengetahui sisi busuk pekerjaan pamannya yang bisa saja, kapanpun mencelakainya.
"K-ku mohon, akhiri semua ini. A-aku mohon padamu. Jangan lanjutkan semua ini. Aku akan melakukan apa yang kau mau, tapi hentikan semua ini. Jangan bongkar apa yang telah pamanku lakukan. Aku tidak ingin bibiku jatuh sakit karena memikirkan side job pamanku," lirih Naara pada Aderaldo.
Senyum lebar mengembang di wajah tampan pria itu. Akhirnya ia menang. Ia bertepuk tangan atas keberhasilannya menaklukan wanita pembangkang di depannya ini.
"Kemarilah dan berikan aku satu ciuman agar aku percaya," ucap Aderaldo dengan senyum miringnya.
Naara melirik sinis sembari menyeka air mata dengan punggung tangannya. Wanita itu menahan kekesalan di dalam hatinya dan menghela napas beratnya. Berdiri, lalu berjalan dengan terpaksa mendekati pria kejam nan mesum itu.
Wanita cantik itu merapalkan umpatan dan makian di dalam batinnya atas kelakuan Aderaldo padanya. Ia melakukan semua ini karena terpaksa oleh keadaan. Jika tidak, ia tidak akan mau melaksanakan apa yang diperintahkan pria itu padanya.
Naara berdiri tepat di depan Aderaldo tanpa ekspresi. Keduanya saling bertatapan satu sama lain. Dengan ragu, Naara berjinjit dan mengalungkan kedua lengannya pada leher pria itu dan mulai menciumnya perlahan.
Kali pertama dalam hidupnya ia yang lebih dulu mencium seorang pria. Namun, tanpa disadari Aderaldo Cetta Early adalah pria pertama untuk semua hal itu. Pria itu yang pertama mencium Naara dan kali ini Naara yang mencium pria itu.
Aderaldo tidak akan menyiakan kesempatan yang datang padanya. Pria itu menarik tubuh Naara merapat ke tubuhnya dan membalas ciuman penuh kehati-hatian itu dengan ciuman yang lebih panas dan dalam. Naara hanya bisa pasrah dan mencoba menikmati saja apa yang sudah terjadi saat ini. Karena dengan ia berontak pun semua kendali ada ditangan Aderaldo.
"Aku akan bereskan semuanya. Terima kasih ciuman manis ini," ucap Aderaldo melepas pelukannya pada Naara dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dengan senyum merekah.
🌲🌲🌲🌲🌲Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (6)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bebbyshin kapan update barunya lg ditunggu ini
10/02/2023
0antappppp
16/08/2022
0Bab selanjutnya kelamaan muncul
08/08/2022
0Lihat Semua